Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA HIPERTENSI DI KOTA LHOKSEUMAWE Sari, Yunita; Sutrisna, Eka; Risca, Amalia; Yulisa, Yulisa
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i1.41458

Abstract

Masalah kesehatan yang disebabkan perubahan fisik dan psikologis akibat faktor usia menyebabkan banyak lansia di dunia tidak dapat menikmati usia senjanya. Salah satunya adalah penyakit hipertensi yang disebabkan karena adanya perubahan pada sistem kardiovaskular. Selain karena penyakit hipertensi, depresi pada lansia dapat menyebabkan menurunnya tingkat kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat depresi dengan kualitas hidup lansia  hipertensi. Desain pada penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional, populasi sebanyak 247 lansia hipertensi dan sampel sebanyak 110 lansia yang diambil dengan teknik purposive sampling. Variabel independen penelitian adalah kualitas hidup lansia hipertensi, diukur dengan kuesioner WHOQOL-BREF. Variabel dependennya adalah tingkat depresi lansia hipertensi, diukur dengan kuesioner Geriatric Depression Scale-15 (GDS-15). Hasil penelitian menunjukkan hubungan tingkat depresi pada lansia hipertensi dengan usia, gender dan status perkawinan memiliki nilai signifikansi masing-masing sebesar 0,001; 0,015; dan 0,003 (sig. < 0,05). Nilai probabilitas (signifikansi) hubungan tingkat depresi dan tingkat kualitas hidup lansia hipertensi sebesar 0,000 (sig. < 0,05) dengan nilai Chi-square sebesar 50,686 dan nilai korelasi Pearson sebesar 0,507 (r = -0,0507). Simpulan adalah tingkat depresi yang dialami oleh lansia pengidap hipertensi memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kualitas hidup lansia hipertensi di Kota Lhokseumawe dengan kekuatan korelasi kedua variabel tersebut berada di level moderate dan berlawanan arah. Usia, gender dan status perkawinan memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat depresi yang dialami lansia dengan hipertensi. Saran adalah temuan ini selanjutnya dapat digunakan untuk modifikasi pengembangan model penanganan kasus depresi pada lansia hipertensi di Aceh.
Hubungan Quality Nursing Work Life dengan Motivasi Kerja Perawat Risca, Amalia; Mauliza, Rizky; Harkensia, Linur Steffi
Jurnal Sains Riset Vol 13, No 3 (2023): November 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47647/jsr.v13i3.2291

Abstract

Quality Nursing Work Life dapat mempengaruhi motivasi kerja perawat, dimensi lingkungan kerja meliputi kehidupan kerja-kehidupan dirumah, komposisi kerja, pengaturan kerja dan lingkungan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan lingkungan kerja dengan motivasi kerja di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Pidie. Jenis penelitian ini adalah analisis korelasi dengan desain cross sectional study dengan metode pemilihan total sampling sebanyak 253 perawat. Alat pengumpulan data berupa kuesioner dengan menggunakan Quality Nursing Work Life yang disebarkan dengan peper based. Hasil bivariat di dapatkan work life-home life memiliki nilai p-value 0,013, komposisi kerja dengan p-value 0,000, pengaturan praktek dengan p-value 0,000 dan lingkungan sosial dengan p-value 0,000. Dilakukan uji multivariat dengan uji regresi logistik didapatkan hasil lingkungan sosial memiliki nilai p-value 0,000 dengan nilai odds ratio sebesar 101,673. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diharapkan menjadikan bahan acuan sebagai modifikasi lingkungan kerja khususnya lingkungan sosial, dimana lingkungan sosial memiliki komponen upah, kenyamanan dan keamanan saat bekerja, suasana kekeluargaan, fasilitas pegawai yang lengkap, sehingga dengan melakukan kebijakan tentang komponen tersebut akan meningkatkan motivasi kerja perawat.Kata Kunci: Quality Nursing Work Life, Motivasi, perawat
Pelatihan Prenatal Yoga Sebagai Upaya Meningkatkan Kesehatan Fisik, Mental dan Emosional Ibu Hamil Di Wilayah Puskesmas Peranap Riau Badriyah, Nurul; Bahri , Serli; Lestari, Siti; Risca, Amalia
Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jompaabdi.v4i2.1598

Abstract

Proses  kehamilan  ibu  hamil dihadapkan pada tantangan fisik  yang melibatkan perubahan tubuh, peningkatan berat badan serta  berbagai  perubahan  hormonal  yang  mempengaruhi  kondisi  mental  dan  emosional sehingga menyebabkan   ketidaknyamanan fisik. Salah satu asuhan kebidanan yang diberikan untuk mengurangi ketidaknyamanan pada ibu hamil tersebut adalah olahraga. Bentuk olahraga yang membantu ibu hamil memperoleh power yang baik sehingga memperlancar proses persalinan yaitu prenatal yoga. Yoga adalah aktifitas yang secara nyata mampu menggabungkan unsur psikologis-fisiologis, sementara aktifitas lainnya mayoritas lebih memiliki efek pada unsur fisik luar semata. Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental dan emosional ibu hamil di Wilayah Puskesmas Peranap Riau. Kegiatan ini dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan praktik pelaksanaan prenatal yoga. Peserta dari kegiatan ini ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Peranap Riau sebanyak 18 orang ibu hamil Trimester III dengan kehamilan normal tanpa ada riwayat penyakit tertentu. Kegiatan Pengabdian ini dilaksanakan mulai tanggal 7 s.d 21 Maret 2025 dan monitoring dilakukan pada bulan April 2025. Hasil pengabdian ini Dengan melakukan prenatal yoga ini ibu hamil dapat merasa nyaman, rileks dan mengurangi rasa cemas ketika mengalami beberapa keluhan fisik, emosional dan mental ibu hamil rasakan. Dengan prenatal yoga ini juga dapat mengurangi keluhan fisik salah satu contohnya nyeri punggung, kram kaki ataupun pusing selama kehamilan. Kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan di Puskesmas Peranap Riau ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar.
Edukasi self-management untuk meningkatkan self-care aktifitas fisik pada pasien diabetes melitus tipe 2 Drissianti, Putri; Saputra, Fauzan; Risca, Amalia; Ismuhadi, Ismuhadi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2219

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease characterized by high blood sugar levels resulting from insulin action, impaired insulin secretion, or both. It requires long-term treatment to reduce the risk of complications. DM cannot be cured, but blood sugar can be controlled through the four pillars of diabetes management: education, diet, exercise, and medication. Self-management is a crucial aspect in the management of type 2 diabetes mellitus (T2DM). However, patients with diabetes mellitus often fail to effectively manage themselves, resulting in macrovascular and microvascular complications. Purpose: To provide knowledge about self-care and physical activity based on self-management in DM patients. Method: This community service activity was carried out on December 15, 2025, at the Tanoh-Anou Village Community Health Center. Involving 51 people with DM as respondents. The target of this activity is the application of self-management for DM sufferers for self-care physical activity with a community-based approach. The intervention was carried out by delivering material related to the application of self-management in carrying out self-care physical activity, especially for DM sufferers, as well as an explanation of the benefits of physical activity for managing DM. Evaluation of the level of respondents' knowledge was measured using a questionnaire given before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Results: Obtained respondents with an age range of 36-77 years and the average age of respondents was 58.9 years and most of the respondents were in the range of 56-65 years as many as 21 people (41.2%). The majority were female as many as 42 people (82.4%), most had elementary/junior high school education status as many as 49 people (96.1%), and employment status was not as a farmer or fisherman as many as 42 people (82.4%). While the marital status was married as many as 40 people (78.5%) and the majority of the duration of suffering from DM was >3 years as many as 48 people (94.2%). There was an increase in the average score of respondents' knowledge level before educational activities (pre-test) from 16.2 points to 26.4 after educational activities (post-test). Conclusion: Self-management education activities covering diet management, physical activity, and foot care for people with diabetes mellitus significantly increased patients' knowledge of implementing physical activity self-care. This increased knowledge of self-management also positively contributed to psychological well-being and health motivation in diabetes patients. Suggestion: Similar educational activities are expected to be conducted routinely and sustainably to encourage healthy behavior changes and as an effort to prevent complications of diabetes mellitus early in the community. Keywords: Health education; Physical activity; Self-management; Type 2 diabetes mellitus Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi yang terjadi akibat kerja insulin, gangguan sekresi insulin, atau keduanya, dan memerlukan pengobatan jangka panjang untuk mengurangi risiko komplikasi. DM tidak dapat disembuhkan, namun gula darah dapat dikontrol melalui empat pilar pengelolaan diabetes, yaitu edukasi, pola makan, olahraga, dan pengobatan. Self-management merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam penatalaksanaan diabetes melitus tipe 2 (DMT2). Namun dalam pelaksanaannya pasien dengan diabetes melitus tidak melakukan self-management dengan baik yang mengakibatkan terjadinya komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan tentang self-care aktifitas fisik berdasarkan self-management pada pasien DM. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2025 di Balai Puskesmas Desa Tanoh-Anou. Melibatkan 51 orang dengan DM untuk menjadi responden. Sasaran dalam kegiatan ini adalah penerapan self-management bagi penderita DM untuk self-care aktifitas fisik dengan pendekatan community-based. Intervensi dilakukan dengan menyampaikan materi terkait penerapan self-management dalam menjalankan self-care aktifitas fisik khususnya bagi penderita DM serta penjelasan tentang manfaat aktifitas fisik terhadap pengelolaan penyakit DM. Evaluasi tingkat pengetahuan responden diukur menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: Mendapatkan responden dengan rentang usia 36-77 tahun dan rata-rata usia responden adalah 58.9 tahun dan sebagian besar usia responden dalam rentang 56-65 tahun sebanyak 21 orang (41.2%). Mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak 42 orang (82.4%), sebagian besar memiliki status pendidikan SD/SMP sebanyak 49 orang (96.1%), dan status pekerjaan adalah bukan sebagai petani atau nelayan yaitu sebanyak 42 orang (82.4%). Sedangkan status pernikahan adalah menikah yaitu sebanyak 40 orang (78.5%) dan mayoritas lamanya menderita DM adalah >3 tahun yaitu sebanyak 48 orang (94.2%). Terdapat peningkatan rata-rata skor tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dari 16.2 poin menjadi  26.4 sesudah kegiatan edukasi (post-test). Simpulan: Kegiatan pemberian edukasi self-management yang mencakup manajemen diet, aktivitas fisik, dan perawatan kaki untuk penderita diabetes melitus memberikan peningkatan pengetahuan yang cukup signifikan pada pasien dalam menerapkan self-care aktifitas fisik. Peningkatan pengetahuan tentang self-management juga memberikan kontribusi positif secara psikologis dan motivasi kesehatan pada pasien diabetes. Saran: Diharapkan kegiatan edukasi serupa untuk dilakukan secara rutin dan berkelanjutan agar mampu mendorong perubahan prilaku sehat dan sebagai upaya pencegahan komplikasi diabetes melitus sejak dini pada masyarakat.