Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Pengaruh Intervensi Stretching dan Scar Massage terhadap Kasus Post Surgical Wound e.c post Debridement, External Fixation, STSG: A Case Report Putri, Leony Dewinta; Santoso, Totok Budi; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Fraktur terbuka merupakan cedera dimana tulang yang patah terkena lingkungan luar akibat traumatis pada jaringan lunak dan kulit. Fraktur terbuka memiliki kejadian tahunan sebesar 30,7 per 10.000 di Inggis serta fraktur tibialis memiliki insiden tertinggi sebesar 3,4 per 100.000. Fraktur terbuka biasanya melibatkan debridement untuk menghilangkan jaringan mati agar memungkinkan penyembuhan jaringan lunak. Selain itu pemberian autograft juga membantu pengobatan kecacatan kulit yang besar. Setelah dilakukan autograft biasanya akan mengakibatkan keterbatasan pada ROM terutama jika cedera terjadi disekitar sendi. Fisioterapi berperan penting dalam membantu permasalahan yang terjadi dengan latihan dan scar massage yang bertujuan untuk meningkatkan ROM dan meningkatkan aktivitas fungsional sehari-hari. Presentasi Kasus: Seorang wanita berusia 22 tahun, dengan diagnosa medis post surgical wound e.c post debridement, screw revision (22/12/2023), e.c implant expose, e.c wound dehiscence post remove External Fixation change to Intramedullary Nailing (ETN) (28/7/2023) e.c post debridement, external fixation, STSG (10/3/2023). Dimana mengalami kecelakaan lalu lintas pada 9 Maret 2023, dan pasien datang dengan kondisi multiple fracture: CF Right Clavicle Middle Third Allman Group 1, CF Right Shaft Proximal Phalanx Index Finger, OF Right Tibia Distal Third Gustillo Anderson Grade 3B, OF Right Base Metatarsal 5th Toe. Permasalahan fisioterapi yang terdapat pada pasien, yaitu keterbatasan gerak aktif Range of Motion (ROM) penurunan kekuatan otot pergelangan kaki, serta terdapat perbedaan antropometri lingkar segmen di area pergelangan kaki dan penurunan aktivitas fungsional. Metode dan Hasil: Subjek diberikan latihan AROM dan PNF (contract-relax) serta scar massage selama 2 minggu yang dilakukan 2 kali seminggu. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan instrument pengukuran Range of Motion (ROM), Manual Muscle Testing (MMT), Antropometri, dan Aktivitas Fungsional Lower Extremity Functional Scale (LEFS). Diskusi: Dari beberapa penelitian pemberian intervensi stretching dengan metode PNF (contract-relax stretching) terbukti mampu meningkatkan ROM dan untuk mencapai perubahan ROM yang lebih, stretching PNF perlu dilakukan sekali atau dua kali seminggu. Serta pemberian scar massage pada area skin graft dengan teknik efflurage, kneeding serta friction terbukti mampu meningkatkan lingkup gerak sendi didalam jaringan yang dipijat. Kesimpulan: Terdapat peningkatan pada ROM, antropometri, aktivitas fungsional setelah diberikan latihan (AROM dan PNF contract-relax stretching) dan scar massage selama 2 minggu.
Manajemen Fisioterapi Bekas Luka Bakar Grade 2 pada Anak: Case Report Vitasari, Lingga; Komalasari, Dwi Rosella; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Sekitar 86% luka bakar yang disebabkan oleh thermal lebih sering terjadi daripada faktor penyebab lainnya seperti listrik, gesekan, radiasi dan bahan kimia. Populasi anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan mengalami luka bakar dikarenakan rasa ingin tahu tinggi dan pemahaman yang terbatas mengenai suatu risiko perbuatan tertentu pada lingkungannya. Rehabilitasi fisioterapi pasca luka bakar sangat penting di karenakan bekas luka bakar yang timbul dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita. Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Bali pada bulan Januari hingga Februari 2024 pada seorang anak kecil berumur 4 tahun dengan kasus post debridement dan Splint-Thickness Skin Graft (STSG) pasca luka bakar akibat minyak panas yang dialaminya bulan Oktober 2023. Management and Outcome: Penatalaksanaan fisioterapi dalam 4 sesi terapi dengan active exercise (ankle pumping, heel raises, towel toe curl exercise), active resisted exercise (bicycle exercise), passive assisted exercise, stretching dan scar massage. Pemeriksaan fisioterapi dengan integritas kulit, vancouver scar scale, manual muscle testing untuk kemampuan kekuatan otot, pengukuran lingkup gerak sendi dengan goniometer, pengukuran lingkar segmen dengan antropometri, 5D pruritus scale untuk pemeriksaan skala gatal dan Foot and Ankle Disability Index pada kemampuan fungsional pada ankle pasien. Discussion: Dalam rehabilitasi luka bakar, pemberian exercise merupakan salah satu intervensi yang memainkan peran penting dalam memaksimalkan potensi rehabilitasi korban luka bakar. Conclusion: Penatalaksaan fisioterapi bekas luka bakar pada anak diperlukan untuk meningkatkan kemampuan fungsional dan mencegah keparahan dari keluhannya.
Management Fisioterapi pada Kasus Split Thickness Skin Graft: Studi Kasus Hendra, Zulnanda; Santoso, Totok Budi; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Luka bakar merupakan cedera yang terjadi pada jaringan kulit atau jaringan lain yang disebabkan karena gesekan, benda panas atau radiasi, listrik,. Pada pasien dengan luka bakar Sebagian atau seluruh ketebalan, split-thickness skin graft (STSG) dianggap sebagai pengobatan utama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil dari manajemen fisioterapi pada kasus STSG dengan pemberian intervensi berupa TENS, Ultrasound (US), Scar Massage, Active exercise, Passive Exercise, Isometric Exercise, Strengthening Exercise. Presentasi Kasus: Seorang pasien laki-laki berusia 42 tahun datang mengeluhkan rasa sakit ketika menekuk lutut dan pergelangan kaki sisi sinistra setelah dilakukan operasi STSG. Dilakukan tindakan fisioterapi dan di evaluasi dengan beberapa poin yaitu nyeri menggunakan NRS, kekuatan otot menggunakan MMT, lingkup gerak sendi menggunakan goniometer, lingkar segmen menggunakan metline, skala gatal menggunakan itching scale, dan kemampuan fungsional menggunakan Lower Extremity Fungsional Scale (LEFS) Manajement dan Hasil: Pada penelitian ini pasien mendapatkan terapi yang terdiri dari TENS, Ultrasound (US), Scar massage dan stretching exercise. Latihan tambahan yaitu diberikan stretching exercise berupa active, passive, isometric dan strengthening exercise yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot pada area genu dan sekitarnya. Pelaksanaan terapi dilakukan sebanyak tiga kali dan setelahnya dilakukan evaluasi terapi. Diskusi: Tujuan rehabilitasi fisioterapi adalah untuk mengurangi nyeri, mencegah komplikasi sekunder, dan menjadikan pasien mandiri secara fungsional sedini mungkin, serta membatasi pergerakan dan meningkatkan risiko dekondisi. Terapi fisik membantu meminimalkan kemungkinan jaringan parut mengganggu jalan pasien. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pemberian 3 kali terapi yaitu dengan pemberian intervensi fisioterapi berupa TENS, Ultrasound (US), Scar Massage, Active Exercise, Passive Exercise, Isometric Excercise, Strengthening Exercise, yang diberikan pada pasien berusia 42 tahun terdapat pengurangan nyeri gerak, peningkatan kekuatan otot, peningkatan LGS, penurunan selisih lingkar segmen yang, penurunan skala gatal, dan peningkatan kemampuan aktifitas fungsional.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus post Amputation above Knee Sinistra di RSUP Prof. I.G.N.G Ngoerah: A Case Study Putra, Zulfikar Yucha; Rahayu, Umi Budi; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Amputasi merupakan sebuah prosedur pengambilan atau pemotongan bagian tubuh yang telah mengalami kerusakan jaringan atau nekrosis. Setelah menjalani amputasi seseorang akan mengalami perubahan anatomi dan fisiologi, maka diperlukan proses rehabilitasi oleh fisioterapi untuk mengoptimalkan proses pemulihan pasca amputasi.Case Presentation: Pasien Tn. I.N.A.N merupakan seorang laki-laki berusia 32 tahun datang dengan keluhan nyeri tak tertahankan dan keterbatasan gerak pada kaki kirinya akibat kecelakaan yang ia alami. Pasien didiagnosa mengalami compartement syndrome ec multiple fracture serta pasien tidak memiliki riwayat penyakit lainnya. Setelah menjalani amputasi pasien tampak lemas, mengeluhkan rasa nyeri (Phantom Pain) dan kesulitan untuk bergerak meskipun dalam keadaan di atas kasur. Pasien lalu mendapatkan rujukan untuk menjalani treatment fisioterapi dengan tujuan nyeri dapat berkurang, mampu menggerakkan anggota tubuh yang mengalami amputasi, dan pasien mampu untuk melakukan kegiatan transfer dan ambulasi.Management and Outcome: Jenis penelitian ini merupakan case report yang memiliki sampel 1 orang pasien laki-laki dengan diagnosis post amputee above knee sinistra ec compartement syndrome ec traumatic injury. Alat ukur yang digunakan yaitu Numeric Pain Rating Scale (NPRS) untuk skala nyeri, goniometer untuk lingkup gerak sendi, Manual Muscle Testing (MMT) untuk tingkat kekuatan otot, meterline untuk lingkar segmen odema, dan Amputee Mobility Predictor (AMP) untuk tingkat kemampuan fungsionalDiscussion: Setelah dilakukan pemberian intervensi oleh fisioterapi sebanyak 3 kali didapatkan hasil bahwa terjadi perubahan yang cukup meningkat pada lingkup gerak sendinya, tingkat nyeri, kekuatan otot, integritas kulit, dan kemampuan fungsionalnyaConclusion: Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi exercise serta massage dapat memberikan peningkatan kemampuan namun tidak signifikan.
Pengaruh Intervensi Mobilization Exercises dan Scar Massage terhadap Kasus Luka Bakar Grade II AB 21,5% pada Anak: A Case Report Syinta, Ahmada Norma; Rahayu, Umi Budi; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Luka bakar (combustio) pada anak-anak merupakan kondisi yang dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan, khususnya bila tidak ditangani secara optimal. Salah satu komplikasi umum adalah terbentuknya kontraktur dan keterbatasan mobilitas, sehingga fisioterapi sejak dini sangat penting untuk mencegah disabilitas jangka panjang.Case Presentation: Seorang anak berusia 2 tahun mengalami luka bakar derajat II seluas 21,5% akibat api, dengan lokasi luka pada ekstremitas atas dan bawah. Pasien menunjukkan keterbatasan fungsi gerak, risiko tinggi kontraktur, dan nyeri pada area luka.Management and Outcome: Penanganan fisioterapi dilakukan melalui latihan range of motion (ROM) pasif dan aktif, latihan aktif-terbantu, latihan berdiri dan berjalan, latihan keseimbangan, serta massage pada jaringan parut. Evaluasi dilakukan menggunakan SWEAT untuk integritas kulit, Vancouver Scar Scale, dan WeeFIM sebelum dan setelah dua sesi intervensi. Hasil menunjukkan belum ada perubahan klinis yang signifikan, namun terdapat perbaikan berupa penurunan nyeri dari 5/10 menjadi 4/10, peningkatan fleksibilitas tungkai kiri, dan munculnya refleks meskipun masih minimal. Skor WeeFIM meningkat dari 60 menjadi 61.Conclusion: Intervensi fisioterapi awal memberikan dampak positif meskipun belum signifikan secara klinis. Lanjutan terapi secara rutin disertai program latihan di rumah sangat penting untuk mencegah kontraktur dan mendukung optimalisasi fungsi motorik pada anak dengan luka bakar.
Management Fisioterapi pada Kasus Lymphedema et Causa Ca Mamae di Poli Rehab Medik RSUP Prof. Dr. I. G. N. G Ngoerah Bali: Studi Kasus Hanum, Ery Nafisah; Wahyuni, W; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Limfedema pada kanker payudara merupakan kondisi ketika terganggunya sistem limfatik sehingga menimbulkan akumulasi cairan yang kaya dengan protein di ruang interstisial yang menyebabkan terjadinya pembengkakan. Kejadian ini akan merasakan nyeri, keterbatasan gerak, distorsi bentuk anggota tubuh, dan penurunan kemampuan fungsional pada ekstremitas atas pasien. Fisioterapis memiliki tujuan untuk menurunkan rasa nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, menurunkan bengkak, meningkatkan kekuatan otot, dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien dengan pemberian modalitas dan intervensi lain.Case Presentation: Seorang pasien perempuan berusia 46 tahun mengeluhkan nyeri pada leher hingga jari-jari tangan sisi kiri ketika ditekan, keterbatasan gerak pada leher dan bahu sisi kiri, serta bengkak pada lengan sisi kiri. Pasien mempunyai riwayat 5 tahun lalu muncul benjolan pada payudara kiri dan ketiak, ketika menjalani kemoterapi pasien mulai merasakan bengkak pada lengan kiri yang kian membesar setiap harinya. Dilakukan pemeriksaan nyeri menggunakan NRS, kekuatan otot menggunakan MMT, lingkup gerak sendi menggunakan goniometer, oedema menggunakan midline, dan kemampuan fungsional menggunakan SPADI.Management and Outcome: Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan observasional. Pasien mendapatkan intervensi berupa modalitas TENS, manual lymphatic drainage vodder (MLDV), stretching, dan mobilisasi sendi. Pasien mendapatkan terapi sebanyak 5 kali pertemuan dengan fisioterapis dan dilakukan evaluasi pada setiap pertemuannya. Hasil menunjukkan penurunan nyeri NRS. Rata-rata lingkup gerak cervical dan shoulder sinistra meningkat. Oedema lingkar lengan menurun. Kemampuan fungsional meningkat, skor SPADI dari 33,8% menjadi 28,4%. Namun, kekuatan otot regio cervical dan shoulder sinistra tidak menunjukkan peningkatan.Discussion: Kombinasi terapi TENS, MLDV, stretching, dan ROM terbukti efektif untuk menurunkan gejala lymphedema dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Hasil ini sejalan dengan teori bahwa intervensi fisioterapi multimodal dapat memperbaiki fungsi sistem limfatik, mengurangi nyeri akibat peradangan kronis, dan meningkatkan mobilitas pasien pasca kanker payudaraConclusion: Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi fisioterapi menggunakan modalitas TENS, stretching exercis, mobilisasi sendi, dan Manual Lymphatic Drainage Vodder (MLDV) selama 5 kali pertemuan efektif menurunkan nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, mengurangi oedema, dan meningkatkan fungsi pada kasus lymphedema et causa CA Mamae.
Efek Pemberian ROM Exercise pada Contracture Axilla Dextra post Burn pada Anak Usia 8 Tahun Arianeputri, Gemma Nurulfatiha; Dewangga, Mahendra Wahyu; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Cedera luka bakar menjadi penyebab utama kecacatan dari tahun ke tahun. Kontraktur akibat luka bakar menjadi salah satu komplikasi umum terjadi yang menyebabkan keterbatasan gerak dan memengaruhi area fleksibilatas seperti sendi.Case Presentation: Seorang pasien anak perempuan usia 8 tahun dengan kontraktur axilla post burn. Pasien mengeluhkan kekakuan dan keterbatasn ROM pada gerak shoulder dextra akibat kontraktur pada axilla.Management and Outcome: Pasien diberikan program latihan berupa latihan ROM aktif-pasif, mobilisasi glenohumeral joint, massage axilla, gentle stretching dan strengthening exercise dan finger walking exercise. Evaluasi nyeri, dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT), lingkup gerak sendi (ROM) menggunakan Goniometer, skala gatal menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan kemampuan fungsional menggunakan Shoulder Pain and Disability Index (SPADI). Terdapat penurunan nyeri dan rasa gatal pada T1-T4. Pada ROM dan aktivitas fungsional SPADI dijumpai peningkatan pada T1-T4.Discusion: Pendekatan fisioterapi yang intensif seperti stretching exercise dapat meningkatkan ROM dan mencegah kekakuan lebih lanjut. Selain itu, pemberian latihan secara signifikan dapat meningkatkan kualitas hidup pada anak-anak dengan cedera post burn.Kesimpulan: Hasil dari pemberian exercise selama 4 minggu didapati hasil peningkatan ROM dan aktivitas fungsional pada pasien.
Manajemen Fisioterapi pasca Debridement dan STSG pada Kasus Necrotizing Fascitis: Studi Kasus Hidayati, Asri Lutfika; Fatmarizka, Tiara; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Necrotizing fasciitis merupakan infeksi jaringan lunak yang bersifat progresif dan mengancam jiwa, ditandai dengan nekrosis pada fascia superfisialis dan jaringan subkutan. Penanganan bedah berupa debridement dan STSG sering menimbulkan permasalahan fungsional seperti nyeri, kekakuan sendi, keterbatasan lingkup gerak, dan penurunan kekuatan otot yang memerlukan manajemen fisioterapi komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil dari manajemen fisioterapi pasca debridement dan STSG pada kasus Necrotizing Fascitis dengan pemberian intervensi berupa Electrical Stimulation (ES) Stretching, Scar Massage, ROM Exercise, Strengthening Exercise, dan Gait TrainingCase Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus. Penelitian dilaksanakan di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Bali pada bulan November hingga Desember 2024 pada seorang pasien wanita berusia 33 tahun, dengan diagnosa medis Post Debridement + STSG Regio Femur E.C. Necrotizing Fascitis. Permasalahan fisioterapi yang terdapat pada pasien, yaitu terdapat nyeri gerak, keterbatasan gerak aktif Range of Motion (ROM) penurunan kekuatan otot pergelangan kaki, serta terdapat oedem di area pergelangan kaki dan penurunan aktivitas fungsionalManagement and Outcome: Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran nyeri dengan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Pengukuran kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). Goniometer untuk mengukur Range of Motion (ROM). Pengukuran oedem dengan mitline Figure of Eigth. Skala Fungsional Ekstremitas Bawah (LEFS) untuk mengukur kemampuan fungsional. LEFS adalah kuesioner kualitas hidup yang terdiri dari 20 item kemampuan sseorang ntuk melakukan tugas sehari-hari. Hasil setelah 3 kali fisioterapi terjadi penurunan nyeri gerak pada T1 = 3 menjadi T3 = 2. Peningkatan kekuatan otot regio hip dextra dalam gerakan fleksi, abduksi dan adduksi T1 = 4, menjadi T3 = 5. Regio knee dextra dalam gerakan fleksi dan ektensi T1 = 3 menjadi T3 = 4. Peningkatan Lingkup Gerak Sendi (LGS) pada regio knee dextra yaitu 0-0-40 mengalami peningkatan menjadi 0-0-50. Sedangkan pada regio ankle pada awal terapi yaitu 20-0-10° dan mengalami peningkatan menjadi 25°-0°-15° pada gerakan dorsal dan plantar fleksi. Penurunan oedem dengan selisih pada T1 = 5 cm menjadi T3 = 0. Peningkatan kemampuan fungsional LESF T1 = 31,2% kemudian menjadi T3 = 45%.Conclusion: Terdapat penurunan nyeri dan peningkatan pada ROM, kekuatan otot, oedema, aktivitas fungsional setelah diberikan intervensi Electrical Stimulation (ES), stretching, scar massage, ROM exercise, strengthening, serta gait training selama 3 sesi terapi.
Kombinasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation, Low Laser Light Therapy dan Mirror Therapy Exercise sebagai Intervensi Fisioterapi pada Pasien post Herpetic Neuralgia: A Case Report Maharrani, Dian; Pristianto, Arif; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Post Herpetic neuralgia (PHN) atau neuralgia pasca herpes adalah komplikasi paling umum dari terjadinya herpes zoster. Karakteristik Postherpetic Neuralgia (PHN) ditandai dengan nyeri tajam atau sensasi terbakar yang mengikuti pola dermatom satu sisi, dan berlangsung selama tiga bulan atau lebih setelah infeksi herpes zoster terjadi. Faktor risiko PHN yang sering terjadi adalah usia lanjut, jenis kelamin perempuan, imunosupresi berat, ruam parah, dan nyeri akut saat terpapar herpes zoster.Case Presentation: Penelitian ini menggunakan metode case report yang dilakukan di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Bali pada bulan November 2024. Pasien seorang pria, atas nama Tn. IMS, berusia 71 tahun dengan diagnosis post herpetic neuralgia. Pasien mengeluhkan nyeri dan sensai terbakar di bagian mata, alis, dan dahi sebelah kiri sejak 3 bulan yang lalu. Nyeri yang dirasakan hilang-timbul, tajam, dan tidak menjalar. Nyeri bertambah parah saat terkena gesekan, seperti pakaian atau masker dan saat terkena angin. Nyeri tidak terasa saat tidur sehingga tidak mengganggu waktu tidur pasien. Pasien mempunyai riwayat hipertensi, diabetes, dan bell palsy.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan kepada pasien adalah Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), Low Laser Light Therapy (LLLT), dan Mirror therapy exercise. Evaluasi pengukuran tingkat nyeri pasien menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), pengukuran kekuatan otot wajah pasien menggunakan Manual Muscle Testing (MMT), pengukuran skala integritas kulit dengan metode SWEAT, dan pengukuran kemampuan fungsional menggunakan Ugo Fisch Scale.Conclusion: Penelitian ini dilaksanakan langsung pada pasien dengan kondisi Post Herpetic Neuralgia dengan terapi sebanyak 5 kali sesi pertemuan dengan modalitas fisioterapi berupa TENS, LLLT, dan mirror therapy exercise terlihat perubahan yang signifikan dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki integritas kulit, dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien.