Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Lokal Terhadap Status Gizi Pada Balita Gizi Kurang Di Puskesmas Simpang Tiga Aceh Besar Ramazana, Cut Vitria; Zuheri, Zuheri; Alaydrus, Said Qadaru
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 11 (2024): Volume 11 Nomor 11
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i11.16048

Abstract

Balita adalah kelompok usia yang rentan terhadap masalah gizi dan memerlukan perhatian khusus karena kekurangan gizi dapat menyebabkan dampak negatif yang serius. Untuk  memenuhi kebutuhan gizi balita, pemerintah telah mengembangkan program pemberian makanan tambahan (PMT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian PMT lokal terhadap status gizi balita gizi kurang di Puskesmas Simpang Tiga, Aceh Besar pada tahun 2023. Penelitian ini termasuk jenis penelitian yang bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan maret 2024 dengan menggunakan data sekunder. Sampel di ambil berdasarkan Total sampling berjumlah 52 sampel, serta dianalisis dengan mengunakan analisis statistik  Uji Wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian didapatkan status gizi balita sebelum pemberian PMT adalah status gizi kurang sebanyak 52 balita (100%). Terjadi peningkatan status gizi pada balita gizi kurang sejumlah 36 orang (69,2%) dengan status gizi normal. Ada pengaruh pemberian PMT terhadap status gizi pada balita gizi kurang p<(0,05). Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian makanan tambahan (PMT) terhadap status gizi pada balita gizi kurang di Puskesmas Simpang Tiga Aceh Besar.
Congenital Dengue: Tinjauan Literatur Mulya, Vidya Chatmayani; Alaydrus, Said Qadaru
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 6 (2025): Volume 12 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i6.21038

Abstract

Congenital dengue, meskipun jarang, terjadi akibat transmisi vertikal virus dengue (DENV) dari ibu hamil yang terinfeksi kepada janinnya, seringkali ketika tidak ada cukup waktu untuk transfer antibodi protektif maternal.  Dengue adalah penyakit demam akut yang endemik di negara tropis seperti Indonesia, disebabkan oleh DENV yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, dengan empat serotipe (DEN 1-4).  Manifestasi klinis pada neonatus seringkali non-spesifik, menyerupai sepsis neonatal awitan awal, dan dapat meliputi demam, ruam, trombositopenia, hepatomegali, serta perdarahan spontan.  Diagnosis meliputi anamnesis menyeluruh, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium seperti hitung darah rutin (menunjukkan leukopenia, trombositopenia, dan peningkatan hematokrit), tes fungsi hati, serta konfirmasi definitif melalui deteksi antigen NS1, asam nukleat virus, atau antibodi (IgM/IgG) dari sampel neonatus dan tali pusar.  Tatalaksana mengikuti pedoman nasional untuk dengue pediatri, menekankan perawatan suportif, resusitasi cairan, dan dukungan nutrisi, yang seringkali memerlukan rawat inap.  Deteksi dini dan manajemen yang cepat sangat penting untuk prognosis, karena diagnosis yang terlambat dapat menyebabkan komplikasi parah seperti kerusakan hati, distres pernapasan, dan perdarahan intrakranial, dengan peningkatan risiko mortalitas.
Myocardial Bridging: Laporan Kasus Alaydrus, Said Qadaru; Rizki, Muhammad
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 6 (2025): Volume 12 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i6.21037

Abstract

Myocardial bridging adalah suatu kondisi di mana arteri koroner yang terdistribusi ke permukaan epikardial, dilapisi oleh miokardium pada segmen intramyocardial dari arteri koroner epikardial. Lokasi, panjang, dan tingkat keparahan bridging bervariasi antar pasien dan dapat bervariasi pada pasien yang sama dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan lainnya. Tingkat kondisi ini biasanya tidak luas dan parah. Myocardial bridging dapat terjadi pada pasien dengan dan tanpa penyakit arteri koroner. Diagnosis myocardial bridging dibuat ketika sebagian dari arteri koroner epikardial (biasanya arteri koroner desenden anterior kiri (LAD)) ditemukan seluruhnya atau sebagian besar berada di dalam miokardium (intramyocardial). Ini dapat didokumentasikan selama angiografi koroner diagnostik, CT angiografi, secara intraoperatif, atau pada pemeriksaan postmortem. Terapi medis – Pengobatan farmakologis meliputi beta blockers, ivabradine, dan kemungkinan nondihydropyridine calcium channel blockers. Agen-agen ini mengurangi denyut jantung dan kontraktilitas miokard. Revaskularisasi dapat dilakukan tetapi memiliki risiko fraktur stent di lokasi myocardial bridging. Terapi bedah harus disiapkan untuk pasien dengan gejala persisten, di mana perubahan iskemik jelas, dan bagi mereka yang memiliki penanda risiko tinggi (seperti aritmia ventrikel yang mengancam jiwa, kematian mendadak, atau infark miokard non-fatal), di mana uji coba terapi medis telah gagal.
Karakteristik Klinis Pasien Sindrom Koroner Akut Dan Kronik: Sebuah Studi Observasional Di Rumah Sakit Rujukan Aceh Alaydrus, Said Qadaru; Rizki, Muhammad; Fauzan, Rivhan
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 8 (2025): Volume 12 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i8.21782

Abstract

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan masalah kesehatan serius di Indonesia, dengan prevalensi tinggi di Provinsi Aceh. Terdapat perbedaan profil klinis antara Sindrom Koroner Akut (SKA) dan Sindrom Koroner Kronik (SKK) yang memengaruhi luaran pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan membandingkan profil pasien SKA dan SKK yang menjalani Intervensi Koroner Perkutan (IKP) di Aceh. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional dengan rancangan kohort prospektif, dilaksanakan di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dari Maret hingga Desember 2023. Sebanyak 32 subjek yang menjalani IKP direkrut menggunakan teknik quota sampling, terdiri dari 20 pasien SKA dan 12 pasien SKK. Data dianalisis secara deskriptif. Ditemukan perbedaan profil yang jelas antara kedua kelompok, di mana pasien SKA menunjukkan gambaran beban penyakit yang lebih berat, salah satunya tercermin dari adanya kebutuhan intervensi yang lebih kompleks seperti  multiple stenting pada sebagian pasien. Pasien SKA memiliki profil klinis yang secara fundamental lebih berat dibandingkan pasien SKK di Aceh. Kompleksitas intervensi, seperti kebutuhan akan multiple stenting, menjadi salah satu gambaran dari tingginya beban penyakit yang ditemukan pada kelompok pasien SKA.