Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektivitas intervensi komunikasi terapeutik dalam menurunkan kecemasan masa depan pada pasangan suami istri yang baru menikah Vania Sonya Fauzyyah; Azni; Miftahuddin; Rahmad; Rosmita; Nurjanis
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810711700

Abstract

Kecemasan masa depan merupakan salah satu permasalahan psikologis yang banyak dialami pasangan pada fase awal perkawinan akibat berbagai ketidakpastian yang berkaitan dengan stabilitas ekonomi, keberlangsungan hubungan, serta kesiapan menjalankan peran dalam kehidupan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas komunikasi terapeutik dalam menurunkan kecemasan masa depan pada pasangan suami istri yang baru menikah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental one-group pretest–posttest. Partisipan penelitian terdiri atas delapan individu (empat pasangan suami istri) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria pasangan dengan usia pernikahan 1–5 tahun dan mengalami kecenderungan kecemasan masa depan. Data dikumpulkan menggunakan skala Future Anxiety yang telah memenuhi kriteria validitas dan memiliki reliabilitas yang sangat tinggi (Cronbach's Alpha = 0,906). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro–Wilk, Paired Sample t-test, dan analisis effect size. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kecemasan masa depan menurun dari 108,00 pada saat pretest menjadi 42,75 pada saat posttest. Hasil Paired Sample t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah intervensi (t(7) = 25,13, p < 0,001), dengan nilai effect size (Cohen's d) sebesar 14,35, yang mengindikasikan pengaruh intervensi dalam kategori sangat besar. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik efektif dalam menurunkan kecemasan masa depan sekaligus membantu pasangan mengembangkan regulasi emosi, komunikasi yang lebih suportif, serta kemampuan menghadapi berbagai ketidakpastian kehidupan perkawinan secara lebih adaptif. Hasil penelitian ini memperkuat potensi komunikasi terapeutik sebagai salah satu pendekatan intervensi dalam layanan bimbingan dan konseling keluarga untuk mendukung kesejahteraan psikologis pasangan pada fase awal perkawinan.
Peran konseling spiritual dalam proses pemulihan pasien napza di rumah sakit jiwa Nurul Pazila; Azni; Siti Hazar Sitorus; Nurjanis; Silawati
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810712100

Abstract

Proses pemulihan pasien penyalahgunaan NAPZA tidak cukup ditangani secara medis-fisik semata, tetapi memerlukan penguatan dimensi mental dan spiritual untuk mencegah kekambuhan (relapse). Penelitian ini bertujuan menganalisis peran konseling spiritual dalam membangun resiliensi dan kesadaran diri pasien, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya di Instalasi Rehabilitasi NAPZA Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tampan Provinsi Riau. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan enam informan (satu konselor, satu pembimbing keagamaan/ustadz, dan empat residen: AD, NM, EK, ZP) yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik yang diverifikasi menggunakan daftar ceklis. Hasil penelitian menunjukkan enam peran konseling spiritual, yaitu pemulihan psikologis-fisik, restorasi identitas diri, penenangan kondisi psikologis, pembangunan kesadaran diri dan motivasi, penguatan resiliensi, serta pembentukan karakter dan perubahan perilaku. Faktor pendukung meliputi sinergi institusional dan sarana, kompetensi serta empati pembimbing, dan motivasi internal residen; sedangkan faktor penghambat meliputi kendala fisiologis pascaputus zat, resistensi psikologis (self-stigma), dan fluktuasi emosional. Disimpulkan bahwa konseling spiritual berperan sebagai mekanisme koping religius yang menstabilkan emosi dan memperkuat daya tahan mental residen.