Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : JGISE-Journal of Geospatial Information Science and Engineering

Pendefinisian Koordinat Titik Stasiun GMU2 pada International Terrestrial Reference Frame (ITRF) 2020 Menggunakan Titik Ikat International GNSS Service (IGS) Kresnawan, Dicky Satria; Panuntun, Hidayat
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.98257

Abstract

Universitas Gadjah Mada memiliki dua titik stasiun Continuous Operating Reference System (CORS) dengan nama GMU1 dan GMU2. Titik GMU2 belum memiliki koordinat definitif karena stasiun tersebut masih baru dan belum dilakukan pengolahan data untuk mendapatkan koordinat definitifnya. Titik GMU2 tidak bisa dimanfaatkan untuk kegiatan penentuan posisi apabila koordinat definitif titik tersebut belum didefinisikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan koordinat definitif dari titik GMU2. Penelitian ini menggunakan data pengamatan GNSS selama 30 hari tanggal 6 Januari hingga 4 Februari 2024 atau Day of Year (DOY) 6 s.d. 35. Pengecekan kualitas data pengamatan menggunakan perangkat lunak TEQC. Pengecekan kualitas data dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari multipath dan delay yang disebabkan oleh ionosfer. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak GAMIT & GLOBK 10.71. Pengolahan titik GMU2 menggunakan 10 titik ikat IGS yang diolah sesuai standar orde 0. Hasil pengecekan kualitas data menunjukkan bahwa nilai MP1 dan MP2 titik GMU2 di bawah 0,5 meter. Nilai tersebut mengindikasikan pengaruh multipath di titik GMU2 minimal. Nilai IOD slips mengindikasikan bahwa data hasil perekaman tidak terpengaruh delay ionospher. Hasil pengolahan dengan menggunakan titik ikat 10 stasiun IGS menghasilkan nilai koordinat kartesius tiga dimensi (X, Y, Z) untuk titik GMU2 berturut-turut beserta simpangan bakunya adalah –2200143,9034 m +5,5 mm; 5924784,8966 m +12 mm; –857058,0378 m +3,4 mm. Nilai koordinat geodetik (φ, λ, h) beserta simpangan bakunya berturut-turut adalah –7,7740809854o +0,000101”; 110,3722668808o  +0,000108”; 201,9747 m +12,9 mm. Nilai koordinat UTM zona 49S (E, N, U) berturut-turut adalah 430785,4293 m +3,3 mm; 9140626,4215 m +3,1 mm; 201,9692 m +12,9 mm.
Uji Akurasi GNSS TGS EQ1 : Perangkat GNSS dalam Negeri Akurasi Tinggi sebagai Upaya Percepatan Pemetaan Desa secara Mandiri (TGS EQ1 GNSS Accuracy Test: High Accuracy Domestic GNSS Device as an Effort to Accelerate Village Mapping Independently) Sari, Ema Fitria; Atmanto, Adrian Dwi; Panuntun, Hidayat; Indrawati, Like; Purwanto, Taufik Hery; Hardjo, Karen Slamet; Sarono, Sarono; Prasetyo, Anton; Yudhatama, Dilla
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 8, No 2 (2025): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.102396

Abstract

Perkembangan teknologi pada bidang survei dan pemetaan mengakibatkan munculnya perangkat GNSS geodetik yang menawarkan akurasi dan efisiensi dalam pengukuran salah satunya yaitu GNSS TGS EQ1. Produk ini merupakan hasil karya dalam negeri yang diproduksi untuk pengukuran batas desa dengan harga lebih terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji akurasi TGS EQ1 dengan membandingkan hasil ukuran jarak GNSS dengan pita ukur dan total station yang dianggap sebagai data definitif. Pengukuran GNSS dilakukan menggunakan metode RTK dengan 10 kali akuisisi data per titik. Sedangkan pengukuran pita ukur dan total station dilakukan menggunakan metode pulang-pergi dengan 10 data jarak setiap sisinya. Pengukuran dilakukan terhadap 3 geometri pengujian dengan variasi ukuran dan bentuk untuk memastikan konsistensi dan keakuratan hasil. Selanjutnya, dilakukan perhitungan data hasil pengukuran sehingga didapatkan rerata jarak dan simpangan baku setiap sisi serta nilai selisih jarak dari GNSS dengan data definitif. Kemudian dilakukan uji statistik untuk mengetahui signifikansi perbedaan jarak hasil ukuran GNSS dengan pita ukur dan total station. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simpangan baku pengukuran GNSS berkisar pada 4.2 sampai dengan 19.2 mm. Selisih jarak  hasil pengukuran GNSS dengan pita ukur dan total station ≤ 3 cm. Berdasarkan uji statistik yang telah dilakukan, Ho diterima yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara jarak hasil pengukuran menggunakan GNSS dengan pita ukur dan total station. Dengan demikian, GNSS TGS EQ 1 telah memenuhi persyaratan sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2016 untuk dapat digunakan dalam pengukuran batas desa dengan nilai ketelitian horizontal ≤ 5 cm.
Deteksi Penurunan Muka Tanah Menggunakan Data SAR (Synthetic Aperture Radar) Sentinel-1 di Kota dan Kabupaten Tegal Priambodho, Gagah Agung; Panuntun, Hidayat
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 8, No 2 (2025): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.102952

Abstract

Fenomena penurunan muka tanah (PMT) pada beberapa tahun terakhir kerap terjadi di daerah-daerah yang terletak di pesisir pantai utara Jawa seperti Jakarta, Semarang, dan Demak. Kota Tegal merupakan wilayah yang terletak di pesisir pantai utara Jawa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tegal. Fenomena PMT yang terjadi di Kota Tegal telah diamati menggunakan metode GNSS pada titik stasiun CORS CTGL. Namun, metode GNSS kurang efektif digunakan untuk melakukan pengamatan PMT dikarenakan metode ini melakukan pengukuran berbasis titik sedangkan PMT terjadi secara areal. Salah satu metode pengamatan berbasis satelit radar yaitu InSAR dapat digunakan untuk melakukan pengamatan PMT dengan hasil cakupan spasial yang luas. Metode ini dapat dikombinasikan menggunakan teknik SBAS untuk meningkatkan akurasi hasil pengolahan. Pengolahan menggunakan metode ini dapat dilakukan dengan perangkat lunak LiCSBAS yang memanfaatkan data interferogram dari LiCSAR pada arah orbit ascending dan descending. Dilakukan ekstraksi 2,5D untuk memperoleh nilai komponen vertikal yang lebih merepresentasikan penurunan maupun kenaikan muka tanah.  Kegiatan ini dilakukan untuk mendeteksi penurunan muka tanah yang terjadi di Kabupaten Tegal dan mencakup Kota Tegal yang selanjutnya disebut sebagai daerah Tegal. PMT yang terjadi diamati berdasarkan hasil analisis deret waktu InSAR dan ekstraksi 2.5D menggunakan perangkat lunak LiCSBAS. Hasil pengolahan berhasil mendeteksi penurunan muka tanah yang terjadi di area sebelah utara dan kenaikan muka tanah terjadi di area sebelah selatan daerah Tegal. Nilai penurunan yang terjadi mencapai -207,78 mm dan nilai kenaikan yang terjadi mencapai 88,91 mm. Nilai penurunan dan kenaikan yang disajikan merupakan nilai cumulative vertical displacement yang didapatkan dari periode hasil pengolahan.