Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peningkatan Pengetahuan dan Self-Efficacy Kader Posyandu dalam Melakukan Edukasi dan Pembuatan Media Edukasi Gizi Nadhiroh, Siti Rahayu; Mahmudiono, Trias; Suarilah, Ira; Hargiyanto, Ernadila Diasmarani; Azzahra, Callista Naurah; Ramadhan, Sasha Anggita; Widayani, Soraya Tri; Yusryana, Eka Anisah
Media Gizi Kesmas Vol 13 No 2 (2024): MEDIA GIZI KESMAS (DECEMBER 2024)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v13i2.2024.816-822

Abstract

Backgroud: Kangean Island is one of the islands in Sumenep Regency, Madura, East Java. Malnutrition in under-five children is still one of the main problems in the Kangean Islands. In this regard, empowering posyandu (integrated service post) cadres to carry out nutrition education independently is one of the important factors in the success of reducing this nutritional problem. Objective: This paper analyzes the effectiveness of training activities to increase the knowledge and self-efficacy of posyandu cadres on Kangean Island, Sumenep Regency. Methods: Community service was carried out on Kangean Island on July 19 and 20, 2024 in the form of two activities, namely posyandu cadre training on how to carry out nutrition education and create good nutrition education media on the first day, and the second day was a nutrition education competition jamboree. Participants were 18 posyandu cadres from four villages on Kangean Island. The activity's success was evaluated using pre- and post-test questionnaire instruments and a paired sample t-test was carried out to see the difference in the average level of knowledge and self-efficacy before and after training. In addition, from the jamboree, it can be seen to what extent the cadres can implement the training materials. Results: The average score of knowledge and self-efficacy increased after the cadre training. There was a significant difference between the pre- and post-test for the cadres' self-efficacy level in providing education and making nutritional education media (p-value 0.024). In addition, each group from each posyandu representative succeeded in becoming educators and was able to make creative nutritional education media during the cadre jamboree. Conclusion: Community service in the form of training can increase the knowledge and self-efficacy of cadres in providing nutritional education and making nutritional education media. It is hoped that cadre training to provide nutritional education and make educational media can be carried out periodically by various related institutions. Some awards can also be held to increase the enthusiasm of cadres to carry out their duties.
EFFECTIVENESS OF THE MOM UUNG BREASTMILK BOOSTER SUPPLEMENT IN ENHANCING BREASTMILK PRODUCTION AMONG WORKING AND NON-WORKING MOTHERS Mahmudiono, Trias; Rachmah, Qonita; Pratiwi, Azizah Ajeng; Rahmani, Alinda; Yusryana, Eka Anisah; Andamarai, Natasya Ayu; Agustin, Asri Meidyah
Media Gizi Indonesia Vol. 20 No. 3 (2025): MEDIA GIZI INDONESIA (NATIONAL NUTRITION JOURNAL)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgi.v20i3.289-297

Abstract

Breastfeeding provides optimal nutrition for infants and offers significant health benefits to both mother and child. However, challenges such as perceived low milk production and workplace constraints hinder breastfeeding practices among mothers. This study evaluates the effectiveness of the Mom Uung Breastmilk Booster Supplement (BBS) in enhancing breastmilk production among working and non-working mothers. Using a cross-sectional design, data were collected from 665 breastfeeding mothers in Indonesia via a validated online questionnaire. Mothers who consumed X BBS reported increased breastmilk volume, breastfeeding frequency, and pumping efficiency, with significant improvements observed in both working and non-working groups (p<0.001). Non-working mothers demonstrated higher breastmilk production compared to working mothers. Key barriers identified included perceived low milk supply (30.3%) and work-related time constraints (11.6%). The study highlights the potential of X BBS to support breastfeeding practices and underscores the need for workplace policies that promote breastfeeding. Further research is recommended to validate these findings and objectively assess the impact of BBS on breast milk quantity and quality.
Hubungan Edukasi Gizi berbasis Presentasi Oral dengan Peningkatan Pengetahuan Kader di Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean: Association Between Oral Presentation-Based Nutrition Education and Knowledge Escalation among Cadres in Arjasa Subdistrict, Kangean Island Martina Puspa Wangi; Trias Mahmudiono; Soediantoro, Ira Suarilah; Mamun , Abdullah Al; Sahila, Nur; Yuniar, Cindra Tri; Nurramadhani, Wadi'ah Hasna; Suwandiman, Farah Mumtaz; Rakhmad, Amanda Fharadita Olivia; Yusryana, Eka Anisah; Ramadhan, Sasha Anggita
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 11 (2023): November 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i11.3984

Abstract

Latar belakang: Pemeriksaan antropometri merupakan pemeriksaan non-invasif kuantitatif yang menyediakan pengkajian mengenai status gizi pada anak-anak dan orang dewasa. Pemeriksaan antropometeri yang tidak tepat dan teliti, dapat menghasilkan data yang tidak valid untuk dijadikan dasar penegakan interpretasi status gizi. Kesalahan interpretasi status gizi, akan berdampak pada tidak tepatnya terapi gizi yang diberikan pada sasaran terkait. Salah satu status gizi yang dinilai berdasarkan penilaian antropometri adalah kondisi stunting. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang terjadi dikarenakan kekurangan gizi berkepanjangan, terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan, antara lain adalah dengan memberikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang disesuaikan dengan usia sasaran. Pulau Kangean, sebagai salah satu pulau terluar di Madura, memerlukan pemberdayaan kader sebagai pihak yang menyampaikan informasi esensial berkaitan dengan kesehatan dan gizi pada sasaran. Pulau Kangean memiliki bahan makanan lokal berupa anggur laut yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar dari pembuatan PMT. Pemberian materi mengenai pengukuran antropometri dan PMT dalam bentuk presentasi oral, merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan audiens melalui pemaparan materi satu arah yang dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Tujuan: Meningkatkan kapasitas kader dalam melakukan pengukuran antropometri, terutama pengukuran tinggi badan dan panjang badan sebagai upaya skrining stunting dengan validitas yang baik. Memberikan pandangan mengenai jenis makanan tambahan yang bisa dijadikan alternatif menu makanan tumbuh kejar yang bersumber dari bahan makanan lokal yang terjangkau. Peningkatan pengetahuan kader diharapkan terjadi dengan indikasi peningkatan skor prettest dan posttest sebelum dan sesudah intervensi presentasi oral dilakukan. Metode: Intervensi diberikan secara oral dengan menggunakan Power Point dengan durasi pemberian materi selama 45 menit secara sinkronus dan 15 menit secara asinkronus. Pengukuran tingkat pengetahuan pada kader diukur dengan menggunakan pretest dan posttest yang berjumlah 15 pertanyaan, dengan 10 pertanyaan mengenai skrining antropometri tinggi badan dan panjang badan serta 5 pertanyaan mengenai PMT. Hasil: Terjadi peningkatan pengetahuan kader ditandai dengan skor posttest dan pretest yang mengalami peningkatan sebesar 11 dari 100 poin yang diberikan. Sebanyak 70% kader mengalami peningkatan pengetahuan dan 30% dari kader tidak mengalami peningkatan pengetahuan. Seluruh kader yang terlibat dalam penelitian ini tidak berhasil melampaui batas nilai minimal untuk dikatakan lulus, yaitu sebesat 70 poin dari total 100 poin yang setara dengan 6-7 soal yang terjawab benar. Rata-rata soal yang berhasil terjawab benar pada pretest adalah 3-4 soal benar. Terjadi peningkatan jumlah soal benar, yaitu sebesar 5-6 soal pada posttest yang menjadi indikasi peningkatan pengetahuan mengenai skrining antropometri dan pemberian makanan tambahan pada kader. Kesimpulan: Presentasi oral yang dilakukan dengan memaparkan materi berkaitan dengan skrining stunting dan PMT tidak dapat meningkatkan pengetahuan kader secara signifikan. Salah satu penyebab inoptimalisasi paparan presentasi yang diberikan adalah durasi paparan materi yang terlalu lama dan diskusi interaktif yang tidak berjalan dengan baik. Diperlukan pengembangan metode edukasi gizi yang lebih aplikatif dan interaktif dengan melibatkan audiens, salah satunya adalah dengan menggunakan metode emo demo dan demo secara langsung yang melibatkan partisipasi aktif dari sasaran.