Rababah, Mahmoud Ali
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tradition and Transformation: Islamic influence on animal slaughter in Padang Bolak funeral customs Siregar, Ilham Ramadan; Rababah, Mahmoud Ali; Amiruddin, Amiruddin; Akhyar, Akhyar; Hasibuan, Sri Wahyuni
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i1.26545

Abstract

This research aims to describe the acculturation of Islam and local culture in the tradition of animal slaughter at funeral ceremonies preserved by the Padang Bolak community, as part of the religious system reflecting the community's understanding of the Hadith. This study is a field study employing a qualitative method within the framework of living Hadith theory. The research findings indicate that this tradition of animal slaughter at funeral ceremonies in the community is motivated by several factors, including efforts to preserve customs and culture, as an act of devotion to parents, the deceased's will to conduct an animal slaughter before passing away, to honor guests, maintain the good name of the deceased parents within the community, as an expression of love for parents, and the belief that the merits of charity performed on that day will benefit the deceased. In Islamic legal studies, this tradition is fundamentally contradictory to Islamic teachings in all its processes and requirements. The acculturation of Islam with this tradition has led to modifications that eliminate elements conflicting with Islamic teachings. Further studies are needed on how such modifications can aid in understanding and potentially guiding the process of cultural adaptation in other Islamic communities. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan akulturasi Islam dan budaya lokal dalam tradisi penyembelihan hewan pada upacara pemakaman yang dipertahankan oleh komunitas Padang Bolak, sebagai bagian dari sistem religius yang mencerminkan pemahaman masyarakat tentang Hadits. Studi ini adalah studi lapangan yang menggunakan metode kualitatif dalam kerangka teori Hadits hidup. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi penyembelihan hewan pada upacara pemakaman di komunitas tersebut didorong oleh beberapa faktor, termasuk upaya untuk melestarikan adat dan budaya, sebagai tindakan pengabdian kepada orang tua, keinginan almarhum untuk melakukan penyembelihan hewan sebelum meninggal, untuk menghormati tamu, mempertahankan nama baik orang tua yang telah meninggal di dalam komunitas, sebagai ungkapan cinta kepada orang tua, dan keyakinan bahwa pahala amal yang dilakukan pada hari itu akan menguntungkan almarhum. Dalam studi hukum Islam, tradisi ini secara mendasar bertentangan dengan ajaran Islam dalam semua proses dan persyaratannya. Akulturasi Islam dengan tradisi ini telah mengarah pada modifikasi yang menghilangkan elemen-elemen yang bertentangan dengan ajaran Islam. Studi lebih lanjut diperlukan tentang bagaimana modifikasi tersebut dapat membantu dalam memahami dan berpotensi mengarahkan proses adaptasi budaya di komunitas Islam lainnya.
Unleashing the Potential of Learning Agility: A Catalyst for Innovative Work Behavior and Employee Performance Wolor, Christian Wiradendi; Suhud, Usep; Nurkhin, Ahmad; Hoo, Wong Chee; Rababah, Mahmoud Ali
Public Health of Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): April - June
Publisher : YCAB Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36685/phi.v11i2.992

Abstract

Background: In today’s rapidly evolving business environment, particularly in the information technology (IT) sector, learning agility has emerged as one of the most crucial competencies for workforce adaptability, ranking as the second most sought-after skill in recruitment after advanced cognitive abilities. Companies in this industry require employees who can quickly adapt to new software, programming languages, and emerging technologies, yet many fresh graduates struggle with learning agility assessments, resulting in lower employability rates in competitive firms. Objective: This study aims to fill the gap in previous research by empirically testing how learning agility influences employee performance through IWBs in IT companies, thereby providing a novel contribution to understanding the factors that support workforce innovation and competitiveness in this sector. Methods: This study used a quantitative methodology, which involved a structured survey instrument and structural equation modeling (SEM) for data analysis. The study was conducted between March and May 2024 with a sample size of 200 respondents from employees working in the information technology (IT) industry in Indonesia. Results: The findings reveal that learning agility significantly enhances IWB (p=0.000), which in turn positively influences employee performance (p=0.006). Conclusion: These results emphasize the need for companies to not only prioritize learning agility during recruitment but also to foster a work environment that supports continuous learning through structured training programs, cross-functional project opportunities, and mentorship initiatives, ensuring employees remain agile and innovative in response to technological advancements. Keywords: learning agility; innovative work behaviour; employee performance
PRESERVING THE TRADITION OF HADITH SANAD IJAZAH IN PESANTREN OF MANDAILING NATAL: Scholarly Continuity and Academic Challenges Siregar, Ilham Ramadan; Ritonga, Raja; Hamid, Asrul; Hsb, Zuhdi; Nst, Andri Muda; Rababah, Mahmoud Ali
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31428

Abstract

The sanad tradition serves as a fundamental mechanism for preserving the authenticity and continuity of hadith through a reliable and accountable chain of transmission. In Indonesia, particularly in Mandailing Natal, this tradition is actively maintained in Pesantren (pesantren), where the transmission of canonical hadith texts—such as Arba‘in an-Nawawi, Bulugh al-Maram, and Sahih al-Bukhari—relies on a sanad-based educational system. This study explores the mechanism of granting ijazah sanad (sanad certificates) in selected pesantren—notably Musthafawiyah, Darul Ulum, and Roihanul Jannah—and examines their contribution to sustaining hadith scholarship. Employing a qualitative methodology that includes fieldwork and historical analysis, the research reveals that sanad certification is not a mere formal acknowledgment, but the result of a rigorous academic and spiritual process. Teaching methods such as musyafahah, talaqqi, and sorogan are employed alongside recitations in class, mosques, and during Ramadan. Certificates are granted only to students who meet strict academic criteria, including completion of hadith study under a teacher with authenticated sanad lineage, comprehension of the matan, and observance of proper adab. Most sanad lineages trace back to scholars connected to Madrasah Ash-Shalatiyah and Darul Ulum Makkah, including Shaykh Muhammad Yasin al-Fadani. Despite its critical role, academic studies on hadith sanad remain limited compared to Qur’anic sanad research. This study underscores the need to revitalize scholarly attention to hadith sanad traditions and affirms the strategic role of pesantren as institutions preserving the integrity and transmission of classical Islamic knowledge. [Tradisi sanad merupakan mekanisme fundamental dalam menjaga keautentikan dan kesinambungan hadis melalui rantai transmisi yang andal dan dapat dipertanggungjawabkan. Di Indonesia, khususnya di Mandailing Natal, tradisi ini secara aktif dilestarikan di lembaga pendidikan pesantren, di mana transmisi kitab-kitab hadis klasik seperti Arba‘in an-Nawawi, Bulugh al-Maram, dan Sahih al-Bukhari dilakukan melalui sistem pendidikan berbasis sanad. Penelitian ini mengkaji mekanisme pemberian ijazah sanad (sertifikat sanad) di beberapa pesantren—terutama Musthafawiyah, Darul Ulum, dan Roihanul Jannah—dan menelaah kontribusinya dalam mempertahankan keberlanjutan keilmuan hadis. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi lapangan dan analisis historis, penelitian ini menemukan bahwa pemberian ijazah sanad bukan sekadar formalitas, melainkan hasil dari proses akademik dan spiritual yang ketat. Metode pengajaran seperti musyafahah, talaqqi, dan sorogan diterapkan bersamaan dengan pengajian di kelas, masjid, dan selama bulan Ramadan. Sertifikat hanya diberikan kepada santri yang memenuhi kriteria akademik ketat, termasuk menyelesaikan kajian kitab hadis di bawah bimbingan guru bersanad sah, memahami matan hadis, dan menunjukkan adab serta komitmen belajar. Mayoritas rantai sanad ditelusuri hingga ulama-ulama yang terhubung dengan Madrasah Ash-Shalatiyah dan Darul Ulum Makkah, termasuk Syekh Muhammad Yasin al-Fadani. Meskipun memiliki peran krusial, kajian akademik tentang sanad hadis masih terbatas dibandingkan dengan kajian sanad Al-Qur’an. Studi ini menegaskan pentingnya revitalisasi perhatian akademik terhadap tradisi sanad hadis dan meneguhkan peran strategis pesantren dalam menjaga integritas dan transmisi keilmuan Islam klasik.]