This Author published in this journals
All Journal Jurnal Standardisasi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS KARAKTERISTIK GETARAN PADA KERETA API REL LISTRIK DAN KERETA API REL DIESEL Achmad Suwandi; Daryono Restu Wahono; Denny Hermawanto
JURNAL STANDARDISASI Vol 11, No 2 (2009): Vol. 11(2) 2009
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v11i2.645

Abstract

Vibration monitoring was carried out in two type of trains, namely Railroad Electric Train (KRL) and RailroadDiesel Train (KRD). From measurement results, it was clearly seen that both trains indicate the similar vibrationcharacteristics, where three dominant frequencies, so called: f1, f2 and f3 always appeared in the region offrequency measurement: 1Hz – 80Hz. The maximum vibration level in KRL was found to be 0.17m/s2 at f3(40Hz)in longitudinal direction and 0.164m/s2 at f3(50Hz) in transversal direction. Meanwhile, the maximum vibrationlevel in KRD was found to be 0.37m/s2 at f3(80Hz) in longitudinal direction and 0.354m/s2 at f1(2Hz) in transversaldirection. Based on these results, it is proved that the vibrations in KRD were much higher than the vibrations inKRL. However it is important to be noted, that the vibration levels of both trains were still within allowable limitwhich is recommended by Standard ISO 2631/I (1985).
Penentuan Titik Kritis Persyaratan pada SNI 8211:2015 dan Regulasi Teknis terkait Benih Tanaman Kelapa Sawit untuk Meningkatkan Produktivitas Utari Ayuningtyas; Febrian Isharyadi; Ary Budi Mulyono; Ellia Kristiningrum; Biatna Dulbert Tampubolon; Nur Tjahyo Eka Damayanti; Novin Aliyah; Daryono Restu Wahono; Nuri Wulansari; Rika Dwi Susmiarni
JURNAL STANDARDISASI Vol 24, No 1 (2022)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v24i1.964

Abstract

 Mutu benih sawit merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit. Terjadinya pemalsuan benih sawit atau benih yang tidak bersertifikat akan berdampak buruk bagi perkebunan kelapa sawit Indonesia, karena menyebabkan penurunan produktivitas benih kelapa sawit. Oleh sebab itu diperlukan penentuan titik kritis persyaratan atau tolok ukur untuk meningkatkan produktivitas benih kelapa sawit. Pada SNI 8211:2015 dan beberapa peraturan Kementerian Pertanian terdapat persyaratan atau tolok ukur yang masing-masing memiliki konteks yang mendukung perbaikan mutu benih kelapa sawit. Untuk dapat menentukan titik kritis dari persyaratan atau tolok ukur yang ditetapkan, maka dalam penelitian ini dilakukan penyandingan atau komparasi antara SNI dengan beberapa peraturan Kementerian Pertanian tersebut yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil identifikasi dan analisis, tahapan dalam produksi benih kelapa sawit dibagi menjadi 4 bagian diantaranya tahapan pemuliaan, tahapan reproduksi benih, tahapan pemrosesan benih, dan tahapan pengecambahan benih. Dari masing-masing tahapan tersebut diperoleh titik kritis persyaratan atau tolok ukur yaitu pada tahapan pemuliaan terdapat 4 parameter kritis seperti pembentukan populasi dasar, prosedur pemuliaan, pengujian progeni, dan kriteria seleksi persilangan. Pada tahapan reproduksi benih terdapat 2 parameter kritis yaitu mating design dan reproduksi benih, dan kondisi fisik tanaman. Pada tahapan pemrosesan benih terdapat 2 parameter kritis yaitu unit persiapan benih, dan unit pengecambahan. Kemudian tahapan selanjutnya pengecambahan benih terdapat 1 titik kritis yaitu mutu fisiologis kecambah. Titik kritis persyaratan atau tolok ukur dari setiap tahapan tersebut jika dipenuhi dan diterapkan dengan baik dan benar akan meningkatkan produktivitas mutu benih unggul yang komersil dan berkualitas tinggi.