Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENGONSTRUKSI TEKS RESENSI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE (TTW) PADA PESERTA DIDIK KELAS XI MIPA 7 SMA 2 NEGERI BANDA ACEH Zahara, Rizka; Nabila, Nudhar; Maimun, Maimun; Arifin, Syamsul
Jurnal Kansasi: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Kansasi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : PBSI STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpbs.v10i1.4242

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mengonstruksi atau menulis teks resensi dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) pada peserta didik kelas XI MIPA 7 SMA Negeri 2 Banda Aceh. Model pembelajaran TTW merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran menulis teks resensi, karena bisa membantu peserta didik mengontruksi pengetahuan mereka sendiri, sesuai dengan langkah-langkah TTW. Pertama, peserta didik membaca sebuah bacaan, lalu mencatat hal-hal penting dalam bacaan tersebut. Kedua, peserta didik didik secara berkelompok membahasa hal-hal penting yang diperoleh dan membentuk sebuah kerangka tulisan. Ketiga, secara individu peserta didik mulai mengembangkan kerangka tersebut menjadi sebuah tulisan yang utuh. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif karena penelitian ini bersifat deskriptif dan naturalistik. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan mengambil subjek peserta didik kelas XI MIPA 7 SMA Negeri 2 Banda Aceh. terbagi pada dua siklus. Keterampilan mengonstruksi teks resensi diukur berdasarkan persentase kecapaian nilai menulis teks resensi. Teknik pengumpulan data berupa tes, observasi, dan dokumentasi kegiatan berupa foto. Kriteria keberhasilan tindakan berupa peningkatan proses dan hasil keterampilan menulis teks resensi peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write (TTW). Keberhasilan proses dilihat dari peningkatan antusias dan sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran. Keberhasilan keterampilan mengonstruksi teks resensi diukur berdasarkan skor ketercapaian aspek menulis teks resensi sebesar 70%. Hasil penelitian diperoleh dengan persentase ketercapaian proses dan hasil yang perlu diperhatikan dalam mengonstruksi teks resensi pada setiap siklus. Peningkatan kualitas proses didasarkan pada hasil pengamatan aktivitas guru dan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran mengonstruksi teks resensi dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dari siklus I sampai siklus II. Proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dapat meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengonstruksi teks resensi. Peningkatan proses pembelajaran dapat dilihat dari aktivitas peserta didik pada siklus I reratanya 55% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 87%. Selain itu peningkatan juga terjadi pada aktivitas guru, yaitu pada siklus I memperoleh nilai 86% dan pada siklus II meningkat menjadi 94%. Kemudian peningkatan keterampilan hasil menulis teks diskusi dapat dilihat berdasarkan hasil belajar peserta didik dengan persentase ketuntasan sebesar 60% pada siklus I dan pada siklus II persentase ketuntasan meningkat menjadi 86%. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dapat meningkatkan keterampilan mengonstruksi teks resensi peserta didik.Kata kunci: keterampilan, mengonstruksi, menulis, teks resensi, Think Talk Write (TTW)
Professional learning community model in improving teachers’ pedagogical competence to face Alpha generation Wardatina, Wardatina; Rasyid, Suparta; Ismail , Ismail; Nabila, Nudhar
Indonesian Research Journal in Education |IRJE| Vol. 10 No. 2 (2026): IRJE |Indonesian Research Journal in Education
Publisher : Universitas Jambi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/irje.v10i2.50227

Abstract

This study examines how the Professional Learning Community (PLC) enhances teachers’ pedagogical competence in addressing the learning characteristics of Generation Alpha. Employing a qualitative case study design, the research was conducted in two vocational schools in Aceh Jaya involving 13 participants, including principals, teachers, and a supervisor. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation and analyzed using thematic analysis with triangulation to ensure trustworthiness. The findings reveal that PLC fosters collaborative learning, reflective practice, and technology integration, which contribute to improved instructional strategies, digital literacy, and teacher confidence. Furthermore, PLC transforms professional practices from administrative routines into continuous, reflective, and student-centered learning processes. This study highlights PLC as an effective and sustainable model for strengthening pedagogical competence and supporting educational transformation in the context of Society 5.0.
Why inclusive education remained stagnant in Pidie regency? Nabila, Nudhar; Niswanto, Niswanto; Bahrun , Bahrun; Wardatina, Wardatina
Indonesian Research Journal in Education |IRJE| Vol. 10 No. 2 (2026): IRJE |Indonesian Research Journal in Education
Publisher : Universitas Jambi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/irje.v10i2.50224

Abstract

Inclusive education is a manifestation of the global commitment to education for all. Although mandated by various national regulations, the implementation of inclusive education remained stagnant due to multiple challenges. This study aimed to examine strategies adopted by the government in planning and ensuring the effectiveness of inclusive education in Pidie Regency. This study employed a qualitative approach involving data from the education data system (Dapodik) and key stakeholders from Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Aceh, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie (Disdikbud Pidie), SMPN 4 Sigli, and SDN 1 Lampoih Saka. The qualitative data were processed and analyzed using NVivo 15 to facilitate systematic coding, theme categorization, and identification of patterns related to the implementation of inclusive education. The study found that the main challenges in implementing inclusive education are the lack of indicators of success, limited human resources, limited literacy about inclusive education, the absence of clear regulations, lack of coordination, limited access to infrastructure, and budget constraints. These results indicated that inclusive education in Pidie regency remains stagnant due to weak policy support and unstructured practices. This pointed out the need to strengthen policies and regulations, enhance resources and facilities, and build sustainable capacity to ensure the effective and equitable implementation of inclusive education.