Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS CAMPUR KODE PADA NOVEL 33 SENJA DI HALMAHERA. Wiganata, Siken Agil; Kurnia, Ita; Sari, Ika Puspita
TRANSFORMATIKA Vol 7, No 2 (2023): TRANSFORMATIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/transformatika.v7i2.7682

Abstract

Campur kode merupakan fenomena bilingual yang terjadi baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dalam bentuk tulisan dapat ditemukan dalam karya sastra salah satunya adalah novel. Penelitian ini berkaitan dengan analisis fenomena campur kode dalam bentuk karya sastra yaitu novel. Objek kajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuah novel berjudul 33 Senja Di Halmahera karya Andaru Intan. Pemilihan novel ini dikarenakan latar belakang cerita yang bertempat di daerah Halmahera yang memungkinkan terjadinya campur kode dalam dialog atau narasi dari pengarang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan bentuk kualitatif dan menggunakan data sekunder berupa dialog antar tokoh dan narasi. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 42 data campur kode ke dalam dan ke luar campur kode, dan terdapat lima bentuk campur kode berupa penyisipan kata, frasa, klausa, reduplikasi atau perulangan kata, dan baster.
Workshop Optimalisasi Kompetensi Numerasi Guru Sekolah Dasar Negeri Bandar Lor 3 Kota Kediri Primasatya, Nurita; Putri, Karisma Eka; Imron, Ilmawati Fahmi; Karimatus Saidah; Zunaidah, Farida Nurlaila; Wiganata, Siken Agil; Maulana, Gafarudin Fauzi
Dedikasi Nusantara: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pendidikan Dasar Vol 4 No 2 (2024): Desember
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/dedikasi.v4i2.24254

Abstract

Masalah yang muncul di SDN Bandar Lor 3 Kediri yakni 1) rendahnya kompetensi numerasi guru SD yang belum memiliki pemahaman yang mendalam tentang konsep-konsep dasar numerasi atau kesulitan dalam menyampaikan materi numerasi secara efektif kepada siswa, 2) kurangnya variasi metode pembelajaran numerasi: Guru cenderung menggunakan metode pembelajaran yang monoton, sehingga siswa kurang tertarik dan termotivasi dalam belajar matematika, 3) rendahnya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika. Oleh sebab itu dilakukan pengabdian kepada masyarakat guna mengatasi permasalahan tersebut. Metode yang digunakan yakni prosedur pelaksanaan kegiatan dan teknik penyelesaian masalah. Instrumen yang dipakai adalah angket yang disebarkan melalui google form. Hasil yang didapatkan dari angket bahwa 100% guru memahami materi yang dijelaskan oleh narasumber dan guru mampu mengaplikasikan materi numerasi kepada siswa sekolah dasar. Berdasarkan hasil angket tersebut dapat dikatakan bahwa workshop yang dilaksanakan oleh tim pengabdian kepada masyarakat berhasil dengan hasil yang memuaskan
Pelatihan Pembuatan Modul Ajar sebagai Upaya Implementasi Kurikulum Merdeka pada Guru SDN Jatirejo Kabupaten Kediri Wenda, Dhian Dwi Nur; Imron, Ilmawati Fahmi; Putri, Kharisma Eka; Sahari, Sutrisno; Kurnia, Ita; Permana, Erwin Putera; Damariswara, Rian; Handayani, Rizky; Wiganata, Siken Agil
Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara Vol 7 No 3 (2023): Volume 7 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/ja.v7i3.21024

Abstract

Most of the elementary school teachers in the Kediri District, Mostly, have not been able to compile teaching modules for the independent curriculum. It is necessary to provide training in the preparation of teaching modules. The method used there are three stages, namely planning, implementation, and evaluation. The training went smoothly and well. The material provided was easily understood by 68.2% of the participants. As many as 45.5% of participants stated that the speaker was very clear. As many as 79.5% of participants required further training. In addition to containing percentages, the participants wanted a longer training time, added facilitators or companions for the training participants, and simplified the training material.