Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EVALUASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR (MOUTHWASH) DARI EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) Yayuk Putri Rahayu; Gabena Indrayani Dalimunthe; Sri Wahyuni; Zulmai Rani
FORTE JOURNAL Vol 4 No 2 (2024): Edisi Juli 2024
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v4i2.875

Abstract

Ekstrak etanol daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) famili Myrtaceae yang telah diformulasikan menjadi sediaan obat kumur dan memiliki daya antibakteri, dilakukan evaluasi selama penyimpanan terhadap stabilitas mutu fisik dan aktivitas antibakteri. Evaluasi terhadap stabilitas mutu fisik dan antibak-teri sediaan obat kumur ekstrak etanol daun salam dilakukan pada suhu ruangan selama 5 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi stabilitas fisik sediaan obat kumur ekstrak daun salam serta aktivitas antibakterinya terhadap Streptococcus mutans. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan konsentrasi sediaan obat kumur ekstrak daun salam F1 2,5; F2 5; dan F3 (7,5%). Evaluasi karakteristik fisik sediaan obat kumur meliputi organoleptis (tekstur, warna, aroma, rasa), homogenitas, pemisahan fase (endapan), pH, dan daya antibakteri. Hasil karakter-istik fisik sediaan obat kumur semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun salam se-makin kuat aroma khas daun salam, dan semakin kuat rasa pahit dan kelat. Pada F1 tidak ada perubahan fisik bulan ke-0 sampai ke-5. Pada F2 dan F3 terjadi peru-bahan fisik bulan ke-1 sampai ke-3, dan stabil bulan ke-3 sampai ke-5. pH pada F1, F2, dan F3 memenuhi standar dan relatif stabil bulan ke-0 sampai ke-5. Karakteristik fisik sediaan obat kumur F1, F2, F3 tidak mengalami perubahan fisik lagi pada bulan ke-3 sampai ke-5 (bentuk cair, warna coklat muda hingga coklat tua, aroma dan rasa khas ekstrak daun salam dan mint), pH memenuhi standar, namun formula F1 lebih disukai karena tidak terlalu pahit dan tidak mengalami perubahan dari bulan ke-1 sampai ke-5. Nilai zona daerah hambat pada penyimpanan bulan ke-0 sampai ke-5 pada F1 berkisar 7,42-7,50 mm, pada F2 berkisar 8,45-8,50 mm, dan pada F3 berkisar 9,15-9,17 mm.
Pemanfaatan Daun Kelor (Moringa Oleifera) untuk Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Hipertensi Sri Wahyuni; Gabena Indrayani Dalimunthe; Ferina Septiani Damanik; Cut Intan Annisa Puteri
Jurnal Bakti Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Jurnal Bakti Nusantara
Publisher : Pustaka Media Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63763/jutira.v3i3.137

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat secara global dan nasional. Menurut World Health Organization (WHO), satu dari lima orang dewasa menderita hipertensi. Di Indonesia, prevalensi hipertensi juga mengalami peningkatan berdasarkan data Riskesdas. Salah satu upaya pengendalian hipertensi dapat dilakukan melalui terapi non farmakologi, seperti pemanfaatan daun kelor (Moringa oleifera). Namun, pengetahuan masyarakat mengenai manfaat daun kelor masih rendah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat di Desa Pulau Banyak terkait pemanfaatan daun kelor untuk pencegahan dan pengobatan hipertensi. Metode yang digunakan berupa penyuluhan dengan ceramah interaktif serta edukasi pengolahan dan konsumsi daun kelor. Daun kelor mengandung flavonoid, polifenol, kalium, dan antioksidan yang berperan dalam menurunkan tekanan darah melalui mekanisme vasodilatasi dan pengurangan stres oksidatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat. Edukasi ini menjadi strategi efektif dalam pengendalian hipertensi berbasis sumber daya lokal.