Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analisis Teknik Netralisasi dalam Keberadaan Penjualan Alat Kontrasepsi secara Bebas oleh Farmasi X di Wilayah Tangerang Selatan Ananda, Selby; Julianti, Shinta
Anomie Vol. 6 No. 3 (2024): Desember
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang penjualan alat kontrasepsi secara bebas yang dilakukan oleh farmasi X kepada anak di bawah umur. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan Teknik Netralisasi yang dikemukakan oleh Sykes & Matza (1957) sebagai dasar pemikiran dari penelitian ini. Sykes & Matza mengemukakan bahwa perilaku manusia dikendalikan oleh pemikiran-pemikiran seseorang atau pelaku yang melakukan kejahatan dan penyimpangan. Kebebasan jual beli alat kontrasepsi kepada semua kalangan termasuk ke dalam anak di bawah umur merupakan fenomena penyimpangan yang menjadikan hal ini menjadi suatu problematika yang merupakan suatu langkah awal terjadinya penyalahgunaan dan mengakibatkan seks bebas pada remaja. Menurut para subjek peneliti dan info dari informan, penjualan alat kontrasepsi secara bebas merupakan suatu hal yang biasa dilakukan oleh pihak farmasi X yang berada di Bintaro Pondok Aren. Peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk memperoleh informasi langsung dari narasumber dan informan untuk analisis dengan teori yang berkaitan dengan peneliti ini.
PEMBERDAYAAN POSYANDU DESA CIKAKAK: MENCIPTAKAN LANSIA BERDAYA DENGAN MIND SET KEWIRAUSAHAAN SOSIAL DALAM MENINGKATKAN NILAI SLOW LIVING BANYUMAS Titi Rahmawati; M. Musa Al Hasyim; Dimas Purbo Pambudi; Muhammad Riyan Fitria Ramdlani; Resya Nur Intan Putri; Shinta Julianti
DEVELOPMENT: Journal of Community Engagement Vol. 4 No. 3 (2025): September
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/djce.v4i3.2561

Abstract

Community health cadres in Cikakak Village lack adequate knowledge about empowerment programs for the elderly to promote social entrepreneurship, with a predominant condition where young elderly individuals in Cikakak Village generally experience memory decline, occasional excessive worries, and a lack of self-confidence. There are 30 cadres who received training in Cikakak Village. The goal of empowering the elderly is to serve as a stimulus for them to develop a positive spirit and motivation regarding the importance of social entrepreneurship, thereby creating social value through collaboration among individuals, organizations, and communities as a form of social innovation. This allows for the establishment of a simple yet meaningful relaxed lifestyle mindset as a manifestation of a slow living lifestyle in Banyumas Regency. The methodology used is quantitative. This collaborative movement is carried out through several stages, including training, the establishment of discussion forum groups, and mentoring of posyandu cadres as facilitators. The results of the empowerment show an average increase in productivity of 69, sustainability of 82.5, equity of 79.5, and empowerment of 7.0 among the cadres in the context of social entrepreneurship thinking and efforts to implement a slow lifestyle in Banyumas. The existence of procedures and rules for the happy empowerment program is outlined in the cadre guidebook and has successfully established a pioneer discussion forum for the elderly in Cikakak village.
Kerja atau karier: Studi biografi pada strategi musisi DIY dalam menghadapi pilihan kemiskinan di Purwokerto, Jawa Tengah Rizkidarajat, Wiman; Mutahir, Arizal; Restuadhi, Hendri; Julianti, Shinta
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11 No 1 (2025): February 2025
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v11i1.18061

Abstract

Pemuda selalu memiliki distingsi dalam memilih jenis pekerjaan dan karier untuk melanjutkan lintasan hidupnya. Contoh pilihan tersebut adalah melanjutkan karier sebagai musisi DIY. Dalam praktiknya, pilihan untuk melanjutkan karier di musik DIY seringkali harus dinegosiasikan dengan berbagai hal, mulai dari latar belakang sosial ekonomi pemuda yang mempraktikkannya hingga demografi kota tempat mereka tinggal. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan strategi musisi DIY di kota kabupaten, Purwokerto yang terletak di Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan biografi. Informan dalam artikel ini adalah 20 orang praktisi musik DIY di Purwokerto yang diwawancarai secara mendalam pada bulan Mei 2023 hingga Mei 2024. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan metode critical insider, dan menghasilkan 9 data representasi dari 2 kolektif yang diteliti dalam artikel yaitu Heartcorner Collective dan Voicehell. Temuan artikel ini adalah pilihan kemiskinan disebakan karena dua hal. Pertama kegagalan transisi pendidikan menuju kerja dan kedua keadaan kota yang tidak bisa menyediakan ruang untuk bekerja bagi para pemuda yang memilih menggunakan modal sosialnya sebagai musisi DIY. Keadaan tersebut membuat para pemuda harus menerapkan pemaknaan kerja dan karier dalam praktik bermusik mereka. Hasil dari penelitian adalah terdapatnya strategi yang diterapkan oleh para musisi DIY berupa melakukan juggling work dan menegosiasikan otentisitas DIYnya. Hal tersebut merupakan pilihan paling wajar untuk memisahkan pemaknaan terhadap kerja atau karier terhadap praktik bermusik DIY, sehingga para musisi DIY tetap dapat melanjutkan lintasan hidupnya melalui praktik bermusik DIY.
Penguatan Pemahaman Gender sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual Incest Di Kalangan Pelajar SMK Negeri 6 Kota Tangerang Selatan Julianti, Shinta; Nanda Namira
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal IKRAITH-ABDIMAS Vol 8 No 2 Juli 2024
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikra-ithabdimas.v8i2.3152

Abstract

Kasus kekerasan seksual dikalangan remaja masih banyak kerap terjadi. Remaja dalam konteks anak sekolah menurut World Health Organization (WHO) dalam rentang usia 10-19 tahun memerlukan perhatian yang intensif. Terlebih banyak terjadi kekerasan seksual dalam lingkungankeluarga. Padahal keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak, namun padakenyataanya dalam hal ini anak justru menjadi korban kekerasan seksual. Kekerasan seksual yangterjadi di dalam lingkungan domestik di tengah-tengah keluarga termasuk kedalam kekerasanseksual incest (hubungan sedarah) yang melibatkan orang terdekat. Hal ini menyebabkan korbantidak berani melaporkan pelaku tersebut dikarenakan menjaga nama baik pelaku sebagai orangterdekat, selain itu korban sering kali mendapatkan stigma buruk dan penyalahan (victim blaming). Penulis memandang perlu adanya penguatan pemahaman gender sebagai upaya pencegahan kekerasan seksual incest di kalangan pelajar SMK Negeri 6 Kota Tangerang Selatan. Metode yang diberikan kepada siswa-siswa tersebut meliputi kegiatan ceramah, diskusi dan role play. Kegiatan ceramah diberikan oleh dosen, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Kegiatan role play dipandu oleh mahasiswa untuk mengedukasi seolah-olah bermain peran sebagai salah contoh tindakan kekerasan seksual. Sehingga dari kegiatan ini diharapkan siswa-siswi SMK Negeri 6 Kota Tangerang mempunyai penguatan pemahaman gender untuk mencegah dan sebagai bentuk perlindungan diri, bahkan bertindak mencari solusi bila kekerasan seksual tersebut terjadi di lingkungan mereka. The prevalence of sexual violence among adolescents remains high. According to the WorldHealth Organisation (WHO), adolescents aged 10–19 years, sometimes referred to as teenagers,necessitate significant levels of focused care within the educational setting. There is a higherincidence of sexual violence in familial contexts. The family is commonly regarded as a securehaven for children; nevertheless, regrettably, in this particular instance, children are subjected to the distressing experience of sexual violence. Incestuous sexual violence includes instances of sexual assault that transpire within a familial setting, involving individuals who share intimate kinship ties. This phenomenon results in the reluctance of victims to report the perpetrator due to concerns about maintaining their relationship with the individual in question. Additionally, victims frequently face negative social perceptions and the potential for blackmail. The act of attributing blame to the victim There is a recognized necessity to enhance gender comprehension to mitigate incestuous sexual violence among the student population of SMK State 6 City Tangerang South. The instructional strategies provided to the students encompass lectures, discussions, and role-play activities. The presenter gives the lectures, then there is a period of discussion and inquiry. Roleplay events are facilitated by students to provide educational experiences that simulate scenarios involving sexual violence while emphasizing that assuming such roles is a fictional representation. This exercise aims.