Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN PERAWATAN LUKA DAN KEPATUHAN MINUM OBAT UNTUK PENYEMBUHAN SIRKUMSISI DI KLINIK AINUN MAREZA PERCUT Siringo-ringo, Boy Rizky Anriano; Lubis, Siska Anggreni; Hasibuan, Hardy; Sitepu, John Frans; Lubis, Tifanni Tantina
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 7 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v7i2.623

Abstract

Sirkumsisi merupakan operasi pengangkatan preputium pada penis. Penyembuhan luka merupakan proses alami tubuh dalam memperbaiki atau mengembalikan integritas jaringan yang rusak atau terluka. Penyembuhan luka dapat dipengaruhi oleh obat dan kebersihan diri karena dapat meminimalkan risiko infeksi atau mengurangi peradangan sehingga penyembuhan lebih cepat terjadi. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara perawatan luka dan kepatuhan meminum obat dengan lama penyembuhan luka post sirkumsisi metode konvensional di Klinik Ainun Mareza Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional dengan pengambilan data menggunakan data primer berupa kuesioner untuk mengukur perawatan luka dan kepatuhan meminum obat, sedangkan lama penyembuhan luka sirkumsisi diukur dengan cara observasi. Teknik pengambilan sampel merupakan purposive sampling dan didapatkan sebanyak 38 responden di Klinik Ainun Mareza. Hasil uji gamma terhadap kepatuhan meminum obat-obatan dengan lama penyembuhan luka diperoleh nilai signifikansi p=0,00. yang artinya lebih kecil dari = 0,05. Hasil uji gamma terhadap perawatan luka dengan lama penyembuhan luka diperoleh nilai signifikansi (p) = 0,001 yang artinya lebih kecil dari = 0,05. Terdapat hubungan antara perawatan luka dan kepatuhan meminum obat dengan lama penyembuhan luka di Klinik Ainun Mareza.
GAMBARAN ANKLE BRACHIAL INDEX (ABI) PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN ULKUS DIABETIKUM DI RSU HAJI MEDAN: DESCRIPTION OF THE ANKLE BRACHIAL INDEX (ABI) ON THE PATIENTS OF TYPE 2 DIABETES MELLITUS WITH DIABETIC ULCERS AT HAJI GENERAL HOSPITAL Harahap, Efrilia; Hasibuan, Hardy
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i1.939

Abstract

Diabetes Mellitus is a disease characterized by increased blood glucose levels and failure of insulin secretion or inadequate use of insulin in metabolism. Type 2 diabetes mellitus causes various complications, one of which is peripheral neuropathy, this complication is what causes many ulceration incidents that are difficult to control, for that it takes early examination to detect complications using the Ankle Brachial Index (ABI), ABI is a non-invasive examination to determine vascularization towards the feet is done by measuring the ratio of systolic blood pressure in the legs (ankle) to systolic blood pressure in the arms (brachial). The purpose of this study was to determine the picture of the Ankle Brachial Index (ABI) in patients with type 2 diabetes mellitus with diabetic ulcers at RSU Haji Medan. An ABI value of <0.4 will increase the risk of ulceration in the feet. Descriptive research method with observational studies. A population of 80 people using the Slovin formula and getting a sample of 44 people with type 2 diabetes mellitus with diabetic ulcers. This study uses univariate tests. Based on the results of the study, it was found that patients with type 2 diabetes mellitus with diabetic ulcers had ABI values ​​with a mild to moderate percentage. The results of this study are expected to be used as reference material and for further researchers it is hoped that they can find a more sophisticated method to determine the risk of diabetic ulcers in patients with type 2 diabetes mellitus. AbstrakDiabetes Melitus merupakan penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dan kegagalan sekresi insulin atau penggunaan insulin dalam metabolisme yang tidak adekuat. Diabetes melitus tipe 2 menyebabkan berbagai macam komplikasi salah satunya ialah neuropati perifer, komplikasi inilah yang banyak menyebabkan kejadian ulserasi yang susah di kontrol, untuk itu butuh pemeriksaan lebih awal untuk mendeteksi adanya komplikasi dengan menggunakan Ankle Brachial Index (ABI), ABI merupakan suatu pemeriksaan non invasive untuk mengetahui vaskularisasi ke arah kaki dilakukan dengan cara mengukur rasio tekanan darah sistolik kaki (ankle) dengan tekanan darah sistolik lengan (brachial). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Ankle Brachial Index (ABI) pada penderita diabetes melitus tipe 2 dengan ulkus diabetikum di RSU Haji Medan. Nilai ABI yang <0,4 akan meningkatkan risiko terjadinya ulserasi pada kaki. Metode penelitian deskriptif dengan studi observasional. Populasi sebanyak 80 orang menggunakan rumus slovin dan mendapatkan sampel sebanyak 44 orang penderita diabetes melitus tipe 2 dengan ulkus diabetikum. Penelitian ini menggunakan uji univariat. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwasannya penderita diabetes melitus tipe 2 dengan ulkus diabetikum memiliki nilai ABI dengan persentase ringan sedang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi dan untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat menemukan metode yang lebih canggih untuk menentukan risiko terjadinya ulkus diabetikum pada penderita diabetes melitus tipe 2.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI PUSKESMAS TEGAL SARI KOTA MEDAN: RISK FACTORS FOR STUNTING AMONG CHILDREN UNDER FIVE AT PUSKESMAS TEGAL SARI MEDAN CITY Rahmadhani, Mayasari; Ayu, Mayang Sari; Damanik, Rosa Zorayatamin; Hasibuan, Hardy
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i1.899

Abstract

This study aims to analyse the risk factors associated with stunting among children under five in the working area of Puskesmas Tegal Sari, Medan City. Stunting remains a serious public health problem caused by early maternal marriage, low maternal education, and suboptimal exclusive breastfeeding practices. This research employed an analytical case-control design using primary data collected through interviews and anthropometric measurements of 20 respondents (10 cases and 10 controls). Data were analysed using Chi-Square and logistic regression tests. The results revealed that early maternal marriage, low education, and lack of exclusive breastfeeding were significantly associated with stunting (p<0.05). The most dominant factor was the absence of exclusive breastfeeding, with an odds ratio (OR) of 3.7. It is concluded that social and educational interventions targeting young mothers, as well as strengthening support for exclusive breastfeeding, are essential to reduce stunting prevalence. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tegal Sari Kota Medan. Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius akibat pernikahan dini ibu, rendahnya pendidikan, dan tidak optimalnya pemberian ASI eksklusif. Penelitian menggunakan desain analitik case control dengan data primer dari wawancara dan pengukuran antropometri pada 20 responden (10 kasus, 10 kontrol). Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa usia pernikahan dini, pendidikan ibu rendah, serta tidak diberikannya ASI eksklusif berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p<0,05). Faktor paling dominan adalah tidak diberikannya ASI eksklusif dengan OR=3,7. Disimpulkan bahwa intervensi sosial dan edukatif pada ibu muda dan peningkatan dukungan terhadap pemberian ASI eksklusif sangat penting untuk menekan angka stunting.