Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PERENCANAAN PONDASI TIANG PANCANG DENGAN KOMBINASI BATTERED PILE DAN VERTICAL PILE PADA STRUKTUR VERTICAL VESSEL (Studi Kasus : PT Kilang Pertamina Internasional) Gilang Fathir Ahwadzi; As'ad Munawir; Harimurti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan pondasi untuk Vertical Vessel (Reaktor DHT) di Kilang Pertamina RU II Dumai menghadapi tantangan berupa struktur ramping dengan beban besar serta kondisi tanah lunak dengan nilai SPT < 10 yang membatasi kapasitas lateral tiang. Penelitian ini menganalisis efektivitas battered pile sebagai alternatif desain untuk meningkatkan kinerja lateral dan mengurangi jumlah tiang dibandingkan konfigurasi vertikal penuh. Metode yang digunakan meliputi analisis aksial dan lateral tiang tunggal menggunakan perhitungan analitis dan LPILE, pemodelan grup tiang dengan GROUP, serta evaluasi penurunan menggunakan PLAXIS 3D. Hasil menunjukkan desain awal 64 tiang (8×8) menghasilkan defleksi 11.46 mm, sedangkan penerapan battered pile 10° mampu mereduksi defleksi hingga 53.66% menjadi 5.31 mm dan memungkinkan optimasi menjadi 49 tiang (7×7) dengan efisiensi 23.44%. Namun, konfigurasi optimasi menyebabkan peningkatan gaya tekan hingga 81.02% dan gaya tarik hingga 206.77% pada tiang tunggal, sehingga risiko kegagalan bergeser dari defleksi menuju kegagalan tekan atau tarik. Kata kunci: Pondasi Tiang Pancang, Tiang Miring, Battered Pile, Vertical Vessel, Pondasi Peralatan Kilang, Pondasi Vertical Vessel
Pengaruh Variasi Jumlah dan Jarak Kolom DSM Diameter 3,5 cm terhadap Perubahan Daya Dukung Pondasi Dangkal Menggunakan Pengujian Laboratorium Shafira Rahmazhahira; As'ad Munawir; Harimurti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah lunak memiliki daya dukung rendah dan tingkat kompresibilitas tinggi sehingga tidak mampu menahan beban bangunan tanpa mengalami penurunan yang berlebihan. Kondisi tersebut banyak dijumpai di wilayah pesisir, termasuk di Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Untuk meningkatkan kekuatan tanah, diperlukan metode perbaikan yang efektif seperti Deep Soil Mixing (DSM), yaitu pencampuran tanah dengan bahan pengikat semen untuk membentuk kolom stabilisasi di dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi tanah asli sebelum perbaikan serta menganalisis pengaruh variasi jumlah dan jarak kolom DSM terhadap nilai daya dukung tanah (qu) dan Bearing Capacity Improvement (BCI). Pengujian laboratorium dengan menggunakan tanah lempung yang berasal dari Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Tanah dicampur dengan semen sebesar 12% dari berat kering tanah dan dibentuk menjadi kolom DSM dengan diameter 3,5 cm dan kedalaman 10 cm. Variasi penelitian meliputi jumlah kolom DSM sebanyak 1, 2, dan 4 kolom serta jarak antar kolom sebesar 1D, 1,25D, dan 1,5D. Setelah proses pencampuran, benda uji dilakukan curing selama 7 hari. Pengujian daya dukung tanah dilakukan menggunakan uji pembebanan dengan pelat baja berukuran 6×6 cm dan 10×10 cm untuk memperoleh nilai daya dukung ultimit (qu) serta nilai peningkatan daya dukung yang dinyatakan dalam Bearing Capacity Improvement (BCI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode DSM efektif dalam meningkatkan daya dukung tanah lunak. Pada pengujian menggunakan pelat 6×6 cm, nilai daya dukung tertinggi (qu) sebesar 0,424 kg/cm² dengan BCI 2,14 diperoleh pada konfigurasi 4 kolom berjarak 1D. Sedangkan pada pengujian menggunakan pelat 10×10 cm, nilai daya dukung tertinggi (qu) sebesar 0,593 kg/cm² dengan BCI 2,997 diperoleh pada konfigurasi 4 kolom berjarak 1D. Nilai tersebut menunjukkan bahwa semakin rapat jarak antar kolom dan semakin banyak jumlah kolom yang digunakan, maka peningkatan daya dukung tanah semakin besar. Sebaliknya, pada jarak kolom yang lebih besar (1,5D) nilai daya dukung cenderung menurun akibat berkurangnya interaksi antar kolom DSM. Dengan demikian, variasi jumlah dan jarak kolom DSM memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan daya dukung tanah lempung. Konfigurasi empat kolom dengan jarak 1D merupakan kondisi paling optimal untuk meningkatkan kapasitas dukung tanah lunak di daerah penelitian. Kata kunci: tanah lunak, daya dukung, stabilisasi tanah, deep soil mixing, bearing capacity improvement (BCI).
Analisis Stabilitas Lereng Akibat Pengaruh Rapid Drawdown dan Infiltrasi Air Hujan (Studi Kasus : Hulu Bendungan Sengguruh Kabupaten Malang) Shofatul Uma, Atha Dhia; Eko Andi Suryo; Harimurti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 1 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kondisi topografi lereng dapat terjadi secara alami atau sengaja dibuat oleh manusia untuk tujuan tertentu. Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di lereng alam maupun buatan manusia. Bencana ini muncul karena pergerakan massa batuan, tanah atau puing – puing dari material lereng (campuran tanah dan batuan) menuruni lereng. Kondisi rapid drawdown pada sungai umumnya terjadi pada saat pemeliharaan bendungan atau tanggul dengan cara seperti pengelontoran sedimen (flushing).  Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan studi literatur. Data yang diambil merupakan data sekunder yaitu sumber data yang diperoleh melalui perantara atau tidak dilakukan sendiri oleh peneliti melainkan berasal dari data Laboratorium Mekanika Tanah dan Geologi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Data sekunder ini berupa studi literatur, data topografi untuk melihat bentuk lereng sungai, data curah hujan, dan data tanah untuk mengetahui sifat fisis (kohesi dan sudut geser) yang digunakan dalam analisis stabilitas lereng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai FS sebesar 1,086, yang berarti lereng berada dalam kondisi tidak stabil karena kurang dari batas aman 1,25. Analisis pada kondisi rapid drawdown menunjukkan lereng tidak stabil, dengan nilai FS sebesar 0,935. Kondisi rapid drawdown yang disertai infiltrasi air hujan merupakan kondisi paling kritis, dengan nilai FS hanya 0,813. Sebaliknya kondisi slow drawdown, baik tanpa maupun dengan hujan, menunjukkan nilai FS di atas 1,25 yang berarti lereng dalam keadaan stabil.Perkuatan menggunakan sheet pile menghasilkan nilai FS sebesar 2,515 sedangkan perkuatan dengan dinding penahan tanah (DPT) menghasilkan nilai FS 2,055. Keduanya terbukti efektif meningkatkan stabilitas lereng. Kata Kunci : Eksisting, Rapid Drawdown, Flushing