Abstrak: Kelompok KWT Saromasea dan Usaha Jelita masih menghadapi kendala seperti proses produksi yang masih tradisional, keterbatasan teknologi, manajemen usaha yang lemah, serta kurangnya keterampilan digital terkait pemasaran. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kemandirian ekonomi melalui pendekatan pemberdayaan berbasis lokal. Kegiatan yang dilakukan meliputi pelatihan budidaya jamur tiram, pengembangan produk olahan, pendampingan teknologi, penguatan manajemen dan literasi keuangan, serta pemasaran digital. Hasilnya menunjukkan peningkatan kualitas yaitu jamur tumbuh lebih seragam bersih dan higienes terkait pelatihan Teknik sterilisasi dan penggunaan pengukus/steamerdan kuantitas produksi sebelum menggunakan alat teknologi hanya 200 baglog perminggu, namun setelah menggunakan maka prodksinya meningkat menjadi 300 baglog , pencatatan keuangan sudah menggunakan pembukuan sederhana, Program ini juga mendorong terciptanya produk bernilai tambah dan menumbuhkan kewirausahaan masyarakat. Dampak positifnya terlihat dari peningkatan pendapatan rumah tangga, penguatan peran perempuan dalam perekonomian lokal, dan kontribusi terhadap pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Model ini relevan untuk direplikasi sebagai inovasi sosial di desa-desa lain.Abstract: Bontobangun Village in Rilau Ale District has horticultural potential, particularly oyster mushroom cultivation. However, the KWT Saromasea and Usaha Jelita groups still face obstacles such as traditional production processes, limited technology, weak business management, and a lack of digital skills and marketing innovation. This community service program aims to strengthen economic independence through a locally-based empowerment approach. Activities include training in oyster mushroom cultivation, processed product development, technology assistance, strengthening financial management and literacy, and digital marketing. The results show an increase in quality, namely that the mushrooms grow more uniformly, cleanly and hygienically related to training in sterilization techniques and the use of steamers and the production quantity before using technological tools was only 200 baglogs per week, but after using the production increased to 300 baglogs, financial recording skills have used simple bookkeeping, and expanded market access through digital platforms. The program also encourages the creation of value-added products and fosters community entrepreneurship. Positive impacts are seen in increased household income, strengthened women's roles in the local economy, and contributions to achieving several Sustainable Development Goals (SDGs). This model is relevant for replication as a social innovation in other villages.