Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Bimbingan kelompok sebagai intervensi untuk meningkatkan kemandirian anak asuh di lembaga kesejahteraan sosial anak Kamilatul Maulidah; Listiawati Susanti; Miftahuddin; Rahmad; Suhaimi
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810711200

Abstract

Kemandirian merupakan kompetensi kritis bagi remaja di lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) untuk mempersiapkan transisi menuju kehidupan mandiri di masyarakat. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas layanan bimbingan kelompok dalam meningkatkan kemandirian multidimensional anak asuh. Desain penelitian menggunakan one-group pretest-posttest dengan melibatkan 15 anak asuh berusia 15-18 tahun dari LKSA As-Shohwah Pekanbaru yang dipilih melalui purposive sampling. Intervensi terdiri dari enam sesi bimbingan kelompok yang mengintegrasikan diskusi kelompok, refleksi diri, dan peer learning untuk mengembangkan tiga dimensi kemandirian: emotional autonomy, behavioral autonomy, dan value autonomy. Data dikumpulkan menggunakan instrumen skala Likert dengan 23 item sebelum dan sesudah intervensi. Analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test karena data posttest tidak memenuhi asumsi normalitas. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemandirian anak asuh (Z = −2.714, p = 0.007) dengan ukuran efek besar (r = 0.701). Rerata skor kemandirian meningkat dari 92.13 pada pretest menjadi 98.00 pada posttest. Temuan ini mengindikasikan bahwa bimbingan kelompok yang terstruktur mampu menjadi strategi intervensi yang efektif dan praktis untuk mengembangkan kemandirian pada anak asuh di LKSA. Implikasi praktis mencakup integrasi bimbingan kelompok dalam program pengasuhan rutin, pengembangan kapasitas fasilitator, dan kolaborasi lintas institusi untuk mendukung persiapan transisi anak asuh menuju kehidupan mandiri. Penelitian ini memberikan bukti empiris pada literatur tentang intervensi psikoedukatif berbasis kekuatan untuk anak-anak yang mengalami deprivasi keluarga.
Group counseling services in reducing anxiety levels among drug rehabilitation residents: a humanistic qualitative inquiry Nabilatul Urfah; Rahmad; Miftahuddin; Listiawati Susanti; Suhaimi
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810711400

Abstract

Anxiety is a common psychological challenge experienced by residents undergoing drug rehabilitation, often hindering engagement in treatment and increasing vulnerability to relapse. Although group counseling is widely implemented in rehabilitation settings, limited qualitative evidence explains how residents experience this intervention and the mechanisms through which it alleviates anxiety. This qualitative descriptive study aimed to explore how group counseling services contribute to anxiety reduction among residents in a drug rehabilitation facility. Guided by a humanistic counseling perspective, the study involved one addiction counselor and five rehabilitation residents selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews and analyzed using Miles, Huberman, and Saldaña’s interactive analytic framework involving open, axial, and selective coding. Methodological integrity was enhanced through source triangulation and member checking. The findings revealed five interconnected themes: (a) multifaceted manifestations of anxiety related to rehabilitation, future uncertainty, family relationships, social stigma, and psychological distress; (b) a developmental process from fear and reluctance toward acceptance and authentic participation in group counseling; (c) the central role of counselor empathy, unconditional positive regard, and psychological safety in facilitating therapeutic change; (d) psychological and interpersonal improvements reflected in reduced anxiety, stronger emotional regulation, and increased self-confidence; and (e) residents’ recommendations for strengthening counseling programs through more collaborative and humanistic practices. Demographic patterns further indicated that younger residents were more concerned about social stigma and peer judgment, whereas residents with repeated rehabilitation experiences expressed more complex anxiety associated with relapse and unmet expectations. These findings demonstrate that anxiety reduction is a multidimensional process shaped by the interaction of therapeutic relationships, peer support, psychological safety, and residents’ readiness for change. The study contributes practical implications for counseling practice, rehabilitation policy, and future qualitative research on substance use recovery.
Makna pengalaman residen dalam bimbingan keterampilan vokasional pada rehabilitasi narkoba: sebuah studi fenomenologi Maudi Nanda Fitri; Rahmad; Suhaimi; Rosmita; Nurjanis
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810711500

Abstract

Penyalahgunaan narkoba tidak hanya menimbulkan dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologis, tetapi juga menghambat kesiapan individu untuk kembali menjalankan fungsi sosial setelah menjalani rehabilitasi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pelaksanaan bimbingan keterampilan vokasional pada residen rehabilitasi narkoba di Instalasi NAPZA Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan terdiri atas seorang konselor sebagai informan kunci dan beberapa residen yang mengikuti program bimbingan keterampilan vokasional sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis data interaktif melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan bimbingan keterampilan vokasional berlangsung melalui tiga tahapan utama, yaitu identifikasi kebutuhan residen, pelaksanaan pelatihan keterampilan sesuai potensi dan minat, serta evaluasi perkembangan peserta. Program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan praktis residen, tetapi juga mendorong tumbuhnya kedisiplinan, tanggung jawab, rasa percaya diri, kemampuan memanfaatkan waktu secara produktif, serta kesiapan untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa bimbingan keterampilan vokasional merupakan bagian penting dari rehabilitasi sosial yang mendukung proses pemulihan secara lebih komprehensif melalui penguatan kapasitas personal dan kesiapan kerja residen. Hasil penelitian memberikan implikasi bagi pengembangan layanan bimbingan dan konseling di lembaga rehabilitasi dengan menempatkan pelatihan vokasional sebagai strategi yang terintegrasi dalam mendukung reintegrasi sosial dan keberlanjutan pemulihan residen.
Konseling kelompok sebagai upaya preventif dalam meningkatkan pemahaman bahaya pornografi pada remaja panti asuhan Kanaya Sabilla; Rahmad; Suhaimi; Rosmita; Nurjanis
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810711600

Abstract

Paparan pornografi pada remaja menjadi tantangan yang dapat memengaruhi perkembangan psikologis, perilaku, dan pembentukan karakter. Remaja yang tinggal di panti asuhan memerlukan upaya preventif melalui layanan konseling kelompok untuk meningkatkan pemahaman mengenai bahaya pornografi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan konseling kelompok dalam memberikan pemahaman tentang bahaya pornografi pada remaja di Panti Asuhan Kasih Ibu Bangkinang Kota. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Partisipan terdiri atas seorang konselor dan empat remaja yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Kredibilitas data dijaga melalui triangulasi dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum mengikuti konseling kelompok, remaja memiliki pemahaman yang terbatas mengenai bahaya pornografi dan kurang terbuka membahas isu seksualitas. Pelaksanaan konseling berlangsung melalui tahap pembentukan, peralihan, kegiatan, dan pengakhiran dengan metode diskusi, tanya jawab, dan berbagi pengalaman. Konseling kelompok meningkatkan pemahaman, kesadaran, serta kemampuan remaja dalam mengendalikan diri dan menggunakan media digital secara lebih bijaksana. Keberhasilan layanan didukung oleh kompetensi konselor, dinamika kelompok yang kondusif, dan dukungan pihak panti, sedangkan hambatan utama meliputi rasa malu, rendahnya kepercayaan diri, dan perbedaan tingkat keterbukaan peserta. Temuan ini menegaskan bahwa konseling kelompok merupakan layanan preventif yang efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja mengenai bahaya pornografi.
Efektivitas intervensi komunikasi terapeutik dalam menurunkan kecemasan masa depan pada pasangan suami istri yang baru menikah Vania Sonya Fauzyyah; Azni; Miftahuddin; Rahmad; Rosmita; Nurjanis
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810711700

Abstract

Kecemasan masa depan merupakan salah satu permasalahan psikologis yang banyak dialami pasangan pada fase awal perkawinan akibat berbagai ketidakpastian yang berkaitan dengan stabilitas ekonomi, keberlangsungan hubungan, serta kesiapan menjalankan peran dalam kehidupan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas komunikasi terapeutik dalam menurunkan kecemasan masa depan pada pasangan suami istri yang baru menikah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental one-group pretest–posttest. Partisipan penelitian terdiri atas delapan individu (empat pasangan suami istri) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria pasangan dengan usia pernikahan 1–5 tahun dan mengalami kecenderungan kecemasan masa depan. Data dikumpulkan menggunakan skala Future Anxiety yang telah memenuhi kriteria validitas dan memiliki reliabilitas yang sangat tinggi (Cronbach's Alpha = 0,906). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro–Wilk, Paired Sample t-test, dan analisis effect size. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kecemasan masa depan menurun dari 108,00 pada saat pretest menjadi 42,75 pada saat posttest. Hasil Paired Sample t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah intervensi (t(7) = 25,13, p < 0,001), dengan nilai effect size (Cohen's d) sebesar 14,35, yang mengindikasikan pengaruh intervensi dalam kategori sangat besar. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik efektif dalam menurunkan kecemasan masa depan sekaligus membantu pasangan mengembangkan regulasi emosi, komunikasi yang lebih suportif, serta kemampuan menghadapi berbagai ketidakpastian kehidupan perkawinan secara lebih adaptif. Hasil penelitian ini memperkuat potensi komunikasi terapeutik sebagai salah satu pendekatan intervensi dalam layanan bimbingan dan konseling keluarga untuk mendukung kesejahteraan psikologis pasangan pada fase awal perkawinan.
Pengaruh konseling individu terhadap regulasi emosi klien rehabilitasi penyalahgunaan narkoba Amelia Lestari; Listiawati Susanti; Yasril Yazid; Nurjanis; Rahmad
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810711800

Abstract

Penyalahgunaan narkoba tidak hanya menimbulkan ketergantungan fisik, tetapi juga berdampak terhadap terganggunya kemampuan regulasi emosi yang berperan penting dalam keberhasilan proses rehabilitasi. Konseling individu dipandang sebagai salah satu intervensi psikologis yang berpotensi membantu klien mengembangkan kemampuan mengelola emosi secara lebih adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konseling individu terhadap regulasi emosi pada pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Narkoba Rumah Sarasehan Pekanbaru. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei eksplanatori. Sebanyak 30 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi linear sederhana dengan bantuan IBM SPSS Statistics versi 23. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling individu berpengaruh positif dan signifikan terhadap regulasi emosi (β = 0,871; t = 9,375; p < 0,001). Model regresi yang dihasilkan juga signifikan (F = 87,896; p < 0,001) dengan koefisien determinasi (R² = 0,758), yang menunjukkan bahwa konseling individu mampu menjelaskan 75,8% variasi regulasi emosi responden. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin baik kualitas layanan konseling individu yang diterima klien, semakin tinggi kemampuan mereka dalam mengelola respons emosional selama menjalani rehabilitasi. Penelitian ini menegaskan bahwa konseling individu merupakan intervensi psikologis yang efektif untuk mendukung peningkatan regulasi emosi pada pecandu narkoba serta memberikan implikasi praktis bagi penguatan layanan bimbingan dan konseling dalam program rehabilitasi penyalahgunaan narkoba.