Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Mari Perbaikan Gizi (Pergi) untuk Cegah Stunting melalui Media Aplikasi pada Masyarakat Desa Tiwingan Lama Lasari, Hadrianti HD; Saleha, Anis Kamila; Damayanti, Melly; Awalia, Salma Rizqy; Zam-zam, Prisa Aulia
Inovasi Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 2 (2024): IJPM - Agustus 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/ijpm.497

Abstract

Masalah status gizi merupakan masalah pokok yang masih dialami oleh Indonesia. Gangguan gizi pada awal kehidupan akan mempengaruhi kualitas hidup berikutnya. Salah satu masalah status gizi yang berdampak pada kehidupan di masa yang akan datang yaitu stunting. Berdasarkan hasil diagnosa komunitas yang dilakukan di Desa Tiwingan Lama RT 02 terdapat balita yang teridenfikasi mengalami stunting di Desa Tiwingan Lama RT 02. Hasil analisis faktor risiko yang dilakukan di Desa Tiwingan Lama menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan Ibu masih rendah. Pengetahuan yang rendah menyebabkan pola asuh anak juga rendah, Ibu masih belum memberikan makanan sesuai dengan kebutuhan anak. Oleh karena itu diperlukan edukasi kepada masyarakat, agar menarik edukasi dilakukan dengan memanfaatkan teknologi zaman sekarang yaitu handphone. Program yang dilakukan berupa penyuluhan, pelatihan aplikasi gizi, dan video edukasi. Hasil pretest dan post-test kegiatan Program menunjukkan peningkatan pengetahuan nilai rata-rata dari 74 menjadi 96. Dengan memanfaatkan teknologi diharapkan Ibu dapat menigkatkan pengetahuannya dan mempraktekan pola asuh yang baik dan benar kepada anaknya.
Cegah perilaku merokok sejak dini dengan intervensi media edukasi anti rokok (mekar) pada anak-anak MIN 3 Banjar Lasari, Hadrianti H.D; Saleha, Anis Kamila; Damayanti, Melly; Awalia, Salma Rizqy; Zam-Zam, Prisa Aulia
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25188

Abstract

Abstrak Perilaku merokok memiliki berbagai dampak buruk bagi kesehatan, seperti penyakit kanker (paru-paru, kulit, ginjal), penyakit jantung, katarak, dan kerusakan berbagai organ tubuh. Berdasarkan hasil diagnosa komunitas di Desa Tiwingan Lama RT 02, ditemukan bahwa 27 (21,3%) anggota rumah tangga merokok, dan sebagian besar mulai merokok sejak usia remaja. Tingginya prevalensi usia pertama kali merokok pada masa remaja menunjukkan perlunya pencegahan sejak dini. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan intervensi di Desa Tiwingan Lama RT 02. Tujuan dari kegiatan intervensi ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan anak sekolah dasar mengenai bahaya dari perllaku merokok. Metode yang digunakan adalah metode ceramah yang didukung berbagai media edukasi. Media digunakan agar penyampaian materi lebih menyenangkan dan menarik minat serta fokus anak-anak. Media edukasi yang digunakan yaitu poster, simulasi bahaya merokok, permainan bisik berantai dan permainan ular tangga raksaksa anti rokok. Instrument evaluasi yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pre-test dan post-test, yang terdiri dari kegiatan monitoring dan evaluasi intervensi. Hasil evaluasi kegiatan intervensi menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan peserta, di mana nilai rata-rata pre-test sebesar 60,9, meningkat menjadi 81,8 pada post-test. Diharapkan dengan edukasi tentang bahaya merokok sejak dini, anak-anak dapat menghindari perilaku merokok di masa depan. Kata kunci: perilaku merokok; bahaya merokok; perubahan perilaku dini; media edukasi AbstractSmoking behavior has various adverse health effects, such as cancer (lung, skin, kidney), heart disease, cataracts, and damage to various organs. The government has made various efforts to plan a healthy living community movement, one of the indicators is not smoking. According to data from the Ministry of Health in South Kalimantan, the prevalence of active smokers aged 10-18 years was 2.8%, and the age of first smoking at the age of 15-19 years was 58.4%. The high prevalence of age of first smoking in adolescence indicates the need for early prevention. Based on the results of community diagnosis in Tiwingan Lama RT 02 Village, it was found that 27 (21.3%) household members smoked, and most started smoking since adolescence, therefore, efforts that can be made are to instill early knowledge about the dangers of smoking. The intervention was conducted with children at MIN 3 Banjar using interesting educational media to capture their attention and focus. The educational media used was a giant snakes and ladders game. Based on the pre-test and post-test results, 71% of children experienced an increase in knowledge about the dangers of smoking. It is expected that with early education about the dangers of smoking, in the future they will not smoke. Keywords: smoking behavior; dangers of smoking; early behavioral changes; educational media
Edumom TB Care dalam pencegahan TB Paru pada balita di Kabupaten Banjar Khairiyati, Laily; Marlinae, Lenie; Hidayah, Ani Kipatul; Rahmat, Anugrah Nur; Husaini, Husaini; Biworo, Agung; Arifin, Syamsul; Saleha, Anis Kamila; Wulandari, Dewi Kusuma; Widiono, Youlanda Eka
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.34227

Abstract

AbstrakTuberkulosis paru pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan tren kasus yang terus meningkat, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Martapura 2, Kabupaten Banjar. Di Kabupaten Banjar, kasus TB balita meningkat sekitar 197% dalam dua tahun terakhir, dari 43 kasus pada tahun 2022 menjadi 128 kasus pada tahun 2024. Kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak ibu yang belum memahami tuberkulosis pada anaknya, sehingga deteksi dini dan kepatuhan pengobatan belum optimal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu balita mengenai pencegahan penularan TB, kepatuhan pengobatan, dan upaya menjaga lingkungan rumah yang sehat. Sasaran kegiatan adalah 21 ibu dengan balita penderita TB paru yang dipilih secara purposive. Kegiatan dilaksanakan pada Juli 2025 melalui metode home visit dengan media leaflet edukasi. Tahapan pelaksanaan meliputi persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Edukasi diawali dengan pre-test, dilanjutkan dengan penyuluhan interaktif menggunakan leaflet, dan diakhiri dengan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 77,14 pada pre-test menjadi 88,57 pada post-test (kenaikan 14,82%). Hasil ini menunjukkan bahwa penyuluhan dengan media leaflet efektif meningkatkan pengetahuan responden. Kata kunci: tuberkulosis balita; edukasi kesehatan; Ibu; home visit; leaflet AbstractTuberculosis (TB) in infants remains a public health issue with a continuing upward trend in cases, including in the working area of the Martapura 2 Community Health Center, Banjar Regency. The role of mothers is crucial in the prevention and successful treatment of infant TB, so family-based health education is needed. This community service activity aims to enhance mothers' knowledge about preventing TB transmission, treatment adherence, and maintaining a healthy home environment. The target audience consists of 21 mothers with infants diagnosed with pulmonary TB, selected through purposive sampling. The activity was conducted in July 2025 using the home visit method with educational leaflets as the medium. The implementation stages included preparation, implementation, and evaluation. Education began with a pre-test, followed by interactive counseling using leaflets, and concluded with a post-test. The results showed that the average knowledge score increased from 77.14 in the pre-test to 88.57 in the post-test (an increase of 14.82%). The Wilcoxon Signed-Rank Test yielded a p-value of 0.0001, indicating a significant difference. These results indicate that the educational session using the leaflet was effective in improving the respondents' knowledge. Keywords: tuberculosis in infants; health education; mother; home visits; leaflets
Advokasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kota Banjarbaru: Advocacy for Smoke-Free Areas (SFA) in Banjarbaru City Khairiyati, Laily; Ali, Indra Haryanto; Khadijah, Siti; Sutaji, Sutaji; Saleha, Anis Kamila
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 1 (2026): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v11i1.10332

Abstract

One way to protect the public from exposure to cigarette smoke is to implement Smoke-Free Areas (SFAs). This activity was carried out through KTR advocacy in Banjarbaru City for the period May - August 2024. The implementing elements consisted of the Advocacy Team, the Health Office, Regional Work Units (RWUs), educational institutions, religious institutions, and student organizations in Banjarbaru City. The implementation method consisted of Initial Coordination, Audiences and FGD, SFA Task Force Coordination Meetings, Monitoring and Visual Intervention, Educational Socialization in schools, and Institutional Advocacy to RWU. The results of the activity included obtaining permits and directions for SFA activities, gaining support for SFA implementation in 7 settings, strengthening task force coordination, and using cigarette advertising tax data. In addition, it led to the signing of inter-agency commitments, the proposed revisions to the Task Force Decree, and the establishment of an online reporting system. The results of monitoring the implementation of SFA in Public Transportation recorded the highest violation rate at 75%, followed by public places (73.33%) and children's playgrounds (64.29%). Meanwhile, places of worship (40.38%) and workplaces (34.62%) showed moderate levels of violations. The socialization of SFA in schools received a positive response from students and teachers. The advocacy stage of the RWU, through a structural advocacy approach, increased awareness and institutional responsibility for the SFU policy. Strengthening the cross-agency reporting system, providing more extensive educational media in public spaces, and replicating socialization activities across other school levels are needed.