Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Menghindari Kosmetika Palsu Secara Organoleptik Soraya Ratnawulan Mita; Patihul Husni; Insan Sunan Kurniawansyah
Majalah Farmasetika Vol 2, No 1 (2017): Vol. 2, No. 1, Tahun 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.81 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v2i1.12688

Abstract

Setiap hari manusia dipastikan menggunakan kosmetika, dimulai dari mandi pagi sampai saat akan tidur di malam hari. Macam kosmetika pun semakin beragam. Kosmetika selalu digunakan hampir setiap hari, sehingga perlu pemahaman mengenai bahaya dari penggunaan kosmetika yang tidak baik. Setiap kosmetika yang dibuat dan/atau diedarkan wajib memenuhi persyaratan keamanan, manfaat, mutu, penandaan, dan klaim; dan dinotifikasi kepada Kepala BPOM, dan wajib dilakukan penarikan dari peredaran bila tidak memenuhi persyaratan. Oleh karenanya, dalam mini review artikel ini akan dijelaskan bagaimana cara menghindari kosmetika palsu secara organoleptik. Kata kunci: kosmetika palsu, organoleptik 
HUMAN CATHELICIDIN ANTIMICROBIAL PEPTIDE LL-37 AS AN ANTIBACTERIA, ANTIFUNGAL, ANTIVIRAL AND WOUND HEALING AGENT DEA DIAN NURHIKMAH; Insan Sunan Kurniawan Syah
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.137 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17512

Abstract

LL-37 is a cathelicidin-derived peptide in human. This protein contains two helical regions, an unstructured C-terminal tail and a cathionic amphiphatic charge.  This review described the functions of human cathelicidin antimicrobial peptide LL-37. Cathelicidin peptides were shown to have some functions like to kill bacteria by distrupting the bacterial membranes of Staphylococcus aureus, Micrococcus luteus and Salmonella gastroenteritis, fungicidal against Candida albicans and Aspergillus sp , and work as antiviral agent against vaccinia virus by direct disruptive action on the viral envelope. Besides its antimicrobial effects, cathelicidins also play a role in wound healing through direct interaction or stimulation of the immune system, stimulating angiogenesis and re-epitheliazation. From the studies, it showed that LL-37 is a potential protein for the development of new drugs in the future.
Review Artikel : Penggunaan Favipiravir Pada Pasien COVID-19 NISA AYU AMALIA; Insan Sunan Kurniawan Syah
Farmaka Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i3.34832

Abstract

Wabah infeksi severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) menyebabkan penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) yang terjadi pada akhir Desember 2019 dan menyebar dengan cepat ke seluruh dunia serta berdampak kritis pada sistem kesehatan masyarakat. Gejala klinis COVID-19 meliputi gejala pernafasan, demam, batuk, dispnea, dan pneumonia. Belum ada obat antivirus khusus yang disetujui untuk pengobatan COVID-19. Sejumlah antivirus yang telah disetujui dan dipasarkan sedang diuji untuk digunakan kembali, termasuk Favipiravir. Favipiravir adalah RNA-dependent RNA polymerase (RdRp) inhibitor dan telah dilaporkan menargetkan SARS-CoV-2 RdRp sehingga menghambat replikasi virus. Review artikel ini bertujuan untuk mengetahui efikasi terapi Favipiravir dalam pengobatan pasien COVID-19. Hasil review menunjukkan adanya efikasi terapi berupa perbaikan klinis yang signifikan pada pasien yang diberikan Favipiravir dibandingkan antivirus lainnya yang dipantau selama 7 hari sampai 14 hari selama rawat inap. Selain itu, terjadi klirens virus dalam 7 sampai 14 hari selama rawat inap dan terdapat perbaikan gejala seperti penurunan demam dan batuk.
A REVIEW: THE NATURAL ANTIOXIDANT ACTIVITY OF BLACK MULBERRY AND ITS OTHERS FUNCTION ANDRIATI KHOERUNNISA; Insan Sunan Kurniawansyah
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.754 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17557

Abstract

Antioxidants are compounds that can be synthetic or natural products. These compounds have a mechanism which suppresses or delays the oxidation process of other molecules because of free radicals. Free radicals such as reactive oxygen species (ROS) are produced during cellular metabolism and environmental such as heavy metal ions, cigarette smoke. Natural antioxidants have been developed from several parts of the plants which contain flavonoids, phenolic acids, tannins, quinones and other phenolic compounds. One of the many plants examined for its antioxidant activity is black mulberry (Morus nigra L.). Black mulberry is known for their high content of phenolic compound. Thus have high antioxidant activity. This review attempt to focus on the relationship between antioxidant activity of black mulberry and composition of phytochemicals, especially phenolic compounds in black mulberry and to explore other potential functions of black mulberry in medicinal uses.
Penentuan Tingkatan Jaminan Sterilitas pada Autoklaf dengan Indikator Biologi Spore Strip Insan Sunan Kurniawansyah
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.122 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.8542

Abstract

Proses sterilisasi termal menggunakan uap jenuh di bawah tekanan berlangsung di suatu bejana yang disebut autoklaf, dan merupakan proses sterilisasi yang paling banyak dilakukan. Suatu siklus autoklaf yang ditetapkan dalam farmakope untuk media atau pereaksi adalah selama 15 menit pada suhu 121 0C kecuali dinyatakan lain. Autoklaf yang sederhana menggunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf. Dengan autoklaf sederhana ini, tekanan dan temperatur diatur dengan jumlah panas dari api. Kelemahan autoklaf ini adalah bahwa perlu penjagaan dan pengaturan panas secara manual, selama masa sterilisasi dilakukan. Pada penelitian ini dilakukan pengujian menggunakan indikator biologi spore strip terhadap proses sterilisasi dengan variasi waktu pemaparan berdasarkan nilai D. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa waktu pemaparan proses sterilisasi untuk mencapai Tingkatan Jaminan Sterilitas dari autoklaf yang digunakan bisa dicapai dalam waktu 12 menit, yang ditunjukkan dengan tidak adanya pertumbuhan mikroorganisme pada media uji.Kata kunci : autoklaf, indikator biologi, sterilisasi, tingkatan jaminan sterilitas.
PELATIHAN PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MEMILIH OBAT MATA BAGI TENAGA KESEHATAN DESA CILAYUNG KECAMATAN JATINANGOR Insan Sunan Kurniawansyah
Dharmakarya Vol 7, No 4 (2018): Desember
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.916 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v7i4.19693

Abstract

Obat mata merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat di perlukan untuk mengatasi suatu keluahan atau gejala dan untuk pemeliharaan serta meningkatkan kesehatan mata. Dengan jumlah obat yang banyak dijual di Indonesia dan berbagai promosi yang ditawarkan serta di tunjang dengan mudahnya toko untuk menjual obat tersebut, dengan begitu masyarakat mudah sekali untuk mengonsumsi obat yang dijual di toko tanpa konsultasi dan peresepan dokter. Lebih dari 60% masyarakat mempraktekkan pengobatan mandiri dan lebih dari 80% di antara mereka mengandalkan obat modern sehingga jika penggunaannya salah, tidak tepat, tidak sesuai dengan takaran dan indikasinya akan membahayakan pengguna, dan jika hal itu benar akan menjadi hal yang luar biasa dalam tingkat pemeliharaan kesehatan sehingga dapat meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat. Pengetahuan mengenai penggunaan obat mata yang rasional merupakan salah satu usaha peningkatan kesehatan mata, mencegah kecelakaan mata, melakukan pertolongan pertama bila ada benda asing di mata, mengenal tanda-tanda atau bahaya kerusakan mata dan memahami pemberian obat mata. Obat mata jarang sekali di edukasikan kepada masyarakat sehingga pengetahuan masyarakat menjadi kurang akan hal tersebut, oleh karena itu dilakukan pelatihan dan peningkatan pengetahuan tentang penggunaan obat mata kepada masyarakat Desa Cilayung agar nantinya mampu mempertimbangkan promosi iklan obat di pasaran dan mengelola obat di rumah secara benar. Kegiatan dilakukan berupa penyuluhan dan pelatihan mengenai penggunaan obat mata yang rasional kepada masyarakat di desa tersebut, yang pelaksanaannya dimulai dari pembuatan materi penyuluhan, sosialisasi kepada aparat desa dan masyarakat, pembentukan kelompok sasaran kegiatan, penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat serta pemantauan dan evaluasi hasil kegiatan PPM. Kegiatan ini dilaksanakan berkaitan dengan Program  Pengabdian pada Masyarakat Universitas Padjadjaran. Kegiatan ini juga melibatkan kerjasama dengan mahasiswa KKN, unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan kader masyarakat Desa Cilayung Jatinangor.
Ophthalmic release of in situ gel Ciprofloxacin HCl based on combination of Hypromellose and HPC Yoga Windhu Wardhana; Wieke Budiati; Rizky Dwi Oktavia; Kalista Tritama Widyanti; Insan Sunan Kurniawansyah; Yedi Herdiana
Indonesian Journal of Pharmaceutics Vol 3, Issue 3, Sept - Dec 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran (Unpad)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/idjp.v3i3.36140

Abstract

The development for ophthalmic delivery was purposed to achieve optimum drug loading for ocular therapeutic benefits. An adequate dose of the drug is needed to absorb in the conjunctival sac to take effect. In situ gel preparation was expected to provide these needs with the polymer aid that makes the droplets suddenly coagulate in the eye area to maintain the drug dose. The in situ gel dosage form is desired to overcome the poor bioavailability of conventional ciprofloxacin HCl eye drops on the market. Thus, this work was studied using two cellulose polymers such as hydroxyl propyl cellulose (HPC) and hydroxypropyl methylcellulose (HMPC) as a gelling forming agent.  The effect of the in situ ophthalmic quality of the gel due to the two individual polymers separately and their combined use was investigated. The in situ gel quality includes the ability of gel-forming under the influence of varying temperature and stirring frequency difference (as a rheological study) was tested together with the drug release model model. Other ophthalmic preparation quality parameters such as clarity, pH measurement, drug content determination, sterility, and antibacterial activity have been evaluated. However, overall in situ gel formulation developed was of better quality compared to the conventional one. Consideration of the choice of cellulose derivative polymer type is seen to affect the quality of controlled release kinetics models.Keywords: Ophthalmic gel, Ciprofloxacin HCl, HPMC, HPC, Drug release kinetics 
REVIEW ARTIKEL: STUDI KOMPARASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PHOSPHATE BINDER PADA PENGOBATAN PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) Guspira, Yunitasya; Syah, Insan Sunan Kurniawan
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.46876

Abstract

Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis merupakan penyakit yang mengalami kenaikan jumlah kasus serta dianggap permasalahan yang gawat. Kondisi CKD menyebabkan gangguan keseimbangan elektrolit seperti hiperfosfatemia. Hiperfosfatemia didefinisikan sebagai gangguan metabolisme mineral pada pasien CKD. Fosfat adalah jenis mineral yang sering terganggu metabolismenya diantara komplikasi CKD yang perlu menjadi perhatian khusus karena berperan tinggi pada morbiditas dan mortalitas. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah perbandingan efektivitas adanya terapi tambahan phosphate binder ke dalam regimen pengobatan CKD. Metode yang digunakan adalah penelaahan beberapa literatur melalui Google Scholar dan Pubmed mengenai literatur atau tulisan yang menjelaskan penambahan phosphate binder pada pasien CKD. Disimpulkan bahwasanya phosphate binder yang paling efektif dengan dilihat dari penurunan kadar fosfat yang signifikan yaitu sevelamer, namun tetap dikembalikan terhadap kondisi individu.Kata Kunci: Chronic Kidney Disease (CKD), hiperfosfatemia, phosphate binder
Optimization Matrix Formulas Using Hypromellose and Carboxymethylcellulose Sodium for Metformin HCl Extended Release Caplets Andrie, Agus; Kurniawan Syah, Insan Sunan; Chaerunisaa, Anis Yohana
Indonesian Journal of Pharmaceutics Vol 5, Issue 3, Sept - Dec 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran (Unpad)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/idjp.v5i3.53135

Abstract

The first-line pharmacological therapy in type II diabetes patients in people who are overweight and have normal kidney function is metformin. However, metformin with immediate release has been found to have some weaknesses, namely that a maximum dose of 2,000 mg/day requires use 2 to 3 times a day, which leads to a potential patient's non-compliance, in addition to causing disorders in the intestinal tract. To overcome this problem, a formulation was developed that was modified with extended release using the direct compressed method. This study aims to determine the influence of variations in the concentration of hypromellose and carboxymethylcellulose natrium (Na-CMC) matrices in the extended-release of metformin HCl 500 mg to obtain an optimal and similar extended-release system capsule formula to the originator drug, as well as to prove the quality of the selected formula through stability monitoring. This research is expected to produce the optimum formula for metformin HCl capsules extended release and can be applied in the pharmaceutical industry into commercial products.Keywords: Diabetes, Metformin HCl, Extended release, Direct compressed,                     Hypromellose, Carboxymethylcellulose natrium.