Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Hukum Islam dan Hukum Perdata dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Dengan Kepemilikan Ganda: Studi Kasus Badan Nasional Gowa Sayful, Muh.; Natsif, Fadli Andi
Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab VOLUME 3 ISSUE 3, SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/shautuna.vi.27393

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pandangan hukum Islam dan hukum Perdata terhadap penyelesaian sertifikat Ganda dan penyelesaian sengketa sertifikat ganda oleh pihak Badan Pertanahan Nasional Gowa. Jenis penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah penelitian lapangan atau biasa disebut dengan Field Research Kualitatif. Field Research Kualitatif Deskriptif adalah jenis yang menggambarkan suatu penelitian sebagai kualitatif yang berangkat dari pengamatan dan penemuan fakta sosial yang dikaji menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Dalam hukum islam terdapat beberapa penyelesaian konflik sengketa sertifikat ganda antara lain: a. Perdamaian (Islah) merupakan suatu cara penyelesaian konflik yang dapat menghilangkan dan menghentikan segala bentuk permusuhan dan pertikaian antara manusia. b. Musyawarah yang merupakan upaya memunculkan sebuah pendapat dari seorang ahli untuk mencapai titik terdekat pada kebenaran demi kemaslahatan umum. Sedangkan dalam hukum perdata yaitu antara lain: a. Melalui Jalur Peradilan, b. Melalui Jalur di Luar Pengadilan misalnya negosiasi, mediasi, konsoliasi, fasilitasi, dan arbitrase. 2) Badan Pertahanan Nasional (BPN) Kab. Gowa dalam penyelesaian kasus sengketa tanah dan sertifikat ganda, melakukan dengan dua cara yakni Mediasi atau upaya memanggil kedua belah pihak untuk saling mencari solusi win-win solution. Namun bila tidak terdapat jalan keluar maka penyelesaian dilakukan melalui proses pengadilan”.
Vandalisme dan Arus Gerakan Sosial: Pergerakan Masyarakat Bara-Baraya dalam Menolak Penggusuran Azis, Andi Fahrul; Sayful, M.
Vox Populi Vol 8 No 1 (2025): VOX POPULI
Publisher : ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/vp.v8i1.56803

Abstract

Penelitian ini membahas tentang gerakan sosial warga Bara-Baraya dengan identitas gerakan yang disebut sebagai Aliansi Bara-Baraya Bersatu untuk melawan upaya penggusuran yang dilakukan oleh Nurding Dg. Nombong dan Kodam XIV Hasanuddin. Tujuan penelitian ini untuk membedah terbentuknya gerakan sosial warga, hadirnya individu-individu yang bersuara melalui media tembok-vandalisme, dan peran pemerintah dalam upaya penggusuran di Bara-Baraya. Penelitian ini diuraikan secara kualitatif deskriptif dengan menggunakan konsep Macionis, Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, dan juga daily politics. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlawanan warga Bara-Baraya disebabkan oleh upaya penggusuran yang dilakukan oleh Kodam XIV Hasanuddin dan Nurding Dg. Nombong. Pihak Nurding menggunakan jalur ilegal untuk menguasai hak atas tanah yang dimiliki warga. Hal tersebut menimbulkan penolakan dari warga atas hak tanahnya yang direbut, karena bukti fisik dan administrasi berada di tangan warga. Maka dari itu, warga membentuk Aliansi Solidaritas Bara-Baraya Bersatu untuk melakukan perlawanan dalam bentuk advokasi dan demonstrasi. Aliansi tersebut menuai banyak perhatian mulai dari masyarakat, mahasiswa, Lembaga Bantuan Hukum, dan individu-individu yang mempunyai nilai yang sama.
LAKI-LAKI DAN ESTETIKA TUBUH: GYM CULTURE, SKINCARE, DAN CITRA MASKULIN: Kajian Tentang Representasi dan Citra Diri Laki-Laki Dalam Masyarakat Urban Kota Makassar M. Sayful
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 11 No 1 (2025)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/aqidahta.v11i1.58842

Abstract

This study aims to understand how men construct their self-image through gym and skincare practices, and how these practices reflect and shape masculine identity within the context of contemporary consumer culture. Using a body anthropology approach, the study draws on Pierre Bourdieu’s concepts of habitus and symbolic capital, as well as Judith Butler’s theory of gender performativity. The male body is examined as both a site of internalized social values and a space for the performative negotiation of masculine identity. Data were collected through in-depth interviews with seven male key informants from various age groups and occupational backgrounds, and analyzed qualitatively and narratively. The findings reveal that Gym practices serve not only for physical fitness but also as a means of cultivating social credibility and an aesthetic form of masculinity. Meanwhile, Skincare is practiced as a site of value negotiation between self-care and adherence to masculine norms. Social media amplifies the visualization of male bodies and creates new pressures for men to appear ‘ideal,’ while at the same time tensions persist between traditional masculinity and emerging lifestyle trends. The study concludes that the male body functions as a complex cultural arena, where value debates, normative shifts, and dynamic gender articulations take place.
Moral Economy and the Agency of Independent Fishermen on the Coast of Ujung Baji Village, Takalar Regency Sayful, M.; Muzakkir, Abd. Kahar
SIGn Journal of Social Science Vol 5 No 2: Desember 2024 - Mei 2025
Publisher : CV. Social Politic Genius (SIGn)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37276/sjss.v5i2.483

Abstract

Maritime anthropological studies in Indonesia have historically focused on the dependency narrative of fishermen within the patron-client (punggawa-sawi) structure. Challenging this deterministic view, this study analyzes the emergence of independent fishermen on the coast of Ujung Baji Village, Takalar Regency, South Sulawesi, as a phenomenon of moral resistance and social praxis. This research employs an intensive ethnographic method conducted in Ujung Baji Village. Its purpose is to deconstruct the driving factors, construction processes, and implications of fishermen’s independence. The findings show that the choice to become independent is not driven solely by economic calculation, but by a crisis of moral legitimacy in the patronage system, which is perceived as having betrayed its social contract. This independence is constructed through the fishermen’s reflexive agency, manifested in concrete practices such as gaining control over the means of production and reconfiguring the household into an autonomous production unit. Supported by internal solidarity and horizontal social networks, these everyday practices cumulatively give rise to an alternative social order, transforming survival strategies into a new, dignity-rooted identity. By integrating Scott’s moral economy theory and Giddens’s structuration theory, this study concludes that independent fishermen are not an anomaly but a reflection of the birth of a new social structure from below, one that fundamentally corrects the singular narrative of coastal society.
Strategi Penghidupan Nelayan Pedagang di Tempat Pelelangan Ikan (Lelong) Sayful, M.
SIGn Journal of Social Science Vol 1 No 1: Juni - November 2020
Publisher : CV. Social Politic Genius (SIGn)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.314 KB) | DOI: 10.37276/sjss.v1i1.95

Abstract

Lebih dari 30 tahun Lelong di Kota Makassar eksis sebagai lembaga perekonomian yang bergerak di bidang perdagangan sumber daya kelautan dan perikanan. Oleh karena itu, Lelong merupakan sarana yang penting bagi kelangsungan hidup masyarakat, khususnya bagi para nelayan. penelitian ini bertujuan untuk menguraikan strategi penghidupan para nelayan pedagang, dan juga menganalisis lebih mendalam tentang penerapan strategi adaptasi dalam menghadapi kerentanan finansial yang akan mengganggu kehidupan sosial ekonomi para nelayan di pesisir Lelong Kota Makassar. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Lelong Rajawali, Kota Makassar. Informan dalam penelitian ini berjumlah sepuluh orang dan terdiri dari nelayan pedagang, pengelola Lelong, serta pembeli ikan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan studi dokumen. Data primer dan data sekunder kemudian dianalisis dengan menggunakan model analisis deskriptif kualitatif, serta menguraikannya dalam bentuk naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua faktor yang menyebabkan nelayan pedagang mengalami kerentanan finansial, yaitu meningkatnya jumlah nelayan pedagang di Lelong dan berkurangnya pembeli untuk berbelanja di Lelong. Adapun strategi penghidupan yang dilakukan oleh nelayan pedagang di Lelong adalah dilandasi oleh dua hal, yaitu pembelian tunai dan hutang. Sebagian besar nelayan pedagang lebih memilih untuk berhutang saat bertransaksi dengan nelayan penangkap ikan. Lebih lanjut, Strategi adaptasi yang dilakukan antara lain strategi konsolidasi, strategi akumulasi, dan strategi diversifikasi. Dengan dasar kesimpulan tersebut, para nelayan pedagang membutuhkan ruang aliansi perlindungan demi tercapainya sekuritas ekonomi yang berkepanjangan.
Tambang Pasir dan Dampak Sosial Ekonomi Masyarakat di Pesisir Pantai Anggariani, Dewi; Sahar, Santri; Sayful, M.
SIGn Journal of Social Science Vol 1 No 1: Juni - November 2020
Publisher : CV. Social Politic Genius (SIGn)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.225 KB) | DOI: 10.37276/sjss.v1i1.96

Abstract

Secara umum, pembangunan infrastruktur dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat. Namun apabila mengabaikan aspek studi kelayakan dan analisis dampak lingkungan, maka akan berpotensi menciptakan kerusakan ekologi maupun ekonomi dan sosial budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui landasan kebijakan, juga untuk mengetahui dampak sosial dan ekonomi dari keberadaan tambang pasir terhadap masyarakat Galesong. Penelitian ini menggunakan bentuk studi mikro demografi atau biasa disebut quasi anthropological. Penelitian ini dilakukan di wilayah pesisir pantai Galesong. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas penambangan pasir di wilayah pesisir pantai Galesong dimulai pada Tahun 2017 sehingga belum mengacu pada Perda Sulsel No. 2 Tahun 2019, dimana sebagai acuan untuk mengeluarkan izin lokasi dan izin pengelolaan pertambangan pasir di Sulawesi Selatan. Adapun dampak dari aktivitas penambangan pasir terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah pesisir pantai Galesong, antara lain hilangnya wilayah penangkapan ikan akibat pengerukan pasir laut, menyebabkan air menjadi keruh. Selain itu, terjadi perubahan sosial ekonomi, dimana para nelayan kecil harus meninggalkan aktifitasnya dan bergabung dengan para nelayan penangkap ikan di laut dalam dan menjadi sawi pada punggawa perahu-perahu besar. Dampak selanjutnya adalah adanya patroli polisi laut yang membuat para nelayan merasa tertekan dan tidak lagi memiliki kebebasan untuk melaut seperti dulu kala. Dengan dasar kesimpulan tersebut, diharapkan Pemerintah Daerah membuat model kebijakan dalam pengelolaan aktivitas penambangan pasir di wilayah pesisir pantai Galesong. Jika tidak, cepat atau lambat masalahnya akan semakin membesar.
EKSISTENSI RITUAL TOLAK BALA PADA MASYARAKAT NELAYAN KODINGARENG Sayful, M.
Jurnal JINNSA (Jurnal Interdipliner Sosiologi Agama) Vol 3 No 1 (2023): Volume 3 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jinnsa.v3i1.637

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang Eksistensi Ritual Tolak Bala Pada Masyarakat Nelayan Kodingareng (Tinjauan Antropologi Terhadap Kepercayaan Lokal Masyarakat Nelayan di Pulau Kodingareng Makassar). Adapun fokus masalah yang ingin dicapai adalah untuk memahami makna dari pelaksanaan ritual tolak bala Je’ne Uring di Pulau Kodingareng, serta mengapa ritual ini masih tetap bertahan di tengah perkembangan zaman. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Teknik pengumpulan data juga digunakan dalam penelitian ini, yaitu: Observasi, wawancara dan dokumentasi untuk mengidentifikasi dan memahami subyek informan yang diteliti. Dalam melakukan penyajian data, yakni pengolahan dan analisis data, peneliti cenderung menggunakan model reduksi data, serta penarikan kesimpulan agar data yang dihasilkan dapat disusun secara sistematis dan memadai. Selain itu, analisis data yang dilakukan oleh peneliti berlangsung sepanjang penelitian ini, sehingga memungkinkan untuk terus menerus melakukan evaluasi dan proses triangulasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Ritual je’ne uring merupakan tradisi masyarakat nelayan Kodingareng yang ditujukan sebagai rasa syukur dan memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk kembali dibukakan pintu rezeki ketika nelayan melaut. Selain itu, ritual ini juga bertujuan untuk memohon kepada Sang Pencipta agar dijauhkan dari bala dan marabahaya ketika para nelayan Kodingareng beraktivitas di laut. 2) Ritual tolak bala bernama Je’ne Uring di Pulau Kodingareng masih eksis di tengah perubahan zaman dan masuknya Islam sebagai agama formal di dalam masyarakat pesisir dan pulau-pulau Makassar. Hal ini dikarenakan sebagian masyarakat yang tetap menjalankan ritual tolak bala tersebut menganggap tradisi ini sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Selain itu, sikap dan penghormatan terhadap warisan dari nenek moyang juga menjadi faktor penting mengapa ritual dan kepercayaan lokal ini masih tetap dipertahankan oleh sebagian masyarakat nelayan Kodingareng.