Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Gambaran kejadian anemia pada ibu hamil di Kota Jayapura: Overview of the incidence of anemia in pregnant women in Jayapura City Diyah Astuti Nurfa'izah; Juliawati; Fitriani; Titi Iswanti Afelya; Theresia Pattipeme
Jurnal Keperawatan Tropis Papua Vol. 8 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i1.414

Abstract

Kejadian anemia pada ibu hamil tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kota Jayapura. Meskipun program pemerintah berupa pemberian 90 tablet Fe telah dijalankan, prevalensi anemia masih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik kejadian anemia pada ibu hamil di Kota Jayapura berdasarkan data rekam medis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang menggambarkan kejadian anemia pada ibu hamil. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Data diambil dari rekam medis ibu hamil yang mengalami anemia di lima Puskesmas di Kota Jayapura pada Januari–Desember 2023. Sampel berjumlah 104 ibu hamil yang dipilih dengan teknik quota sampling. Variabel yang dikaji mencakup usia, paritas, pendidikan, usia kehamilan, status gizi (berdasarkan LILA), dan derajat anemia. Berdasarkan hasil pengambilan data yang dilakukan pada lima Puskesmas di Wilayah Kota Jayapura mayoritas ibu hamil dengan anemia berada pada kelompok usia tidak berisiko (84,6%), berstatus multipara (41,4%), berpendidikan SMA (74%), dan berada pada trimester kedua kehamilan (60,6%). Sebagian besar memiliki status gizi baik (83,7%) dan mengalami anemia ringan (60,6%). Anemia ringan masih umum terjadi pada ibu hamil di Kota Jayapura meskipun sebagian besar memiliki status gizi baik. Diperlukan edukasi dan pemantauan rutin melalui pemeriksaan kehamilan (ANC) sejak trimester pertama untuk mendeteksi dan menangani anemia secara dini. The occurrence of anemia in pregnant women remains a public health problem in Indonesia, including in Jayapura City. Even though the government program of providing 90 Fe tablets has been implemented, the prevalence of anemia is still high. This study aims to describe the characteristics of anemia incidence in pregnant women in Jayapura City based on medical record data. This study is a quantitative descriptive study that describes the incidence of anemia in pregnant women. This study uses a quantitative descriptive design. Data were taken from medical records of pregnant women with anemia at five Community Health Centers in Jayapura City in January–December 2023. The sample consisted of 104 pregnant women selected using the quota sampling technique. The variables studied included age, parity, education, gestational age, nutritional status (based on LILA), and degree of anemia. Based on the results of data collection conducted at five Community Health Centers in Jayapura City, the majority of pregnant women with anemia were in the non-risk age group (84.6%), multiparous (41.4%), had a high school/vocational high school education (74%), and were in the second trimester of pregnancy (60.6%). Most of them had good nutritional status (83.7%) and had mild anemia (60.6%). Mild anemia is still common in pregnant women in Jayapura City even though most of them have good nutritional status. Regular education and monitoring through prenatal check-ups (ANC) from the first trimester is needed to detect and treat anemia early.
Hubungan self-management dengan tekanan darah pada pasien hipertensi: The relationship between self-management and blood pressure in hypertension patients Fitriani; Titi Iswanti Afelya; Diyah Astuti Nurfa'izah
Jurnal Keperawatan Tropis Papua Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i2.470

Abstract

Self-management merupakan komponen penting dalam pengelolaan hipertensi untuk menjaga tekanan darah tetap terkontrol dan mencegah terjadinya komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-management dan tekanan darah pada pasien hipertensi di Kota Jayapura. Penelitian menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada Mei–Juli 2025 di tiga puskesmas di Kota Jayapura dengan jumlah sampel 80 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Self-management diukur menggunakan Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HSMBQ) yang telah tervalidasi, sedangkan tekanan darah diukur menggunakan sfigmomanometer digital. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki self-management kategori baik (47,5%), dengan tekanan darah sistolik dan diastolik dominan pada kategori hipertensi derajat I (masing-masing 42,5% dan 38,8%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara self-management dan tekanan darah pada pasien hipertensi (p = 0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa self-management berhubungan dengan tingkat tekanan darah pada pasien hipertensi, sehingga penguatan self-management melalui edukasi dan pendampingan berkelanjutan perlu dilakukan untuk mendukung pengendalian tekanan darah secara optimal. Self-management is a crucial component in hypertension management to maintain controlled blood pressure and prevent complications. This study aimed to analyze the relationship between self-management and blood pressure among hypertensive patients in Jayapura City. This study employed an analytical correlational design with a cross-sectional approach. The research was conducted from May to July 2025 at three community health centers in Jayapura City, involving 80 respondents selected using accidental sampling. Self-management was measured using the validated Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HSMBQ), while blood pressure was measured using a digital sphygmomanometer. Data were analyzed using the Chi-square test. The results showed that most respondents had good self-management (47.5%), with systolic and diastolic blood pressure predominantly classified as stage I hypertension (42.5% and 38.8%, respectively). Bivariate analysis demonstrated a significant relationship between self-management and blood pressure among hypertensive patients (p = 0.001). Self-management is significantly associated with blood pressure levels in hypertensive patients, highlighting the need for strengthening self-management through continuous education and support to achieve optimal blood pressure control.
Memahami proses berduka pada orang dengan HIV/AIDS: studi deskriptif di Puskesmas Kotaraja, Jayapura, Papua : Understanding the grieving process among people living with HIV/AIDS: a descriptive study at Kotaraja Community Health Centre, Jayapura, Papua Christy Wattimena; Elvando Pieter Titawael; Fitriani
Jurnal Keperawatan Tropis Papua Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.499

Abstract

Berduka merupakan respons psikososial yang sering dialami oleh orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Memahami tahapannya penting karena memengaruhi penerimaan diri, kepatuhan terhadap pengobatan, dan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tahapan berduka pada ODHA di Puskesmas Kotaraja, Jayapura, Papua. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 122 responden direkrut menggunakan rumus Slovin berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diadaptasi dari lima tahapan berduka menurut Kübler-Ross (denial, anger, bargaining, depression, acceptance). Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi tahapan berduka. Mayoritas responden (84,4%) berada pada tahap acceptance. Tahapan lain yaitu denial (81,1%), anger (83,6%), bargaining (80,3%), dan depression (82,0%) muncul dalam kategori rendah. Tingginya tingkat acceptance mengindikasikan bahwa dukungan psikososial yang berkelanjutan berpotensi mendorong adaptasi ODHA terhadap kondisi kesehatannya dan menjadi dasar pengembangan intervensi keperawatan yang lebih terarah. Grief is a psychosocial response frequently experienced by people living with HIV/AIDS (PLWHA). Understanding its stages is important as they influence self-acceptance, treatment adherence, and quality of life. This study aimed to identify the stages of grief among PLWHA at Kotaraja Health Centre, Jayapura, Papua. A descriptive quantitative study with a cross-sectional approach was conducted. A total of 122 respondents were recruited using the Slovin formula based on inclusion and exclusion criteria. Data were collected through a questionnaire adapted from Kübler-Ross's five stages of grief (denial, anger, bargaining, depression, acceptance). Univariate analysis was used to describe the distribution of grief stages. The majority of respondents (84.4%) were in the acceptance stage. Other stages — denial (81.1%), anger (83.6%), bargaining (80.3%), and depression (82.0%) — appeared at low levels. The high level of acceptance indicates that ongoing psychosocial support has the potential to encourage PLWHA to adapt to their health condition and forms the basis for developing more targeted nursing interventions.