Agustin, Siti Maulidiya
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Development Interactive Teaching Materials with Google Sites Website-Based Media in Islamic Cultural History Subjects at Madrasah Aliyah Agustin, Siti Maulidiya; Murhayati, Sri; Alwizar, Alwizar
Journal of English Language and Education Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jele.v10i2.741

Abstract

This study aims to explore the development of interactive teaching materials using website-based media (Google sites) for Islamic Cultural History subjects at Islamic Senior High School. This research employs the Research and Development (RD) method using the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Data collection techniques include observation, interviews, questionnaires, tests, and documentation. The collected data were analyzed using descriptive analysis techniques, including expert validation questionnaire analysis, user validation, and student responses, all processed in accordance with research and development procedures. Based on the research findings, this development was carried out in five stages: analysis, design, development, implementation, and evaluation. The analysis stage involved curriculum analysis, student analysis, and needs assessment. The design stage included the preparation of learning materials, selection of media, choice of format, and initial design. The development stage involved validation by experts, including media experts, subject matter experts, and Islamic Cultural History teachers. The validation results were as follows: media experts (88.3%, categorized as highly valid), subject matter experts (92.8%, highly valid), and Islamic Cultural History teachers (95.6%, highly valid). During the implementation stage, activities such as pretests, trial implementations, explanations, in-depth material discussions, and posttests were conducted. The overall pretest and posttest results showed a significant improvement, with an average pretest score of 54.09 and a posttest score of 93.71. The student trial results indicated the following ratings: material aspect (83.29%, highly practical), language aspect (83.14%, highly practical), presentation aspect (81.57%, highly practical), and usefulness aspect (85.10%, highly practical). Thus, it can be concluded that the interactive teaching materials using website-based media (Google sites) for the Islamic Cultural History subject, specifically on the topic of the Khulafaur Rashidin, achieved an overall validity percentage of 83.27%, indicating high practicality. The evaluation stage, based on pretest and posttest results, demonstrated a significant improvement in students' learning outcomes in Islamic Cultural History when using the interactive teaching materials Website-based using Google sites.
Kerajaan Mughal: Puncak Peradaban Islam di Tengah Dominasi Agama Hindu di India Agustin, Siti Maulidiya; Arbi, Arbi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerajaan Mughal di India merupakan salah satu peradaban Islam terbesar yang berhasil mencapai puncak kejayaannya di tengah dominasi mayoritas agama Hindu. Artikel ini membahas bagaimana kebijakan dan strategi pluralisme agama yang diterapkan oleh para pemimpin Mughal, terutama Akbar, mampu menciptakan harmoni antara komunitas Muslim dan Hindu, serta menjaga stabilitas politik dalam masyarakat yang beragam. Kebijakan seperti "Sulh-i Kull" (perdamaian universal), penghapusan pajak jizyah, pernikahan politik dengan bangsawan Hindu, dan pengangkatan pejabat Hindu ke dalam pemerintahan memainkan peran penting dalam membangun koeksistensi yang damai. Pengaruh kebijakan ini tidak hanya terlihat dalam struktur pemerintahan yang inklusif dan stabil, tetapi juga dalam perkembangan seni, budaya, dan arsitektur Mughal, yang memperlihatkan perpaduan elemen-elemen Islam dan Hindu. Artikel ini juga menyoroti pelajaran penting yang dapat diambil dari keberhasilan dinasti Mughal dalam mengelola keberagaman agama untuk diaplikasikan pada konteks kontemporer, khususnya di negara-negara dengan latar belakang pluralistik. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa toleransi, inklusivitas, dan dialog antaragama adalah kunci untuk menciptakan stabilitas politik dan sosial, serta merangkul keberagaman sebagai sumber kekuatan dalam membangun peradaban yang maju.
Integrasi Agama dan Sains dalam Perspektif M. Naquib Al-Attas Agustin, Siti Maulidiya; Amril, Amril
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integrasi agama dan sains dalam perspektif M. Naquib al-Attas mencerminkan pendekatan yang holistik terhadap pemahaman manusia, alam, dan Tuhan. Al-Attas menekankan bahwa sains dan agama bukanlah dua entitas yang terpisah, melainkan saling melengkapi dalam upaya mencari kebenaran. Dalam pandangannya, sains yang diciptakan oleh akal manusia harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar, yaitu wahyu Ilahi. Ia berargumen bahwa pemisahan antara agama dan sains, yang terjadi sejak periode pencerahan, telah menyebabkan ketegangan dan pengabaian nilai-nilai spiritual dalam pencarian ilmu pengetahuan. Menurut al-Attas, integrasi antara agama dan sains hanya dapat dicapai dengan menyelaraskan keduanya dalam perspektif yang mendalam, yaitu pemahaman yang berakar pada konsep tauhid. Konsep ini menekankan bahwa segala sesuatu di dunia ini, termasuk ilmu pengetahuan, adalah manifestasi dari kehendak Tuhan. Oleh karena itu, sains, dalam pandangan al-Attas, harus dilihat sebagai usaha untuk memahami hukum-hukum Tuhan yang ada di alam semesta. Integrasi tersebut tidak hanya melibatkan aspek intelektual, tetapi juga spiritual, yang mengarah pada pemahaman yang lebih mendalam tentang tujuan hidup manusia. Melalui pandangan ini, al-Attas berusaha mengembalikan kedudukan sains kepada tujuan awalnya, yaitu untuk memperkaya pemahaman umat manusia tentang keberadaan Tuhan, alam, dan dirinya sendiri, dalam harmoni dengan ajaran agama yang benar.