Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Objek Wisata Minat Khusus Menuju Desa Wisata di Nagari Anduring Kecamatan 2x11 Kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman Yurni Suasti; Risky Ramadhan; Febriandi Febriandi; Ahyuni Ahyuni; Novida Yenni
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 5 No 4 (2023): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v5i4.457

Abstract

Sebagai daerah penyanggah pada Jalur Lintas Sumatera Padang Bukittinggi, Kenagarian Anduring menawarkan wisata alam dengan slogan ”Sejuta Pesona Alam Nagari Anduring” yang merupakan kawasan strategis pariwisata Kabupaten Padang Pariaman. Nagari Anduring adalah salah satu kenagarian/nagari di Kec.2 x 11 Kayu Tanam. Sebagai salah satu nagari di dengan potensi wisata minat khusus yang tinggi maka lokasinya sangat mendukung salah satu spot/daerah kunjungan wisata. Nagari Anduring memiliki luas 133,85 km2, dengan jumlah penduduk 8225 jiwa, dimana porsi perempuan paling tinggi sebanyak 4123 jiwa dan laki-laki 4102 jiwa. (Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam Dalam Angka 2020, BPS). Persoalan teknis terkait pengelolaan, ataupun persoalan manajemen (seperti pemasaran dan lemahnya kemampuan sumber daya manusia (SDM) lokal khususnya perempuan dalam mengelola dan mengimplementasikan potensi wisata yang dimiliki) diduga menjadi hal yang menyebabkan potensi ini tidak termanfaatkan. Permasalahan mitra yaitu (1) Kondisi dan Ketersediaan Sarana dan Prasarana di sekitar ODTW Minat Khusus di Nagari Anduring, (2) Belum Tersedianya Informasi Penunjuk Lokasi di sekitar ODTW Minat Khusus di Nagari Anduring (3) Kesulitan Promosi Wisata Terdigitalisasi di sekitar ODTW Minat Khusus di Nagari Anduring. Solusi untuk mengatasi permasalahan diatas yaitu (1) Workshop dan FGD Bersama Mitra terkait “Prasarana Umum, Fasilitas Umum dan Fasilitas Pariwisata Menuju Desa Wisata” (2) Pembinaan Pokdarwis dalam participatory mapping ODTW dan Pembuatan Rute Perjalanan serta Papan Informasi Wisata (3) Pemberdayaan SDM Nagari dan Bumnag dalam Pengembangan website untuk promosi desa wisata. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah penerapan model Participatory Rural Appraisal (PRA)
HONEY BEE SCHOOL: EDUKASI LINGKUNGAN BERBASIS BUDIDAYA LEBAH MADU DI KABUPATEN KEPULUAN MENTAWAI Triyatno Triyatno; Febriandi Febriandi; Lailatur Rahmi; Yulia Permata Sari
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i1.27936

Abstract

Abstrak: Potensi lebah madu Mentawai sangat besar, hal ini dapat menjadi mata pencarian Masyarakat yang dapat meningktakan perekonomian. Namun, saat ini madu di panen dengan cara tradisional sehingga menyebabkan koloni lebah madu berkurang bahkan terancam keberadaannya. Pengabdian kepada masyarakat melalui pendirian Honey Bee School di Kabupaten Kepulauan Mentawai bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pelestarian lebah madu dan ekosistemnya, serta memberikan edukasi yang berbasis lingkungan. Metode program ini terdiri dari pelatihan calon trainer untuk menciptakan tenaga pendidik yang profesional, menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung proses belajar-mengajar, pembentukan struktur organisasi yang baik, penyiapan berkas administrasi sesuai standar pendidikan nonformal, serta merancang kelas-kelas edukasi tematik yang berfokus pada pembelajaran interaktif dan berbasis praktik, seperti budidaya lebah madu dan panen lebah madu hutan. Tim pengabdian bermitra dengan karang taruna desa Matobe yang beranggotakan 38 orang dengan rentang usia 20-50 tahun. Hasil dari pengabdian ini menunjukkan bahwa pelatihan dan edukasi yang diberikan mampu meningkatkan kompetensi masyarakat dalam budidaya lebah madu dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan sebanyak 80 persen. Program ini juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal melalui pengembangan produk madu. Dengan dukungan yang berkelanjutan dan kolaborasi dari berbagai pihak, Honey Bee School dapat menjadi model pendidikan nonformal dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.Abstract: The potential of Mentawai honeybees is huge, this can be a livelihood for the community that can improve the economy. However, honey is currently harvested in a traditional way, causing honey bee colonies to decrease and even threaten their existence. Community service through the establishment of Honey Bee School in the Mentawai Islands Regency aims to increase community awareness and understanding of the importance of conserving honey bees and their ecosystems, as well as providing environmentally-based education. The program method consists of training prospective trainers to create professional educators, preparing facilities and infrastructure that support the teaching and learning process, establishing a good organisational structure, preparing administrative files according to non-formal education standards, and designing thematic educational classes that focus on interactive and practice-based learning, such as honey bee cultivation and forest honey bee harvesting. The service team partnered with the Matobe village youth organisation, which consists of 38 members with an age range of 20-50 years. The results of this service showed that the training and education provided were able to increase community competence in honey bee cultivation while maintaining environmental sustainability by 80 per cent. This programme also has the potential to improve local economic welfare through honey product development. With continued support and collaboration from various parties, Honey Bee School can become a model of non-formal education in environmental conservation and community empowerment.
PENGEMBANGAN PARIWISATA PEDESAAN BERBASIS PARIWISATA HYPERLOCAL DENGAN PENDEKATAN PARTICIPATORY RURAL APPRAISAL DI KABUPATEN SOLOK Febriandi Febriandi; Triyatno Triyatno; Lailatur Rahmi; Syafri Anwar
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.27147

Abstract

Abstrak: Saat ini pariwisata memainkan peranan penting dalam meningkatkan ekonomi lokal dan memperkaya pengalaman budaya. Seiring perkembangannya, pariwisata semakin berfokus pada pariwisata berkelanjutan, melibatkan komunitas lokal, ramah lingkungan, dan melibatkan kearifan lokal di lokasi wisata. Program Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan ekowisata berbasis pariwisata hyperlocal di Kabupaten Solok. Masalah utama yang dihadapi adalah kurangnya pengetahuan POKDARWIS dalam mengelola potensi wisata, minimnya keterampilan masyarakat dalam pembuatan souvenir, serta rendahnya kemampuan POKDARWIS dalam menggunakan teknologi digital untuk promosi. Program ini dilaksanakan melalui metode sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan yang melibatkan POKDARWIS dan masyarakat. Terdiri dari 2 POKDARWIS, POKDARWIS Danau Talang dan POKDARWIS Gunung Talang dengan jumlah anggota sebanyak 45 orang. Evaluasi dilakukan dengan mengukur peningkatan keterampilan pengelolaan wisata, penggunaan teknologi, serta kemampuan produksi souvenir. Hasil menunjukkan peningkatan keterampilan POKDARWIS dalam pemetaan wisata, penggunaan teknologi drone dan media sosial, serta peningkatan kemampuan manajemen organisasi. Selain itu, terjadi peningkatan nilai ekonomis masyarakat melalui penjualan souvenir khas wisata lokal. Program ini berhasil meningkatkan kemandirian POKDARWIS dalam mengelola dan mempromosikan wisata serta menghasilkan luaran berupa peta wisata, website, dan publikasi ilmiah.Abstract: Today tourism plays an important role in improving local economies and enriching cultural experiences. As it develops, tourism increasingly focuses on sustainable tourism, involving local communities, being environmentally friendly, and involving local wisdom in tourist sites. This Community Service Program aims to develop hyperlocal tourism-based ecotourism in Solok Regency. The main problems faced are the lack of knowledge of POKDARWIS in managing tourism potential, the lack of community skills in making souvenirs, and the low ability of POKDARWIS in using digital technology for promotion. This program is implemented through socialization, training, and mentoring methods involving POKDARWIS and the community consisting of 2 POKDARWIS, Lake Talang POKDARWIS and Gunung Talang POKDARWIS with a total of 45 members. Evaluation is carried out by measuring the improvement of tourism management skills, the use of technology, and the ability to produce souvenirs. The results showed an increase in POKDARWIS skills in tourism mapping, the use of drone technology and social media, and improved organizational management capabilities. In addition, there was an increase in the economic value of the community through the sale of souvenirs typical of local tourism. This program succeeded in increasing the independence of POKDARWIS in managing and promoting tourism and producing outputs in the form of tourism maps, websites, and scientific publications. 
Pengembangan Sistem Informasi Kampung Berbasis Teknologi Informasi Geospasial di Nagari Anduring Kabupaten Padang Pariaman Azhari Syarief; Febriandi Febriandi
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 6 No 4 (2024): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v6i4.792

Abstract

Kenagarian Anduring, terletak di Sumatera Barat, Indonesia, memiliki potensi wisata dan keindahan alam yang belum tergali sepenuhnya. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya pengembangan sistem informasi kampung berbasis geospasial. Dengan luas 133,85 km2 dan penduduk 8225 jiwa, nagari ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata. Keterbatasan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, seperti akses internet, menjadi tantangan utama yang mempengaruhi ketersediaan data penting seperti basis data, data rumah, dan data penduduk. Pengembangan sistem informasi kampung perlu didukung oleh peningkatan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. Pengabdian masyarakat menggunakan model Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan pendekatan Focus Group Discussion (FGD) dan pelatihan aparatur nagari. Berdasarkan hasil kegiatan pelatihan yang telah dilaksanakan diperoleh bahwa terdapat peningkatan signifikan pada pemahaman aparatur pemerintah nagari terkait konsep dan teknis pembuatan sistem informasi kampung. Pelatihan membekali tim pengembang dengan keterampilan geospasial untuk memajukan desa.