Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Analisis Teknik Netralisasi dalam Keberadaan Penjualan Alat Kontrasepsi secara Bebas oleh Farmasi X di Wilayah Tangerang Selatan Ananda, Selby; Julianti, Shinta
Anomie Vol. 6 No. 3 (2024): Desember
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang penjualan alat kontrasepsi secara bebas yang dilakukan oleh farmasi X kepada anak di bawah umur. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan Teknik Netralisasi yang dikemukakan oleh Sykes & Matza (1957) sebagai dasar pemikiran dari penelitian ini. Sykes & Matza mengemukakan bahwa perilaku manusia dikendalikan oleh pemikiran-pemikiran seseorang atau pelaku yang melakukan kejahatan dan penyimpangan. Kebebasan jual beli alat kontrasepsi kepada semua kalangan termasuk ke dalam anak di bawah umur merupakan fenomena penyimpangan yang menjadikan hal ini menjadi suatu problematika yang merupakan suatu langkah awal terjadinya penyalahgunaan dan mengakibatkan seks bebas pada remaja. Menurut para subjek peneliti dan info dari informan, penjualan alat kontrasepsi secara bebas merupakan suatu hal yang biasa dilakukan oleh pihak farmasi X yang berada di Bintaro Pondok Aren. Peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk memperoleh informasi langsung dari narasumber dan informan untuk analisis dengan teori yang berkaitan dengan peneliti ini.
PEMBERDAYAAN POSYANDU DESA CIKAKAK: MENCIPTAKAN LANSIA BERDAYA DENGAN MIND SET KEWIRAUSAHAAN SOSIAL DALAM MENINGKATKAN NILAI SLOW LIVING BANYUMAS Titi Rahmawati; M. Musa Al Hasyim; Dimas Purbo Pambudi; Muhammad Riyan Fitria Ramdlani; Resya Nur Intan Putri; Shinta Julianti
DEVELOPMENT: Journal of Community Engagement Vol. 4 No. 3 (2025): September
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/djce.v4i3.2561

Abstract

Community health cadres in Cikakak Village lack adequate knowledge about empowerment programs for the elderly to promote social entrepreneurship, with a predominant condition where young elderly individuals in Cikakak Village generally experience memory decline, occasional excessive worries, and a lack of self-confidence. There are 30 cadres who received training in Cikakak Village. The goal of empowering the elderly is to serve as a stimulus for them to develop a positive spirit and motivation regarding the importance of social entrepreneurship, thereby creating social value through collaboration among individuals, organizations, and communities as a form of social innovation. This allows for the establishment of a simple yet meaningful relaxed lifestyle mindset as a manifestation of a slow living lifestyle in Banyumas Regency. The methodology used is quantitative. This collaborative movement is carried out through several stages, including training, the establishment of discussion forum groups, and mentoring of posyandu cadres as facilitators. The results of the empowerment show an average increase in productivity of 69, sustainability of 82.5, equity of 79.5, and empowerment of 7.0 among the cadres in the context of social entrepreneurship thinking and efforts to implement a slow lifestyle in Banyumas. The existence of procedures and rules for the happy empowerment program is outlined in the cadre guidebook and has successfully established a pioneer discussion forum for the elderly in Cikakak village.
Penguatan Pemahaman Gender sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual Incest Di Kalangan Pelajar SMK Negeri 6 Kota Tangerang Selatan Julianti, Shinta; Nanda Namira
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal IKRAITH-ABDIMAS Vol 8 No 2 Juli 2024
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikra-ithabdimas.v8i2.3152

Abstract

Kasus kekerasan seksual dikalangan remaja masih banyak kerap terjadi. Remaja dalam konteks anak sekolah menurut World Health Organization (WHO) dalam rentang usia 10-19 tahun memerlukan perhatian yang intensif. Terlebih banyak terjadi kekerasan seksual dalam lingkungankeluarga. Padahal keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak, namun padakenyataanya dalam hal ini anak justru menjadi korban kekerasan seksual. Kekerasan seksual yangterjadi di dalam lingkungan domestik di tengah-tengah keluarga termasuk kedalam kekerasanseksual incest (hubungan sedarah) yang melibatkan orang terdekat. Hal ini menyebabkan korbantidak berani melaporkan pelaku tersebut dikarenakan menjaga nama baik pelaku sebagai orangterdekat, selain itu korban sering kali mendapatkan stigma buruk dan penyalahan (victim blaming). Penulis memandang perlu adanya penguatan pemahaman gender sebagai upaya pencegahan kekerasan seksual incest di kalangan pelajar SMK Negeri 6 Kota Tangerang Selatan. Metode yang diberikan kepada siswa-siswa tersebut meliputi kegiatan ceramah, diskusi dan role play. Kegiatan ceramah diberikan oleh dosen, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Kegiatan role play dipandu oleh mahasiswa untuk mengedukasi seolah-olah bermain peran sebagai salah contoh tindakan kekerasan seksual. Sehingga dari kegiatan ini diharapkan siswa-siswi SMK Negeri 6 Kota Tangerang mempunyai penguatan pemahaman gender untuk mencegah dan sebagai bentuk perlindungan diri, bahkan bertindak mencari solusi bila kekerasan seksual tersebut terjadi di lingkungan mereka. The prevalence of sexual violence among adolescents remains high. According to the WorldHealth Organisation (WHO), adolescents aged 10–19 years, sometimes referred to as teenagers,necessitate significant levels of focused care within the educational setting. There is a higherincidence of sexual violence in familial contexts. The family is commonly regarded as a securehaven for children; nevertheless, regrettably, in this particular instance, children are subjected to the distressing experience of sexual violence. Incestuous sexual violence includes instances of sexual assault that transpire within a familial setting, involving individuals who share intimate kinship ties. This phenomenon results in the reluctance of victims to report the perpetrator due to concerns about maintaining their relationship with the individual in question. Additionally, victims frequently face negative social perceptions and the potential for blackmail. The act of attributing blame to the victim There is a recognized necessity to enhance gender comprehension to mitigate incestuous sexual violence among the student population of SMK State 6 City Tangerang South. The instructional strategies provided to the students encompass lectures, discussions, and role-play activities. The presenter gives the lectures, then there is a period of discussion and inquiry. Roleplay events are facilitated by students to provide educational experiences that simulate scenarios involving sexual violence while emphasizing that assuming such roles is a fictional representation. This exercise aims.
Representasi Simbol-Simbol Kelas Sosial Dalam Serial “Keluarga Somat" Shinta Dewi Agustina; Nanang Martono; Shinta Julianti
Jurnal Neo Societal Vol. 10 No. 4 (2025): Edisi Oktober 2025
Publisher : Universitas Halu Oleo (UHO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jns.v10i4.125

Abstract

Artikel ini merupakan penelitian yang menggambarkan simbol-simbol kelas sosial dalam serial film “Keluarga Somat” menggunakan teori Bourdieu. Serial ini menarik dikaji karena menampilkan ketimpangan sosial kehidupan masyarakat Indonesia dari kelas bawah hingga kelas atas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana simbol-simbol kelas sosial direpresentasikan melalui pakaian, status pekerjaan, kondisi tempat tinggal, gaya bicara, serta karakter tokoh dalam serial tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kuantitatif. Sampel diambil 250 episode dengan teknik sampel acak sederhana dari total 511 episode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini lebih banyak menggambarkan kehidupan keluarga kelas menengah ke bawah. Ada tujuh tokoh yang menggambarkan karakteristik masyarakat kelas menengah ke bawah ditandai memakai kaus, daster, rumah sempit, bekerja sebagai buruh pabrik, berkarakter pemalas dan suka bergosip. Empat tokoh dari kelas atas digambarkan dengan ciri selalu memakai kemeja, rumah luas, pekerjaan sebagai ketua RT atau pemilik toko, karakternya disiplin rajin dan peduli sesama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Serial ”Keluarga Somat” tidak hanya menjadi sarana hiburan tetapi juga media sosialisasi efektif era digital yang menampilkan ketimpangan kelas sosial dan pembentukan stereotip.
Representasi Simbol-Simbol Kelas Sosial Dalam Serial “Keluarga Somat" Shinta Dewi Agustina; Nanang Martono; Shinta Julianti
Jurnal Neo Societal Vol. 10 No. 4 (2025): Edisi Oktober 2025
Publisher : Universitas Halu Oleo (UHO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jns.v10i4.125

Abstract

Artikel ini merupakan penelitian yang menggambarkan simbol-simbol kelas sosial dalam serial film “Keluarga Somat” menggunakan teori Bourdieu. Serial ini menarik dikaji karena menampilkan ketimpangan sosial kehidupan masyarakat Indonesia dari kelas bawah hingga kelas atas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana simbol-simbol kelas sosial direpresentasikan melalui pakaian, status pekerjaan, kondisi tempat tinggal, gaya bicara, serta karakter tokoh dalam serial tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kuantitatif. Sampel diambil 250 episode dengan teknik sampel acak sederhana dari total 511 episode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini lebih banyak menggambarkan kehidupan keluarga kelas menengah ke bawah. Ada tujuh tokoh yang menggambarkan karakteristik masyarakat kelas menengah ke bawah ditandai memakai kaus, daster, rumah sempit, bekerja sebagai buruh pabrik, berkarakter pemalas dan suka bergosip. Empat tokoh dari kelas atas digambarkan dengan ciri selalu memakai kemeja, rumah luas, pekerjaan sebagai ketua RT atau pemilik toko, karakternya disiplin rajin dan peduli sesama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Serial ”Keluarga Somat” tidak hanya menjadi sarana hiburan tetapi juga media sosialisasi efektif era digital yang menampilkan ketimpangan kelas sosial dan pembentukan stereotip.
Hubungan Pengelolaan Emosi Dan Sosialisasi Dalam Keluarga Dengan Kepatuhan Norma Kesopanan Siswa Smp Andum Akuri; Edy Suyanto; Shinta Julianti
Jurnal Neo Societal Vol. 11 No. 3 (2026): Edisi Juli 2026
Publisher : Universitas Halu Oleo (UHO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jns.v11i3.159

Abstract

This study explains the relationship between emotion management and family socialization with students' compliance with politeness norms at SMP Negeri 1 Purwokerto. The issue is important because polite behavior reflects the quality of social interaction between students, teachers, and peers. A quantitative approach with an explanatory survey method was used. The population consisted of 504 seventh- and eighth-grade students, and 223 students were selected through proportionate stratified random sampling. Data were collected using a questionnaire and analyzed through validity testing, reliability testing, and Spearman correlation. The results show that emotion management has a positive and significant relationship with students' compliance with politeness norms, with a correlation coefficient of 0.229 and a significance value of 0.001. Family socialization also has a positive and significant relationship with students' compliance with politeness norms, with a coefficient of 0.389 and a significance value of 0.000. These findings indicate that polite behavior is shaped by internal emotional control and value internalization within the family
Hubungan Pengelolaan Emosi Dan Sosialisasi Dalam Keluarga Dengan Kepatuhan Norma Kesopanan Siswa Smp Andum Akuri; Edy Suyanto; Shinta Julianti
Jurnal Neo Societal Vol. 11 No. 3 (2026): Edisi Juli 2026
Publisher : Universitas Halu Oleo (UHO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jns.v11i3.159

Abstract

This study explains the relationship between emotion management and family socialization with students' compliance with politeness norms at SMP Negeri 1 Purwokerto. The issue is important because polite behavior reflects the quality of social interaction between students, teachers, and peers. A quantitative approach with an explanatory survey method was used. The population consisted of 504 seventh- and eighth-grade students, and 223 students were selected through proportionate stratified random sampling. Data were collected using a questionnaire and analyzed through validity testing, reliability testing, and Spearman correlation. The results show that emotion management has a positive and significant relationship with students' compliance with politeness norms, with a correlation coefficient of 0.229 and a significance value of 0.001. Family socialization also has a positive and significant relationship with students' compliance with politeness norms, with a coefficient of 0.389 and a significance value of 0.000. These findings indicate that polite behavior is shaped by internal emotional control and value internalization within the family
Persepsi Masyarakat Mengenai Praktik Pengobatan Dukun Sawan di Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu Layla Nur Fitria; Sulyana Dadan; Shinta Julianti
YASIN Vol 6 No 4 (2026): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v6i4.11305

Abstract

Although traditional healing practices have been widely studied, research specifically examining community perceptions of dukun sawan healing practices in Sukagumiwang Subdistrict, Indramayu Regency, remains limited. This study aimed to analyze community perceptions of dukun sawan healing practices in the area. The study employed a qualitative approach with a descriptive design and involved four community members, one midwife, and one community leader selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews and observations and subsequently analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that community perceptions of dukun sawan healing practices were shaped by knowledge transmitted across generations, experiences of undergoing treatment, the influence of family and the social environment, and beliefs in the benefits experienced after treatment. These findings contribute to the development of sociological studies, particularly the sociology of health, by strengthening the application of George Herbert Mead’s symbolic interactionism theory in explaining the process through which meanings associated with traditional healing practices are constructed through social interaction. This study emphasizes that community acceptance of dukun sawan healing is associated not only with individual experiences but also with the social and cultural constructions that develop within the community. The practical implications of this study indicate the importance of providing healthcare services that consider cultural values and local beliefs. Further research is needed to broaden the investigation of community perceptions of dukun sawan healing practices across different social and cultural contexts.
PERAN AYAH YANG HILANG : PENGALAMAN ANAK YANG TUMBUH TANPA AYAH DI KECAMATAN SUMBANG, BANYUMAS Putri Roihana; Elis Puspitasari; Shinta Julianti
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 3 (2026): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i3.2026.807-814

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah di Kecamatan Sumbang, Banyumas, serta menganalisis dampak psikologis, sosial, dan ekonomi yang mereka alami. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggali makna pengalaman individu melalui studi pustaka sebagai metode pengumpulan data utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakhadiran ayah berdampak pada munculnya krisis identitas, kesulitan membangun relasi sosial, dan keterbatasan ekonomi keluarga. Meskipun demikian, dukungan keluarga, keterlibatan figur pengganti, dan lingkungan sosial yang suportif terbukti berkontribusi pada peningkatan ketahanan (resiliensi) anak-anak dalam menghadapi tantangan tersebut. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa fatherless merupakan isu multidimensional yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berimplikasi pada stabilitas sosial masyarakat. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi strategi intervensi berbasis komunitas yang mampu memperkuat jaringan dukungan emosional bagi anak fatherless
Resiliensi Ayah Tunggal dalam Pola Asuh kepada Anak Perempuan Pasca Kehilangan Pasangan (Studi di Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor) Farida Nugraini Ammara; Tyas Retno Wulan; Shinta Julianti
Journal of Science and Education Research Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Science and Education Research
Publisher : Yayasan Pendidikan Insan Mulia Utan Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62759/jser.v5i1.398

Abstract

Pola asuh menjadi tahapan penting dalam perkembangan seorang anak, sehingga keterlibatan kedua orang tua memiliki peran yang krusial dalam pola asuh. Di sisi lain peningkatan angka perceraian dan kematian ibu tercermin secara lokal di Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Terdapat 4.200 penduduk berstatus cerai, dan peningkatan sebanyak 18,8% kasus kematian ibu. Kondisi ini menyebabkan ayah perlu mengambil seluruh tanggung jawab pola asuh. Pola asuh ayah tunggal kepada anak perempuannya menciptakan dinamika baru dalam struktur keluarga. Penelitian ini melibatkan ayah tunggal sebagai informan utama dan anak perempuan, serta pihak yang memberi dukungan sebagai informan pendukung. Masing-masing kategori informan terdiri dari tiga individu. Identitas informan sepenuhnya dirahasiakan sesuai dengan etika penelitian. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui proses resiliensi, tantangan, dan strategi yang dilakukan ayah tunggal dalam pola asuh kepada anak perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, proses transisi yang dirasakan ayah tunggal menciptakan kebiasaan dan pola keseharian baru. Peran ganda menyebabkan ayah tunggal perlu membagi waktu antara urusan pekerjaan dan rumah tangga, sehingga pola asuh yang dilakukan ayah tunggal biasanya merujuk pada intensitas komunikasi dan quality time. Ayah tunggal juga mengalami tantangan menghadapi masa pubertas anak, tantangan ekonomi, dan sosial, sementara tantangan yang dirasakan anak perempuan cenderung dalam hal psikologis. Strategi yang digunakan ayah tunggal mengarah pada komunikasi terbuka, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, serta menjaga keseimbangan Interaksi. Kemampuan ayah dalam membangun kondisi yang resilien berpengaruh pada pemaknaan anak perempuan tentang figur ayah sebagai orang tua tunggal.