Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Effect of Carrageenan as Gelling Agent on Tocopherol Acetate Emulgels Rosmiati, Meiti; Abdassah, Marline; Yohana Chaerunisaa, Anis
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.722 KB) | DOI: 10.24198/ijpst.v5i1.14280

Abstract

Vitamin E (Tocopherol acetate) is used in both oral and topical dosage.  The aim of  the research was to study  different concentration of Carrageenan, as gelling agent in Tocopherol acetate Emulgels.  This experimental study was initiated by emulgel formulation using different concentration of carrageenan as gelling agent, as much as 0,5% (F1), 0,75% (F2), 0,85% (F3), 0,95 % (F4), 1% (F5), 1,125% (F6), 1,25% (F7), 1,5% (F8) and 2% (F9).  Tween 20 and Span 20 were used as emulsifiers (1 and 1,5 %),  Liquid paraffin as oily phase (7,5%), Propylen glycol as humectant (10%), propyl and methyl paraben as antimicrobial preservative (0,01% and 0,03%). The physical investigation of emulgel were included pH, spreading test, viscosity and freeze thawtest. The results for promising formula F5 showed that physical parameters of emulgels were in the range of requirement for topical dosage form. Keywords: Tocopherol acetate (Vitamin E), emulgels, carrageenan
Antioxidant Activity of Combination Ethanol Extract of Turmeric Rhizome (Curcuma Domestica Val) and Ethanol Extract of Trengguli Bark (Cassia Fistula L) with DPPH Method Triyono, Triyono; Yohana Chaerunisaa, Anis; Subarnas, Anas
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.508 KB) | DOI: 10.24198/ijpst.v5i3.14764

Abstract

Turmeric rhizome (Curcuma domestica Val) and Trengguli bark (Cassia fistula L) contain antioxidant compounds which can be determined by 1,1-Diphenyl-2- Pycrylhydrazyl (DPPH) free radical inhibition method. This research was conducted to determine DPPH free radical inhibition by ethanol extract of turmeric rhizome, the ethanol extract of trengguli bark, and a combination of turmeric rhizome extract - trengguli bark extract (1:1,5) with ascorbic acid as a comparison. Identification of secondary metabolite classes is performed by phytochemical screening. Antioxidant activity was performed by inhibition of free radical color of DPPH using UV-Vis spectrophotometry. The study showed IC50 value of ascorbic acid, as a comparasion, is 3,14 μg/mL. While ethanol extract of trengguli bark has the best antioxidant activity with IC50 value 10,98 μg/mL compare to combination ethanol extract of turmeric rhizome - trengguli bark (1 :1,5) and ethanol extract of turmeric rhizome with IC50 value is 13,70 μg/mL and 41,95 μg/mL, respectively.Keywords: Antioxidant, Curcuma domestica, Cassia fistula, DPPH Method
Isolation and Phisicochemical Characterization of Microcristalline Cellulose from Ramie (Boehmeria nivea L. Gaud) Based on Pharmaceutical Grade Quality Nawangsari, Desy; Yohana Chaerunisaa, Anis; Abdassah, Marline; Sriwidodo, Sriwidodo; Rusdiana, Taofik; Apriyanti, Linda
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.191 KB) | DOI: 10.24198/ijpst.v5i3.15040

Abstract

Microcrystalline cellulose is the most used material for medicine, which able to be found in fibrous plants. Microcrystal celluloses are being used as filler or binder in dosage formulas in tablets and capsules. This research aimed to produce microcrystalline cellulose from ramie based on pharmaceutical grade parameters. Research method include hemp fiber preparation, α-cellulose isolation, microcrystalline cellulose production, and microcrystalline cellulose characterization which compare with Avicel® PH 102 . Result shown microcrystalline cellulose yield is 57.26%. The result of physicochemical characterization that can comply the specifications of pharmaceutical grade as a pharmaceutical excipient.  Keywods :  Microcrystalline cellulose, Ramie, physicochemical, pharmaceutical grade.
Isolation And Characterization of Physicochemical Properties of Mucilago Gedi Leaf (Abelmoschus manihot L. Medik) Rindengan, Elvie Rifke; Abdassah, Marline; Chaerunisaa, Anis Yohana
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.952 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v5i3.16744

Abstract

The aim of this research was to isolation of mucilage from gedi leaf (Abelmoschus manihot L. Medik) and characterized physicochemical properties. The isolation result was yellowish brown powder that swelling and dissolves slowly in water, but does not dissolve in ethanol, methanol, acetone and ether. The yield is 1.33%. Swelling index value 100% and viscosity 28 ± 2.65 mpas, pH 7.1. Proximate analysis showed 10.46% water content, 38.80% ash, 14.66% protein, 0.69% fat, 35.38% carbohydrate Water holding capacity (WHC) and  oil holding capacity (OHC) of musilago are respectively 4.23 ± 0.18 and 0.65 ± 0.14. Viscosity, Swelling index, WHC and OHC mucilage gedi leaf  may be considered as pharmaceutical excipients.Keywords: Mucilage, Abelmoschus manihot, swelling, viscosity
Formulasi Tablet dengan Bahan Aktif Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia: Review Adrian Suparman; Yasmiwar Susilawati; Anis Yohana Chaerunisaa
Majalah Farmasetika Vol 6, No 3 (2021): Vol. 6, No. 3, Tahun 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v6i3.32259

Abstract

Penggunaan tumbuhan obat sebagai bahan aktif pada sediaan obat herbal telah banyak digunakan baik untuk upaya preventif, promotif dan kuratif. Sediaan obat herbal telah banyak digunakan oleh masyarakat dengan berbagai macam jenis dan bentuk sediaan. Salah satu bentuk sediaan obat, termasuk sediaan obat herbal, yang banyak dibuat dan digunakan adalah sediaan tablet, dimana keunggulan sediaan tablet adalah dosisnya yang tepat, stabil dalam penyimpanan, dan penggunaannya yang praktis. Review ini bertujuan untuk mengumpulkan literatur mengenai formulasi sediaan tablet dengan bahan aktif ekstrak tumbuhan di Indonesia. Pustaka primer yang digunakan pada review ini adalah jurnal mengenai formulasi tablet dengan bahan tumbuhan herbal Indonesia dengan rentang waktu publikasi antara tahun 2010-2020. Review disajikan dalam bentuk tabel yang berisi rangkuman dari Pustaka yang digunakan dan pembahasan dari hasil review. Dalam review juga dicantumkan mengenai metode dan eksipien yang digunakan pada masing-masing tumbuhan. Dari hasil review diketahui bahwa metode yang paling banyak digunakan adalah metode granulasi basah karena sifat granul yang dihasilkan lebih baik. Namun pemilihan metode disesuaikan dengan sifat ekstrak dan eksipien yang akan digunakan. Review ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti maupun penulis dalam melakukan penelitian mengenai formulasi dengan bahan aktif ekstrak.
Penggunaan Polimer Golongan Polisakarida untuk Enkapsulasi Zat Aktif dengan Perbedaan Sifat Keasaman Siska Sari Marvita; Anis Yohana Chaerunisaa; Dolih Gozali
Majalah Farmasetika Vol 6, No 4 (2021): Vol. 6, No. 4, Tahun 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v6i4.34525

Abstract

Obat merupakan zat aktif yang bersifat asam atau basa. Beberapa zat aktif memiliki stabilitas yang rendah dan pelepasan obat yang kurang terkontrol. Masalah ini dapat diatasi dengan mengenkapsulasi zat aktif tersebut menggunakan polimer bersifat biodegradable, salah satunya polimer golongan polisakarida yang telah banyak digunakan seperti alginat, kitosan, pektin, dan selulosa. Enkapsulasi zat aktif telah menghasilkan banyak sifat penting seperti penghantaran obat lepas lambat atau terkontrol, peningkatan stabilitas, dan peningkatan bioavailabilitas sehingga dapat meningkatkan kesesuaian untuk aplikasinya. Artikel ini dibuat dengan menggunakan metode pencarian referensi secara online yang berasal dari free database “sciencedirect.com” dari tahun 2012 – 2021. Artikel ini akan membahas beberapa penggunaan polimer golongan polisakarida untuk ekapsulasi zat aktif dengan perbedaan sifat keasaman. Berdasarkan beberapa data penelitian yang terkumpul, membuktikan keberhasilan polimer polisakarida dalam mengenkapsulasi zat aktif yang bersifat asam dan basa. Parameter keberhasilan yang dinilai dalam artikel ini untuk enkapsulasi zat aktif adalah nilai efisiensi enkapsulasi dan pelepasan obat. Zat aktif yang bersifat asam cenderung memiliki efisiensi enkapsulasi yang lebih tinggi daripada zat aktif bersifat basa. Namun, tidak memberikan perbedaan pelepasan obat pada kondisi cairan lambung dan cairan usus. Zat aktif dengan sifat keasaman yang berbeda sama-sama memiliki pelepasan obat tertinggi pada kondisi basa. 
Peptida Antimikrobial Cathelicidin dan Liposom sebagai Pembawa Mayang Kusuma Dewi; Anis Yohana Chaerunisaa; Sriwidodo Sriwidodo
Majalah Farmasetika Vol 6, No 2 (2021): Vol. 6, No. 2, Tahun 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v6i2.33182

Abstract

Peptida antimikrobial (PAM) dalam beberapa tahun terakhir telah menarik perhatian di kalangan ilmuwan, profesional kesehatan, dan perusahaan farmasi karena potensi terapeutiknya yang sangat luas. Cathelicidin merupakan salah satu kelompok dari PAM dengan berat molekul rendah yang mempunyai berbagai aktivitas biologis pada rentang terapi tertentu yang berfungsi sebagai antimikrobial, antivirus, dan antijamur, serta dapat memodulasi sistem imum terhadap infeksi bakteri (gram positif dan gram negatif). Walaupun menarik untuk aplikasi klinis, cathelicidin memiliki keterbatasan dalam hal stabilitas dan aktivitasnya secara in-vivo, serta interaksi non-spesifik dengan membran biologis inang yang mengarah pada efek sitotoksik yang merugikan. Enkapsulasi cathelicidin dapat mengakibatkan penurunan sitotoksisitas, meningkatkan stabilitas dan aktivitas biologisnya. Keterbatasan cathelicidin dapat diatasi dengan mengenkapsulasi cathelicidin dalam pembawa lipid seperti liposom. Review ini bertujuan untuk memberikan gambaran singkat mengenai struktur, sifat, fungsi, uji klinis, dan keterbatasan dari cathelicidin yang mana keterbatasan cathelicidin ini dapat di atasi dengan pembawa vesikular salah satunya adalah liposom. Liposom merupakan pembawa vesikular generasi pertama yang bersifat non-toksik, biodegradable, biokompatibel, dan stabil dalam larutan koloid sistem penghantaran obat. Sistem liposom dapat melindungi peptida yang dienkapsulasi dari degradasi protease. Selain itu, pembawa liposom disajikan sebagai alternatif yang menjanjikan untuk mengoptimalkan pemberian cathelicidin dalam hal dosis, pola pengiriman, dan keamanan.
Pengaturan Pelepasan Obat dari Tablet dengan Sistem Matriks Karagenan Wedi Akbari; Anis Yohana Chaerunisaa; Marline Abdassah
Majalah Farmasetika Vol 5, No 3 (2020): Vol. 5, No. 3, Tahun 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v5i3.26488

Abstract

Sistem matriks merupakan sistem pengaturan pelepasan obat dari tablet yang populer. Matriks tablet yang umum digunakan adalah golongan eter selulosa  seperti hidroksi propil metil selulosa (HPMC), hidroksi propil selulosa (HPC) dan natrium karboksi metil selulosa (Na CMC). Golongan eter selulosa sintetik ini banyak digunakan karena memiliki sifat mengembang dan kompresibilitas yang baik. Polimer alam seperti karagenan telah banyak diteliti sebagai komponen penyusun matriks tablet untuk memperoleh pengaturan  pelepasan obat dari matriks yang efektif.  Karagenan dapat digunakan sebagai  penyusun matriks mengingat polimer tersebut memiliki berat molekul yang besar dan mempunyai viskositas dan kemampuan membentuk gel yang tinggi.  Dalam upaya pengembangan sistem matriks tablet dari bahan karagenan diperlukan pengetahuan yang baik mengenai karakteristik fisika kimia dari karagenan dan obat yang digunakan.Kata kunci : sistem matriks, karagenan, pembentukan gel.  
Whitening Agent : Mekanisme, Sumber dari Alam dan Teknologi Formulasinya Amelia Soyata; Anis Yohana Chaerunisaa
Majalah Farmasetika Vol 6, No 2 (2021): Vol. 6, No. 2, Tahun 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v6i2.28139

Abstract

Sekarang ini adanya keinginan alamiah untuk tampil cantik khususnya pada kaum wanita telah meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perawatan kulit dan warnanya, untuk itu upaya yang dapat dilakukan adalah memutihkan kulit dengan menekan produksi melanin menggunakan whitening agent, sehingga dilakukan penulisan artikel review ini dengan tujuan mengetahui jenis-jenis whitening agent, mekanismenya dan penggunaan teknologi formulasinya. Beberapa contoh whitening agent yaitu hydroquinone, ascorbic acid, kojic acid, arbutin, niacinamide, retinoid, azelaic acid, namun beberapa zat ini dapat menimbulkan permasalahan pada kulit seperti iritasi, dermatitis, alergi dan kanker kulit sehingga sekarang ini dapat digunakan whitening agent dari alam yang minim efek samping seperti  temulawak, cendana,  teripang, dan prunus. Mekanisme utama whitening agent adalah menghambat enzim tirosinasedan, dan untuk memaksimalkan efek whitening pada kulit telah  dikembangkan teknologi formulasi menggunakan beberapa metode penghantaran seperti liposom, nanopartikel, solid lipid nanopartikel dan mikroemulsi.
Review : Superdisintegran dalam Sediaan Oral Ira Safitri; Sulistiyaningsih Sulistiyaningsih; Anis Yohana Chaerunisaa
Majalah Farmasetika Vol 4, No 3 (2019): Vol. 4, No. 3, Tahun 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2150.869 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v4i3.22945

Abstract

Rute pemberian obat secara oral banyak disukai masyarakat karena memiliki kemudahan dalam penggunaannya namun juga memiliki kelemahan bagi pasien yang mengalami kesulitan menelan sehingga dapat menurunkan kepatuhan pasien serta memerlukan waktu yang lama untuk mencapai efek farmakologis. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kepatuhan pasien dan mempercepat waktu mencapai efek farmakologis, penekanan diberikan pada pengembangan formula baru. Salah satu pendekatan tersebut adalah pengembangan fast dissolving tablets (FDTs). FDT merupakan bentuk sediaan padat yang hancur dan larut di mulut dalam 60 detik atau lebih rendah dan dapat digunakan tanpa air. Dalam formulasi FDT digunakan superdisintegran baik yang berasal dari alam maupun sintesis. Review artikel ini bertujuan untuk mengumpulkan infomasi tentang superdisintegran yang biasa digunakan dalam formulasi beserta kelebihan dan kekurangannya, mekanisme kerja superdesintegran dan metode pencampurannya, evaluasi dalam sediaan FDT serta aplikasi penggunaan superdisintegran. Superdisintegran alam dapat berupa polisakarida, mucilago, gum, pati, dan chitosan sedangkan superdisintegran sintetik dapat berupa natrium starch glikolat dan natrium crosscarmellose. Superdisintegran ini memiliki kondisi optimum yang berbeda-beda serta memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Secara umum evaluasi sediaan FDT hampir sama dengan evaluasi tablet oral namun hanya persyaratannya saja yang membedakan.Kata kunci : fast dissolving tablets, superdisintegran, alam, sintesis