Gusviani, Nisa Azzahra
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SEED ENHANCEMENT MENGGUNAKAN MATRICONDITIONING PLUS PADA BENIH PADI GOGO (Oryza sativa L.) YANG MENGALAMI DETERIORASI Gusviani, Nisa Azzahra; Anwar, Aswaldi; Rozen, Nalwida
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3915

Abstract

Upland rice is a type of rice that contributes to national rice production, but production is still categorized as low. Several problems in cultivating upland rice, such as the use of seeds produced from previous plantings and cultivation of upland rice plants which are still carried out once a year or once in one planting season, cause the seeds to undergo storage. Stored seeds have the potential to experience deterioration, which can reduce the quality of the seeds so that ultimately the plants do not grow optimally and have the potential to reduce production. This research used a completely randomized factorial design (CRD) which consisted of two factors, namely the comparison of the composition of matriconditioning plus and the length of immersion in matriconditioning plus. The combination treatment of the ratio of seed composition: rice husks ash: Trichoderma harzianum suspension (9:6:8) and soaking for 18 hours gives the best result because it can increase the maximum growth potential of the seeds to 98%, reduce the percentage of attack by pathogenic fungi to 11,67%, and have a higher test index value than other combinations. Key-words: Upland rice, seed deterioration, matriconditioning plusINTISARIPadi gogo merupakan salah satu jenis padi yang menyumbang produksi padi nasional, namun produksi masih dikategorikan rendah. Beberapa permasalahan dalam budidaya padi gogo seperti penggunaan benih yang diproduksi dari pertanaman sebelumnya dan budidaya tanaman padi gogo masih dilakukan sekali dalam setahun atau satu kali musim tanam menyebabkan benih telah mengalami penyimpanan. Benih yang disimpan berpotensi mengalami deteriorasi, sehingga dapat menurunkan mutu benih hingga akhirnya tanaman tidak tumbuh optimal dan berpotensi menurunkan produksi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari dua faktor, yaitu perbandingan komposisi dan lama perendaman benih dalam matriconditioning plus. Kombinasi perlakuan perbandingan benih: abu sekam padi: suspensi Trichoderma harzianum (9:6:8) dan perendaman benih selama 18 jam memberikan hasil terbaik karena dapat meningkatkan potensi tumbuh maksimum benih menjadi 98%, menurunkan persentase serangan jamur patogen menjadi 11,67% dan memiliki nilai uji indeks yang lebih tinggi dibandingkan kombinasi lainnya. Kata kunci: Padi gogo, deteriorasi benih, matriconditioning plus
SOIL FAUNAL DIVERSITY AS A BIOINDICATOR OF SOIL HEALTH ACROSS DIFFERENT LAND-USE TYPES Juliano, Gian; Mahardika, Rabbirl Yarham; Hidayah, Anggraeni Nur; Mardhiah, Mira; Alayya, Nahdlia Putri; Prayudi, Haikal Caesa; Putri, Elsa Kumala; Sulistiyawati, Dita; Dirman; Sagala, Mariyetha; Gusviani, Nisa Azzahra
JTSL (Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan) Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Departemen Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtsl.2026.013.1.13

Abstract

This study examines soil mesofauna and macrofauna as bioindicators of soil health and ecological integrity across three land-use systems: oil palm plantations, open lands, and bamboo forests. Land-use change increasingly threatens soil biodiversity and ecosystem functioning in tropical regions, where soil organisms are key to nutrient cycling, aggregation, and ecological resilience. Understanding how land use influences soil faunal communities is crucial for assessing belowground integrity. Despite their critical ecological roles, soil faunal indicators are rarely integrated into soil health assessments in tropical systems. Addressing this gap, this study compares soil mesofauna and macrofauna diversity across contrasting land uses to establish their potential as reliable bioindicators. Soil samples were collected from the surface layer (0–10 cm) using standardized coring under uniform topography, soil type, and climate. Systematic random sampling was applied, with mesofauna extracted using Berlese-Tullgren funnels and macrofauna extracted by manual hand-sorting following the TSBF method. Specimens were identified to the order level. Shannon-Wiener analysis showed that bamboo forests supported the most complex and functionally rich communities (mesofauna H′ = 1.498; macrofauna H′ = 0.309), followed by oil palm plantations and open lands. Acari and Collembola were dominant mesofauna sensitive to habitat quality, while Formicidae and Diplopoda reflected higher trophic and structural roles. Open lands exhibited low diversity and dominance of stress-tolerant taxa, indicating reduced ecological function. The integrated assessment of mesofauna and macrofauna provides a robust framework for evaluating soil health, highlighting vegetation complexity as a driver of nutrient cycling, aggregation, and microbial activity.
Budidaya Tumpang Sari Kopi Liberika di Kebun Sawit Desa Temiang, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis Habibah, Puan; Khoiri, M. Amrul; Efrata, Enriski; Irawan, Joni; Zafitra, Zafitra; Gusviani, Nisa Azzahra; Novi, Malinda; Pratiwi, Annisa Hasta; Perdana, Andrian; Alfi, Rahmatika
Jurnal Aplikasi Sains dan Teknologi : Agrisevika Vol. 2 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/agrisevika.v2i2.34

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat mengenai budidaya agroforestry kopi Liberika di bawah tegakan kelapa sawit dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam memanfaatkan ruang gawangan secara produktif dan berkelanjutan. Petani di Desa Temiang masih menghadapi kendala minimnya pengetahuan teknis budidaya kopi, rendahnya pemahaman agroforestry, serta tingginya kejadian penyakit tanaman pada lahan gambut. Kegiatan dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, demonstrasi lapangan, praktik langsung, serta pembahasan studi kasus. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman petani terkait teknik budidaya kopi Liberika, identifikasi penyakit, pemangkasan, sanitasi kebun, serta penerapan pengendalian hama terpadu. Peserta juga mampu menganalisis masalah lapangan secara lebih tepat dan menunjukkan motivasi lebih tinggi untuk menerapkan tumpang sari kopi–sawit. Dampak kegiatan meliputi peningkatan kapasitas teknis, kesiapan adopsi inovasi agroforestry, serta peluang penguatan ekonomi melalui diversifikasi komoditas. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil mendukung pengembangan sistem agroforestri berkelanjutan pada kebun sawit masyarakat.