Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal IPTEK

ANALISIS RISIKO FONDASIBORED PILE& TIANG PANCANG PROYEK TUNJUNGAN PLAZA 6 SURABAYA Nuciferani, Felicia Tria; Aulady, Mohamad Ferdaus Noor; Ragilia, Nila Ananda Putri
Jurnal IPTEK Vol 21, No 1 (2017): May
Publisher : LPPM Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.099 KB) | DOI: 10.31284/j.iptek.2017.v21i1.68

Abstract

Penerapan manajemen risiko pada proyek bangunan gedung sudah banyak mulai dilakukan, namun kebanyakan risiko yang di kelola masih bersifat umum. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau lebih dalam terkait risiko pada sebuah gedung, khususnya bangunan bawah. Pengambilan data dilakukan pada pembangunan Tunjungan Plaza 6 yang memiliki fondasi bored pile dan tiang pancang.Identifikasi risiko dilihat dari sudut pandang kontraktor untuk mengetahui tingkat probabilitas dan impact risiko terhadap kinerja biaya. Hasil dari kuesioner tahap pertama dianalisis dengan metode matriks risiko guna mengetahui peringkat risiko. Hasil dari kuesioner tahap kedua untuk mengetahui kebijakan respons risiko, faktor risiko yang berperingkat high risk pada pekerjaan fondasi bored pile dan tiang pancang adalah keruntuhan dinding penahan tanah, salah satu analisis penyebab adalah stabilitas tanah kurang baik dengan jenis respons A2 yang artinya proyek diterima dan risiko dikendalikan dengan perencanaan yang matang.
Perbandingan Durasi Waktu Proyek Konstruksi AntaraMetode CriticalPathMethod (CPM) dengan Metode Critical Chain Project Management (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Apartamen Menara Rungkut) Aulady, Mohamad Ferdaus Noor; Orleans, Cesaltino
Jurnal IPTEK Vol 20, No 1 (2016): May
Publisher : LPPM Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.331 KB) | DOI: 10.31284/j.iptek.2016.v20i1.29

Abstract

Keterlambatan jadwal pada proyek konstruksi merupakan salah satu masalah yang dapat merugikan berbagai pihak pada proyek. Critical Chain Project Management (CCPM) adalah suatu metode penjadwalan yang dapat menjadi solusi alternatif dari permasalahan pengendalian jadwal tersebut. Metode ini ditempuh dengan cara menghilangkan multitasking, student syndrome, parkinson’s law serta memberi buffer di waktu akhir proyek. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode CCPM tersebut dengan metode Critical Path Method (CPM) pada studi kasus proyek Pembangunan Apartamen Menara Rungkut, Surabaya yang tengah berjalan. CPM sendiri adalah metode penjadwalan tradisional yang masih menggunakan waktu cadangan pada setiap aktivitas untuk melindungi aktivitas-aktivitasnya. Penjadwalan awal proyek menggunakan metode penjadwalan tradisional berupa gantt chart yang kemudian di-breakdown lebih detail dan lengkap dengan hubungan antar aktivitasnya ke dalam bentuk CPM, dan kemudian akan dibandingkan dengan hasil dari penjadwalan CCPM yang telah menghilangkan multitasking, menghilangkan Safety time pada tiap aktivitas dan memberi buffer dalam pengerjaannya. Dibandingkan dari segi waktu, hasil penelitian ini didapatkan durasi waktu untuk CCPM adalah 121 hari lebih cepat 48 hari jika dibandingkan dengan metode CPM.
Perbandingan Durasi Waktu Proyek Konstruksi AntaraMetode CriticalPathMethod (CPM) dengan Metode Critical Chain Project Management (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Apartamen Menara Rungkut) Mohamad Ferdaus Noor Aulady; Cesaltino Orleans
Jurnal IPTEK Vol 20, No 1 (2016)
Publisher : LPPM Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.iptek.2016.v20i1.29

Abstract

Keterlambatan jadwal pada proyek konstruksi merupakan salah satu masalah yang dapat merugikan berbagai pihak pada proyek. Critical Chain Project Management (CCPM) adalah suatu metode penjadwalan yang dapat menjadi solusi alternatif dari permasalahan pengendalian jadwal tersebut. Metode ini ditempuh dengan cara menghilangkan multitasking, student syndrome, parkinson’s law serta memberi buffer di waktu akhir proyek. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode CCPM tersebut dengan metode Critical Path Method (CPM) pada studi kasus proyek Pembangunan Apartamen Menara Rungkut, Surabaya yang tengah berjalan. CPM sendiri adalah metode penjadwalan tradisional yang masih menggunakan waktu cadangan pada setiap aktivitas untuk melindungi aktivitas-aktivitasnya. Penjadwalan awal proyek menggunakan metode penjadwalan tradisional berupa gantt chart yang kemudian di-breakdown lebih detail dan lengkap dengan hubungan antar aktivitasnya ke dalam bentuk CPM, dan kemudian akan dibandingkan dengan hasil dari penjadwalan CCPM yang telah menghilangkan multitasking, menghilangkan Safety time pada tiap aktivitas dan memberi buffer dalam pengerjaannya. Dibandingkan dari segi waktu, hasil penelitian ini didapatkan durasi waktu untuk CCPM adalah 121 hari lebih cepat 48 hari jika dibandingkan dengan metode CPM.
Cost Benefit Analysis of Energy Retrofitting with the Addition of Ventilation Holes in Middle Low-Income Houshold Buildings Elvarettano, Rhesa Akbar; Hamidah, Nur Laila; Aulady, Mohamad Ferdaus Noor
Jurnal IPTEK Vol 28, No 2 (2024): December
Publisher : LPPM Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.iptek.2024.v28i2.5852

Abstract

The current climate change is characterized by an increase in the earth's surface temperature; one of the impacts that is felt quite significantly is the thermal comfort conditions in buildings. This will encourage residents to use air conditioning to provide the required level of thermal comfort. From the results of electricity demand forecasts, from 2017 to 2036, electricity demand will increase by 6.4% annually, dominated by the household sector at 38.49%. Efforts can be made to condition the room's thermal comfort to reduce the AC's operating time. This can be realized through building energy retrofitting, especially in middle-low-income households. Retrofitting will also not require high costs, so it suits middle-low-income households. In this research, retrofitting was carried out by implementing ventilation. It is hoped that ventilation will naturally provide air to specific rooms through air movement and exchange. This study implemented 12 variations in ventilation, namely variations with cross ventilation and non-cross ventilation, then varied the size of the ventilation and the number of ventilations. This research was carried out based on simulations using Computational Fluid Dynamics. After carrying out the simulation, it was obtained that the most significant decrease in indoor temperature was when cross ventilation was applied at night with ventilation measuring 30 cm x 70 cm with a total of 4 vents, namely with a decrease in the average indoor temperature of 1.614C. After that, a cost-benefit analysis was carried out to compare the costs and benefits of a project; a cost-benefit ratio of 1.26 was obtained, where the profits were more significant than the expenditure costs, a payback period value of 0.402 was obtained, or the capital could be returned for five months, and savings were obtained. Electricity consumption costs up to year five amount to IDR 24,340,306.
Supply Chain Management Analysis on Plumbing Works Nuciferani, Felicia Tria; Aulady, Mohamad Ferdaus Noor; Wardani, Milla Kusuma; Ardiyanto, Nanang
Jurnal IPTEK Vol 25, No 2 (2021): December
Publisher : LPPM Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.iptek.2021.v25i2.1011

Abstract

One of the methods of applying lean construction in the construction sector that shifts from traditional to lean, eliminating all activities that do not generate added value, is supply chain management. This research compares the supply chain in two projects to decide on added value projects. This stems from the efficiency of establishing a simple organizational structure and encouraging contractors to focus more on the dominant material work. Supply Chain is a systems approach to delivering products to end consumers by using information technology and coordinating with suppliers and manufacturers/producers. The supply chain comparison for the second project is more inclined to the project apartment because it has four patterns and does not have much organizational coordination. In the apartment project pattern, the main contractor focuses on the project's core and provides activities to support subcontractors, such as elevator work. MEP work on buildings is complex, especially in coordinating the procurement of equipment, materials, and human resources because it involves many people and organizations both from outside and in the implementation process. Supply chain management in the construction sector is an effort to improve performance. To be more effective and efficient in providing high competitiveness for other contractor companies. Supply chain management in the construction sector is an effort to improve performance. To be more effective and efficient in delivering high competitiveness for other contractor companies. Supply chain management in the construction sector is an effort to improve performance.
Integration of MOST and AHP Methods for Determining Strategic Priorities in Business Development for the Steel Pipe Industry at PT. Spindo Tbk. Hadi, Rachmat Yustiawan; Aulady, Mohamad Ferdaus Noor
Jurnal IPTEK Vol 29, No 2 (2025): December
Publisher : LPPM Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.iptek.2025.v29i2.8465

Abstract

PT. Spindo Tbk. merupakan salah satu produsen pipa baja terkemuka di Indonesia, menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat persaingan global, fluktuasi harga bahan baku, perubahan regulasi, serta perkembangan teknologi yang cepat. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan rekomendasi strategi pengembangan bisnis pada industri manufaktur pipa baja melalui integrasi kerangka MOST, analisis PEST, serta Merancang alternatif strategi menggunakan MOST dan PEST, dan menentukan bobot kriteria melalui pengisian kuesioner oleh para ahli dan di olah menggunakan software Super Decision dengan metode AHP  untuk menentukan prioritas strategi. Pada penelitian ini data dikumpulkan melalui wawancara, FGD dan kuesioner pemangku kepentingan. Penilaian para ahli dikumpulkan melalui kuesioner dengan pairwise comparison dan diolah menggunakan perangkat lunak SuperDecision. Didapatkan Nilai rasio konsistensi (CR = 0.053), bobot tertinggi terdapat pada strategi 1 (Optimatisasi dan Ekspansi Berbasis Teknologi Produksi Untuk Efisiensi Biaya dan Kualitas) dengan bobot 20.1 %. Dan bobot terendah pada kriteria strategi 7 yaitu (Green Manufacturing atau Sertifikasi ISO Lingkungan serta Kepatuhan Pada ESG) dengan bobot 10.6 %. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kemajuan teknologi, kapabilitas sumber daya manusia, dan dinamika pasar merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam pembentukan prioritas strategi perusahaan. Secara keseluruhan, integrasi MOST, PEST, dan AHP memberikan pendekatan perencanaan strategis yang terstruktur, komprehensif, dan analitis.