Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tipe Kepribadian Ekstrover Tokoh Utama Novel Ganjil Genap Karya Almira Bastari: Kajian Psikoanalisis Carl Gustav Jung : Indonesia Effendi, Desy Irafadillah; Dermawan, Taufik; Sulistyorini, Dwi; Tamara, Widia
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.v5i1.7480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tipe kepribadian ekstrover tokoh utama dalam novel Ganjil Genap Karya Almira Bastari. Metode yang digunakan, yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan objektif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata, kalimat, atau paragraf berkaitan dengan narasi, dialog, maupun tingkah laku yang menunjukkan tipe kepribadian ekstrover tokoh utama yang terdapat dalam novel Ganjil Genap. Sumber data dalam penelitian ini berupa novel Ganjil Genap Karya Almira Bastari. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik baca dan catat dengan langkah kerja membaca secara intensif, cermat dan berulang-ulang novel Ganjil Genap sebagai proses pencarian data yang memuat tipe kepribadian ekstrover, menandai data yang sesuai permasalahan penelitian dan pencatatan data. Teknik analisis data menggunakan model Milles & Huberman dengan mereduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya tipe kepribadian ekstrover dalam novel Ganjil Genap. Tipe kepribadian ekstrover yang terdapat dalam novel Ganjil Genap, yaitu ekstrover-pikiran, ekstrover-perasaan, ekstrover-penginderaan, dan ekstrover-pengintuisian. Peneliti menemukan tipe kepribadian ekstrover dalam novel Ganjil Genap secara ekstrover-pikiran dan ekstrover-perasaan lebih dominan daripada ekstrover-penginderaan dan ekstrover-pengintuisian. Hasil penelitian ini juga diharapkan mampu meningkatkan minat baca dan mengapresiasi para peminat sastra. Manfaat bagi pendidikan dapat menjadi salah satu acuan bahan pengajaran serta dapat mengambil pelajaran dari inti sari nilai pendidikan yang terdapat dalam novel.
Semantic Study of the Meaning of Pantun in Traditional Malay Tamiang Wedding Ceremonies as an Effort to Preserve Local Culture Hariadi, Joko; Fajarini, Indah; Fadhilah, Muhammad Arif; Amelia, Nur; Tamara, Widia; Liasna, Tanita
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 11 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v11i2.41228

Abstract

Pantun, as an integral part of the Tamiang Malay traditional wedding ceremony, has complex cultural meanings, but its existence is often only understood superficially and aesthetically. The main problem in this study is the lack of in-depth documentation of the semantic meaning of pantun, especially in terms of its denotative and connotative aspects, which hinders efforts to preserve this oral tradition. This study aims to describe and analyze the denotative and connotative meanings of pantun used in traditional Tamiang Malay wedding ceremonies to preserve local culture. The study uses a descriptive qualitative approach with participatory observation, in-depth interviews with traditional leaders, and audiovisual documentation of wedding ceremonies. The data were analyzed using Roland Barthes' lexical semantics and semiotics theories to explore the literal and symbolic structures in the pantun. The study results show that the Tamiang traditional pantun not only functions as a medium of ritual communication but also as a representation of local values such as honor, politeness, gender equality, and obedience to traditional norms. The connotative meaning of pantun serves as a collective instrument in shaping intergenerational cultural awareness. This study concludes that traditional pantun has excellent potential as a medium for preserving cultural identity, so it is important to continue to revive, document, and introduce it widely, both in academic and social contexts. This study also enriches the field of cultural semantics and provides a theoretical and practical basis for research on oral traditions in other indigenous communities.