Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Function of Motives in Karawo Gorontalo Embroidery Fabric Wira Pratama Rumambie; Yusuf Affendi Djalari
ARTic Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/artic.v4i1.4787

Abstract

The purpose of this research is to see and categorize some of the functions of the Karawo embroidered cloth seeing from the motifs in Goronalo, Karawo itself is a typical traditional cloth originating from Gorontalo whose manufacture is produced by handicrafts. Karawo itself has a unique way of doing it, such as making karawo which requires patience and thoroughness, making karawo takes one week to make one karawo that is ready to use. To support the research, we use descriptive methods and the data collected in the preparation of journals are analyzed descriptively, data collection is also in the form of interview data and study results from literature sources. The results show that Gorontalo karawo embroidery has its own meaning to the function of the motifs that will be used as a complementary ornament of the cloth so that the karawo embroidery is formed. This is because each of the motifs continues to develop and shift to a more modern direction which makes the karawo motif in a certain function has its own meaning for its users which is then adjusted to what the consumer likes. However, this can add to the function of the more modern karawo motifs as time goes by which then choose to leave Gorontalo customary and cultural motifs. The conclusion of the research is to find that the karawo embroidery handicraft has a function of every motif that has been made, from traditional cultural motifs to modern motifs that tend to be liked or interested by users. Keyword: Culture; Embriodery; Gorontalo; Karawo; John and Fritz Koraag
Perancangan Media Kampanye Sosial mengenai Pencegahan Tindak Kekerasan Pengeroyokan Terhadap Supporter Sepak Bola Rumambie, Wira Pratama; Mursalim, Muhammad Akram; Thomas, Abdul Wahab
JAMBURA JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol. 2 No. 2 (2024): Jambura Ilmu Komunikasi
Publisher : Jambura Jurnal Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jik.v2i2.107

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, sehingga permasalahan sosial di Indonesia tidak lepas dari aspek demografi. Selain itu, penduduk Indonesia dari banyak suku, adat istiadat serta budaya yang sangat berbeda. Karena perbedaan yang begitu beragam, permasalahan sosial tidak dapat dihindarkan. Fenomena ini memerlukan perhatian serius dan upaya efektif melalui media kampanye sosial contohnya Ricko, korban salah sasaran pengeroyokan oleh sesama bobotoh dalam laga Persib kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api yang menjadi korban pengeroyokan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media kampanye sosial yang efektif dalam menyampaikan pesan mengenai bahaya dan dampak negatif dari tindakan kekerasan pengeroyokan. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan komunikasi visual yang mempertimbangkan strategi komunikasi AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share), Konsep Pesan, dan Strategi Kreatif. Melalui media kampanye ini, pesan yang dihadirkan dapat menghindari tindakan kekerasan dan memilih penyelesaian konflik secara damai. Maka dari itu media kampanye ini dirancang dengan baik sehingga menjadi alat yang efektif dalam mengurangi angka kekerasan pengeroyokan dan memilih jalan damai dalam penyelasaian masalah.
Pergeseran Motif Budaya Pada Kain Sulaman Karawo Gorontalo Rumambie, Wira Pratama
Jambura History and Culture Journal Vol 7, No 2 (2025): Juli
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jhcj.v7i2.32337

Abstract

Gorontalo is the 32nd province located in the northern part of the island of Sulawesi, Indonesia. Gorontalo is known for its rich culture and deep traditions. One of the most famous cultural heritages of Gorontalo is Karawo embroidery fabrics. Karawo is a cloth decorated with intricate hand embroidery, usually used in traditional events or as a symbol of social status. The motifs on Karawo fabric are inspired by nature and the social life of the people of Gorontalo, have high symbolic value and become a distinctive cultural identity. However, along with the times, the motifs on Karawo fabric began to shift. This study aims to analyze the shift in motives, using a qualitative approach strengthened by the theory of the totality principle and the time principle. The principle of totality helps to analyze aspects of function, meaning, and symbolism in Karawo's design, while the principle of time examines the changes that occur in Karawo fabrics based on four indicators: what is fixed, what is lost, what is new, and what is changing. Despite the shift of Karawo motifs towards more modern designs, some Karawo fabrics still retain strong traditional cultural elements. In this study, it was concluded that even though there were changes in the design of the motifs, Karawo fabric still reflected Gorontalo's dynamic cultural identity and was able to adapt to the demands of the times.
Analisis Media Promosi Pariwisata (Studi pada Wisata Permandian Paisu Matube) Ramansyah; Yusuf, Multia; Rumambie, Wira Pratama
JAMBURA JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol. 3 No. 1 (2025): Jambura Ilmu Komunikasi
Publisher : Jambura Jurnal Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jik.v3i1.119

Abstract

This research aims to analyze the promotional media strategies used in the management of the Paisu Matube hot springs tourism site in Banggai Laut Regency. This tourist attraction has appealing natural potential; however, the low number of domestic visitors indicates that the promotion being carried out is not optimal. This study employs a qualitative approach by examining the roles of the Tourism Office and the Community Awareness Group (Pokdarwis) in utilizing various promotional media, including social media, print media, and electronic media. The results indicate that tourism promotion is predominantly conducted through social media platforms such as Facebook, while print and electronic media are not utilized to their full potential. Therefore, there is a need for the development of more diverse and intensive promotional strategies to increase the interest of local and international tourists. This research contributes theoretically to the field of communication as a tool for tourism promotion and provides practical benefits for tourism managers in optimizing promotional media to boost visitor numbers.
Peningkatan Literasi Visual pada Generasi Muda di Kota Gorontalo melalui Bedah Film Pendek ‘Panggoba’ Bau, Rahmat Taufik R.L; A, Hermila; Juniarti, Gita; Nasiru, La Ode Gusman; Rumambie, Wira Pratama; Thomas, Abdul Wahab
Jurnal Sibermas (Sinergi Pemberdayaan Masyarakat) Vol 14, No 2 (2025): Jurnal Sibermas (Sinergi Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/sibermas.v14i2.33529

Abstract

Upaya pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi visual dan pemahaman sinematografi di kalangan generasi muda di Kota Gorontalo dengan fokus pada praktik bedah film. Berlatarbelakang paparan konten visual yang masif di era digital dan kurangnya kemampuan analisis kritis terhadap konten tersebut, bedah film ini membekali peserta dengan pengetahuan tentang sinematografi sebagai fondasi visual cerita. Metodologi pelaksanaan pengabdian melibatkan identifikasi prinsip-prinsip belajar aktif dan relevansi langsung, dimulai dengan tahap pra-pelaksanaan untuk menentukan tujuan dan sasaran, yaitu meningkatkan literasi film dan melatih analisis kritis bagi generasi muda yang tertarik pada sinematografi. Film yang dibedah adalah short movie berjudul "‘Panggoba’" karena film ini memiliki potensi memicu generasi muda untuk berdiskusi tentang budaya Gorontalo. Kegiatan bedah film ini dilaksanakan pada 9 Mei 2025, di Justmie X Justcoffee Gorontalo. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan budaya ‘Panggoba’ dan bagaimana mengemas budaya tersebut di dalam sebuah film pendek. Adapun feedback peserta menunjukkan peningkatan pemahaman tentang budaya ‘Panggoba’ dan sinematografi, serta minat untuk praktik pembuatan film secara langsung, mengindikasikan dampak positif dan berkelanjutan dari kegiatan ini. Hasilnya adalah 68 generasi muda yang terlibat dalam program ini memiliki peningkatan pengetahuan dan minat di bidang sinematografi. Program ini direkomendasikan untuk berlanjut dengan pelatihan praktis, mendorong generasi muda untuk menghasilkan film bertema budaya Gorontalo.
Inovasi Digital Marketing Umkm Pada Kelompok Pemuda Pesisir Kota Gorontalo Mursalim, Muhammad Akram; Rumambie, Wira Pratama; Pakaya, Nikmasari; Pakaya, Siti Mayasari; Kartika, Intan Tiara; Akume, Kelfin; Husin, Ismail
Jurnal Pengabdian Masyarakat Farmasi : Pharmacare Society Vol 5, No 1 (2026)
Publisher : State University of Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/phar.soc.v5i1.35783

Abstract

Inovasi digital marketing menjadi strategi krusial dalam meningkatkan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya pada kelompok pemuda pesisir di Kota Gorontalo yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pasar dan literasi digital. Objektif dari kegiatan ini adalah mendorong transformasi pemasaran UMKM berbasis digital melalui penguatan kapasitas pemuda pesisir sebagai pelaku dan penggerak ekonomi lokal. Tujuan kegiatan meliputi peningkatan pemahaman dan keterampilan digital marketing, pengembangan konten promosi yang kreatif, serta optimalisasi pemanfaatan platform digital sebagai sarana pemasaran produk UMKM pesisir. Metode yang digunakan dalam program ini adalah pendekatan partisipatif melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan intensif. Metode pelaksanaan mencakup diskusi interaktif, penyampaian materi, serta praktik langsung pembuatan konten digital dan pengelolaan akun bisnis pada platform Instagram, WhatsApp Business, dan YouTube. Peserta dilibatkan secara aktif dalam proses perencanaan strategi promosi digital, pembuatan konten visual dan audiovisual, hingga simulasi pemasaran produk secara daring. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam penguasaan teknik pemasaran digital oleh peserta, yang ditandai dengan kemampuan membuat konten promosi yang lebih menarik, peningkatan interaksi di media sosial, serta bertambahnya jangkauan dan visibilitas produk UMKM. Selain itu, terbentuk jaringan pemasaran digital yang lebih luas dan kolaboratif antar pelaku UMKM pemuda pesisir. Kesimpulan, program inovasi digital marketing ini memberikan kontribusi positif terhadap penguatan peran pemuda pesisir dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis digital. Meskipun demikian, tantangan berupa keterbatasan sumber daya dan biaya iklan digital masih memerlukan dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan pemangku kepentingan terkait agar dampak program dapat berkelanjutan dan berkembang secara optimal.
Potensi Peninggalan Arkeologi Benteng Orange di Gorontalo Utara sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal Arrazaq, Naufal Raffi; Tasnur, Irvan; Rumambie, Wira Pratama
FACTUM: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol 14, No 2 (2025): Heritage dan Kearifan Lokal dalam pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia, MSI, dan APPS (Asosiasi Pendidik dan Peneliti Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/factum.v14i2.80338

Abstract

Orange Fort in North Gorontalo is an archaeological heritage site with significant historical value, yet its potential as a learning resource has not been fully explored. This study aims to analyze the potential of Orange Fort as a source for local history learning and to formulate appropriate strategies for its integration into history education at the senior high school level. This research employs a literature review method by collecting and examining relevant sources on historical heritage, history pedagogy, and cultural site utilization. The collected data were then analyzed to determine the relevance of the fort’s historical content to the history curriculum and its possible applications in classroom practice. The findings reveal that Orange Fort holds strong potential as a local history learning resource and can be integrated into various pedagogical approaches, such as field trips, digital learning media development, and student research projects. Utilizing the fort as a learning source not only enriches historical content but also enhances students’ historical awareness, critical thinking skills, and sense of nationalism. Furthermore, the sustainable use of this site requires proper conservation and management efforts. Therefore, collaboration among government agencies, educators, academics, and local communities is essential to preserve and develop Orange Fort as a meaningful and sustainable educational resource for local history learning. This study contributes to the discourse on place-based history education and highlights the importance of integrating cultural heritage sites into the formal curriculum. Abstrak Orange Fort di Gorontalo Utara merupakan tinggalan arkeologis yang memiliki nilai historis penting dan berpotensi besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal. Namun, pemanfaatannya dalam konteks pendidikan masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi Orange Fort sebagai sumber belajar sejarah lokal serta merumuskan strategi pemanfaatannya dalam pembelajaran sejarah di sekolah menengah. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menghimpun berbagai literatur mengenai sejarah benteng, pembelajaran sejarah, dan pemanfaatan situs budaya. Data yang diperoleh dianalisis untuk mengkaji relevansi konten sejarah benteng dengan kurikulum sejarah serta bentuk implementasinya dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Orange Fort dapat dijadikan sumber belajar melalui berbagai model pembelajaran, seperti kunjungan lapangan (field trip), pengembangan media digital berbasis situs sejarah, dan proyek penelitian siswa. Pemanfaatan benteng sebagai sumber belajar tidak hanya memperkaya materi sejarah lokal, tetapi juga meningkatkan kesadaran sejarah, keterampilan berpikir kritis, serta menumbuhkan rasa nasionalisme siswa. Selain itu, pemanfaatan situs memerlukan strategi pelestarian dan pengelolaan yang tepat agar keberlanjutannya terjaga. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pendidik, akademisi, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menjadikan Orange Fort sebagai sumber belajar sejarah lokal yang edukatif, kontekstual, dan berkelanjutan.