Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Kaum Muhajirin Dan Anshor Sebagai Teladan Generasi Milenial (Analisis Tafsir al-Misbah) Masruchin, Tri Lestari; Ahmad Isnaeni; Bukhori Abdul Shomad; Masruchin, Masruchin
Journal Khafi : Journal Of Islamic Studies Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : Journal Khafi : Journal Of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract / Abstrak The story of the Muhajirin and the Ansar imparts values of noble character in human life. Their struggle in assisting the Prophet Muhammad (peace be upon him) in spreading the religion, upholding the truth, and building a civil society was filled with tears and blood. Through a literature review analyzing the verses about the Muhajirin and Ansar, it can be concluded that their resilient attitude, willingness to leave behind wealth, family, and power for the sake of Islam, mutual assistance, love for their brothers, courageous spirit, loyalty to their leaders, and fostering Islamic brotherhood are commendable traits. This can provide contributions and motivation for contemporary Muslims, especially the millennial generation, to become a better, more moral, and character-driven generation. Kisah kaum Muhajirin dan kaum Anshor memberikan nilai-nilai kehidupan manusia yang akhlakul karimah. Perjuangannya dalam membantu Nabi Muhammad Saw menyiarkan agama, menegakan kebenaran dan membangun negara yang madani, dipenuhi dengan air mata dan darah. Melalui kajian kepustakaan dengan menganalisa ayat-ayat kisah Muhajirin dan Nashor memberikan kesimpulan bahwa sikap mereka yang tangguh, rela meninggalkan harta, keluarga dan tahta demi Islam, saling tolong menolong, mencintai saudaranya, memiliki jiwa pemberani, sikap loyalitas terhadap pemimpin dan menjalin ukhuwah Islamiyah. Mampu memberikan kontribusi dan motivasi bagi umat Islam masa kini hususnya generasi milenial agar menjadi generasi yang lebih baik, bermoral dan berkarakter.
Wabah Pandemi dalam Perspektif Al-Qur’an Uswatun Hasanah; Abdul Malik Ghozali; Ahmad Isnaeni
JURNAL ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR NURUL ISLAM SUMENEP Vol. 6 No. 1 (2021): Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : STQINIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wabah Pandemi dalam Al-Qur’an (Penafsiran Komparasi Buya Hamka Dan Quraish Sihab). Penelitian ini membahas tentang Wabah Pandemi yang berkaitan Ayat-Ayat Al-Qur’an lalu di komparasikan oleh Mufassir Buya Hamka dan Quraish Sihab. Apakah wabah pandemi ini merupakan sebuh kejadian yang begitu saja terjadi atau sebuah azab, ataukah dari ulah manusia itu sendiri sehingga terjadinya Wabah Pandemi yang mana saat ini masih marak-maraknya dengan sebutan Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode komparasi comparative approach atau membandingkan antara kedua kelompok atau tokoh yaitu Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka Dan Tafsir Al-Misbah Karya Quraish Sihab yang terkait dengan wabah pandemi, yang diektahui sebagai virus yang mematikan, ternyata berdasarkan penafsiran lebih dari virus yang mematikan namun juga sebagai azab Allah terhadap umatnya, seperti halnya yang sudah pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad yaitu wabah penyakit Tha’un.
RESILIENSI SEBAGAI MEDIATOR HUBUNGAN SELF-COMPASSION DENGAN STRES PENGASUHAN PADA IBU BEKERJA Wahyuni, Citra; Artika Syafitri; Ahmad Isnaeni; Charyna Ayu Rizkyanti
Inquiry: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 15 No 2 (2024): Resiliensi, Coping, dan Intervensi Psikologis: Menjawab Tantangan dalam Pengasuh
Publisher : Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/inquiry.v15i02.983

Abstract

Stres pengasuhan adalah kondisi tidak nyaman dan tidak menyenangkan yang dialami orang tua saat mengasuh anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui peran mediasi resiliensi dalam hubungan self-compassion dengan stres pengasuhan pada ibu bekerja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif desain korelasional dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, sehingga diperoleh sampel sebanyak 86 ibu bekerja yang mempunyai anak usia 0-6 tahun. Teknik pengumpulan data menggunakan tiga skala, yaitu skala self-compassion, skala resiliensi, dan skala stres pengasuhan. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan effect mediation analysis, regresi berganda, dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan resiliensi berperan sebagai mediator parsial pada hubungan stres pengasuhan dan self-compassion dengan nilai estimate value -0.046, p<0.01. Hasil juga menunjukkan nilai r = -0.640, p < 0.01 yang berarti terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self-compassion dengan stres pengasuhan. Kemudian hasil menunjukkan nilai r = -0.630 p < 0.01 yang berarti terdapat hubungan negatif yang signifikan antara resiliensi dengan stres pengasuhan. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa resiliensi memediasi parsial hubungan self-compassion dan stres pengasuhan. Implikasi dari penelitian ini adalah diperlukannya pelatihan self-compassion dan teknik resiliensi bagi ibu bekerja yang memiliki anak usia 0 – 6 tahun untuk mengendalikan stres pengasuhan yang mereka hadapi.
Human Nature and Calamities According to the Interpretation of M. Quraish Shihab (Thematic Interpretation Study of Tafsir Al-Misbah) Azmi Abdillah Agustian; Ahmad Isnaeni; Budimansyah
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v8i2.1430

Abstract

This research discusses human nature and disasters and the phenomenon of disasters. As the news of disasters that hit almost every region in the world, including Indonesia, was widely reported, and how these topics were discussed. The method in this research is library research, for which the author carries out the steps of identification, collection, processing and study of existing data related to the problem of the kauniyyyah verse, both in the form of primary data and secondary data accurately and factually. Meanwhile, the secondary data referred to is other literature in the form of books, research results and other articles which are of course related to the issue of the correlation between human nature and disasters in the Al-Qur'an and Tafsir Al-Misbah. The study concludes that the Qur'an describes disasters using various terms, highlighting that these calamities are not solely decreed by Allah SWT but also linked to human behavior. The Qur'an identifies human actions such as environmental degradation, denial of faith, injustice, immorality, and hedonism as causes of disasters. While humans contribute to causing disasters, they also have the ability to prevent and respond to them through certain actions, introspection, and remembering Allah SWT. The Qur'an depicts different human reactions to disasters based on their character and emphasizes that despite the negative impacts, disasters offer lessons for future human behavior if approached with reason and clear thinking.
Living Qur'an: Nilai Filosofis Piil Pesenggiri Pada Tradisi Masyarakat Lampung di Kecamatan Anak Tuha Aprina Sari; Ahmad Isnaeni; Beko Hendro
Qolamuna : Jurnal Studi Islam Vol. 11 No. 01 (2025): Juli 2025
Publisher : STIS MIFTAHUL ULUM LUMAJANG PRESS (STISMU PRESS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

There is a tradition in Lampung that is based on the Qur’an and reflects the life principlesof the Lampung ethnic group, which are still firmly upheld to this day. This tradition existsin Anak Tuha Subdistrict, Central Lampung Regency, and is better known as piil pesenggiri.The piil pesenggiri tradition continues to exist and is preserved continuously as a guidingprinciple in the community's way of life. This study examines the practice of the livingQur’an among the people of Anak Tuha Subdistrict, Central Lampung Regency. Themethod used in this research is qualitative, including both library and field research, andemploys a phenomenological approach. To gather data, the researcher used variousinstruments such as observation, interviews, and documentation. The results show that the Lampung people already had their own philosophy—piil, meaning self-respect or dignity—even before the arrival of Islam. After Islam came, it evolved into piil pesenggiri, which includes elements such as bejuluk beadek (having a title and manners), nemui nyimah (hospitality), nengah nyappur (social interaction), and sakai sambayan (mutual cooperation). Piil pesenggiri is, in fact, relevant to the teachings of the Qur’an. However, until now, it has mostly been seen merely as a cultural tradition related to Islam, without being directly linked to specific verses of the Qur’an that convey the same values.
ETIKA PERTEMANAN DALAM AL-QUR’AN( Studi Komparatif Antara Tafsir Karimir Rahman dan Al-Misbah ) Fajri Pakeh, Dwiq; Ahmad Isnaeni; Abuzar Alghifari
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 26 No 2 (2025): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v26i2.27980

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemikiran As Sa’di dan Qurais Shihabdalam menafsirkan ayat etika pertemanan dalam Al-Qur’an. Jenis penelitian adalah penelitianlibrary research. penulis menggunakan metode pendekatan muqarrin (perbandingan).Berdasarkan kajian analisis terhadap kedua mufassir secara garis besar dapat disimpulkandiantaranya Quraish Shihab mengemukakan bahwa, etika pertemanan adalah menghindaripertemanan atas dasar kepentingan duniawi dan saling memberi manfaat. Sedangkan menurutAs Sa’di etika dalam pertemanan tidak hanya sebatas pada pertemanan yang didasarkankepentingan duniawi atau saling memberi manfaat saja akan tetapi, pertemanan yangmenjauhkan diri dari kekufuran, pendustaan, kemusyrikan dan kemaksiatan kepada Allah.Kedua tafsir ini merupakan tafsir kontemporer, akan tetapi terdapat beberapa perbedaan cirikhas dalam penafsirannya. Misalnya tafsir al-Misbah kandungan pembahasan ayatnya menitikberatkan kepada masalah-masalah sosial. Adapun salah satu ciri khas tafsir ini adalahkonsistensinya dalam mengurai kalimat-kalimat dalam setiap ayat al-Qur’an. Sedangkan kitabtafsir As Sa’di menghindari kalimat-kalimat sisipan yang bertele-tele, memiliki gaya bahasayang sederhana dan jelas. Tafsir ini juga menghindari penyebutan perselisihan pendapat dantakwil.
The Acculturation of the Qur'an and Javanese Culture: Variations in the Translation of the Word Khasar in the Tafsir Al-Ibriz by Bisri Musthofa Junaidi, Ahmad; Ahmad Isnaeni; Beko Hendro
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 26 No 2 (2025): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v26i2.30297

Abstract

Loss, whether material or non-material, is an inseparable part of the human experience that is constantly avoided. In a broader perspective, the concept of 'loss' extends beyond the loss of property, encompassing the loss of time, opportunity, and even faith. Despite being the most avoided thing, loss is often inevitable in life. Therefore, it is important to study this phenomenon in depth, especially from the perspective of the Quran as the primary source of guidance for Muslims. This study explores the acculturation of the Qur'an and Javanese culture through a linguistic analysis of the various translations of the term khasara (loss/ruin) in K.H. Bisri Musthofa's Tafsir Al-Ibriz. As a significant local Javanese commentary, Tafsir Al-Ibriz offers a unique lens to understand how Islamic sacred texts are contextualized within diverse cultural frameworks. Utilizing a qualitative methodology and library research, this study systematically inventories and analyzes 60 occurrences of khasara within the Qur'an, focusing on their interpretations in Tafsir Al-Ibriz. Findings reveal seven distinct translations for khasara in Tafsir Al-Ibriz: rugi, ngerugekake, tuno, ketunan, nunaake, kapitunan, and getun. Each translation is shown to carry specific semantic and pragmatic nuances rooted in Javanese cultural lexicon, transcending mere literal equivalents to convey deeper spiritual, ethical, and existential implications. This linguistic adaptation not only facilitates broader understanding among Javanese society but also demonstrates the dynamic interplay between divine revelation and local wisdom. The study concludes that K.H. Bisri Musthofa's Tafsir Al-Ibriz stands as a profound example of cultural adaptation in Qur'anic exegesis, highlighting how indigenous languages and cultural expressions can enrich the comprehension and internalization of religious teachings. This research contributes to the broader discourse on local tafsir traditions and the phenomenon of acculturation in Islamic intellectual history.