Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Hubungan Antara Trombositpoenia Dengan IgM, IgG Pada Pasien Demam Berdarah Dengue di Puskesmas Polowijen: The Relationship Between Thrombocytopenia And IgM, IgG In Dengue Fever Patients At Polowijen Community Health Center Rodolof, Claudya Putri; Mahtuti, Erni Yohani; Rahmawati, Previta Zeizar
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 6 No. 2 (2024): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v6i2.5649

Abstract

Dengue hemorrhagic fever (DHF) caused by the dengue virus with general symptoms of fever, joint pain, rash and thrombocytopenia. One of the tests of the immune system in DHF is IgM and IgG. The purpose o determine the relationship between thrombocytopenia and (IgM) and (IgG) in patients with dengue hemorrhagic fever at the Polowijen Health Center in Malang City. The method is in the form of laboratory descriptive observational, carried out from May to June 2023. sampling by Accidental Sampling with a total of 25 patients. The results of the study of 25 patients with dengue hemorrhagic fever, 13 female patients (52%) and 12 male patients (48%). Based on the age category, there were 4 patients with dengue hemorrhagic fever under five (16%), children 10 patients (40%), adolescents 4 patients (16%) and early adults 7 patients (28%). The results of the infection category included primary 8 patients (32%), secondary infection 17 (68%). The results of data analysis with Pearson correlation showed a relationship between thrombocytopenia and IgM p = 0.029 r = 0.436 meaning that there is a strong and unidirectional relationship between thrombocytopenia and IgM. Thrombocytopenia with IgG p = 0.056 r = 0.387 means that there is a strong and unidirectional relationship between thrombocytopenia and IgG. The relationship between IgM and IgG is p = 0.093 r = -0.343. Which means that between IgM and IgG there is a strong inverse relationship, that is, if IgM is positive then IgG is negative, and vice versa
Gambaran Kadar Karboksihemoglobin (CoHb) Perokok Ringan Sedang Berat di Organisasi IPPMASTI Kota Malang: Overview of Carboxyhemoglobin (COHb) Levels Light to medium light smokers in the organization IPPMASTI Malang City Ina, Sririn Dari Tamu; Rahmawati, Previta Zeizar; Husnah, Yeni Avidhatul
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 7 No. 1 (2024): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v7i1.7786

Abstract

Karboksihemoglobin (COHb) merupakan sebuah kompleks stabil yang terdiri dari CO dan Hb. Paparan terhadap CO, terutama dari asap rokok, dapat meningkatkan kadar COHb dalam tubuh. Meningkatnya kadar COHb dapat mengganggu fungsi transportasi oksigen oleh hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar COHb perokok (Ringan, Sedang, Berat). Populasi seluruh anggota IPPMASTI (Ikatan Pemuda Pelajar Asal Sumba Timur) Kota Malang sebanyak 98 siswa setelah pembagian kuisoner yang masuk kriteria inklusi sampel 25 responden. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan Cross sectional, teknik pengambilan sampel menggunakan porposive sampling dengan alat pemeriksaan spektofotomer Uv-Vis. Hasil penelitian terdapat 1 responden kadar COHb normal rentang COHb 1,85% dan tertinggi 24 rentang COHb 3,99% - 9,36% semua berjenis kelamin laki-laki. Kemudian jumlah batang rokok 1-4 batang (Ringan) 1 responden COHb normal 1,85% dan COHb tinggi 14 responden (58%) rentang COHb 3,99%-7,95%. Pada ketegori (sedang) 5-14 batang 6 responden (25%) rentang kadar COHb 5,11% -7,73%. Sedangkan pada perokok (Berat) ≥ 15 batang terdapat 4 responden (17%) rentang kadar COHb 5,70%-6,47% Hasil uji korelasi antara lama merokok dengan kadar COHb terdapat nilai uji korelasi pearson nilai r = 0,188 dan nilai p- Nilai yaitu 0,368 atau > 0,01 menunjukkan bahwa durasi lama merokok tidak berhubungan dengan kadar COHb, karena nilai 0,188 masuk dalam korelasi antarfal rendah yang berarti lemah. Sedangkan hasil uji korelasi jumlah batang rokok dengan kadar COHb terdapat hasil uji korelasi nilai r = 0,512 dan nilai p - value yaitu 0,009 atau <0,01 yang berarti sedang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara jumlah batang rokok dengan kadar COHb.
Perbandingan Hasil Pemeriksaan Gula Darah Puasa Pada Serum dan Plasma Natrium Fluorida Yang Segera Diperiksa Dan Dilakukan Penundaan 6 Jam Ramadani, Selina Fathriska; Rahmawati, Previta Zeizar
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 1 (2025): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i1.10309

Abstract

Pemeriksaan gula darah puasa merupakan pemeriksaan laboratorium yang bertujuan untuk menunjang diagnosa penyakit diabetes mellitus. Pada pemeriksaan glukosa umumnya digunakan spesimen berupa serum dan plasma NaF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa puasa pada sampel serum dan plasma natrium fluorida yang segera diperiksa dan yang ditunda 6 jam. Penundaan pemeriksaan dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti terhambatnya pengiriman sampel, terjadinya kerusakan pada alat, dan kurangnya tenaga yang bertugas. Jenis penelitian yakni pra-eksperimen dengan teknik kuota sampling. Sampel penelitian berupa serum dan plasma dari 12 responden. Uji statistik yang digunakan yaitu uji normalitas Saphiro Wilk dan uji Wilcoxon. Hasil uji normalitas pada serum dan plasma yang segera dan ditunda, seluruhnya tidak terdistribusi normal. Hasil rata-rata kadar glukosa serum yang segera diperiksa yakni 188,25 mg/dl dan yang ditunda 6 jam 174,75 mg/dl. Rata-rata kadar glukosa plasma yang segera diperiksa 190,66 mg/dl dan yang ditunda 6 jam 179,41. Pada uji Wilcoxon antara serum segera dan ditunda terdapat perbedaan α < 0,05. Hasil uji Wilcoxon pada plasma yang segera dan ditunda juga terdapat perbedaan α < 0,05. Pada kelompok serum yang segera dan ditunda, didapati selisih rerata 13,5 mg/dl (7%). Pada kelompok plasma yang segera dan ditunda, didapati selisih rerata 11,25 mg/dl (6%).
Gambaran Kadar Enzim Cholinesterase Dalam Darah Petani Bawang Merah Pengguna Organofosfat Di Desa Sumberbulu-Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo. Chusnul, Chotimah; Rahmawati, Previta Zeizar; Mahtuti, Erni Yohani
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 1 (2025): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i1.10601

Abstract

Organofosfat merupakan golongan pestisida yang biasa digunakan dalam aktivitas pertanian. Pestisida ini diketahui memiliki pengaruh toksik terhadap sistem saraf melalui penghambatan enzim cholinesterase. Bahaya paparan organofosfat menyebabkan keracunan dengan gejala mual, muntah, sakit kepala, kejang-kejang, bahkan kematian. Sehingga keracunan organofosfat dapat dinilai dengan kadar enzim cholinesetrase dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar enzim cholineterase pada petani bawang merah di Desa Sumberbulu Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan 17 serum darah dari 24 petani bawang merah yang dipilih secara purposive sampling . Aktivitas enzim cholinesetrase diukur dengan instrumen fotometer biolyzer 100 menggunakan sampel serum darah dan menunjukkan hasil 2 (11,8%) dari 17 (100%) serum darah mengalami penurunan enzim cholinesetrase sedangkan 15 (88,2%) lainnya normal. Hasil analisis statistik hubungan parameter usia (p=0,016) dan kelengkapan APD (p=0,032) menunjukan hubungan signifikan terhadap cholinesetrase. Sedangkan parameter masa kerja (p=0,517) , lama penyemprotan (p=0,233), dan posisi penyemprotan (p=0,668) diketahui tidak memiliki hubungan terhadap penurunan kadar enzim cholinesetrase. Berdasarkan hasil penelitian diketahui penurunan enzim cholinesetrase terjadi pada petani yang memiliki usia 46-60 tahun dengan penggunaan APD tidak lengkap. Sehingga parameter usia dan APD diketahui memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian penurunan kadar enzim cholinesetrase.
PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN KADAR ASAM URAT PADA LANSIA DESA UNDAAN MENGGUNAKAN METODE POCT DAN ENZIMATIK URIKASE Yunia, Fita Asri Fatul; Rahmawati, Previta Zeizar
Jurnal Analis Laboratorium Medik Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Analis Laboratorium Medik
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jalm.v10i2.6417

Abstract

Latar belakang: Asam urat merupakan produk akhir katabolisme purin yang disintesis di hati dan diekskresikan melalui saluran kemih lansia lebih rentan terkena asam urat karena adanya perubahan fisiologis dan metabolisme tubuh yang terjadi seiring bertambahnya usia. Tujuan:  untuk mengetahui perbedaan hasil kadar asam urat pada lansia anatara metode POCT dan Enzimatik Urikase. Metode: deskriptif kuantitatif dimana sampel diambil secara purposive sampling dengan kriteria inklusi serta eksklusi pada serum darah 30 lansia di Desa Undaan RW.01. Pemeriksaan yang dilakukan yaitu menggunakan POCT dan Enzimatik Urikase. Hasil: menunjukkan bahwa terdapat hasil normal sebanyak 16 orang (53,3%), dan terdapat hasil yang tinggi sebanyak 12 orang (40%). Kesimpulan: Untuk mengetahui perbedaan signifikan kedua metode menggunakan analisa statistik uji wilcoxon dengan hasil p-value 0,001 (p<0,05).”
Gambaran Hasil Pemeriksaan Benzodiazepine Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di RS Karsa Husada Batu Sari, Mela Tri Mayang; Rahmawati, Previta Zeizar
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 5 No 2 (2025): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/medlabscience.v5i2.2953

Abstract

Latar Belakang: Pasien gagal ginjal kronik (GGK) dengan hemodialisa sering mengalami gangguan psikososial, di antaranya kecemasan serta kualitas tidur buruk akibat perubahan fisik dan keterbatasan aktivitas. Penggunaan obat benzodiazepine digunakan untuk mengatasi gangguan tersebut, karena memiliki efek sedatif pada sistem saraf pusat. Namun, dalam penggunaan obat benzodiazepine tidak lepas dari efek samping seperti pusing, kelelahan, serta resiko ketergantungan, terutama penggunaan jangka panjang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan benzodiazepine pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RS Karsa Husada Batu. Metode: Penelitiaan ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sampel penelitian berjumlah 20 urine pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RS Karsa Husada Batu. Pemeriksaan penelitian ini menggunakan alat strip-test benzodiazepine yang merupakan salah satu metode uji skrining yang digunakan secara umum, cepat, dan relatif murah. Hasil negatif ditandai dengan dua garis warna merah pada kolom test dan kontrol, sedangkan hasil positif ditandai satu garis warna merah pada kolom kontrol. Hasil: Pada penelitian ini pada parameter kecemasan menunjukkan hasil bahwa seluruh responden yaitu 20 responden (100%) mengalami gangguan kecemasan. Berdasarkan parameter kualitas tidur, diperoleh 7 responden (35%) mempunyai kualitas tidur baik, sementara yang mempunyai kualitas tidur buruk ada 13 responden (65%). Hasil dari pemeriksaan benzodiazepine didapatkan 18 responden (90%) negatif dan 2 responden (10%) positif kandungan benzodiazepine. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 20 sampel urine pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di temukan bahwa dari 20 sampel urine menunjukkan hasil negatif 18 responden (90%), dan hasil positif didapatkan 2 responden (10%) terhadap kandungan benzodiazepine. Kata kunci : Benzodiazepine, Gagal Ginjal Kronik, , Kecemasan, Kualitas Tidur
Analisis Jumlah Leukosit Dan Eritrosit Dalam Urine Sopir Bus Dengan Dugaan Infeksi Saluran Kemih (Isk) putri, rani ekawati; Rahmawati, Previta Zeizar; Faisal, Faisal Zeizar
Jurnal Kesehatan Bhakti Husada Vol 11 No 2 (2025): JURNAL KESEHATAN BHAKTI HUSADA
Publisher : Jurnal Kesehatan Bhakti Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37848/jkb.v11i2.241

Abstract

Latar belakang Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan penyakit karena adanya infeksi disebabkan oleh patogen yang masuk pada saluran perkemihan yang meliputi ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Sopir bus merupakan salah satu pekerjaan yang membutuhkan waktu kerja yang lamah, kurangnya istirahat, sering menahan buang air kecil dan kurangnya mengkonsumsi air dalam satu kali perjalanan yang mengakibatkan terjadinya ISK. Tujuan peneliian ini Untuk menganalisis jumlah leukosit dan eritrosit dalam urine pada sopir bus di terminal arjosari kota malang dengan dugaan infeksi saluran kemih (ISK). Metode penelitian deskriptif kuantitatif analitik mengunakan Teknik sampling random sebanyak 20 sopir dengan pemeriksaan mikroskopis. Hasil penelitian dari jumlah leukosit, eritrosit urine pada sopir bus diterminal Arjosari Kota Malang dengan jumlah sampel sabanyak 20 sampel. pada hasil negatif leukosit sebanyak 18 orang (90%) dan positif leukosit sebanyak 2 orang (10%) pada sampel A20 jumlah leukosit 22 sel. Pada sampel A19 jumlah leukosit 6 sel. Dan hasil negatif eritrosit sebanyak 19 orang (95%) dan positif eritrrosit 1 orang (5%) didapatkan pada sampel A20 jumlah eritrosit sebanyak 49 sel. Dimana hasil positif ditandai jika jumlah leukosit>4/LPB, dan jumlah eritrosit>3/LPB. Dan hasil negatif ditandai dengan tidak adanya leukosit dan eritrosit. Saran peneliti selajnjutnyaj untuk melajkukajn penelitiajn lebih lajnjut terkajit urinajlisaj yajitu meliputi: epitel, bajkteri, kristajl, dajn secajraj fisik di lihajt dajri kekeruhajn, wajrnaj, dajn pH. Kata kunci : infeksi saluran kemih, leukosit urine, eritrosit urine.