Mohamad Hudaeri
Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : ALQALAM

DEBUS DI BANTEN; PERTAUTAN TAREKAT DENGAN BUDAYA LOKAL MOH. HUDAERI
Al Qalam Vol 27 No 1 (2010): January - April 2010
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.345 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v27i1.579

Abstract

Debus is one of noticeable appearance of the relationship between local tradition of Banten and Islam (mystical brotherhood). This relationship causes not only the conformity but also the dispute and controversy among the community. In debus, there are not only traditions derived from tarekat (mystical brotherhood) such as wirid, tawasul and bai'at, but also jangjawokan (local languages) and the traditional defense art. Studying debus not only observes the development of this art in Bantenese society, but also describes the anthropological condition of Islamic tradition In Banten. It indicates that the Islamic tradition of Bantenese society is more sufistic. It is probabfy because of the equality and the effinity between Islam and the mystical condition of local society of Banten. This article will discuss how is the development of debus in Bantenese society? What sources are used as references in debus performance? How does the anthropological perspective view the practice of debus performance in the context of Islamic culture in the Archipelago? Keywords: Debus, Islam Banten, Wirid, Jangjawokan.
TASBIH DAN GOLOK Mohamad Hudaeri
Al Qalam Vol 20 No 98-99 (2003): July - December 2003
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1463.767 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v20i98-99.639

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasarkan kepada dua entitas dari masyarakat Banten yang cukup terkenal, yakni kiyai dan jawara. Keduanya memiliki pengaruh yang melewati batas-batas geografis berkat kharisma yang dimilikinya. Pengaruh kharisma semenjak pemerintahan kolonial Belanda berhasil menganeksasi Kesultanan Banten. Sehingga muncul pertanyaan tentang kedudukan dan peran mereka dalam sistem sosial masyarakat Banten.Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini, menggunakan berbagai pendekatan yakni etnografi, historis dan teologis. Sedangkan metode yang dipergunakan adalah pengamatan terlibat dan wawancara secara mendalam sehingga mampu mengungkap unsur-unsur kebudayaan yang terdapat dalam interkasi sosial dan simbol-simbol yang dipergunakan oleh kiyai dan jawara.Kedudukan, peran dan jaringan sosial kiyai dan jawara terbentuk melalui proses sejarah yang sangat panjang yang dialami oleh masyarakat Banten, yakni semenjak pembentukan Kesultanan Banten, masa pemerintahan kolonialisme dan pasca pembebasan kolonilisme tersebut. Perjalanaan sejarah tersebut telah menciptakan masyarakat Banten dikenal sebagai masyarakat yang sangat fanatic terhadap agama, bersifat agresif dan bersemangat memberontak.Dalam masyarakat seperti Banten yang mengalami penetrasi Islam sangat mendalam sehingga menjadi basis bagi identitas kelompok, kedudukan dan pernanan sosial kiyai, sebagai tokoh agama, menjadi sangat penting. Kiyai menjadi kelompok elit yang selain memiliki peranan tradisionalnya sebagai guru ngaji dan kitab di pesantren, guru tarekat, guru ilmu "hikmah" dan mubaligh, juga berperan dalam tranformasi sosial politik di Banten sehingga sosok penting yang banyak mempengaruhi pembentukan kebudayaan dan sejarah perjalanan masyarakat ini.Demikian pula jawara. la kini dikenal sebagai identitas dari lembaga adat Banten. Kemampuannya dalam memanipulasi kekuatan superanatural (magi) dan keunggulan dalam hal fisik telah membuatnya menjadi sosok yang ditakuti sekaligus kagumi, sehingga terkadang muncul menjadi tokoh yang kharismatik dan heroik. Peranannya juga tidak hanya terbatas kepada guru persilatan, elmu kesaktian atau "tentara wakaf'', tetapi juga sebagai pemimpin sebuah pergerakan sosial. Bahkan untuk saat ini, para jawara memiliki peran penting dalam sosial politik masyarakat Banten.Adanya kedudukan, peran dan jaringan membuat kiyai dan jawara menciptakan kultur tersendiri yang agak berbeda dengan kultur dominan masyarakat Banten, sehingga kiyai dan jawara tidak hanya menggambarkan suata sosok tetapi juga telah menjadi kelompok yang memiliki nilai, norma dan pandangan hidup yang khas. itu lah subkultur kiyai dan jawara.Kata Kunci: Kiyai, Jawara, Kitab Kuning, Ilmu Kanuragan, Bandit Sosial.