Articles
DARI PURITAN KE REKONSTRUKSIONIS
Hudaeri, Mohamad
Al Qalam Vol 30 No 2 (2013): May - August 2013
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1651.57 KB)
This article tries to understand Islamic reformation movements in the modern era based on two points of views: internal and external aspects. On the one hand, based on the internal aspect, Muslims need to reform their social structure and mental attitudes in arranging their socio-political lift by reforming their religious understanding which is accordance with their developing logics and imagination. In the other hand, based on the external aspect, it is because of the development of 'the economic-political authorities' in this modern era, i.e. a system of nation state, democartion, human ghts and modem capitalism. The changes force Muslims to reform their ways of thinking toward their religious orthodoxy, traditions, and intellectual treasury. To understand reformation movements could not be separated from their historical contexts because the reformation movements are not monolitic. They have various forms and different purposes. However, the religious understanding could not also be separated from the intellectual development and the challenges of life faced by Muslim societies. KeyWords: Islamic Thought Reformation, Islamic Orthodoxy, Islamic Movements
AGAMA DAN PROBLEM MAKNA HIDUP
Hudaeri, Mohamad
ALQALAM Vol 24 No 2 (2007): May - August 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1121.111 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i2.1633
Manusia tidak hanya sekedar ''hewan berpikir" (homo sapiens), ia lebih tepat didefenisikan sebagai homo spiritual (makhluk spiritual. Sebab kalau dilihat dari kecerdasan akal, ada binatang yang juga memiliki kecerdasan, tetapi tidak ada binatang yang memiliki kesadaran makna dan tujuan hidup akan yang transenden. Hanya manusia yang memiliki kesadaran akan makna hidup dan eksistensinya di dunia ini ''melampaui" batas-batas dunia fisik.Dunia ''makna" adalah dunia manusia. Manusia tidak bisa melakukan sesuatu, maupun memahami sesuatu apabila sesuatu tersebut tidak bermakna baginya. Bertindak berarti melakukan sesuatu demi suatu tujuan dan sesuatu hanya bisa menjadi tujuan apabila mempunyai arti atau bermakna. Suatu tindakan dianggap bermakna karena mencakup sesuatu yang lebih luas dan berkaitan dengan hal-hal yang eksistensial. Karena itu yang sering menjadi persoalan adalah problem makna hidup. Problem makna hidup merupakan problem eksistensial manusia, karena menyangkut tentang eksistensi kehidupannya sendiri di muka bumi ini.Bagaimana peran agama tentang problem eksisitensial manusia itu? Hati nurani merupakan tempat bersemayamnya spiritualitas manusia. Karena itu kesadaran akan makna dan tujuan hidup selalu terkait dengan spiritualitas. Spiritualitas merupakan jantungnya agama. Agama tanpa spiritualitas akan terasa kering dan hampa, karena ia hanya akan berupa ajaran-ajaran normatif dan ritual yang tidak menyentuh kedalaman kalbu manusia. Karena itu penghayatan agama yang benar adalah penghayatan yang didasarkan atas spiritualitas yang tulus dan murni bukan didasarkan alas suatu konstruks pemikiran yang sempit yang menimbulkan sikap fanatik dan ekstrim.
JAWARA DI BANTEN
Hudaeri, Mohamad
ALQALAM Vol 20 No 97 (2003): April - June 2003
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1586.138 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v20i97.645
Jawara merupakan salah satu kelompok dalam masyarakat Banten yang cukup terkenal. la memiliki pengaruh yang melewati batas-batas geogrufis berkat kharisma yang dimilikinya. Munculnya jawara menjadi sosok yang dikagumi ketika struktur sosial dan budaya masyarakat hancur, yakni semenjak pemerintahan kolonial Belanda berhasil menganeksasi Kesultanan Banten. Sehingga saat ini muncul pertanyaan tentang kedudukan, peran dan jaringannya dalam sistem sosial masyarakat Bunten.Kedudukan, peran dan jaringan sosial jawara terbentuk melalui proses sejarah yang sangat panjang yang dialami oleh masyarakat Banten, yakni semenjak pembentukan Kesultanan Banten, masa pemerintahan kolonial dan pasca pembebasan kolonial. Perjalanaan sejarah tersebut telah menciptakan msyarakat Banten dikenal sebagai masyarakat yang sangat fanatik terhadap agama, bersifat agresif dan bersemangat memberontak.Dalam masyarakat seperti Banten yang pernah mengalami tekanan sosial politik yang sangat dalam dan lama telah menciptakan budaya kekerasan, yang utamanya dimainkan oleh sosok jawara. la kini dikenal sebagai identitas dari lembaga adat Banten. Kemampuannya dalam memanipulasi kekuatan supernatural (magi) dan keunggulan dalam hal fisik telah membuatnya menjadi sosok yang ditakuti sekaligus dikagumi, sehingga terkadang muncul menjadi tokoh yang kharismatik dan heroik. Peranannya juga tidak hanya terbatas kepada guru persilatan, elmu kesaktiun atau "tentara wakaf", tetapi juga sebagai pemimpin sehuah pergerakan sosial. Bahkan untuk saat ini, para jawara memiliki peran penting dalam sosial politik masyarakat Banten.Adanya kedudukan dan peran membuat jawara menciptakan kultur tersendiri yang agak berbeda dengan kultur dominan masyarakat Banten, sehingga Jawara tidak hanya menggambarkan suatu sosok tetapi juga telah menjadi kelompok yang memiliki nilai, norma dan pandangan hidup yang khas. Itulah subkultur Jawara.Kata Kunci: Jawara, Ilmu Kanuragan, Bandit Sosial
'AWRAT
Hudaeri, Mohamad
Al Qalam Vol 23 No 1 (2006): January - April 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1584.973 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v23i1.1450
Meskipun kata-kata 'awrat begitu akrab di telinga kita, tetapi pengetahuan mengenai definisi dan batasannya sering tidak jelas. hal ini disebabkan oleh pemaknaan kata 'awrat yang tidak hanya dimaknai sebagai bagian-bagain tubuh manusia yang harus ditutup tetapi juga terkait dengan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Keharusan untuk menutup bagian-bagian tubuh terlentu bermakna juga untuk mengendalikan dan bersubordinasi lawan jenis dalam hubungan sosial karena itu makna 'awrat yang selama ini berkembang sangat ideologis.Berdasarkan itu pembacaan ulang terhadap makna tersebut sangat penting untuk membuka relasi kuasa yang ada. Salah satu cara pembacaan ulang adalah dengan merujuk ke sumber asli yakni al-Qur'an. Berdasarkan telaah terhadap beberapa ayat al-Qur'an, kata 'awrat itu tidak selalu merujuk kepada tubuh manusia tetapi juga dipergunakan untuk menggambarkan tempat dan waktu yang dianggap rawan. Dengan demikian makna 'awrat itu lebih tepatnya bermakna halÂhal yang dianggap rawan. Dalam kaitan dengan tubuh manusia adalah hal-hal yang sangat rawan untuk menimbulkan terjadinya marabahaya atau fitnah.Namun demikian, al-Qur'an tidak memberikan batasan yang pasti tentang bagian tubuh yang dianggap rawan sehingga harus ditutupi. AI-Qur'an hanya menyebutkan bahwa dalam menjalin hubungan antara laki-laki dan pmmpuan perlu dijagi nilai-nilai kesopanan, moralitas dan kesucian. Tidak ada batasan tertentu yang mesti dipatuhi. Hal nampaknya disesuai dengan situai dan kondisi yang ada.
AGAMA DAN TANTANGAN KEMANUSIAAN KONTEMPORER
Mohamad Hudaeri
Al Qalam Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2085.352 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v18i90-91.1468
Wacana keagamaan kembali menguat ketika masyarakat dunia memasuki milenium ketiga. Kesadaran untuk kembali ke agama ini tidak bisa dilepaskan dari krisis modernitas yang tengah melanda masyarakat. Modernitas disamping mendatangkan kemakmuran material bagi sebagian masyarakat, ternyata juga mengandung berbagai macam paradoks, dehumanisasi dan alienasi.Munculnya berbagai macam penyakit kemanusian ini tidak bisa dilepaskan dari hilangnya ruang spiritual dari kehidupan manusia modern. Akibatnya, modernitas yang selama in diagung-agungkan, telah menyebabkan manusia menjadi kerdil kering dan hampa karena kehilangan makna dan tujuan hidup yang hakiki, yang berada pada ranah paling dalam pada diri manusia,yaitu spiritualitas. Untuk itulah agama kembali dilirik sebagai terapi krisis kemanusiaan.Namun demikian, tidak sedikit orang yang meragukan fungsi positif agama bahwa sebagian dari tindakan kekerasan, eksklusivisme dan berbagai pelanggaran nilai-nilai universal kemanusiaan dilakukan atas nama agama. Jadi bagaimana mungkin agama dapat berperan menjadi solusi krisis ?.Bagi sebagian cendekiawan dan agamawan, tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan yang diatasnamakan agama tersebut disebabkan oleh sesuatu yang kompleks. Salah satunya adalah ketidakmampuan sebagian pemeluk agama dalam memahamii nilai-nilai universal agamanya. Substansi agama telah direduksi oleh pemahaman yang sempit dan kepentingan sesaat.Untuk itulah, saat ini, diperlukan adanya rekonstruksi teologis pada setiap agama agar mampu menghadapi tantangan kemanusiaan kontemporer. Dengan demikian, agama dapat memberikan arah, makna dan tujuan hidup pada manusia, serta tampil secara lebih ramah, sejuk, terbuka dan humanis.Kata-kata Kunci: Krisis Modernitas, Agama Formal, Teologi Universal, Spiritual.
AGAMA DAN TANTANGANKEMANUSIAAN KONTEMPORER
Mohamad Hudaeri
Al Qalam Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1553.79 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v23i2.1491
Wacana keagamaan kembali menguat ketika masyarakat dunia memasuki milenium ketiga. Kesadaran untuk kembali ke agama ini tidak bisa dilepaskan dari krisis modernitas yang - tengah melanda masyarakat. Modernitas disamping mendatangkan kemakmuran material bagi sebagian masyarakat, ternjata juga mengandung berbagai macam paradoks, dehumanisasi dan alienasi.Munculnya berbagai macam penyakit kemanusian ini tidak bisa dilepaskan dari hilangnya ruang spiritual dari kehidupan manusia modem. Akibatnya, modernitas yang selama ini diagung-agungkan, telah menyebabkan manusia menjadi kerdil, kering dan hampa karena kehilangan makna dan tujuan hidup yang hakiki, yang berada pada ranah paling dalam pada diri manusia, yaitu spiritualitas. Untuk itulah agama kembali dilirik sebagai terapi krisis kemanusiaan.Namun demikian, tidak sedikit orang yang meragukan fungsi positif agama sebagai terapi krisis kemanusiaan kontemporer. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa sebagian dari tindakan kekerasan, eksklusivisme dan berbagai pelanggaran nilai-nilai universal kemanusiaan dilakukan atas nama agama: Jadi bagaimana mungkin agama dapat berperan menjadi solusi krisis?.Bagi sebagian cendekiawan dan agamawan, tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan yang diatasnamakan agama tersebut disebabkan oleh sesuatu yang kompleks. Salah satunya adalah ketidakmampuan sebagian pemeluk agama dalam memahami nilai-nilai universal agamanya. Substansi agama telah direduksi oleh pemaham yang sempit dan kepentingan sesaat.Untuk itulah, saat ini, diperlukan adanya rekonstruksi teologis pada setiap agama agar mampu menghadapi tantangan kemanusiaan kontemporer. Dengan demikian, agama dapat memberikan arah, makna dan tujuan hidup pada manusia, serta tampil secara lebih ramah, sejuk, terbuka dan humanis.
RELASI KUASA TEOLOGI MURJl'AH DAN BANI UMAYAH
Mohamad Hudaeri
Al Qalam Vol 22 No 3 (2005): September - December 2005
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (916.701 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v22i3.1366
Dalam Islam hubungan agama dan politik sangat erat. Problem pertama yang muncuf setelah meninggafnya Rasufuffah adafah tentang suksesi kepemimpinan. Meskipun suksesi kepemimpinan itu pada mufanya menjadi perdebatan sengit di kafangan sahabat, tetapi pada tahap sefanjutnya mereka sepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah pertama pascakenabian. Begitu pula pengangkatan Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan sebagai khalifah relatif lancar. Perdebatan sengit dan konflik terbuka terjadi ketika Ali bin Abu Thalib diangkat menjadi khalifah. Pada masa kekhalifan Ali dan sesudahnya umat Islam terbelah menJadi beberapa kelompok (firqah) yang memifiki aliran politik yang berbeda-beda. Maka perdebatan yang terjadi pun bukan hanya tentang suksesi kepemimpinan tetapi juga tentang siapa orang mu'min yang berhak menjadi warga negara dari sistem pemerintahan Islam (ummah). Maka tiap kelompok dafam umat Islam, seperti Khawarij, Syi 'ah dan Murji 'ah. berusaha untuk mendefenisikan iman yang sesuai dengan afiliasi kelompoknya. Perdebatan tentang defenisi mu'min merupakan hal yang tidak terelakan dafam SeJarah Islam, hal ini didasarkan pada sistem perpolitikan Islam yang didasarkan pada doktrin agama. Maka ideologisasi Islam untuk meraih kekuasaan menjadi tidak terelakkan. Islam menJadi alat yang paling laku untuk melegitimasi kekuasaan. Hal ini pula yang dilakukan oleh Bani Umayah untuk melanggengkan kekuasaannya. Ia berusaha untuk mencari justifikasi dari agama bahwa kekuasaamrya sesuai dengan qjaran Islam. Ajaran teologi Islam yang memberi legimitasi tentang kekuasaan Bani Umayah adalah Murji'ah. AJaran teologj ini tidak berkembang ketika penyokongnya, Bani Umayah mengalami keruntuhan. Kata Kunci: relasi kuasa, mu'min, Bani Umayah, ummah.
TASAWUF DAN TANTANGAN KEHIDUPAN MODERN
Mohamad Hudaeri
Al Qalam Vol 24 No 1 (2007): January - April 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (707.062 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i1.1654
Salah satu dari ciri kehidupan masyarakat modern adalah materialisme, yakni motif kepentingan materi telah mengalahkan kebutuhan dasar manusia untuk meraih makna hidup yang lebih tinggi; yang melampaui kesadaran sehari-hari yang profan, yakni motif mencapai keutuhan atau integrasi Jiwa atau motif spiritual. Hal itu disebabkan oleh pandangan hidup yang hanya didasarkan pada rasionalitas murni dan hanya membatasi kehidupan pada hal-hal yang bersifat benda. Sedangkan persoalan spiritual dipinggirkan bahkan dipandang tidak penting.Paradigma kehidupan yang seperti itu pada akhirnya menimbulkan problem-problem kemanusiaan, seperti disintegrasi sosial, kemiskinan, konsumerisme, kerusakan ekologis dan kebingungan akan makna hidup (alienasi). Sehingga, peningkatan pencapaian materi dalam kehidupan manusia modern tidak dikuti dengan perbaikan kualitas kehidupan, karena kehidupan dirasakan hampa.Keadaan tersebut memicu pengkajian kembali kekayaan spiritual yang dimiliki masing-masing agama. Agama secara formal (organized religion) memang banyak diragukan orang dalam mengatasi problem kehidupan modern. Tetapi, nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam tradisi perenial agama menjadi sesuatu yang menarik banyak orang untuk memenuhi dahaga spritualnya.Tasawuf merupakan tradisi spritual Islam yang canggih. Tasawuf merupakan metode atau jalan spiritual untuk mencapai suatu kesadaran tertinggi (higher conciousness) dalam kehidupan yakni perjumpaan yang intim dengan Allah. Tasawuf sebagai jalan spiritual yang cangggih, dalam prakteknya melibatkan pekerjaan, keluarga, dan pengalaman kehidupan sehari-hari lainnya. Tasawuf bukan sebuah jalan pelarian bagi sebagian orang dari kerumitan yang dihadapi, tetapi untuk memberi kedalaman makna yang lebih dalam menjalani kehidupan.
ISLAM DAN HAK ASASI MANUSIA
Mohamad Hudaeri
Al Qalam Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1235.321 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i3.1664
Negara-negara Barat yang dominan secara politik dan ekonomi berusaha mendesakan kebudayaannya terhadap negara-negara berkembang, tak terkecuali terhadap negara-negara muslim. Salah satu produk kebudayaan Barat yang kini menjdi perdebatan sengit di kalangan intelektual muslim adalah mengenai Hakhak Asasi Manusia (HAM). Persoalan pentingnya adalah "bagaimana orang muslim memandang HAM?''. Hal ini penting, karena sebagian dari isi Deklarasi HAM itu berbeda (bertentangan) dengan Syari'ah. Tulisan ini merupakan deskripsi tentang respon intelektual muslim terhadap Hak-hak Asasi Manusia.Mengenai HAM, respon masyarakat muslim terbelah menjadi tiga kelompok, yakni: konservatif, liberal dan pragmatis. Kelompok konservatif memandang bahwa sebagian dari ide-ide itu bertentang dengan Syari'ah, karena itu tidak selayaknya orang muslim mengikuti konsep HAM. HAM merupakan produk partikular kebudayaan Barat.Kelompok liberal memandang positif terhadap HAM. Perbedaan atau pertentangan antara HAM dengan beberapa ajaran dalam Syari'ah, dipandangnya sebagai tantangan bagi kaum muslimin untuk mengevaluasi konsep Syari'ah yang sudah "ketinggalan zaman ''. HAM merupakan produk kebudayaan modern sedangkan Syari'ah merupakan sisa dari kebudayaan tradisional supaya masyarakat muslim bisa bergaul dalam kebudayaan modern, maka mesti memperbaharui konsep Syari'ah agar lebih sesuai dengan tuntutan modernitas.Sedangkan kelompok ketiga berpandangan pragmatis. Kelompok ini merupakan jalan tengah untuk menjembatani antara dua pandangan yang berbeda secara diametral. Mereka bersikap eklektik dalam merumuskan peraturanperaturan yang dipakai di negara-negaranya. Mereka mengambil beberapa prinsip Syari'ah sambil menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutan modernitas.
DEBUS DI BANTEN
Moh. Hudaeri
Al Qalam Vol 33 No 1 (2016): January - June 2016
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (453.59 KB)
Debus merupakan salah satu contoh nyata pertautan antara tradisi lokal Banten dengan Islam (tarekat). Pertautan ini tidak hanya menimbulkan kesepahaman tetapi juga perselilihan dan pertentangan di kalangan umat. Di dalam seni debus tidak hanya ditemukan tradisi-tradisi yang berasal dari tarekat seperti:wirid, tawasul dan bai‟at tetapi juga ada jangjawokan dan seni pencak silat. Mengkaji tentang debus tidak hanya menyingkap tentang perkembangan seni ini dalam masyarakat Banten, tetapi juga menggambarkan tentang kondisi antropologis keislaman di Banten. Hal ini mengindikasikan bahwa keislaman penduduk Banten lebih bersifat sufistik, hal ini disebabkan adanya kesejejajaran dan afinitas dengan kondisi masyarakat lokal Banten yang lebih bersifat mistis. Tulisan ini akan membahas tentang; bagaimana perkembangan debus di masyarakat Banten? Apakah sumber-sumber yang dijadikan rujukan dalam permainan debus? Bagaimana pandangan antropologis terhadap praktek permainan debus apabila dikaitkan dalam konteks budaya Islam di Nusantara?