Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

The Relationship Between Self-Empowerment and Quality of Life in Type 2 Diabetes Mellitus Patients in Enrekang Regency Sri Syatriani; Nurleli, Nurleli; Al Maidha, Al Maidha
Window of Health : Jurnal Kesehatan Vol 6 No 3 (Juli 2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.774 KB)

Abstract

Efforts to increase the self-empowerment of type 2 diabetes mellitus patients must be supported by solid motivation so they can develop their abilities so that they are able to care for themselves and empower themselves, the data found at the Masalle Health Center found that as many as 74 people with type 2 diabetes mellitus in 2020. Research aims to determine the relationship between self-empowerment and quality of life in patients with type 2 Diabetes Mellitus. The type of research used in this study was an analytic study with a cross-sectional design. The population of this study was type 2 diabetes mellitus sufferers in the working area of ​​the Masalle Public Health Center, Enrekang Regency, as many as 74 74 people and samples in this study were type 2 diabetes mellitus in the working area of ​​the Masalle Public Health Center, Enrekang Regency, who were drawn by total sampling technique. Quality of life was collected using the Diabetes Quality Of Life (DQOL) questionnaire and self-employment. Powerment was collected using the Diabetes Empowerment Scale Long Form (DES-LF) questionnaire. Data were processed using SPSS and analyzed using a chi-square test. The results showed a relationship between self-empowerment and the quality of life of type 2 diabetes mellitus patients with p=0.036 <0.05. The study concludes that there is a relationship between self-empowerment and the quality of life of people with type 2 diabetes mellitus, meaning that the better the self-empowerment, the better the quality of life of people with diabetes mellitus. Type 2 Diabetes Mellitus sufferers are advised to always achieve self-empowerment by increasing self-confidence to increase their quality of life.
Hubungan Tata Kelola (Good Governance) Dengan Kinerja Tenaga Kesehatan Pada Era Pandemi Covid-19 Di Puskesmas Binamu Kabupaten Jeneponto Sri Syatriani; Amaliah, Andi Rizky; Nur Alfiana
Jurnal Mitrasehat Vol. 12 No. 2 (2022): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v12i2.345

Abstract

Kinerja dikenal sebagai kinerja pekerjaan, dan secara umum, adalah kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktu pekerjaan yang dicapai seorang karyawan dengan melakukan tugasnya seperti yang ditugaskan. Salah satu faktor yang mempengaruhi risiko penurunan kinerja adalah beban kerja yang dapat meningkat jika jumlah tenaga kesehatan tidak sesuai dengan tingkat pelayanan yang dibutuhkan pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara good governance dengan kinerja tenaga kesehatan di Puskesmas Kota Binamu di era pandemi Covid-19. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain Cross Sectional. Sampel pada penelitian ini adalah tenaga kesehatan sebanyak 67 responden yang diambil dengan Teknik Total Sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner serta analisis data yaitu analisis chi square. Hasil analisis bivariat dari 67 responden yang diteliti, diketahui hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-Square (p < 0,05) maka diperoleh ada hubungan pada transparansi (p=0,000), akuntabilitas (p=0,003), responsibilitas (p=0,000), dan fairness (p=0,003) dengan kinerja tenaga kesehatan. Simpulan dari penelitian ini, empat variabel yang telah diuji memiliki hubungan yang signifikan dengan kinerja tenaga kesehatan yaitu variabel transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, dan fairness. Saran dari penelitian ini, Diharapkan kepada pihak Puskesmas Binamu Kota untuk lebih melakukan keterbukaan untuk pengambilan keputusan serta melibatkan seluruh staf dalam pembuatan kebijakan.
PENGUATAN SISTEM KEWASPADAAN DNI BENCANA BANJIR DI DUSUN SAPANANG DAN DUSUN SAPIRI DESA SAPANANG KECAMATAN BINAMU KABUPATEN JENEPONTO Ilham Syam; Sri Syatriani; Andi Sri Devi Saputri
Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT) Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/b.v2i1.255

Abstract

Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan oleh air. Peristiwa banjir timbul jika air menggenangi daratan yang biasanya kering. Banjir pada umumnya disebabkan oleh air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya sebagai akibat curah hujan yang tinggi. Kekuatan banjir mampu merusak rumah dan menyapu fondasinya. Hujan yang turun di sebagian besar wilayah Indonesia Misalnya di Sulawesi Selatan Kab jeneponto sejak Desember 2018 sampai Februari 2019 telah menimbulkan kejadian banjir di banyak tempat seperti Kec Binamu, Kec Turatea dan di Kec kelara yang merusak rumah warga sebanyak 438 rumah, sebanyak 15 jembatan ambruk yang diperkirakan kerugian material mencapai 200 miliar.. Salah satu wilayah Jeneponto mengalami banjir parah adalah di Kec Binamu Tepatnya di desa Sapanang. Banjir dijumpai pada tanggul sungai yang dibuka di rumbia akibat terjangan air dan kemudian menggenangi areal pertanian, rumah penduduk, jaringan jalan, fasilitas social, dll. Mengingat tinggi dan lamanya genangan air serta dampak yang ditimbulkan maka beberapa kawasan banjir tersebut berada dalam status bahaya III, siaga atau bahkan darurat banjir. bencana banjir di Jeneponto tepatnya Di Desa Sapanang Di dusun Sapanang menewaskan sekitar 11 orang dan 1 belum ditemukan dan menghancurkan 155 bangunan dan 30 rumah rusak parah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pemahaman masyarakat terkait sistim kewaspadaan dini pada saat terjadi bencana. Metode yang digunakan dengan melakukan assement ke dusun dusun yang terdampak banjir,kemudian memberikan kuisioner serta melakukan advokasi ke kepalada desa. Hasil penelitian menunjukan sebanyak 80 responden (100%) menjawab tidak ada sistem kewaspadaan dini, tidak ada jalur evakuasi, tidak ada pelatihan pertolongan pertama pada saat bencana di desa Sappanang Simpulan Setelah dilakukan advokasi diharapkan pemerintah setempat khususnya pihak desa memberikan anggaran desa untuk pelatihan Tanggap darurat bencana pada penduduk desa setempat khususnya karang taruna serta bekerjasama dengan BPBD setempat untuk membuat tanda dan jalur evakuasi.
SIPIL (SOSIALISASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH) DI MASYARAKAT DESA BONTO-BONTOA KABUPATEN BANTAENG Dewi Purnama Windasari; Sri Syatriani; Aminullah; Miftahul Jannah; Serli Marsanda; Sulfitra Alhidayah; Muhammad Ali
Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT) Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jgs.v5i1.539

Abstract

Latar belakang: Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) merupakan sarana penting yang dirancang untuk mengelola air limbah dari rumah tangga, guna mengurangi dampak lingkungan yang merugikan. Di Indonesia, tantangan sanitasi masih signifikan, dengan data WHO menunjukkan peringkat ketiga terburuk di dunia. Air limbah yang tidak diolah dengan baik dapat mencemari sumber air dan merusak ekosistem, serta berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi masyarakat. Tujuan: untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pentingnya sistem pengolahan air limbah yang memenuhi standar STBM. Metode: Metode yang digunakan adalah intervensi berupa penyampaian informasi dengan menggunakan media poster serta pemberian materi edukasi dalam bentuk power point yang dimana kegiatan ini dilakukan di Kantor Desa Bonto-bontoa dan dihadiri oleh 14 orang masyarakat. Hasil: Setelah diberikan edukasi mengenai IPAL pada Masyarakat diberikan Kembali kuesioner posttest, Sebanyak 12 anggota masyarakat (85,71%) mampu menjawab pertanyaan dengan tingkat pengetahuan yang cukup, sementara 2 anggota masyarakat (14,29%) menunjukkan tingkat pengetahuan yang kurang. Kesimpulan: Terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat setelah diberikan edukasi mengenai IPAL.
PELATIHAN TANGGAP DARURAT DAN PERTOLONGAN PERTAMA KEBAKARAN DI UPT SMA NEGERI 7 SINJAI Sri Syatriani; Halmina Ilyas; Andi Ayumar; Nurul Mutmainnah; Eka Tristiawati; Siti Humairah; Yosina Naomi Leterulu; Sarifa Ulang Sari; Agung Pratama Afandi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT) Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jgs.v5i2.601

Abstract

Latar belakang: Peristiwa kebakaran termasuk dalam kategori situasi darurat yang kerap terjadi dan berpotensi menyebabkan dampak kerugian yang signifikan., terutama di lingkungan sekolah. Minimnya pengetahuan siswa mengenai penanggulangan kebakaran menuntut perlunya edukasi dan pelatihan kesiapsiagaan. Tujuan: Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkuat pemahaman dan kemampuan siswa dalam merespons situasi darurat kebakaran melalui pelatihan kesiapsiagaan serta pemberian pertolongan pertama terhadap luka bakar. Metode: Kegiatan dilakukan dalam bentuk penyuluhan, demonstrasi penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), simulasi evakuasi kebakaran, serta praktik penanganan luka bakar menggunakan media molase. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test dari 22 siswa yang menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) di UPT SMA Negeri 7 Sinjai. Hasil: Terdapat peningkatan signifikan pada pengetahuan siswa setelah mengikuti pelatihan. Pada seluruh indikator, seperti penyebab kebakaran, unsur api, cara pemadaman, jenis luka bakar, dan penanganannya, skor jawaban benar meningkat secara signifikan pada post-test dibandingkan pre-test. Kesimpulan: Pelatihan tanggap darurat terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan siswa menghadapi kebakaran serta memberikan keterampilan dasar pertolongan pertama yang penting diterapkan dalam situasi darurat.