Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

OPTIMALISASI PRODUKTIVITAS IKM ANANTA BATIK MELALUI PELATIHAN PENGGUNAAN MEJA POTONG Harianto, Dedy; Bintang, Hamdan S.; Ardiyanto, Agus; Widyawan, Vallen Laurinda Defrina
Amare Vol. 3 No. 2 (2024): Juli - Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/ja.v3i2.503

Abstract

Industri batik merupakan bagian penting dari sektor tekstil dan pakaian Indonesia yang mencerminkan kekayaan budaya bangsa. Di IKM Ananta Batik, permasalahan terjadi karena pemotongan kain batik dilakukan di lantai, menyebabkan ketidaknyamanan dan potensi kesalahan. Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan kenyamanan kerja karyawan melalui pelatihan penggunaan meja potong yang ergonomis. Kegiatan ini dilakukan dalam tiga tahap: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Metode pelaksanaan kegiatannya adalah dengan ceramah dan memberikan pelatihan. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan meja potong ergonomis mengurangi kelelahan fisik, meningkatkan kecepatan dan akurasi pemotongan kain, serta meningkatkan produktivitas. Evaluasi melalui kuesioner sebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan penurunan keluhan fisik pada punggung dan lutut serta peningkatan kenyamanan kerja. Selain itu, pelatihan ini membantu karyawan dalam meningkatkan keterampilan teknis mereka. Implementasi meja potong ergonomis secara signifikan berkontribusi dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi batik tanpa mengorbankan kesehatan pekerja.
Development and Evaluation of an ESP32-based Temperature and Humidity Control Unit for Textile Storage Harianto, Dedy; Bintang, Hamdan S.; Ardiyanto, Agus; Widyawan, Vallen Laurinda Defrina
International Journal of Engineering Continuity Vol. 4 No. 1 (2025): ijec
Publisher : Sultan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58291/ijec.v4i1.309

Abstract

Monitoring temperature and humidity in textile storage warehouses is vital for maintaining product quality and ensuring optimal conditions. This study focuses on developing a temperature and humidity control unit using an ESP32 microcontroller, evaluating its performance through black-box testing. The ESP32-based system offers a scalable and energy-efficient solution for climate control, delivering precise environmental monitoring through integrated Wi-Fi and Bluetooth for affordable connectivity. Its advanced real-time data processing capabilities and compatibility with multiple sensors make it highly suitable for cost-effective, large-scale implementations in textile storage environments. The experimental approach involves controlling temperature and humidity as independent variables, while ensuring optimal storage as the dependent variable. The DHT21 sensor, ESP32 microcontroller, and relay are used as control variables. Software was developed in the Arduino IDE to manage temperature and humidity, and after validation, the program was uploaded to the ESP32 for black box testing. Results confirmed that the system effectively regulates these conditions, crucial for preserving textiles. The ESP32 efficiently serves as the control unit, and testing validated its ability to maintain desired limits. Future improvements could include wireless access for remote monitoring, enhancing flexibility and operational efficiency in environmental control for textile storage.
Pengaruh Tekanan Udara Nozzle pada Mesin Muratec Vortex Spinning terhadap Kualitas Benang Bintang, Hamdan S.; Khairunnisa, Hasna; Qomaruzzaman, Gilang
Jurnal Tekstil Vol 5 No 1 (2022): Vol 5 No 1 Juni 2022
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v5i1.19

Abstract

Salah satu tahapan proses pemintalan adalah perubahan sliver menjadi benang yang dapat dilakukan dengan menggunakan tiga macam mesin, yaitu mesin Ring Spinning, Mesin Open End (Rotor Spinning), dan Mesin Air Jet Spinning. PT Z merupakan perusahaan pemintalan yang memiliki unit khusus yang mengoperasikan mesin berteknologi Air Jet Spinning terbaru yang disebut dengan mesin Muratec Vortex Spinning (MVS). Mesin jenis ini memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan dua mesin lainnya yaitu produktivitas lebih tinggi dan memiliki beberapa parameter kualitas yang lebih baik. Mesin MVS mempunyai proses pembentukan twist yang berbeda karena twist timbul melalui tekanan udara yang menghasilkan twist semu. Mekanisme pembentukan twist tersebut bergantung pada beberapa parameter, salah satunya adalah tekanan udara pada nozzle. Tekanan udara pada nozzle akan mempengaruhi struktur benang, sehingga berpengaruh erat dengan sifat dan kualitas benang akhir yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tekanan udara pada nozzle di mesin MVS yang dimiliki oleh PT Z terhadap kualitas benang. Percobaan dilakukan dalam tiga tingkatan tekanan udara, di mana pada masing-masing tekanan udara dilakukan pengujian terhadap tujuh parameter kualitas benang. Berdasarkan pengujian, diperoleh tekanan udara pada nozzle paling optimal adalah pada 55 MPa. Sehingga tim produksi PT Z harus menjaga supaya dapat stabil pada angka tersebut. Ketidakstabilan tekanan udara akan berpengaruh pada hairiness, Imperfection Index (IPI), dan kekuatan benang. Apabila tekanan udara turun, maka kekuatan pada benang menurun dan hairness rendah, sedangkan jika tekanan udara naik maka kekuatan benang bertambah tetapi hairness dan IPI tinggi. Beberapa parameter mesin harus diterapkan dan dirawat untuk menjaga kestabilan tekanan udara pada nozzle.
Upaya Penurunan Tingginya Angka Ketidakrataan (U%) Benang CD 40s di Mesin Ring Spinning TOYODA RY Pada Area Draft Zone Bintang, Hamdan S.
Jurnal Tekstil Vol 3 No 1 (2020): Vol 3 No 1 Juli 2020
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v3i1.30

Abstract

Salah satu proses produksi yang sedang berlangsung di Unit Spinning 2 PT Dan Liris adalah proses benang CD 40s RY yang mana benang ini berasal dari material 100% cotton. Namun pada proses pembuatan benang ini tentunya tidak semua proses dapat berjalan sesuai rencana. Selama proses berlangsung terdapat suatu permasalahan yang akan menjadi pokok pembahasan. Pokok pembahasan yang dambil adalah penyimpangan kualitas benang CD 40s di mesin Ring Spinning. Penyimpangan tersebut yaitu tingginya angka ketidakrataan (U%) pada benang CD 40s. Ketidakrataan adalah suatu ukuran mutu benang yang menyatakan besarnya penyimpangan massa pada panjang tertentu, dan keberadaanya tidak dapat dihindari. Penulisan ini difokuskan pada perbaikan kualitas ketidakrataan benang yang di uji dengan alat uji uster tester 3 dan penyelesaiannya dilakukan secara teknis. Melalui alat uji uster tester 3 dapat diketahui bahwa terdapat benang dengan ketidakrataan tinggi. Tingginya angka ketidakrataan tersebut mencapai 13,96%. Sedangkan Unit spinning 2 memiliki standar maksimal ketidakrataan benang CD 40s yaitu 12,90%. Setelah dilakukan pengecekan mesin, wawancara kepada pihak maintenance dan melihat buku monitoring dari pihak maintenance, terdapat part mesin dalam keadaan cacat dan tidak sesuai. Part tersebut adalah top apron yang kondisinya cacat karena sobek pada permukaannya dan beban pada weighting arm yang tidak maksimal, hal tersebut merupakan penyebab tingginya ketidakrataan (U%) benang CD 40s. Solusi yang dilakukan untuk menyelesaikan kasus ini yaitu dengan mengganti top apron yang permukaannya rata dan melakukan Setting pembebanan pada weighting arm. Melalui penyelesaian tersebut perbaikan kualitas ketidakrataan benang dapat dilihat kembali dari uster tester yang mana angka ketidakrataan mengalami penurunan menjadi 11,54% dan angka tersebut masuk dalam klasifikasi standar kualitas ketidakrataan benang CD 40s.
Perbaikan Kualitas Sliver dengan Menurunkan Neps dan Trash Sliver Cotton di Mesin Carding Jing Wei F 1203 dengan mengganti Wire Top Flat berdasarkan PPSI (Point Per Square Inch) Bintang, Hamdan S.
Jurnal Tekstil Vol 5 No 2 (2022): Vol 5 No 2 Desember 2022
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v5i2.40

Abstract

Penyimpangan kualitas sliver cotton di mesin  carding yaitu tingginya neps dan trash sliver cotton. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil produksi  serta menjaga kualitas benang yang dihasilkan adalah dengan memperkecil timbulnya neps dan trash. Untuk memperkecil timbulnya neps dan trash pada sliver cotton dilakukan pengendalian terhadap persentase limbah (waste). Waste merupakan limbah dari mesin  yang terbuang ketika proses produksi berlangsung. Pengendalian waste ini sangat penting  dilakukan untuk mendapatkan hasil sliver yang bagus, dan waste yang dihasilkan sedikit sehingga dapat membuat efisiensi produksi naik. Hasil pengujian sliver cotton di mesin carding menggunakan alat uji NATI mesdan lab keisokki menunjukan bahwa angka neps dan trash tinggi dan melebihi standar maksimal dimana hasil pengetesan nilai neps dan trash mesin carding menunjuk angka neps 373  dan trash 98. Sedangkan acuan standar maksimal neps dan trash sliver carding  yaitu Neps 90 dan trash 80. Sehingga terdapat penyimpangan standar kualitas pada sliver cotton di mesin carding yang akan berdampak pada proses selanjutnya. Penelitian  ini difokuskan pada perbaikan kualitas sliver dengan menurunkan jumlah neps dan trash, serta penyelesaiannya dilakukan dengan mencari kemungkinan permasalahan dan perbaikan. Melalui pengamatan ditemukan kemungkinan penyebab tingginya neps dan trash sliver carding adalah kerusakan beberapa komponen mesin, salah satunya pada wire top flat. Untuk membuktikan pengaruh dari wire top flat itu sendiri, maka akan dilakukan penggrindingan atau pergantian wire top flat apabila sudah memasuki life time kemudian dilihat hasilnya menggunakan uji NATI. Dari hasil pengujian dapat dilihat bahwasannya angka neps dan trash mengalami penurunan , dimana angka neps menjadi 226 dan trash menjadi 86. Walaupun belum mencapai standar NATI , sliver cotton telah mengalami perbaikan neps dan trash yang awalnya neps mencapai 373 dan trash mencapai 98, setelah dilakukan perbaikan dan pergantian wire top flat, akhirnya neps mengalami penurunan menjadi 226 dan trash berkurang menjadi 86.
Cacat Top Roll dan Ketidakrataan Sliver Roving pada Mesin Simplex Toyoda FL16 Bintang, Hamdan S.
Jurnal Tekstil Vol 1 No 1 (2018): Vol 1 No 1 Juli 2018
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Departemen Spinning memproduksi benang cotton, rayon dan spandex. Alur proses pembuatan benang ini meliputi material kapas masuk kedalam mesin Blowing, kemudian disuapkan ke mesin Carding melalui chut feed, kemudian terjadi peregangan di mesin Drawing, kemudian disuapkan ke dalam mesin Simplex, dan Ring Spinning, kemudian digulung di mesin Winding dan terakhir pengepakan (packing). Untuk menghasilkan benang kualitas baik maka perlu perencanaan produksi, pengendalian produksi, pengendalian mutu serta perawatan mesin, masalah yang terjadi di proses Simplex, salah satunya adalah pengaruh kualitas roving yang disebabkan karena adanya cacat top roll (pada proses dafting). Berdasarkan uji coba (trial) yang dilakukan pada praktek kerja lapangan dapat dilihat pada mesin Simplex Toyoda FL 16 . Hal ini dapat terjadi dikarenakan beberapa faktor diantaranya top roll terkena pisau pengait dan terjadi lapping pada bagian bottom roll sehingga menyebabkan top roll menjadi panas dan terbakar, dan hal tersebut pernah terjadi pada proses roving rayon. Untuk penyelesaian masalah tersebut atasan langsung meminta penggantian top roll yang baru, dengan cara melepas rubber cots atau langsung membuang top roll tersebut. Karena di PT KS kualitas adalah yang paling utama, dan tidak mau mengambil resiko akan keburukan kualitas.
Perbandingan Kualitas Benang Mesin Ring Spinning Toyoda RY No 43 Menggunakan Spindle Tape Baru dan Bekas Bintang, Hamdan S.; Khairunnisa, Hasna
Jurnal Tekstil Vol 2 No 1 (2019): Vol 2 No 1 Juli 2019
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu tahapan industri tekstil dan produk tekstil adalah industri pemintalan benang, di mana proses pembuatan benang terdiri dari beberapa tahapan. Penelitian ini berfokus pada salah satu tahapan proses pemintalan yaitu pada mesin Ring Spinning yang berfungsi memperhalus benang roving menjadi benang pada gulungan tube yang sesuai dengan nomor benang yang diinginkan. Salah satu komponen yang penting pada proses mesin Ring Spinning adalah spindle tape yang kualitasnya akan berpengaruh pada kualitas benang, sehingga apabila spindle tape aus maka harus diganti dengan yang baru. Sementara itu penggantian spindle tape yang baru terkadang membutuhkan waktu lebih lama karena kedatangan komponen tersebut tidak pasti. Penggunaan spindle tape bekas sementara dapat dilakukan sebelum yang baru datang, namun hasil kualitas benang perlu untuk diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji penggunaan spindle tape bekas pada mesin Ring Spinning dibandingkan dengan penggunaan spindle tape yang baru. Perbandingan dilakukan dalam hal kualitas benang seperti perubahan twist dan ketidakrataan benang. Pengambilan data dilakukan pada mesin Ring Spinning Toyoda RY No 43 di PT. ABC. Hasil dari penelitian menunjukkan spindle tape bekas dapat digunakan lagi untuk produksi dan tidak mempengaruhi nilai rotasi per menit (RPM) dari spindle. Namun penggunaan spindle tape bekas tersebut harus memperhatikan tension pada joki pully yang harus diatur supaya RPM spindle tidak menurun dan tidak menyebabkan turunnya twist pada benang yang dihasilkan serta kualitas benang yang dihasilkan masih memenuhi standar perusahaan
Penyelesaian Mechanical Fault di Mesin Ring Spinning dengan Pendekatan Pareto Diagram dan Fishbone Dharma, Fajar Pitarsi; Bintang, Hamdan S.; Pujianto, Hendri; Yulianto, Bambang; Prawidana, Irma
Proceeding Mercu Buana Conference on Industrial Engineering Vol 4 (2022): RENEWABLE ENERGY TOWARD SUSTAINABILITY OF SUPPLY CHAINS IN THE I4.0 ERA
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/MBCIE.2022.013

Abstract

Proses Pemintalan benang menurut pembuatannya bisa dibagi menjadi tiga, diantaranya adalah pemintalan Airjet, pemintalan Open-End, dan pemintalan Ring Spinning (Goyal & Nayak, 2019). Didalam industri pemintalan pengendalian kualitas dan standar produksi adalah salah satu hal yang tidak bisa terpisahkan dan sangat penting untuk menghasilkan benang yang memiliki mutu tinggi sesuai dengan keinginan konsumen (Dharma, Ikatrinasari, et al., 2019). Untuk mengetahui kualitas ketidakrataan benang TR Ne 30 KT 65/35 dapat dilihat dengan menggunakan alat uji bernama uster evenness tester. Hasil Uster Evenness Tester (J. Li et al., n.d.; Liu et al., 2012) antara hasil benang yang bottom apronnya normal,  bottom apron yang sobek, serta bottom apron yang bolong menunjukkan perbedaan IPI antara ketiganya. Perbandingan kualitas standar benang antara bottom apron yang normal dan bottom apron yang sobek maupun bolong kemudian dapat disimpulkan bahwa dengan bottom apron normal, kualitas unevenness (9,44%) lebih bagus dibandingkan dengan standar kualitas U% (9,5%), sedangkan untuk hasil pengujian unevenness dengan bottom apron bolong dan sobek secara berturut-turut adalah 9,68% dan 9,64%, dengan hasil tersebut, bahwa bottom apron sobek dan bottom apron bolong tidak boleh dipakai dan harus segera diganti karena akan menjadikan U% tidak standar. Ketidakrataan benang yang memiliki faktor dominan ada pada bottom apron cacat yang dapat sangat berpengaruh pada kualitas IPI yang tidak sesuai dengan standar yang sudah ditentukan. Sehingga pada bottom apron tersebut perlu diperhatikan dan diberikan perawatan sesuai dengan jadwal yang sudah ada atau dilakukan penggantian jika sebelum jadwal scouring terjadi bottom apron tersebut sudah rusak dan diganti dengan yang sudah dicuci. Penyebab dari bottom apron yang rusak adalah karena seringnya Lapping dan karena usia apron sudah mencapai batas maksimalnya. Penyelesaian untuk permasalahan ketidakrataan benang yang disebabkan oleh bottom apron yang rusak adalah dengan cara mengganti yang baru.
Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam Sektor Manufaktur: Analisis Kasus pada Industri di Indonesia Bintang, Nurul Shadrina; Bintang, Hamdan S.; Bintang, Ghaly Ananda
Jurnal Tekstil Vol 8 No 2 (2025): Vol 8 No 2 Desember 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jurnaltekstil.v8i2.147

Abstract

Tujuan dari studi ini untuk menganalisis penerapan sistem manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di bidang industri manufaktur di Indonesia. Dengan memanfaatkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, artikel ini menganalisis berbagai faktor pengaruh efektivitas implementasi K3, termasuk kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, Tingkat kesadaran di kalangan pekerja, serta komitmen dari pihak manajemen. Data diperoleh melalui metode survei, wawancara mendalam, dan analisis dokumentasi dari sejumlah Perusahaan manufaktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya walaupun terdapat peningkatan dalam kesadaran serta upaya dari Perusahaan untuk mengimplementasikan K3, masih ada banyak tantangan yang menghalangi penerapan secara menyeluruh di lapangan. Beberapa faktor kunci yang berkontibusi terhadap keberhasilan adalah pelatihan yang memadai untuk pekerja, pengawsan yang rutin, dan kesediaan manajemen untuk melakukan investasi dalam teknologi keselamatan. Penelitian ini juga menawarkan rekomendasi untuk perbaikan yang dapat diterapkan dalam sistem manajemen K3 di sektor industri manufaktur, dengan harapan dapat memperbaiki keselamatan dan Kesehatan di tempat kerja dalam sektor industri.