Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sopan Santun sebagai Cermin Etika Pancasila: Menanamkan Nilai Kemanusiaan di Kalangan Remaja Wahyuni, Wahyuni; Alfyoni, Ghisanie Azahra; Mulya, Raynata Danielle; Maharani, Amalia Putri; Azzura, Chiatha Destalova; Tumanggor, Raja Oloan
Al-DYAS Vol 4 No 1 (2025): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/aldyas.v4i1.4175

Abstract

Politeness is a reflection of the noble values ​​adopted by a nation. Pancasila as the foundation of the state, contains ethical values ​​that are very relevant to practice in everyday life. The shift in moral values, especially for the younger generation, threatens the sustainability of politeness rooted in the values ​​of Pancasila. This community service was carried out for the purpose of instilling humanitarian values ​​in the younger generation of teenagers at SMA X Jakarta Pusat. This community service was given to one class consisting of 37 students and counseling was carried out using Power Point. The results of this community service can be said to be successful and went well and smoothly. This can be seen from the answers to the quiz and their understanding of the material that had been presented.
Analisis Adversity Quotient pada Ibu Bekerja dengan Sistem Rotasi Tiga Shift yang Mengalami Work-Family Conflict Maharani, Amalia Putri; Budiarto, Yohanes
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibu bekerja dengan sistem rotasi tiga shift adalah ibu yang menjalani peran ganda baik dalam mengurus rumah tangga maupun bekerja ditengah tuntutan jadwal kerja yang bergantian antara pagi hari, sore hari dan malam hari. Kondisi ini akan mempengaruhi keseimbangan dan dapat memunculkan work - family conflict. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran adversity quotient pada ibu bekerja dengan sistem rotasi tiga shift yang mengalami work- family conflict. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi dengan pengumpulan data melalui kuesioner dan wawancara semi – terstruktur. Teknik analisis data menggunakan interpretative phenomenological analysis. Partisipan penelitian berjumlah lima ibu yang bekerja dengan sistem rotasi tiga shift , berusia 25-44 tahun dan sudah memiliki anak dibawah 17 tahun, Dalam melakukan validasi terhadap informasi kelima partisipan, peneliti melakukan triangulasi pada significant other dari masing masing partisipan. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa work – family conflict yang terjadi pada ibu pekerja dengan tiga shift yang berprofesi sebagai perawat dan administrasi rumah sakit dominan pada time based conflict dan strain based conflict serta berdampak pada kondisi fisik dan psikis partisipan. Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa terdapat enam tema yang merepresentasikan adversity quotient pada ibu bekerja dengan sistem rotasi tiga shift yang mengalami work family conflict yakni : (1) Tidak Menyerah dalam Kedua Peran; (2) Komitmen menjalani Peran Ganda,; (3) Pengendalian Diri; (4) Optimisme; (5) Dukungan Sosial; (6) Kepercayaan kepada Tuhan.
PERAN HAKIM DALAM MENYIMPANGI SANKSI MINIMUM KHUSUS TERHADAP PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA BERDASARKAN TEORI HUKUM PROGRESIF Davis, Yesaya Fabian; Maharani, Amalia Putri
Jurnal Ilmu Hukum: ALETHEA Vol. 7 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu Hukum: ALETHEA
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/alethea.vol7.no2.p149-164

Abstract

Tindak pidana khusus narkotika yang memiliki ketentuan pidana minimum khusus di dalam norma pemidanaan ternyata tidak sepadan dalam beberapa kasus narkotika di Indonesia. Lebih dari itu, penuntut umum dalam dakwaannya tidak memberikan pasal yang sesuai dengan perbuatan terdakwa. Mahkamah Agung sebagai puncak dari badan pengadilan, menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung sebagai pedoman hakim dalam memutus perkara dalam situasi tersebut, yang mana dapat menyampingkan ketentuan pidana minimum khusus dalam UU Narkotika. Putusan ini menimbulkan tendensi antara kepastian dan keadilan karena tidak sesuai dengan penegakan hukum pidana. Permasahalahan ini akhirnya terjawab dalam konsep hukum progresif yang mengedepankan keadilan substantif bukan keadilan prosedural.