Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Gunung Djati Conference Series

LOTION TABIR SURYA BERBAHAN DASAR EKSTRAK ETANOL DAUN BASIL HIJAU (Ocimum basilicum) HASNA RIZKIA RAMADHANI; NUNUNG KURNIASIH; TINA DEWI ROSAHDI
Gunung Djati Conference Series Vol. 58 (2025): Seminar Nasional Kimia Tahun 2025
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paparan sinar ultraviolet (UV) secara berlebihan dapat menyebabkan penuaan dini, hiperpigmentasi, hingga kanker kulit. Di sisi lain, penggunaan tabir surya berbahan kimia sintetis sering menimbulkan iritasi, sehingga diperlukan bahan alami yang lebih aman. Daun basil hijau (Ocimum basilicum) mengandung berbagai senyawa fitokimia seperti flavonoid, tanin, dan terpenoid yang berpotensi sebagai pelindung UV dan antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa fitokimia dalam ekstrak etanol daun basil hijau, mengevaluasi mutu fisik lotion yang diformulasikan, serta menilai tingkat kesukaan panelis terhadap lotion tersebut. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol redes, kemudian dilakukan skrining fitokimia untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder. Lotion diformulasikan dengan konsentrasi ekstrak 0%, 1%, 2%, dan 3% (F0–F3), lalu dilakukan evaluasi mutu berdasarkan parameter SNI 16-4399-1996, seperti uji pH, daya sebar, homogenitas, stabilitas emulsi, bobot jenis, serta cemaran mikroba. Uji kesukaan dilakukan terhadap 40 panelis yang menilai aroma, warna, dan tekstur sediaan. Hasil skrining menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun basil hijau mengandung flavonoid, tanin, saponin, steroid, terpenoid, dan alkaloid. Seluruh formulasi lotion memenuhi standar mutu SNI, dengan pH berkisar 7,1-7,9, homogenitas baik, dan cemaran mikroba di bawah batas maksimum. Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa formulasi F2 (2% ekstrak) paling disukai berdasarkan aroma, warna, dan tekstur. Dengan demikian, ekstrak etanol daun basil hijau berpotensi digunakan sebagai bahan aktif alami dalam formulasi lotion tabir surya.
LOTION TABIR SURYA BERBASIS EKSTRAK ETANOL DAUN BASIL UNGU (Ocimum basilicum var. Purpurascens) NAFITA IZZATUL ULYA; NUNUNG KURNIASIH; TINA DEWI ROSAHDI
Gunung Djati Conference Series Vol. 58 (2025): Seminar Nasional Kimia Tahun 2025
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai negara tropis memiliki paparan sinar matahari tinggi sepanjang tahun, yang dapat meningkatkan risiko gangguan kulit seperti penuaan dini hingga kanker. Lotion tabir surya umum digunakan sebagai pelindung, namun banyak yang masih mengandung bahan kimia sintetis berisiko efek samping dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, penggunaan bahan alami yang lebih aman dan ramah lingkungan menjadi fokus dalam pengembangan lotion tabir surya. Penelitian ini bertujuan menganalisis sediaan lotion tabir surya berbasis ekstrak etanol daun basil ungu. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol, kemudian dilanjutkan dengan uji fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder. Formulasi lotion dibuat dalam empat variasi konsentrasi ekstrak, yaitu 0% untuk F0, 1% untuk F1, 2% untuk F2, dan 3% untuk F3. Evaluasi mutu sediaan lotion dilakukan sesuai SNI 16-4399-1996 tentang sediaan tabir surya melalui uji karakteristik fisik, mikrobiologis, serta preferensi pengguna melalui uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak mengandung senyawa flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid. Warna lotion mengalami perubahan seiring peningkatan konsentrasi ekstrak, dari putih (F0) menjadi hijau tosca (F3), dengan aroma khas daun basil ungu pada formula F1 hingga F3. Tekstur semua sediaan tergolong lembut dan bentuknya berupa krim kental. Seluruh formula memiliki karakteristik homogen, pH dalam rentang 7,2–7,4, daya sebar 6,5–6,8 cm, stabilitas emulsi antara 82,94–87,06%, dan cemaran mikroba jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan. Uji hedonik menunjukkan bahwa formula F1 paling disukai dari segi warna, sedangkan F2 lebih disukai dari segi tekstur dan aroma. Meskipun demikian, seluruh formula memiliki bobot jenis yang melebihi standar SNI (0,95–1,05 g/mL), sehingga perlu diperhatikan dalam pengembangan lebih lanjut.
COOKIES BERBAHAN TEPUNG BIJI KECIPIR (Psopocarpus tetragonolobus L.) DAN UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L.) SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL NAJLA RAFIFAH DLIAULHAQ; NUNUNG KURNIASIH; ASSYIFA JUNITASARI
Gunung Djati Conference Series Vol. 58 (2025): Seminar Nasional Kimia Tahun 2025
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cookies merupakan kue kering berbentuk bulat kecil, bertekstur renyah, dan memiliki rasa manis atau sedikit gurih. Umumnya cookies yang beredar menggunakan bahan utama tepung terigu, namun penggunaannya sebagian besar bergantung pada impor gandum. Selain itu, produk cookies umumnya memiliki kandungan gluten yang tinggi, tetapi rendah kandungan serat dan protein. Sehingga diperlukan alternatif bahan baku lokal yang memiliki potensi gizi dan fungsional yang tinggi untuk mensubstitusi tepung terigu, seperti biji kecipir dan ubi jalar ungu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar proksimat dan mengetahui daya terima cookies berbahan tepung biji kecipir dan ubi jalar ungu. Cookies dengan kombinasi tepung biji kecipir dan ubi jalar ungu dibuat dengan beberapa formulasi yaitu A1 (30%:70%), A2 (40%:60%), A3 (50%:50%), A4 (60%:40%), dan A5 (70%:30%). Pada penelitian ini analisis proksimat yang dilakukan yaitu analisis kadar air (termogravimetri), abu (pengabuan langsung), lemak (soxhletasi), protein (Kjeldahl), karbohidrat (by difference), dan serat kasar (gravimetri) serta uji organoleptik. Hasil analisis proksimat abu, lemak, karbohidrat dan serat kasar akan dibandingkan dengan SNI 01-2973-1992, sedangkan hasil analisis proksimat air dan protein akan dibandingkan dengan SNI 2973:2022. Hasil analisis proksimat yang diperoleh yaitu formulasi A1 (30%:70%) memiliki kandungan abu terendah dan karbohidrat tertinggi masing-masing sebesar 1,21% dan 70,89%, sedangkan formulasi A5 (70%:30%) memiliki kandungan air terendah sebesar 2,93% dan kandungan protein, lemak, dan serat kasar tertinggi masing-masing sebesar 12,72%; 23,24%; dan 5,36%. Hasil uji organoleptik menunjukan cookies dengan penambahan tepung biji kecipir dan ubi jalar ungu yang paling disukai panelis pada parameter warna, rasa, dan tekstur yaitu cookies A3 secara berturut-turut 4,03; 3,77; dan 4,17. Sedangkan untuk parameter aroma terdapat nilai yang sama yaitu pada cookies A3 dan A4 sebesar 3,63.