Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

EVALUASI KETERSEDIAAN DAN KELAYAKAN SARANA PRASARANA SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN KAWASAN WATERFRONT PARK STUDI KASUS SITU PEMDA, CIBINONG, KAB.BOGOR Nurhanifah, Khalsa; Herlambang, Suryono; Bella, Priyendiswara Agustina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37080

Abstract

Urban development in Cibinong has led to an increasing demand for adequate public open spaces, particularly blue spaces such as situ that serve ecological and social functions. Situ Pemda, located within the administrative center of Bogor Regency, has significant potential to be developed as a waterfront-based public space. However, the utilization of this area has not been optimal due to limitations and inadequacies in existing infrastructure when compared to urban public space standards. This study aims to evaluate the availability and feasibility of infrastructure facilities at Situ Pemda as a basis for the development of the Situ Front City area. The research employs a descriptive qualitative approach through field observations, interviews with relevant institutions, including BBWS, DPKPP, and Bappeda, and spatial analysis to assess physical conditions and accessibility. The results indicate that Situ Pemda benefits from a strategic location and good accessibility and is equipped with several basic facilities such as pedestrian paths, seating areas, toilets, and parking spaces. Nevertheless, the quality of these facilities does not yet fully meet the standards of comfort, safety, and sustainability required for waterfront public spaces. Limitations in material quality, pedestrian connectivity, facility cleanliness, and maintenance systems remain key challenges. Therefore, Situ Pemda can be classified as having a moderate level of readiness for waterfront public space development and requires targeted and sustainable improvements in infrastructure quality. Keywords: Accessibility; infrastructure facilities; green open space; waterfront; lake Abstrak Perkembangan kawasan perkotaan di Cibinong berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan akan ruang terbuka publik yang layak, khususnya ruang biru seperti situ yang berfungsi secara ekologis dan sosial. Situ Pemda yang terletak di kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Bogor memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ruang publik berbasis waterfront. Namun demikian, pemanfaatan kawasan ini belum optimal akibat keterbatasan dan ketidaksesuaian sarana prasarana dengan standar ruang publik perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan dan kelayakan sarana prasarana di Situ Pemda sebagai dasar pengembangan kawasan Situ Front City. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara dengan instansi terkait, yaitu BBWS, DPKPP, dan Bappeda, serta analisis spasial untuk menilai kondisi fisik dan aksesibilitas kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Situ Pemda memiliki keunggulan dari aspek lokasi dan keterjangkauan, serta telah dilengkapi beberapa fasilitas dasar seperti jalur pedestrian, tempat duduk, toilet, dan area parkir. Meskipun demikian, kualitas fasilitas tersebut belum sepenuhnya memenuhi standar kenyamanan, keamanan, dan keberlanjutan ruang publik waterfront. Keterbatasan kualitas material, keterhubungan jalur pedestrian, kebersihan fasilitas, serta sistem pemeliharaan menjadi kendala utama. Dengan demikian, Situ Pemda berada pada tingkat kesiapan menengah untuk dikembangkan sebagai ruang publik waterfront dan memerlukan peningkatan kualitas sarana prasarana secara terarah dan berkelanjutan.
ANALISIS PENEMPATAN ZONA KOMERSIAL TERHADAP MOBILITAS PENUMPANG DI STASIUN MANGGARAI, JAKARTA SELATAN Diasmaya, Raden Bayu; Herlambang, Suryono; Bella, Priyendiswara Agustina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37081

Abstract

Manggarai Station, strategically located in South Jakarta, has transformed from a mere transportation node into a multimodal hub that also integrates significant commercial functions. This phenomenon reflects a global trend where modern stations are playing a dual role as mobility nodes and commercial retail, aiming to enhance the passenger experience, generate non-fare revenue, and support the local economy. This research focuses on analyzing the placement and spatial distribution of commercial locations at Manggarai Station, evaluating how interactions between tenants and passenger movement patterns influence purchasing behavior, and identifying implications for operational efficiency and overall station comfort. Observations include mapping tenant locations, identifying business types, analyzing passenger flow patterns, and recording density and interactions in the commercial zone. The findings indicate that commercial locations in Manggarai are significantly dominated by fast food & beverage retailers and minimarkets. These tenants are strategically placed in prime areas and platform accesses with high passenger traffic density. This placement effectively leverages the dense passenger movement flow to encourage impulse purchases and meet on-the-go needs, where speed of service and location are key drivers. Furthermore, the lack of comfortable seating areas and the limited diversity of tenants in certain locations are issues. Further optimization requires a more thorough analysis of passenger flow for strategic tenant placement and the creation of commercial zones that do not disrupt the main traffic flow. Keywords: commercial; Manggarai Station; passenger movement Abstrak Stasiun Manggarai, yang terletak strategis di Jakarta Selatan, telah bertransformasi dari sekadar simpul transportasi menjadi sebuah pusat aktivitas multimoda yang juga mengintegrasikan fungsi komersial yang signifikan. Fenomena ini mencerminkan tren global di mana stasiun modern berperan ganda sebagai simpul mobilitas dan ritel komersial, bertujuan untuk meningkatkan pengalaman penumpang, menciptakan pendapatan non-tarif, dan mendukung ekonomi lokal. Penelitian ini berfokus pada analisis penempatan dan distribusi spasial lokasi komersial di Stasiun Manggarai, mengevaluasi bagaimana interaksi antara penyewa dan pola pergerakan penumpang mempengaruhi perilaku pembelian, serta mengidentifikasi implikasi terhadap efisiensi operasional dan kenyamanan stasiun secara keseluruhan. Observasi mencakup pemetaan lokasi penyewa, identifikasi jenis usaha, analisis pola aliran penumpang, serta pencatatan kepadatan dan interaksi di zona komersial. Hasil temuan menunjukkan bahwa lokasi komersial di Manggarai didominasi secara signifikan oleh ritel makanan & minuman siap saji dan minimarket. Penyewa ini secara strategis ditempatkan di area utama dan akses peron dengan kepadatan lalu lintas penumpang tinggi. Penempatan ini secara efektif memanfaatkan alur pergerakan penumpang yang padat untuk mendorong pembelian impulsif dan memenuhi kebutuhan on-the-go, di mana kecepatan layanan dan lokasi menjadi faktor pendorong utama. Selain itu, kurangnya area duduk yang nyaman dan diversifikasi penyewa yang masih terbatas di lokasi tertentu menjadi isu. Optimalisasi lebih lanjut memerlukan analisis flow penumpang yang lebih cermat untuk penempatan penyewa yang strategis serta penciptaan zona komersial yang tidak mengganggu arus mobilitas utama.
EVALUASI PENGELOLAAN TAMAN BALEKAMBANG PASCA REVITALISASI DALAM MENDUKUNG FUNGSI RTH KOTA SURAKARTA Anton, Ayu; Herlambang, Suryono; Bella, Priyendiswara Agustina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37082

Abstract

This study evaluates the management of Balekambang Park after revitalization in supporting its function as an urban green open space in Surakarta City. The revitalization carried out during 2022–2023 resulted in significant improvements in physical conditions, facilities, and the park’s role as a public and cultural space. However, physical improvements must be supported by effective management to ensure optimal ecological, social, and aesthetic functions. This research aims to assess post-revitalization park management by comparing conditions before and after revitalization and identifying factors influencing management effectiveness. The methods include field observation, interviews with park managers and stakeholders, and descriptive-comparative analysis of facilities, vegetation, visitor activities, and green space functions. The results show that revitalization improved physical quality and visitor use, yet management challenges remain, particularly in vegetation maintenance, activity zoning, and visitor control during peak periods. Integrated and sustainable management is still limited. The study concludes that stronger, collaborative, and long-term management strategies are required to optimize the park’s role as an urban green space. Keywords: park management; revitalization; urban green space; city park Abstrak Penelitian ini mengevaluasi pengelolaan Taman Balekambang pasca revitalisasi dalam mendukung fungsi ruang terbuka hijau (RTH) Kota Surakarta. Revitalisasi yang dilakukan pada periode 2022–2023 membawa perubahan signifikan pada kondisi fisik taman, penambahan fasilitas, serta peningkatan daya tarik kawasan sebagai ruang publik dan destinasi budaya. Namun, perubahan fisik tersebut perlu diimbangi dengan sistem pengelolaan yang efektif agar fungsi ekologis, sosial, dan estetika taman dapat berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi pengelolaan Taman Balekambang setelah revitalisasi dengan membandingkan kondisi sebelum dan pasca revitalisasi, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengelolaannya. Metode penelitian yang digunakan meliputi observasi lapangan, wawancara dengan pengelola dan pihak terkait, serta analisis deskriptif-komparatif terhadap aspek fasilitas, vegetasi, aktivitas pengunjung, dan fungsi RTH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi berhasil meningkatkan kualitas fisik taman dan intensitas pemanfaatannya oleh masyarakat, namun pengelolaan pasca revitalisasi masih menghadapi kendala pada aspek perawatan vegetasi, pengaturan zonasi aktivitas, dan pengendalian jumlah pengunjung pada waktu tertentu. Pengelolaan yang ada belum sepenuhnya terintegrasi dan berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan sistem pengelolaan yang terpadu, kolaboratif, dan berorientasi jangka panjang diperlukan agar Taman Balekambang dapat berfungsi optimal sebagai RTH kota.
ANALISIS PERKEMBANGAN PASAR PROPERTI DI SEKITAR TEBET ECO PARK BERDASARKAN KORELASI JARAK DAN TINGKAT INFLASI Komala, Nico Febrianto; Suryadjaja, Regina; Bella, Priyendiswara Agustina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37085

Abstract

This study examines property market dynamics around Tebet Eco Park (TEP) following its revitalization, drawing on hedonic pricing theory, which argues that property values are influenced by locational characteristics and urban amenities such as public open spaces (Anderson & West, 2006). The study focuses on the relationship between property distance to the park and changes in land prices within the context of housing sector inflation in DKI Jakarta. A quantitative approach was applied using Pearson correlation analysis to measure the relationship between distance and land prices, supported by descriptive analysis comparing land price growth with housing inflation. Data were collected from property samples in Tebet Timur and Tebet Barat for two periods, 2018–2019 and 2024–2025. The results show a strong negative correlation between distance from Tebet Eco Park and land prices, with correlation coefficients of r = –0.7659 and r = –0.7313. However, land price growth in the study area reached only 7.69% during 2018–2025, remaining below the housing sector inflation rate of 15.24%. These findings indicate that while Tebet Eco Park functions as an urban amenity, its impact on property values remains moderate. Keywords:  inflation; land price Correlation; Property Market; Revitalization; Tebet Eco Park Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika pasar properti di sekitar Tebet Eco Park (TEP) pasca revitalisasi dengan merujuk pada teori hedonic pricing yang menyatakan bahwa nilai properti dipengaruhi oleh karakteristik lokasi dan keberadaan amenitas perkotaan seperti ruang publik (Anderson & West, 2006). Fokus penelitian adalah hubungan antara jarak properti terhadap taman dan perubahan nilai jual tanah dalam konteks inflasi sektor perumahan di DKI Jakarta. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui analisis korelasi Pearson untuk mengukur hubungan antara jarak dan harga tanah, serta analisis deskriptif untuk membandingkan kenaikan harga tanah dengan tingkat inflasi perumahan. Data diperoleh dari sampel properti di kawasan Tebet Timur dan Tebet Barat pada dua periode, yaitu 2018–2019 dan 2024–2025. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang kuat antara jarak properti terhadap Tebet Eco Park dengan harga tanah, dengan nilai koefisien korelasi r = –0,7659 pada periode 2018–2019 dan r = –0,7313 pada periode 2024–2025. Namun, kenaikan harga tanah di kawasan studi hanya mencapai 7,69% selama periode 2018–2025, lebih rendah dibandingkan inflasi sektor perumahan DKI Jakarta sebesar 15,24%. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh Tebet Eco Park terhadap nilai pasar properti bersifat moderat dan belum menjadi faktor dominan dalam dinamika pasar properti perkotaan.