Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kepemimpinan Perempuan menurut Pandangan Pemikiran Fatimah Mernissi dan R.A Kartini roza
Politik Islam Vol. 4 No. 2 (2025): Politik Islam
Publisher : UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/pi.v4i2.16187

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Fatimah Mernissi dan R.A Kartini tentang kepemimpinan perempuan. Dengan menggunakan metode analisis isi (content analysis), penelitian ini mengkaji bagaimana pemikiran kedua tokoh tersebut tentang kepemimpinan perempuan sebagai seorang pemimpin serta relevansi pemikiran tokoh tersebut terhadap keterlibatan perempuan pada demokrasi pada saat ini. Data dikumpulkan dari karya-karya utama kedua tokoh tersebut, surat-surat pribadi, serta kajian sekunder berupa buku, artikel jurnal, dan sumber akademik lainnya. Penelitian ini juga menemukan bahwa pemikiran Fatimah Mernissi dan Kartini, keduanya sama-sama menyuarakan pentingnya peran aktif perempuan dalam ruang publik, termasuk dalam kepemimpinan. Meskipun mereka berasal dari latar sosial dan budaya yang berbeda. Dalam konteks kepemimpinan perempuan, kedua tokoh ini tidak secara langsung menyatakan perempuan boleh menjadi pemimpin negara maupun masyarakat, namun analisis mendalam terhadap tulisan dan gagasan mereka menunjukkan bahwa mereka sama-sama membuka jalan menuju pengakuan terhadap kemampuan dan legitimasi perempuan untuk memimpin pada tingkatan tertinggi. Pemikiran mereka juga sangat relevan dalam konteks keterlibatan perempuan sebagai pemimpin dalam politik di Indonesia pada demokrasi saat ini. Pemikiran kedua tokoh tersebut memiliki hubungan yang kuat sebagai pemimpin negara dalam demokrasi saat ini. Keduanya menyoroti pentingnya kesetaraan gender serta pembebasan perempuan dari tradisi patriarki yang menghalangi mereka untuk terlibat di ruang publik, termasuk dalam posisi kepemimpinan politik
Prevalence and molecular characterization of Babesia and Theileria species in cattle from West Sumatra, Indonesia Cahyaningsih, Umi; Yellita, Yulia; Putra, Eliyus; Roza; Satrija, Fadjar; Arif, Ridi; Inarsih, Dwi; Santosa, Budi; Nugraha, Arifin Budiman
Jurnal Medik Veteriner Vol. 9 No. 1 (2026): April
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmv.vol9.iss1.2026.41-51

Abstract

This epidemiological investigation conducted in three regencies of West Sumatra, Indonesia, aimed to examine the molecular prevalence and distribution of Babesia bigemina, Babesia bovis, and Theileria orientalis. A cross-sectional study employing a convenience sampling technique included 151 cattle blood samples. These samples were collected from three regencies (Agam, Limapuluh Kota, and Tanah Datar) between January 2023 and February 2024. Blood samples were examined using polymerase chain reaction (PCR) coupled with sequencing, targeting the cytochrome b gene for B. bigemina and B. bovis, and the 18S rRNA gene for Theileria spp. A total of 151 cattle blood samples from West Sumatra were examined for hemoprotozoan infections using both microscopic and molecular approaches. Based on blood smear examination, 23 (15.2%) and 118 (78.1%) samples were positive for Babesia spp. and Theileria spp., respectively. Subsequent nested PCR analysis confirmed all Babesia-positive samples as B. bigemina, while B. bovis was not detected. In contrast, 131 (86.7%) samples were molecularly identified as T. orientalis. Phylogenetic analysis of the cytochrome b gene revealed three distinct clades of B. bigemina, indicating genetic diversity likely shaped by geographical distribution, vector ecology, or host adaptation. These findings demonstrate that T. orientalis is the predominant hemoprotozoan agent in West Sumatra, while the genetic variability of B. bigemina underscores the complexity of its epidemiology. Together, these results provide critical insights for improving surveillance and guiding the formulation of effective hemoparasite management strategies in the tropical Indonesian archipelago.