Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Evaluasi Lingkungan Kerja berdasarkan Aspek 5R pada Usaha Konveksi Sherly Bordir Departemen Produksi dan Penyimpanan Adhitama, Lukman; Saraswati, Danis Melati
Jurnal Tekstil Vol 6 No 2 (2023): Vol 6 No 2 Desember 2023
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v6i2.72

Abstract

Saat ini, banyak industri yang belum memperhatikan kenyamanan dan keteraturan dalam lingkungan kerja yang dapat berakibat pada terganggunya proses industri yang dijalankannya. Hal ini juga terjadi pada sebuah industri kecil dan menengah di bidang konveksi yaitu Sherly Bordir yang beroperasi di kawasan Malioboro. Sherly Bordir perlu menerapkan aspek 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) di lokasi tempat industri konveksi yang dijalankan beroperasi. Penilaian terhadap aspek 5R di perusahaan tersebut dilakukan dengan menggunakan checksheet dengan menilai 20 aspek 5R menggunakan skala penilaian 1-5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa departemen produksi memperoleh skor 36 sedangkan departemen penyimpanan mendapat skor 34. Keduanya masih termasuk dalam kondisi yang kurang baik sehingga diperlukan perbaikan. Di masa depan, perusahaan perlu melakukan manajemen alat dan bahan, produk serta tempat perusahaan beroperasi.
IMPLEMENTASI ALGORITMA ANT COLONY SYSTEM PADA OPTIMASI RUTE DISTRIBUSI BIBIT TANAMAN PENAHAN LONGSOR DI KABUPATEN SAMOSIR Ramadhani, Siti Dinar Rezki; Adhitama, Lukman
Journal of Industrial Engineering and Technology Vol 5, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/jointech.v5i2.13951

Abstract

Daerah Samosir terletak di wilayah dataran tinggi, memiliki jenis tanah topografi dan kontur tanah berbukit dan bergelombang dengan iklim tropis memiliki kelembaban udara rata-rata 85%, yang menyebabkan Samosir rawan longsor. Dinas lingkungan hidup dan kehutanan Provinsi Sumatera Utara melakukan program penghijauan lingkungan sebagai penyangga lahan rawan longsor kepada BPBD Kabupaten Samosir. Tujuan distribusi bibit yang optimal untuk mencari rute terdekat dari pengiriman bibit, proses penentuan rute distribusi menggunakan metode Ant Colony System sehingga dapat menjaga kualitas bibit yang di salurkan. Hasil rute yang diperoleh pada sembilan kecamatan rawan lonsor di Samosir memiliki jarak tempuh 218,7 km algoritma Ant Colony System (ACS) dapat digunakan pada kasus yang serupa karena telah teruji berhasil pada kasus ini.
Penerapan Algoritma Simulated Annealing pada Proses Penentuan Rute Distribusi Cabai di Kota Yogyakarta Adhitama, Lukman; Ramadhani, Siti Dinar Rezki
Jurnal PASTI (Penelitian dan Aplikasi Sistem dan Teknik Industri) Vol 19, No 3 (2025): Jurnal PASTI
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cabai merah merupakan komoditas penting yang dapat menunjang perekonomian dan kebutuhan pangan masyarakat. Oleh sebab itu, kepedulian instansi pertanian agar masyarakat mampu berswadaya untuk menanam cabai pun tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan pemberian bantuan benih tanaman cabai kepada pemerintah Kota Yogyakarta untuk diberikan kepada sejumlah kelompok tani di wilayah tersebut. Bantuan tanaman benih cabai akan dilakukan secara continue maka dari itu penentuan rute distribusi yang optimal diperlukan untuk dapat menjaga kualitas bibit yang disalurkan. Penelitian ini menggunakan metode Simulated Annealing (SA) untuk menentukan rute terpendek dalam proses distribusi bibit cabai. Hasil yang diperoleh dari penentuan rute distribusi dengan menggunakan metode Simulated Annealing (SA) yang menerapkan 3 kombinasi parameter dan replikasi sebanyak 5 kali menunjukkan hasil terbaik berupa rute dengan total jarak tempuh yaitu 26,14 km dengan estimasi waktu distribusi yaitu 1 jam 12 menit. Hasil tersebut diperoleh dari penerapan parameter Simulated Annealing (SA) dengan nilai suhu awal (T0) = 50, suhu akhir (TF) = 0,001 dan koefisien pendinginan (α) = 0,99 pada replikasi ke 2. Dengan hasil ini maka jika diterapkan dalam kasus distribusi bibit cabai akan membuat proses pengirimannya menjadi lebih cepat karena memiliki jarak yang minimal.