Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Literasi finansial digital dan kesenjangan ekonomi: tinjauan teoretis tentang peran teknologi pendidikan inklusif alzet Rama; Wiki Lofandri
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 8 No. 3 (2023): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086375011

Abstract

Transformasi ekonomi digital yang didorong oleh FinTech menjanjikan inklusi keuangan, namun secara paradoks berpotensi memperlebar kesenjangan digital-finansial bagi populasi rentan akibat rendahnya Literasi Finansial Digital (LFD). Respons pendidikan tradisional seringkali gagal mengakomodasi keragaman kebutuhan belajar. Artikel ini mengatasi kesenjangan teoretis tersebut dengan mengonstruksi Model Tinjauan Teoretis (MTT) TPI-LFD, yang memposisikan Teknologi Pendidikan Inklusif (TPI)—berlandaskan prinsip Universal Design for Learning (UDL)—sebagai variabel mediator kunci. TPI didefinisikan sebagai integrasi infrastruktur digital dan kerangka pedagogis UDL yang fokus pada aksesibilitas kognitif dan keterlibatan multimoda. Model ini beroperasi dalam tiga fase: Inklusi Akses, Transformasi Kapabilitas (LFD dan Efikasi Diri), dan Aktualisasi Dampak (Perilaku Finansial Adaptif). MTT TPI-LFD memproyeksikan bahwa desain teknologi yang inklusif dapat meningkatkan kompetensi LFD dan self-efficacy individu, yang pada akhirnya memicu perubahan perilaku finansial adaptif di level mikro. Secara agregat, perubahan perilaku ini merupakan determinan krusial yang berkontribusi pada mitigasi kesenjangan sosial-ekonomi di level makro. Model ini menawarkan landasan konseptual bagi perumus kebijakan untuk merancang strategi inklusi ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan, menuntut reorientasi dari sekadar penyediaan konten menuju desain instruksional yang humanis.
Towards a proactive mental health ecosystem: a conceptual model of integrated digital layers alzet Rama; Wiki Lofandri; Siti Fadillah Sallamah; Syahda Humayra
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 3 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086684011

Abstract

Sementara dunia terus dilanda krisis kesehatan mental global, sistem layanan yang ada saat ini sebagian besar bersifat reaktif, hanya membantu orang setelah mereka mencapai tahap krisis. Makalah konseptual ini mengusulkan Ekosistem Berlapis untuk Pengelolaan Kesehatan Mental Proaktif sebagai solusi yang dapat memperbaiki struktur layanan, membuka jalan untuk fokus pada pencegahan dini dan pemeliharaan kesejahteraan daripada sekadar penyembuhan. Model yang diusulkan di sini terdiri dari empat lapisan yang saling terkait secara fungsional: pertama, pengumpulan data sensorik yang menggunakan sumber pasif dan aktif; kedua, mesin analitik prediktif yang mengeluarkan sinyal peringatan dini; ketiga, pengiriman intervensi mikro; dan terakhir, keterlibatan manusia sebagai pemeriksaan klinis akhir. Selain mengusulkan tipologi intervensi yang mencakup aspek kognitif, perilaku, sosial, dan digital, makalah ini juga mengkritik “Paradoks Privasi-Personalisasi” dengan mengusulkan solusi etis seperti minimalisme data dan kontrol pengguna yang transparan. Dengan menetapkan ukuran kinerja baru seperti tingkat keterlibatan dan penurunan peristiwa eskalasi, struktur ini diharapkan menjadi panduan untuk mengembangkan teknologi kesehatan mental yang tidak hanya cerdas tetapi juga mampu membangun kepercayaan dan otonomi pengguna
Reconstructing vocational identity in the gig economy: a protean-boundaryless model for vocational students alzet Rama; Wiki Lofandri; Saftrian Mukhlizul Fuad
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 4 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036744000

Abstract

Artikel ini merekonstruksi konsep pembentukan identitas profesional siswa vokasi di tengah transformasi ekonomi gig. Melalui sintesis teoritis, studi ini mengidentifikasi bahwa identitas vokasional tradisional yang dibangun atas spesialisasi tetap, validasi institusional, dan jalur karier linear tidak lagi memadai dalam ekosistem kerja berbasis proyek. Ekonomi gig menuntut identitas yang adaptif, multipel, dan dikelola secara strategis, di mana kemampuan membangun portofolio hibrida, reputasi digital, dan navigasi mandiri menjadi krusial. Artikel mengusulkan model integratif "Protean-Boundaryless" yang memandang identitas sebagai "proyek diri" yang terus diperbarui melalui interaksi dinamis antara agensi individu, struktur platform digital, dan pendidikan vokasi. Implikasinya menuntut pergeseran paradigma pendidikan vokasi dari penyiapan tenaga kerja spesialis menuju pengembangan kapasitas navigasi, ketangguhan psikologis, dan literasi digital untuk merespons ketidakpastian pasar kerja kontemporer
Kerangka konseptual bimbingan karir berperspektif keadilan sosial bagi kelompok marginal alzet Rama; Wiki Lofandri
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 3 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036781000

Abstract

Artikel ini mengusulkan kerangka konseptual untuk mengintegrasikan prinsip keadilan sosial ke dalam bimbingan karir dalam sistem Pendidikan Teknis dan Kejuruan (TVET) yang inklusif. Melalui tinjauan literatur sistematis, kajian ini menggabungkan teori-teori keadilan sosial (seperti kerangka Nancy Fraser, Pendekatan Kapabilitas, dan Teori Kritis) untuk mentransformasi peran konselor dari fasilitator individu menjadi agen perubahan yang advokatif. Kerangka multi-level yang diusulkan mencakup intervensi pada tingkat makro (kebijakan), meso (kelembagaan), dan mikro (praktik konseling), dengan prinsip-prinsip operasional seperti interseksionalitas, pemberdayaan agensi, perspektif berbasis kekuatan, dan aksesibilitas universal. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem TVET yang secara aktif menghapus hambatan struktural bagi kelompok marginal dan penyandang disabilitas, memastikan partisipasi penuh dan hasil yang setara. Artikel ini menyoroti perlunya reorientasi dalam pendidikan konselor dan kebijakan TVET untuk mewujudkan inklusi yang transformatif.
Model konseptual transisi sekolah ke kerja berbasis kesehatan mental di era pasca pandemi alzet Rama; Wiki Lofandri; Saftrian Mukhlizul Fuad
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 3 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036785000

Abstract

Artikel ini mengusulkan model teoretis baru untuk memfasilitasi transisi sekolah-ke-dunia kerja (School-to-Work Transition/STWT) di era pasca-pandemi. Model ini merespons dampak psikologis mendalam dari pandemi seperti penurunan self-efficacy, kecemasan, dan atrofi keterampilan sosial yang memperumit adaptasi lulusan baru di dunia kerja yang telah bertransformasi secara digital. Berbeda dengan pendekatan tradisional yang linier dan berfokus pada skill-matching, model ini menempatkan Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Psikologis sebagai landasan fundamental. Di atas landasan ini, model dibangun dengan empat pilar utama: Literasi Digital dan Keterampilan Hybrid, Kompetensi Sosial-Emosional yang Diperbarui, Identitas Karier yang Lentur dan Eksploratif, serta Jejaring Dukungan Ekologis yang Diperkuat. Artikel ini berargumen bahwa jembatan transisi yang efektif harus holistik, resilien, dan mengintegrasikan dimensi psikologis dengan kompetensi adaptif dan dukungan sistemik. Implementasi model memerlukan kolaborasi sinergis dari institusi pendidikan, industri, pembuat kebijakan, dan individu sebagai agen aktif
Model cognitive apprenticeship-mentoring: sebuah sintesis konseptual untuk pengembangan kompetensi vokasional alzet Rama; Wiki Lofandri
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 1 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036812000

Abstract

Artikel ini mengusulkan kerangka kerja integratif yang mensinergikan teori Cognitive Apprenticeship (CA) dan teori mentoring karir untuk pengembangan kompetensi vokasional yang holistik di era modern. Melalui studi literatur dengan pendekatan kualitatif dan analisis konseptual, penelitian ini mengidentifikasi titik konvergensi dan komplementaritas antara kedua pendekatan. Hasilnya adalah model Cognitive Apprenticeship-Mentoring (CAM) yang terdiri atas empat fase dinamis: pemodelan terintegrasi, pembinaan kontekstual, artikulasi-refleksi berbasis dialog, dan eksplorasi karir. Model ini tidak hanya memperkuat transfer keterampilan teknis dan kognitif, tetapi juga memperhatikan dimensi psikososial, identitas profesional, serta adaptabilitas karir. Implementasinya menuntut kolaborasi antara pendidikan vokasi, industri, dan konseling karir, serta transformasi peran pendidik dan pembimbing menjadi mentor-cognitive coach. Kerangka CAM diharapkan dapat menjawab tantangan sistem vokasional yang terfragmentasi dan membentuk keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Merekonstruksi konseling vokasi melalui integrasi socio emotional learning dan kecerdasan emosional alzet Rama; Wiki Lofandri
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 2 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036813000

Abstract

Artikel ini menganalisis secara kritis keterbatasan paradigma konseling vokasi yang masih didominasi pendekatan teknis-transaksional dan berorientasi penempatan kerja. Berdasarkan tinjauan konseptual sistematis, penelitian menunjukkan bahwa dinamika dunia kerja abad ke-21 menuntut lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif, tangguh, dan memiliki kecakapan sosio-emosional yang matang. Oleh karena itu, artikel ini mengusulkan rekonstruksi paradigma konseling vokasi melalui integrasi prinsip-prinsip Socio-Emotional Learning (SEL) dan kecerdasan emosional sebagai fondasi inti. Argumen teoretis dibangun dengan mensintesis teori karir kontemporer, model kecerdasan emosional, dan kerangka SEL untuk menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas intrapersonal dan interpersonal merupakan prasyarat bagi kesiapan kerja yang berkelanjutan. Implikasinya, peran konselor perlu bertransformasi dari placement officer menjadi developmental facilitator, dengan kurikulum layanan yang menginternalisasi pengembangan kompetensi sosio-emosional secara sistematis dan terintegrasi dalam ekosistem sekolah vokasi.