Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENINGKATAN PENGETAHUAN KEAMANAN MEDIA PROMOSI PADA ERA DIGITAL ECONOMY Wulandari, Irma Rofni; Subektiningsih, Subektiningsih; Astari, Devi Wening; Amitaba, Asthivia Oktanda; Ferdiansyah, Ricky Andre
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 3 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i3.2379

Abstract

Penggunaan teknologi yang semakin pesat berkembang saat ini mulai menggeser pemasaran tradisional menjadi pemasaran digital. Pemasaran digital menggunakan media digital memungkinkan jangkauan audiens lebih luas. Salah satu penerapan digital marketing adalah dengan menggunakan media sosial yaitu Facebook. Penggunaan media sosial seperti Facebook tidak lepas dari beberapa kekhawatiran konsumen maupun penjual. Kasus ancaman kejahatan media sosial Facebook seperti Fake Buyer, Fake Seller, Over payment, pencurian informasi pribadi, phishing mulai meresahkan masyarakat yang awam terhadap keamanan data pribadi. Keamanan juga dibutuhkan untuk perlindungan terhadap data - data yang dimiliki oleh pemilik Facebook Ads. Banyak kasus pencurian data yang terjadi dan penyalahgunaan atau penipuan dengan mengatasnamakan penjual. Anggota HNI Ngaglik berasal dari latar belakang yang berbeda – beda sehingga perlu adanya kebutuhan akan pengetahuan perlindungan keamanan pada aplikasi dan konten sebagai media pemasaran digital. Metode kegiatan yang dilakukan melalui observasi dan wawancara, identifikasi masalah, menentukan solusi, pelaksanakan pendampingan dan evaluasi. Tujuan pada program pengabdian masyarakat ini yaitu untuk meningkatkan kesadaran akan keamanan digital dengan cara memberikan pemahaman tentang pentingnya keamanan dalam penggunaan aplikasi dan perlindungan konten digital, agar anggota dapat menjalankan pemasaran digital dengan aman dan terlindungi dari ancaman-ancaman cyber, Hasil pada Kegiatan pengabdian kepada masyarakat menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan peserta terhadap keamanan media promosi. Hal ini dibuktikan melalui hasil dari pre-test dan post-test yang dilakukan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman oleh peserta sebanyak 55.65%.
Strategi Storytelling @menjadimanusia.id dalam mempromosikan kesadaran kesehatan mental bagi generasi Z Tulle, Joyce Irene Grace; Devi Wening Astari
Jurnal Mahasiswa Komunikasi Cantrik Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5, No. 2, November, 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi UII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/cantrik.vol5.iss2.art2

Abstract

Instagram has become one of the platforms for conveying information through engaging narratives, easily accessible, close to daily life, especially for Generation Z. This study aims to investigate the storytelling content of the Instagram account @menjadimanusia.id in fostering mental health awareness among Generation Z. This study uses a qualitative method. Data collection techniques included non-participatory observation of content in April 2025 and in-depth interviews with 10 Generation Z followers of the @menjadimanusia.id account for 2 years. The results of the study show that storytelling content in carousel format is the preferred format by Generation Z in building mental health awareness because it delivers messages gradually, concisely, and touchingly. Reels and reflective quote content strengthen the emotional resonance of Generation Z. This study also found that Generation Z follows the account @menjadimanusia.id because they feel emotionally connected to the presented narratives that reflect personal experiences, psychological pressures, or inner struggles, thereby providing positive energy that helps build their mental health awareness.
KONSTRUKSI NARASI HARAPAN DALAM LIRIK LAGU “SELALU ADA DI NADIMU” SEBAGAI DUKUNGAN MENTAL GEN Z Wijaya, Jeni Novianti; Astari, Devi Wening
BroadComm Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : AKMRTV Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53856/ydremj08

Abstract

Gen Z merupakan generasi yang hidup pada masa yang tidak stabil, penuh dengan tekanan, krisis, kekhawatiran berlebih, sehingga Gen Z membutuhkan sumber harapan dan dukungan bagi hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi narasi harapan dalam lirik lagu Selalu Ada di Nadimu. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes. Selanjutnya dilakukan identifikasi tanda (sign) dengan metode Roland Barthes. Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut: 1) membagi lirik lagu “Selalu Ada di Nadimu” berdasarkan struktur lagu, 2) memaknai sesuai dengan unsur makna denotasi, konotasi dan mitos setiap baris lirik, 3) menyusun tabel analisis untuk mendata hasil denotasi, konotasi dan mitos 4) menarik kesimpulan dan membuat laporan hasil penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa narasi harapan terbentuk dalam sebuah kepercayaan dan keyakinan berupa doa yang penuh cinta dan kasih sayang. Narasi harapan terkonstruksi dari makna denotasi tentang kondisi kesulitan dan tantangan hidup; konotasi tentang munculnya perasaan percaya pada diri; dan mitos membentuk identitas kemandirian, keberanian, dan optimisme. Pola ini terbentuk sesuai dengan teori harapan Vroom, harapan membuat adanya dorongan motivasi untuk Gen Z mencapai tujuan. Implementasi penelitian adalah bahwa lagu tersebut memiliki potensi sebagai media support system bagi Gen Z menghadapi kekhawatiran hidup.
Implementasi Strategi Komunikasi Pemasaran Ekowisata Kalitalang di Kabupaten Klaten melalui Instagram Syahbantyo, Muhammad Ikhsan; Astari , Devi Wening
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 5 No 4 (2025): JUPIN November 2025
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2056

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini membahas implementasi strategi komunikasi pemasaran Ekowisata Kalitalang melalui Instagram menggunakan pendekatan User-Generated Content (UGC) dan analisis SWOT. Metode deskriptif-kualitatif diterapkan dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam terhadap lima informan (Ketua Pokdarwis, dua wisatawan, dua pengguna Instagram), observasi akun Instagram resmi @kali_talang, serta dokumentasi konten UGC seperti foto, video, dan testimoni pengunjung. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dilengkapi triangulasi sumber untuk validitas serta kerangka SWOT untuk mengidentifikasi faktor internal (kekuatan, kelemahan) dan eksternal (peluang, ancaman). Hasil penelitian menunjukkan UGC meningkatkan partisipasi pengunjung melalui unggahan kolaboratif, memperkuat kredibilitas promosi karena konten autentik, serta memperluas jangkauan audiens tanpa biaya tambahan. Analisis SWOT mengungkap kekuatan berupa visualisasi daya tarik alam Kalitalang, keterlibatan komunitas Pokdarwis-TNGM, dan fitur Instagram seperti reels/story untuk interaksi. Kelemahan mencakup keterbatasan SDM digital, ketidakkonsisten jadwal unggahan, dan variasi konten interaktif yang rendah. Peluang teridentifikasi pada tren wisata digital generasi muda dan kolaborasi influencer. Kemudian, ancaman meliputi persaingan destinasi Merapi lain, kejenuhan konten yang monoton, dan perubahan algoritma platform. Kontribusi pada penelitian ini yaitu model strategi pemasaran digital yang mengintegrasikan UGC dengan SWOT untuk ekowisata berbasis komunitas, memperkaya literatur kajian komunikasi pemasaran pariwisata di Indonesia. Temuan memberikan rekomendasi penguatan kapasitas SDM digital dan optimalisasi fitur Instagram bagi pengelola Kalitalang untuk meningkatkan citra destinasi dan kunjungan wisatawan.ABSTRAKThis research discusses the implementation of Kalitalang Ecotourism marketing communication strategies through Instagram using a User-Generated Content (UGC) approach and SWOT analysis. A descriptive-qualitative method was applied with data collection techniques consisting of in-depth interviews with five informants (the Head of Pokdarwis, two tourists, two Instagramusers), observation of the official Instagram account @kali_talang, and documentation of UGC content such as photos, videos, and visitor testimonials. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, supplemented by source triangulation for validity and a SWOT framework to identify internal factors (strengths, weaknesses) and external factors (opportunities, threats). The results of the study show that UGC increases visitor participation through collaborative uploads, strengthens the credibility of promotions due to authentic content, and expands audience reach at no additional cost. The SWOT analysis reveals strengths in the form of visualizations of Kalitalang's natural attractions, the involvement of the Pokdarwis-TNGM community, and Instagram features such as reels/stories for interaction; weaknesses include limited digital human resources, inconsistent posting schedules, and low variety of interactive content.
Negotiating Love Languages in Digital Romantic Relationships: A Phenomenological Study of Generation Z Couples in Yogyakarta Meilinda Papuanita Ully; Devi Wening Astari
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v10i2.5497

Abstract

Forming a romantic relationship at a young age is a complex process, requiring the search for personal meaning, emotional adjustment, and customized communication techniques. This research examines the dynamics of love language communication through social media and the socio-cultural aspects of expressing affection among Generation Z in Yogyakarta. The research employed a qualitative methodology with a phenomenological Moustakas perspective. Data were collected via in-depth interviews with four men and seven women, Gen Z, a total of 11 informants who were selected using snowball sampling methods. The results suggest that quality time and acts of service are the two most prevalent forms of love language, as they are seen as effective in creating emotional closeness and showcasing genuine care. This preference for limited physical touch in public spaces is consistent with Yogyakarta’s cultural values, which emphasize politeness. Research suggests that platforms like TikTok, WhatsApp, and Instagram contribute to romantic expectations and the use of love language, though they are not the key players in relationship dynamics. Establishing open communication is crucial for reconciling disparities in love preferences and sustaining long-term relationships amidst cultural and technological advancements.
Hybrid Transformation Model of Rural Communication Patterns in Indonesia: A Uses and Gratifications Perspective on WhatsApp Usage Erfina Nurussa'adah; Devi Wening Astari
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 10 No. 2 (2025): December 2025 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v10i2.1388

Abstract

The development of technology and information (ICT) is currently very rapid, especially with the internet network. This has various influences or impacts, both positive and negative. One of the impacts felt was the cultural transformation (pattern) of community communication in the village. The aim of the research is to describe and find a model of cultural change in interpersonal communication that occurs through social media in daily communication. The method used to realize the goal is descriptive and qualitative. Data was collected through FGDs with several informants who were selected using a purposeful technique, namely people who have a role in the environment. In addition, data was also collected through a documentation study, namely by looking at the contents of public communication messages that occur through social media, especially on WhatsApp. The research results show that the Purwobinangun community has experienced a communication transformation through the use of WhatsApp for social coordination, information dissemination, and activity reminders. This use fulfills communication needs according to the Uses and Gratifications theory, such as surveillance, correlation, entertainment, and cultural transmission. The community maintains traditional communication patterns, resulting in a hybrid communication model that combines local values and digital practices. Communication transformation creates hybrid patterns, combining social and traditional media to maintain local values and strengthen community connectedness. This model balances local cultural values with digital efficiency, enhancing social connectedness without eroding traditional cohesion. This model enhances social connectedness, mitigates exclusion, and offers empirical insights for scalable digital inclusion policies in rural contexts.
Polarisasi Politik Gen Z pada Aksi Demonstrasi Agustus 2025 Melalui Sosial Media TikTok Rafiq Rasya Bintaher; Devi Wening Astari
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 2 (2026): Desember
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v6i2.4030

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji secara analitis proses terbentuknya polarisasi politik di kalangan Generasi Z melalui produksi konten serta pola interaksi yang berlangsung di media sosial TikTok setelah demonstrasi 25–31 Agustus 2025 di Indonesia. Fenomena ini mengindikasikan bahwa dinamika politik tidak lagi terbatas pada ruang fisik semata, melainkan turut mengalami ekspansi ke ranah digital yang dipengaruhi oleh mekanisme algoritmik platform serta kecenderungan perilaku pengguna. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus tunggal. Proses pengumpulan data dilakukan melalui observasi digital terhadap konten TikTok, wawancara semi-terstruktur dengan pengguna yang berasal dari kelompok Generasi Z, serta dokumentasi terhadap konten-konten yang dianggap relevan. Selanjutnya, analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis tematik guna mengidentifikasi pola narasi, ekspresi emosional, penggunaan simbol visual, serta bentuk-bentuk interaksi antar pengguna. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa polarisasi politik terbentuk melalui fragmentasi narasi konten antara kelompok yang pro dan kontra, penguatan emosi kolektif yang muncul dalam kolom komentar, serta pemanfaatan simbol yang merepresentasikan posisi ideologis tertentu. Di samping itu, algoritma TikTok turut berperan dalam mendistribusikan konten secara repetitif sehingga memperkuat kecenderungan terbentuknya echo chamber. Adapun pola interaksi pengguna yang cenderung pasif, selektif, dan defensif semakin memperdalam segregasi informasi yang terjadi. Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa TikTok tidak hanya berfungsi sebagai medium distribusi informasi, tetapi juga sebagai ruang yang secara aktif memproduksi sekaligus mereproduksi polarisasi politik di kalangan Generasi Z. Temuan ini menegaskan urgensi literasi digital dalam merespons arus informasi di media sosial, khususnya di kalangan Generasi Z.