Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PELATIHAN MAHARAH AL-KALAM DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DENGAN METODE STUDENT CENTERED LEARNING (SCL) DI TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN JANNATUL QUR’AN, KEL. SAMATA, KEC. SOMBA OPU, KAB. GOWA Ahmad Sirfi Fatoni Ahmad Sirfi; Irfan; Syapril; Rahmat Rizal; Muh. Ilham Shohib
Jurnal Abdi Masyarakat Pendidikan Vol. 2 No. 01 (2025): Jurnal Abdi Masyarakat Pendidikan
Publisher : Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Kampus VI Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa Arab mempunyai empat keterampilan berbahasa, salah satunya ialah maharah al-kalam. Keterampilan ini menjadi hal yang mutlak dikuasai oleh setiap pembelajar bahasa Arab, karena esensi utama dari suatu bahasa ialah untuk berkomunikasi. Di TPA Jannatul Qur’an, Kel. Samata, Kec. Somba Opu pengabdi menemukan adanya kejanggalan anak-anak TPA yang mana kemampuan dalam praktik berbahasa Arab masih di bawah standar. Ada beberapa anak ditemukan kurangnya wawasan mereka terkait maharah al-kalam. Padahal untuk bisa berbahasa Arab dengan baik, maka seorang pembelajar harus menguasai maharah al-kalam yang ditopang oleh penguasaan kosakata dengan baik. Di TPA tersebut, pengabdi mencatat bahwa kosakata kosakata dasar seperti ةذفان ،ةروبس ،مأ ،بأ ، ،باتك ،ملق, banyak yang tidak diketahui. Kejadian itu memicu pengabdi untuk mengadakan pelatihan bahasa Arab dengan waktu kurang lebih 6 bulan. Pelatihan pembelajaran bahasa Arab dengan metode Student Centered Learning tersebut akan dilaksanakan secara konsisten. Setelah dilaksanakan pelatihan ini terjadi peningkatan dalam Maharah al-kalam dengan menggunakan bahasa Arab bagi anak-anak TPA Jannatul Qur’an tersebut. Beberapa pengetahuan, khususnya kosakata bahasa Arab sudah banyak diketahui oleh anak-anak. Sebagian dari mereka bisa mempraktikkannya dengan teman-temannya ketika pembelajaran berlangsung. Jadi bisa dikatakan metode SCL berhasil dalam meningkatkan maharah al-kalam bagi anak-anak TPA di sana. Semoga cakrawala dan wawasan terkait bahasa Arab tersebut bisa diterapkan secara istiqomah di TPA tersebut.
Pengaruh Lingkungan Arsitektural Perguruan Tinggi terhadap Minat Belajar Mahasiswa Arsitektur Rahmat Rizal; Bakhrani A Rauf
SOCIETIES: Journal of Social Sciences and Humanities Vol 6, No 1 (2026): SOCIETIES: Journal of Social Sciences and Humanities
Publisher : SOCIETIES: Journal of Social Sciences and Humanities

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/societies.v6i1.86733

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh lingkungan arsitektural kampus terhadap minat belajar mahasiswa Arsitektur di Universitas Negeri Makassar (UNM), khususnya Fakultas Teknik, Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan. Lingkungan arsitektural yang dimaksud mencakup tata ruang, pencahayaan alami, ventilasi, kenyamanan termal, dan estetika bangunan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik survei yang melibatkan 100 mahasiswa aktif. Hasil analisis menunjukkan bahwa lingkungan arsitektural berpengaruh signifikan terhadap minat belajar mahasiswa. Temuan ini menegaskan pentingnya desain ruang kampus yang mendukung kenyamanan dan motivasi belajar. Kata Kunci: Lingkungan Arsitektural; Minat Belajar; Mahasiswa Arsitektur; Kampus UNM; Desain Ruang
Pelatihan Kitab Ala La Tanalul ‘Ilma illa bi Sittatin bagi Santri-Santri di Pondok Pesantren Darul Hasanain Grogolan Umbulmartani Ngemplak Sleman Yogyakarta Ahmad Sirfi Fatoni Fatoni; Rahmat Rizal; Muhammad Jamil; Muhammad Rifai; Izza Khumayya
MAMMIRI: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 3 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/mammiri.v3i2.5176

Abstract

Program pengabdian ini dilatar belakangi oleh kemampuan dan wawasan santri-santri di Pondok Pesantren Darul Hasanain, Grogolan, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta terkait pemahaman dan implementasi ilmu akhlak yang masih awam, khususnya di kelas Ula. Penanaman akhlak harus dilakukan secara gradual dan konsisten. Banyak anak yang tahu perbuatan itu baik, tetapi masih sulit untuk melakukannya. Demikian juga sebaliknya, mereka sudah tahu perbuatan itu buruk, akan tetapi masih dilakukan dengan mengedepankan hawa nafsu. Dari fenomena itulah, pengabdi tertarik untuk mengadakan program pengabdian dengan memanfaatkan kitab Ala La Tanalul ‘Ilma illa bi Sittatin sebagai rujukan utama. Adapun metode pengabdian yang digunakan meliputi 2 tahap yaitu: Tahap Persiapan dan Tahap Pelaksanaan. Dalam tahap persiapan mencakup beberapa hal diantaranya: Persiapan proposal pengabdian, Persiapan bahan ajar, dan Persiapan sarana dan prasarana pelatihan. Adapun pada tahap pelaksanaan meliputi: Tahap pengenalan awal terkait program dan aturannya, Tahap Permulaan dalam pelatihan, Tahap evaluasi, dan Tahap pendampingan. Adapun hasil pengabdian dari program ini ialah adanya peningkatan kemampuan dan wawasan para santri pondok pesantren Darul Hasanain, dari nilai rata-rata yang dicapai sebelumnya yaitu 78,08 pada saat pre-test, lalu pada saat post-test nilai rata-rata mereka berubah menjadi 96,08. Harapan dari program ini ialah semoga akhlak para santri di ponpes tersebut semakin baik dan tetap mempertahankan akhlak yang baik sepanjang hayat.
Pelatihan Kitab Al-Mabadi’ Al-Fiqhiyyah Bagi Para Santri Di Pondok Pesantren Ahmad Sirfi Fatoni; Irfan; Rahmat Rizal; Muh Ilham Shohib; Ahmad Sodikin Ahmad Sodikin
LITERA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2026): Januari
Publisher : PT. Mediatama Zayna Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59734/lajpm.v3i1.316

Abstract

Program pengabdian ini dilatar belakangi oleh kemampuan para santri di Pondok Pesantren Darul Hasanain, Grogolan, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta terkait pemahaman fikih yang masih awam, khususnya di kelas Wustho. Hal itu karena, mereka memang dikategorikan sebagai pembelajar pemula, latar belakang sekolah mereka sebelumnya rata-rata dari sekolah umum, yaitu SD, ada juga yang dari SMP, terus mondok di pesantren tersebut. Tujuan dari pengabdaian ini yaitu untuk meningkatkan kemampuan para santri dalam kajian ilmu fikih, khususnya dengan menggunakan kitab Al-Mabadi’ al-Fiqhiyyah. Adapun metode pengabdian yang digunakan meliputi 2 tahap yaitu: Tahap Persiapan dan Tahap Pelaksanaan. Dalam tahap persiapan mencakup beberapa hal yaitu: Persiapan proposal pengabdian, Persiapan bahan ajar, dan Persiapan sarana dan prasarana pelatihan. Sementara pada tahap pelaksanaan meliputi: Tahap pengenalan awal terkait program dan aturannya, Tahap Permulaan dalam pelatihan, Tahap evaluasi, dan Tahap pendampingan. Adapun hasil pengabdian dari program tersebut ialah adanya  peningkatan kemampuan para santri pondok pesantren Darul Hasanain, dari nilai rata-rata yang dicapai sebelumnya yaitu 76,02 pada saat pre-test, lalu pada saat post-test nilai rata-rata mereka berubah menjadi 92,05.  
Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pelatihan Kitab Al-Akhlak Li Al-Banin Juz I Bagi Para Santri Di Pondok Pesantren Ahmad Sirfi Fatoni Fatoni; Rahmat Rizal; Achmad Romadin; Muhammad Jamil; Muhammad Rifai
LITERA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : PT. Mediatama Zayna Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59734/lajpm.v3i2.342

Abstract

This community service programme was prompted by the situation faced by students at the Darul Hasanain Islamic Boarding School in Grogolan, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, regarding their limited understanding of ethics, particularly among those in the Ula class. The cultivation of ethical values must be carried out gradually and consistently. Most of them still find it difficult to read Arabic texts and interpret them using Javanese. It is this situation that prompted the volunteers to organise a community service programme, utilising the book “Al-Akhlak li Al-Banin Juz I” by Syekh Umar bin Ahmad Barja’ as the primary reference. The community service method employed comprises two stages: the Preparation Stage and the Implementation Stage. The preparation stage covers several aspects, including: preparation of the community service proposal, preparation of materials, and preparation of training facilities and infrastructure. The implementation stage comprises: an initial introduction to the programme and its rules, the commencement of training, the evaluation stage, and the mentoring stage. The findings indicate that the training on the book “Al-Akhlāq li al-Banīn” Volume I for the students at the Darul Hasanain Islamic boarding school has successfully made a significant contribution to enhancing the students’ skills and knowledge regarding the ethics covered in the book. This is evidenced by the students’ pre-test scores, which initially averaged 67,16; following the post-test, their average score rose to 95,75. Another improvement relates to their behaviour and conduct, which have shown a marked improvement following the delivery of this community service programme.
Karakteristik Arsitektur Rumah Adat Bugis: Studi Komparasi Rumah Adat Lapinceng Barru dan Sao Mario Soppeng Akmal Baharuddin; Bakhrani A. Rauf; Rahmat Rizal
Indonesian Journal of Pedagogical and Social Sciences Vol 5, No 2 (2026): Indonesian Journal of Pedagogical and Social Studies
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/ijpss.v5i2.86699

Abstract

Abstract. Traditional architecture refers to buildings whose form, variety, and construction methods are inherited from generation to generation. This study aims to identify the architectural characteristics and to describe the similarities and differences between the traditional house of Lapinceng in Barru Regency and the Bugis traditional house of Sao Mario in Batu-Batu, Soppeng Regency, in terms of spatial orientation, floor plan and form, materials, structure and construction, and ornamental aspects. A qualitative approach with a descriptive method was applied through four stages: data selection, data presentation, analysis, and conclusion drawing. The findings reveal significant differences between the two traditional houses in terms of floor plan, facade, materials used, structural system, construction method, and ornamentation. Both houses share the saoraja classification, knock-down construction system, and the use of alliri as the primary structural element. The influence of science, technology, and cultural interaction since the colonial period has shaped the current form of Buginese noble houses. Periodic preservation efforts by both owners and the government are essential to sustain this traditional Bugis architectural heritage as a national cultural asset.Keywords: Traditional house, architectural characteristics, Lapinceng, Sao Mario, Bugis