Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Belas Kasih Tanpa Batas: Refleksi Naratif-Teologis atas Lukas 10:25–37 dalam Konteks Kontemporer Raulina, Raulina
Jurnal Teologi dan Pelayanan Kerusso Vol 10 No 1: Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso - Maret 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33856/kerusso.v10i1.467

Abstract

In the context of a modern world increasingly marked by social fragmentation and individualistic tendencies, the parable of the Good Samaritan (Luke 10:25–37) offers a radical ethical vision regarding love and the identity of one's neighbor. This article aims to analyze the theological message of the parable using a narrative interpretation approach, particularly through an examination of narrative structure, characterization, and the dynamics of social reversal presented by the text. The study's findings indicate that love in this narrative is not merely an emotional response but a concrete action that involves courage across social, religious, and ethnic boundaries. This parable rhetorically challenges exclusive paradigms within the early readers' community of the Gospel of Luke and redefines the concept of "neighbor" from a passive object of compassion to an active subject who initiates love. These findings are relevant for contemporary society in efforts to build an ethics of solidarity across identities, as well as providing a theological foundation for inclusive and transformative practices of love amid a global humanitarian crisis.
Faithfulness in Small Matters: A Biblical-Theological Analysis of Luke 16:1–15 Raulina, Raulina; Gabriel Panjaitan, Geri
Theological Journal Kerugma Vol 6 No 1 (2023): Theological Journal Kerugma April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33856/kerugma.v6i1.476

Abstract

The pericope in Luke 16:1–15, commonly referred to as the Parable of the Unjust Steward, presents a complex and challenging theological message. This study aims to explore the concept of faithfulness in small matters as taught by Jesus in this passage. By examining the historical, social, and economic background of the New Testament world and analyzing the rhetorical structure and literary features of the text, this research argues that Jesus' primary emphasis is not on cleverness, but on the moral and spiritual integrity required in managing entrusted resources. Faithfulness in minor matters is shown to be a crucial indicator of one’s readiness for greater responsibilities, revealing one's character and spiritual maturity. The passage underscores the Christian disciple’s calling to live a life of integrity, detachment from wealth, and full devotion to God. This study affirms that faithfulness in small matters plays a formative role in shaping the authentic character of a servant of God.
Dari Fondasi ke Transformasi: Analisis Sosio-Historis terhadap perkembangan HKBP Pematangsiantar pada tahun 1928-1934 Tambun, Roy Haries Ifraldo; Lumban Gaol, Ebeneser
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.605

Abstract

Perkembangan gereja merupakan proses berkelanjutan yang harus di upayakan, baik secara internal maupun eksternal. Esensi perkembangan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan lebih utama pada pertumbuhan spiritual dan organisasional dari dalam gereja itu sendiri. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis sosio-historis. Adapun tujuan dari artikel ini untuk mengidentifikasi faktor utama yang mempengaruhi perkembangan gereja HKBP Pematangsiantar. Dalam penelitian ini, penulis akan membatasi ruang lingkup penelitian, yaitu dinamika pendorong dan penghambat perkembangan gereja HKBP Pematangsiantar untuk menemukan implikasi perkembangan tersebut pada masa sekarang. Melalui penelitian ini, dapat diidentifikasi bahwa ada beberapa faktor yang berperan dalam perkembangan gereja HKBP Pematangsiantar adalah faktor sosiologis, spiritual, dan pendidikan. Secara sosiologis, semangat kemerdekaan "zelfstandigheid" dari zending kolonial Belanda mendorong kemandirian gereja untuk keluar dari zending kolonial Belanda. Hal ini juga mendorong perkembangan spiritual, dengan adanya persentase peningkatan jumlah pemeluk Kristen. Senada dengan hal tersebut faktor pendidikan berperan penting melalui program-program edukasi yang memperkuat pemahaman doktrinal dan pengembangan SDM.
Kasih dan Pengampunan Seorang Ayah: Refleksi dari Perumpamaan Anak yang Hilang dalam Lukas 15: 11-32 Raulina, Raulina; Tambun, Roy Haries Ifraldo
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.609

Abstract

Kasih dan pengampunan seorang ayah dalam perumpamaan anak yang hilang menunjukkan sikap ayah yang penuh kasih dan tanggung jawab terhadap anaknya. Melalui perumpamaan ini tercermin kasih sayang seorang ayah yang tidak hanya terbatas pada kata-kata, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata ketika ia berlari menyambut kembali anak bungsunya yang telah menghabiskan warisan dan hidup dalam kebinasaan. Metode penelitian kualitatif akan mengupas bagaimana karakter seorang ayah yang bertanggung jawab dan penuh kasih terhadap anaknya sebagaimana tertulis dalam Lukas 15:11-32. Dengan demikian, tujuan dari penelitian kiranya menjadi acuan atau role model  dari seorang ayah untuk mengasihi anaknya dengan penuh tanggung jawab. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan oleh penulis, maka bukan hanya anak bungsu yang hilang, tetapi juga anak sulung, karena ia tidak merasakan kedekatan emosional dengan ayahnya.
Kasih dan Pengampunan Seorang Ayah: Refleksi dari Perumpamaan Anak yang Hilang dalam Lukas 15: 11-32 Raulina, Raulina; Tambun, Roy Haries Ifraldo
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.609

Abstract

Kasih dan pengampunan seorang ayah dalam perumpamaan anak yang hilang menunjukkan sikap ayah yang penuh kasih dan tanggung jawab terhadap anaknya. Melalui perumpamaan ini tercermin kasih sayang seorang ayah yang tidak hanya terbatas pada kata-kata, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata ketika ia berlari menyambut kembali anak bungsunya yang telah menghabiskan warisan dan hidup dalam kebinasaan. Metode penelitian kualitatif akan mengupas bagaimana karakter seorang ayah yang bertanggung jawab dan penuh kasih terhadap anaknya sebagaimana tertulis dalam Lukas 15:11-32. Dengan demikian, tujuan dari penelitian kiranya menjadi acuan atau role model  dari seorang ayah untuk mengasihi anaknya dengan penuh tanggung jawab. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan oleh penulis, maka bukan hanya anak bungsu yang hilang, tetapi juga anak sulung, karena ia tidak merasakan kedekatan emosional dengan ayahnya.
Wealth and Godliness in Ministry: A Biblical-Theological Analysis of 1 Timothy 6:6–21 Raulina, Raulina; Gabriel Panjaitan , Geri
Jurnal Didaskalia Vol 6 No 2: Journal Didaskalia - October 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33856/didaskalia.v6i2.477

Abstract

This article presents a biblical-theological analysis of 1 Timothy 6:6–21 with a focus on the ethical and spiritual challenges posed by wealth in the context of Christian ministry. The study investigates the apostle Paul's exhortation to Timothy concerning godliness, contentment, and the perils of materialism within the early Christian community. Through a close exegetical reading of the text, supported by historical-contextual insights and relevant Greek lexical analysis, the paper explores how the passage delineates the contrast between true spiritual wealth and the corrupting influence of greed. The research highlights Paul's call for ministers to pursue righteousness, faith, love, endurance, and gentleness while maintaining a life free from the love of money. This study contributes to contemporary theological discourse on pastoral integrity, offering critical implications for ethical leadership, especially in ecclesial settings prone to commodification and spiritual compromise.
Mengucap Syukur Sebagai Esensi Hidup Baru: Hermeneutis Biblis terhadap Kolose 3: 13-17 Raulina, Raulina; Panjaitan, Geri Gabriel
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v5i2.374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah makna teologis dari praktik mengucap syukur sebagai bagian dari reorientasi hidup baru menurut Kolose 3:13–17. Dalam bagian ini, Paulus menekankan bahwa hidup baru dalam Kristus harus tercermin melalui sikap syukur yang terus-menerus mewarnai seluruh aspek kehidupan. Syukur dipahami bukan sekadar reaksi emosional terhadap anugerah Allah, melainkan sebagai ungkapan mendalam dari perubahan identitas orang percaya yang telah meninggalkan manusia lama dan diperbarui menurut gambar Penciptanya. Selain itu, sikap syukur berperan penting dalam membangun keharmonisan komunitas Kristen, mempererat hubungan kasih dan damai di antara jemaat. Dengan demikian, pengucapan syukur menjadi wujud nyata iman, mencerminkan ketergantungan kepada kasih karunia Allah serta memperlihatkan kuasa Injil dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menegaskan bahwa syukur harus menjadi landasan spiritual yang aktif, baik dalam kehidupan individu maupun dalam hubungan komunitas, serta berfungsi sebagai kesaksian hidup yang mendukung misi gereja di tengah dunia.AbstrakThis study aims to examine the theological meaning of the practice of giving thanks as part of the reorientation of a new life according to Colossians 3:13–17. In this section, Paul emphasizes that a new life in Christ must be realized through an attitude of gratitude that continuously colors all aspects of life. Gratitude is understood not merely as an emotional reaction to God's grace, but as a profound expression of the change in the identity of believers who have left the old man and are renewed according to the image of their Creator. In addition, an attitude of gratitude plays an important role in building harmony in the Christian community, strengthening relationships of love and peace among the congregation. Thus, gratitude becomes a real manifestation of faith, reflects dependence on God's grace and displays the power of the Gospel in everyday life. This study emphasizes that gratitude must be an active spiritual foundation, both in individual life and in community relationships, and functions as a living testimony that supports the church's mission in the world.
Tugas dan Tanggung Jawab Ibu di Tengah-Tengah Keluarga menurut 1 Samuel 1: 1-28 : Memahami Peran Figur Ibu di HKBP Lubuk Saban Raulina
Abdimas Awang Long Vol. 8 No. 2 (2025): Juni, Abdimas Awang Long
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Awang Long

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56301/awal.v8i2.1596

Abstract

Pengabdian Kepada Masyarakat adalah satu dari tiga bagian penting Dharma Perguruan Tinggi yang harus dilakukan oleh Perguruan Tinggi, termasuk STT HKBP. Oleh karena itu, dalam mendukung dharma ini, maka STT HKBP melakukan kegiatan PkM yang terdiri dari dosen dan mahasiswa. Dalam kegiatan ini, tim PkM menggunakan metode penelitian Kualitatif yang bersumber dari wawancara kepada responden yang dikhususkan kepada kaum ibu untuk mengetahui peran dan tanggungjawab seorang ibu di tengah keluarga. Setelah melakukan wawancara maka tim PkM melakukan pembinaan dan diskusi kepada kaum ibu. Melalui metode tersebut, ditemukan bahwa ibu merupakan sebuah tiang penyangga dalam rumah tangga yang mengusahakan agar rumah tangga terseut dapat berdiri dengan kokoh. Seorang ibu yang bertanggungjawab akan menjaga dan merawat anak-anaknya dengan baik. Oleh karena itu, kegiatan PkM ini menyimpulkan bahwa peran ibu sangat vital dalam kehidupan anak, serta menegaskan tanggung jawab mereka dalam merawat keluarga, terutama anak-anak. Temuan ini memberikan wawasan penting tentang pentingnya pemberdayaan perempuan dan dukungan terhadap peran ibu dalam masyarakat, serta implikasinya bagi pengembangan kebijakan sosial yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan keluarga.
DIGITAL ANXIETY AND INTERFAITH HARMONY: ADDRESSING ADOLESCENT FOMO THROUGH THEOLOGICAL REFLECTIONS ON LUKE 12:22-34 Siagian, Raulina; Sitorus, Herowati
Harmoni Vol. 24 No. 1 (2025): Januari-Juni 2025
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v24i1.870

Abstract

Social media is identified as a double-edged medium: it can facilitate constructive interfaith interaction, yet also foster misinformation that undermines harmony. This study examines the impact of Fear of Missing Out (FOMO) and digital anxiety on adolescents, with attention to their effects on mental health, spiritual life and interfaith harmony. Using a qualitative narrative exegesis of Luke 12:22–34, the research highlights theological insights on divine providence as a spiritual resource for addressing anxiety, while examining interfaith perspectives on digital-era challenges. The findings show that Luke 12:22–34 offers adolescents meaningful guidance in coping with digital pressures, emphasizing trust, contentment and release from worry. The study underscores that interfaith dialogue is vital for strengthening solidarity amid digital complexities and that collaborative approaches across religious traditions provide more inclusive and sustainable frameworks for addressing adolescent anxiety than single-tradition responses. The study proposes three practical interventions: interfaith digital literacy programs rooted in shared values, interfaith youth dialogue groups focusing on FOMO and digital wellness, and collaborative anti-misinformation initiatives. These strategies demonstrate how theological reflection combined with interfaith cooperation can equip adolescents to manage digital anxiety while promoting tolerance, inclusivity, and interreligious harmony in contemporary society. AbstrakMedia sosial adalah medium bermata dua: di satu sisi dapat memfasilitasi interaksi lintas iman yang konstruktif, namun di sisi lain juga dapat menyebarkan misinformasi yang merusak keharmonisan. Studi ini meneliti dampak Fear of Missing Out (FOMO) dan kecemasan digital pada remaja, dengan perhatian khusus pada pengaruhnya terhadap kesehatan mental, kehidupan spiritual, dan harmoni antaragama. Dengan menggunakan metode eksegesis naratif kualitatif terhadap Lukas 12:22–34, penelitian ini menyoroti wawasan teologis tentang pemeliharaan ilahi sebagai sumber daya spiritual untuk mengatasi kecemasan, sekaligus mengkaji perspektif lintas iman terhadap tantangan era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lukas 12:22–34 menawarkan panduan bermakna bagi remaja dalam menghadapi tekanan digital, dengan menekankan sikap percaya, merasa cukup, dan melepaskan kekhawatiran. Studi ini menegaskan bahwa dialog lintas iman sangat penting untuk memperkuat solidaritas di tengah kompleksitas digital, serta bahwa pendekatan kolaboratif antartradisi agama memberikan kerangka kerja yang lebih inklusif dan berkelanjutan dalam menangani kecemasan remaja dibandingkan respons dari satu tradisi saja. Penelitian ini mengusulkan tiga intervensi praktis: program literasi digital lintas iman yang berakar pada nilai-nilai bersama, kelompok dialog remaja lintas iman yang berfokus pada FOMO dan kesehatan digital, serta inisiatif kolaboratif untuk melawan misinformasi. Strategi-strategi ini menunjukkan bahwa refleksi teologis yang dipadukan dengan kerja sama lintas iman dapat membekali remaja untuk mengelola kecemasan digital sekaligus memajukan toleransi, inklusivitas, dan harmoni antaragama dalam masyarakat kontemporer.
Peran Pendidikan Agama Kristen terhadap Anak yang Berusia 6-8 Tahun dalam Rangka Membekali Tumbuh Kembang Rohani Anak Menurut Matius 19: 13-15 Raulina, Raulina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.31613

Abstract

Penelitian ini mengkaji urgensi dan implementasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) bagi anak usia 6-8 tahun berdasarkan landasan teologis Matius 19:13-15 dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi literatur dan analisis eksegesis untuk mengeksplorasi pentingnya masa usia dini sebagai periode kritis dalam pembentukan fondasi spiritual anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia 6-8 tahun merupakan golden age untuk penanaman nilai-nilai Kristiani karena karakteristik perkembangan kognitif, emosional, dan spiritual anak pada masa ini sangat reseptif terhadap pengajaran rohani, di mana sikap Yesus dalam Matius 19:13-15 yang menerima dan memberkati anak-anak memberikan model teologis bahwa karakteristik alamiah anak seperti kesederhanaan, kepercayaan, dan kerendahan hati menjadi standar ideal untuk memasuki Kerajaan Allah.