Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Bimbingan Belajar Anak dan Pendidikan Orang Tua untuk Mencapai Tujuan SDGs 4 di Desa Mulyoasri Kabupaten Malang Alyaa, Nisriinaa; Mufazzal, Muhammad Rafif; Valentino, Dave; Kusuma, Agis Surya; Nuryani, Astrida Fitri
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 2 No. 2 (2024): Desember
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/szstwm94

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis upaya pemberdayaan masyarakat di Desa Mulyoasri Kabupaten Malang melalui program bimbingan belajar anak dan pendidikan orang tua dalam rangka mencapai SDGs 4. Orang tua yang bekerja penuh dan lama meninggalkan rumah, menimbulkan permasalahan terutama kurangnya pengawasan terhadap anak terutama dalam hal pemenuhan gizi seimbang dan kurangnya pengawasan orang tua dalam penggunaan gadget pada anak. Oleh karena itu, terbentuklah urgensi untuk melakukan intervensi komunitas berbasis pembelajaran anak serta edukasi pada orangtua. Metode Kegiatan yang digunakan adalah metode kualitatif untuk menjelaskan bagaimana intervensi masyarakat dilakukan oleh kelompok KKN 21 melalui program kerja yang telah direncanakan. Hasil Kegiatan menunjukkan bahwa program ini berhasil meningkatkan motivasi belajar anak dan meningkatkan pengetahuan orang tua tentang pentingnya pendidikan digital. Dengan demikian, bimbingan belajar kepada anak anak serta pendidikan bagi orang tua merupakan kombinasi yang krusial dalam memenuhi indikator pendidikan berkualitas sepenuhnya. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa program pemberdayaan berbasis masyarakat dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan mutu pendidikan di tingkat desa, namun perlu didukung dengan kebijakan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
The Hegemon in Denial? China’s Reluctant Hegemony, BRICS and Southern Leadership Alyaa, Nisriinaa; Azis, Aswin Ariyanto
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.149-170

Abstract

China’s rising global influence marks a shift in how power operates on the world stage. While traditional theories like Hegemonic Stability Theory (HST) associate leadership with dominance and order maintenance, China challenges this model. Rather than replacing the U.S. as the sole global leader, China is strengthening its structural power through platforms like BRICS, projecting itself as a cooperative, non-imposing actor. This study employs qualitative analysis of strategic norms, pragmatic interests, and institutional projection to evaluate whether existing hegemonic frameworks remain adequate. This paper argues that HST, as a classical framework, is no longer sufficient to capture the evolving nature of hegemony in a fragmented world order. In response, this study introduces the concept of “reluctant hegemony” to explain how China fulfills key hegemonic functions while simultaneously resisting being labeled as a hegemon. The novelty of this research lies in its effort to reconceptualize hegemony through China’s alternative approach: one that neither mirrors U.S. primacy nor entirely rejects leadership, but instead redefines it in accordance with its own strategic principles and normative preferences. These insights contribute to current debates on multipolarity and the reimagining of global governance beyond Western-centric paradigms. Keywords: BRICS, China, Global Governance, Leadership, Reluctant Hegemony Meningkatnya pengaruh global Tiongkok menandai pergeseran dalam cara kekuasaan beroperasi di panggung dunia. Sementara teori tradisional seperti Teori Stabilitas Hegemoni (TSH) menghubungkan kepemimpinan dengan dominasi dan tanggung jawab untuk menjaga ketertiban, Tiongkok menantang model ini. Alih-alih menggantikan AS sebagai satu-satunya pemimpin global, Tiongkok memperkuat kekuatan strukturalnya melalui platform seperti BRICS, memproyeksikan dirinya sebagai aktor yang kooperatif dan tidak memaksakan. Studi ini menggunakan analisis kualitatif terhadap kepentingan pragmatis, norma strategis, dan proyeksi kelembagaan untuk mengevaluasi apakah kerangka kerja hegemonik yang ada masih memadai. Tulisan ini berpendapat bahwa TSH sebagai kerangka kerja klasik tidak lagi cukup untuk menangkap sifat hegemoni yang terus berkembang dalam tatanan dunia yang terfragmentasi. Sebagai tanggapan, studi ini memperkenalkan konsep “hegemoni yang enggan” untuk menjelaskan bagaimana Tiongkok memenuhi fungsi hegemonik utama dan pada saat yang sama menolak diberi label sebagai hegemon. Kebaruan penelitian ini terletak pada upayanya untuk mengonseptualisasi ulang hegemoni melalui pendekatan alternatif Tiongkok: pendekatan yang tidak mencerminkan keutamaan AS atau sepenuhnya menolak kepemimpinan, tetapi mendefinisikannya kembali sesuai dengan prinsip strategis dan preferensi normatifnya sendiri. Temuan ini berkontribusi pada perdebatan terkini tentang multipolaritas dan penataan ulang tata kelola global di luar paradigma yang berpusat pada Barat. Kata-kata Kunci: BRICS, Tiongkok, Tata Kelola Global, Kepemimpinan, Hegemoni yang Enggan