Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

The Relationship of Hedonic Lifestyle with Consumptive Behavior in E-Commerce Users Adolescent Aini, Dea Fitri; Widiastuti, Netty; Widyana, Rahma; Aziza, Maghfira Nur; Wedadjati, Ratna Sesotya
Asian Journal of Management Analytics Vol. 4 No. 1 (2025): January 2025
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/ajma.v4i1.11403

Abstract

This study aims to determine the relationship between hedonic lifestyle and consumptive behavior in adolescent e-commerce users. This study proposes a hypothesis that there is a positive relationship between hedonic lifestyle and consumptive behavior in adolescent e-commerce users. The subjects in this study were 116 adolescents with an age range of 17-22 years. The data collection method used in this study is to use the Consumptive Behavior Scale and the Hedonic Lifestyle Scale. The data analysis technique used is using product moment correlation. Based on the results of data analysis, the correlation coefficient (rxy) = 0.800 with p = 0.000 (p < 0.001) shows that the hypothesis proposed in this study is accepted, namely there is a positive correlation between hedonic lifestyle and consumptive behavior in adolescent e-commerce users. The coefficient of determination (R2) is 0.639 so it can be said that the hedonic lifestyle contributes 63.9% to consumptive behavior and the remaining 36.1% is influenced by other factors.
Peran Moderasi Resiliensi: Apakah Self-Compassion Memengaruhi Subjective Well-Being Pada Remaja Panti Asuhan? Purnamasari, Santi Esterlita; Rinaldi, Martaria Rizky; Widiastuti, Netty; Rachmat, Vicky Mellenia
PSIKODIMENSIA Vol 23, No 2: Desember 2024
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/psidim.v23i2.12739

Abstract

Remaja yang tinggal di panti asuhan menghadapi tantangan besar karena hidup terpisah dari orangtua, yang kerap memicu perasaan kesepian, penolakan, dan rendah diri. Hal ini dapat berdampak pada rendahnya subjective well-being Untuk mengatasi hal tersebut, remaja perlu memiliki self-compassion dan resiliensi agar mampu bangkit dan berdamai dengan pengalaman hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran moderasi resiliensi dalam hubungan antara self-compassion dengan subjective well-being pada remaja panti asuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Partisipan penelitian adalah 93 remaja yang tinggal di panti asuhan (12-21 tahun). Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa: Satisfaction with Life Scale (α = 0,742); Scale of Possitive and Negative Experience (α = 0,970); Connor- Davidson Resilience Scale (α = 0,86); dan Skala Self-Compassion (α = 0,788). Analisis data menggunakan metode regresi moderasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa self-compassion berpengaruh positif signifikan terhadap subjective well-being (β = 0,6747, p 0,001), demikian pula resiliensi (β = 0,7878, p 0,001). Namun, interaksi antara self-compassion dan resiliensi tidak signifikan (β = −0,0135, p = 0,244), sehingga resiliensi tidak memoderasi hubungan tersebut. Berdasarkan temuan ini, diharapkan pihak-pihak terkait dapat merancang program intervensi psikologis untuk meningkatkan self-compassion, resiliensi, dan subjective well-being pada remaja panti asuhan guna mendukung kesejahteraan yang optimal.
Benarkah Dukungan Sosial dan Resiliensi Berpengaruh Pada Keterikatan Kerja Karyawan? Nuswantoro, Adityarahman; Sahrah, Alimatus; Fitriana, Nina; Widiastuti, Netty
Dinamika Psikologis: Jurnal Ilmiah Psikologis Vol. 1 No. 2 (2024): NOVEMBER 2024
Publisher : Univeresitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/jdp.v1i2.4259

Abstract

Karyawan yang merasa terikat dengan perusahaan dapat memunculkan perasaan dan perilaku positif saat bekerja, sehingga keterikatan kerja sangat penting untuk dimiliki oleh setiap karyawan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) hubungan dukungan sosial dan resiliensi dengan keterikatan kerja pada karyawan di bidang jasa pelayanan tumbuh kembang anak; 2) hubungan dukungan sosial dengan keterikatan kerja pada karyawan di bidang jasa pelayanan tumbuh kembang anak; 3) hubungan resiliensi dengan keterikatan kerja pada karyawan di bidang jasa pelayanan tumbuh kembang anak. Partisipan penelitian ini yaitu 62 karyawan dari tiga tempat yang melayani jasa pelayanan tumbuh kembang anak di Yogyakarta. Data dikumpulkan mnggunakan Multidimentional Scale of Perceived Social Support, The Connor Davidson Resilience Scale, dan The Utrecht Work Engangement Scale. Data dianalisis dengan teknik regresi berganda. Temuan akhir dari penelitian ini menujukkan bahwa dukungan sosial dan resiliensi secara bersama-sama dapat mempengaruhi keterikatan kerja pada karyawan. Kata Kunci:  dukungan sosial, keterikatan kerja, resiliensi
Benarkah Empati Mempengaruhi Pemaafan Pada Mahasiswa? Widiastuti, Netty; Budiyani, Kondang
PSIKOSAINS (Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi) Vol. 21 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: College students are exposed to diverse interpersonal dynamics that may give rise to conflict and emotional distress. Such conditions can trigger anger, withdrawal, or retaliatory impulses. Forgiveness is considered one way to reduce the negative impact of conflict, while empathy is believed to play a role in helping individuals understand the perspectives of others. Objective: This study aimed to examine the relationship between empathy and forgiveness among college students. Method: The study involved 100 students, (50 males and 50 females). Forgiveness was measured using the Transgression-Related Interpersonal Motivation Scale (α = 0.913), while empathy was assessed using the Interpersonal Reactivity Index (α = 0.820). The data were analyzed using Pearson’s Product-Moment correlation. Result: The analysis revealed a correlation coefficient = −0.041, with p = 0.344 (p > 0.05), indicating that there was no significant positive relationship between empathy and forgiveness among students. Conclusion: Empathy was not found to be significantly associated with forgiveness. These findings suggest that forgiveness is influenced by other factors beyond empathy, such as emotion regulation, psychological maturity, and personal values. Therefore, intervention programs in university settings should focus not only on enhancing empathy but also on strengthening emotional regulation, conflict resolution, and psychological resilience.
Psikoedukasi Kesehatan Mental sebagai Penguatan Literasi dan Sikap Masyarakat di Kalurahan Sidoagung, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Esterlita Purnamasari, Santi; Astuti, Kamsih; Widiastuti, Netty
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 2 (2026): JAMSI - Maret 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2602

Abstract

Permasalahan kesehatan mental masih menjadi isu yang signifikan di masyarakat, termasuk di Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman. Rendahnya pemahaman masyarakat dan tingginya stigma negatif terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berdampak pada kurang optimalnya dukungan sosial serta partisipasi masyarakat dalam upaya penanganan kesehatan mental. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan mental melalui kegiatan psikoedukasi. Metode pelaksanaan menggunakan desain one-group pretest–posttest dengan instrumen tes pengetahuan kesehatan mental yang terdiri atas 10 butir pertanyaan. Kegiatan dilaksanakan di Aula Kalurahan Sidoagung dan diikuti oleh 24 peserta. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan antara hasil pretest dan posttest (Z = −3,897; p = 0,000; p < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan psikoedukasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan mental. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan program promosi kesehatan jiwa yang berkelanjutan di tingkat masyarakat melalui kolaborasi antara pemerintah kalurahan dan puskesmas.