Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Makna Simbolik dalam Tradisi Pernikahan Masyarakat Ulu di Kabupaten Ogan Ilir: Perspektif Filsafat Ilmu dan Pendidikan Agama Islam Agus Jaya; Reli Sulyani
TAUJIH: Jurnal Pendidikan Islam Vol 6 No 01 (2024): Taujih: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIQI Al-Qur'an Al-Ittifaqiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/taujih.v6i01.1039

Abstract

In this village, there are unique traditions in wedding customs, such as muteske rasan, sedekah ngocek bawang, and various cultural practices in the marriage process, including tepak, pinang dabung, and mokun. The entire series of traditions must be carried out by both families of the bride and groom. A symbol represents something that is used to refer to something else based on societal agreement. The use of symbols contains important values, such as culture, morals, and ethics, which must be passed down to future generations to ensure their preservation as part of local wisdom that should be understood by all layers of society. This study employs a literature review method by collecting various references from books and documentation, as well as conducting interviews to understand the phenomena occurring in the field. The data is analyzed using document studies with a descriptive-analytical approach. In understanding this culture, the research is conducted through the perspectives of philosophy, religion, and culture. The results of the study indicate that the symbols of tepak, pinang dabung, and mokun are part of wedding traditions originating from human ideas and materialized into symbolic objects with philosophical meanings. These symbols reflect the behavioral patterns of the community. From a religious perspective, these symbols are considered acceptable and do not contradict Islamic teachings, as their meanings align with religious values. Thus, culture, which is born from human thought, remains in harmony with religious teachings. Essentially, philosophy, culture, and religion are interconnected and would be incomplete without one another.
Eksistensi Tanah Sebagai Simbol Kehidupan dan Kebangkitan dalam Al-Qur`an Hasyim , Mansuri; Hakim, Lukmanul; Almi, Muhammad; Syabil, Zafran; Reli Sulyani
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i2.1057

Abstract

Artikel ini mengkaji eksistensi tanah sebagai simbol kehidupan dan kebangkitan dalam Al-Qur’an, berdasarkan penafsiran terhadap ayat-ayat pilihan, yaitu QS. Al-Hijr ayat 26, QS. Ar-Rahman ayat 14, dan QS. Ar-Ra’d ayat 5. Tanah tidak hanya berfungsi sebagai bahan dasar penciptaan manusia, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya kehidupan, sarana keberlangsungan ekosistem, serta pengingat akan asal-usul dan akhir kehidupan manusia. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis, yang bertujuan untuk menggali makna ayat-ayat Al-Qur’an tentang eksistensi tanah serta menelusuri bagaimana para mufasir klasik dan kontemporer menafsirkannya. Melalui pendekatan Tafsir An-Nur, Tafsir Al-Azhar, dan Tafsir Al-Misbah, artikel ini menjelaskan bahwa tanah diciptakan tidak hanya sebagai unsur fisik, tetapi juga sebagai manifestasi kekuasaan Allah yang menjadi tanda kebesaran-Nya. Tanah menjadi media kehidupan sekaligus simbol kebangkitan, sebagaimana Allah menghidupkan tanah yang mati sebagai bukti bahwa Dia berkuasa menghidupkan kembali manusia pada hari kiamat. Kajian ini menegaskan bahwa penciptaan tanah mengandung pesan spiritual, ekologis, dan ilmiah yang mendorong manusia untuk senantiasa merenungkan kebesaran dan keesaan Allah Swt. Dengan menggabungkan perspektif keimanan dan ilmu pengetahuan, artikel ini menawarkan pemahaman baru tentang keterkaitan antara wahyu dan sains dalam memaknai ciptaan Tuhan. Kata kunci: Eksistensi, Tanah, Kehidupan, Kebangkitan, Al-Qur’an.
Transmisi Keilmuan dan Jaringan Ulama Tafsir Al-Qur’an Sumatera Selatan Abad 18-20 H Reli Sulyani; Muhajirin; Nyimas Umi Kalsum; M. Riyan Hidayat
Contemporary Quran Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ttgvks03

Abstract

Penelitian ini mengkaji tradisi tafsir Al-Qur’an di Sumatera Selatan dengan fokus pada pola transmisi keilmuan, manuskrip lokal, dan genealogi intelektual ulama tafsir dari abad ke-18 hingga abad ke-20 Masehi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pola transmisi keilmuan tafsir dari ulama Timur Tengah ke ulama lokal Sumatera Selatan, bagaimana manuskrip tafsir lokal mencerminkan tradisi penafsiran yang adaptif terhadap konteks sosial-budaya, serta peran genealogi intelektual ulama dalam membentuk jaringan transmisi keilmuan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif historis-hermeneutik, memadukan analisis filologi dan studi jaringan intelektual. Data diperoleh dari manuskrip tafsir lokal, termasuk karya Masagus Muzammil, Ahmad al-Habsyi, dan KH. Fahrurrozi Seribandung, serta dokumen sejarah terkait ulama dan Kesultanan Palembang. Analisis menelusuri pola penyebaran tafsir, struktur jaringan guru-murid, serta karakteristik tekstual dan fisik manuskrip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transmisi keilmuan berlangsung melalui jaringan guru-murid yang terstruktur antara ulama lokal dan ulama dari Aceh, Hadramaut, dan Haramain. Manuskrip lokal menggunakan bahasa Melayu Palembang dan aksara Jawi, menunjukkan adaptasi terhadap konteks lokal, sedangkan karya KH. Fahrurrozi mempertahankan bahasa Arab untuk menjaga otoritas klasik. Genealogi intelektual ulama membentuk jaringan luas yang memungkinkan pengetahuan tafsir ditransmisikan lintas generasi dan menjaga kontinuitas tradisi keilmuan, bahkan tanpa selalu menghasilkan karya tulis baru. Temuan ini menegaskan bahwa tradisi tafsir Sumatera Selatan menampilkan perpaduan antara konservasi otoritas klasik dan adaptasi lokal, sekaligus memperlihatkan kapasitas ulama dalam membangun jaringan epistemik yang kokoh dan berkelanjutan.