Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemanfaatan Serat Kulit Kayu Semang (Guazuma Ulmifolia) Sebagai Bahan Dasar Benang Rajut Noken Koyari, Yanes; Hasbi, Hasbi
Corak Vol 13, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v13i1.11290

Abstract

AbstractThe use of natural fibers as a substitute for synthetic fibers is one step in improving the quality of superior fiber values. One source of natural fiber that can be used to make fiber is watermelon bark fiber (Guazuma Ulmifolia) which can be obtained from nature. Semang wood trees are a type of plant that is often found in the Papuan wilderness. Watermelon bark can produce fiber from the bark. Fiber can be used as rope or knitted thread because it has good durability. This research uses an applied experimental method with a qualitative approach, the research subject is watermelon bark. The data collection process to complete this research uses two data collection techniques, namely documentation and experimentation. Exploration results show that the process of processing semang bark can be processed into fiber by separating the bark from the tree trunk, then soaking, cleaning and separating the bark and fiber, then drying in the sun. Semang bark fiber can be used to make rope because the fiber is very strong. The results of the research showed that testing the tensile strength and elongation of semang bark had strength and durability when applying noken. This explains that the semang bark fiber meets the fiber strength standards for making noken. Semang bark processing is utilized by making knitted noken or creative noken products of two prototype models that combine semang bark fibers (Guazuma Ulmifolia). This is done to create a different product while maintaining the aesthetic value and prestige value of the noken product producedAbstrakPenggunaan serat alam sebagai pengganti serat sintetis merupakan salah satu langkah dalam meningkatkan kualitas nilai serat yang unggul. Salah satu sumber serat alam yang dapat dimanfaatkan menjadi serat adalah serat kulit kayu semang (Guazuma Ulmifolia) yang dapat diperoleh dari alam. Pohon kayu semang adalah jenis tumbuhan yang  banyak terdapat di hutan belantara Papua. Kulit kayu semang dapat menghasilkan serat dari kulit batangnya. Serat dapat dimanfaatkan sebagai tali-talian, atau benang rajutan karena memiliki daya tahan yang baik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen terapan dengan pendekatan kualitatif, subjek penelitian adalah kulit kayu semang. Proses pengumpulan data untuk melengkapi penelitian ini dengan menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu dokumentasi dan eksperimen. Hasil eksplorasi menunjukan bahwa proses pengolahan kulit kayu semang dapat diolah menjadi serat dengan cara memisahkan kulit dari batang pohon, lalu direndam, dibersihkan dan dipisahkan antara kulit dan serat, selanjutnya dijemur. Serat kulit kayu semang dapat dimanfaatkkan menjadi tali karena serat yang sangat kuat. Hasil penelitian menunjukkan pengujian kekuatan tarik dan mulur kulit kayu semang memiliki kekuatan dan daya tahan pada penerapan noken. Hal ini menjelaskan bahwa serat kulit kayu semang memenuhi standar kekuatan serat untuk pembuatan noken. Pengolahan kulit kayu semang dimanfaatkan dengan cara membuat produk noken rajutan atau noken kreasi sebanyak dua model prototype yang memadu serat kulit kayu semang (Guazuma Ulmifolia). Hal ini dilakukan untuk menciptakan suatu produk yang berbeda dengan tetap menjaga nilai estetika dan nilai prestige dari produk noken yang dihasilkan.
PENERAPAN NEKAY (BONEKA KULIT KAYU) SEBAGAI KONSEP EDUECOTOURISM UNTUK MENDUKUNG PROGRAM DESA RAMAH PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK DI KAMPUNG ASEI KABUPATEN JAYAPURA Suseno, Bayu Aji; Utami, Putri Prabu; Astuti, Retnoning Adji Widi; Murda, Muhammad Ilham Mustain; Rinantanti, Yulini; Wafom, Yunus; Koyari, Yanes
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i2.65483

Abstract

The development of Asei Village as a pilot village for the Women's Friendly and Child Protection Village (DRPPA) program has not yet been accompanied by activities that support play and learning spaces for children, as well as women's economic empowerment to enhance artistic entrepreneurship based on the potential of local materials (Khombouw bark). This community service activity aims to provide training in creating bark puppet theater performance models (NEKAY) for women (mama-mama) bark artisans in Asei Village. The Asset-Based Community Development (ABCD) method is used in this community service activity through four stages: (1) socialization of environmental- and education-based sustainable tourism (educotourism) programs; (2) training in sketching, creating basic patterns, assembly techniques, doll finishing, and the production of NEKAY ASEI performance merchandise in the form of gift-set hamper souvenirs; (3) assistance in developing performance models through training in vocal performance, musical accompaniment for NEKAY theater performances, and puppet manipulation techniques (movement), using monologue drama scripts based on the stories Friends of Animals and Mama Asei; and (4) development of the NEKAY ASEI theatrical performance through marketing strategies covering the production process, promotional media, and preparation for public performances. The output targets of this community service activity are performance props in the form of Khombouw bark puppets depicting indigenous Papuan children and endemic Papuan animals (the Bird-of-Paradise and the Waigeo Cuscus), as well as the addition of one female character (Mama Asei), and three children's songs with more cheerful and energetic musical arrangements that convey themes of friendship between humans and animals, as well as parental love for children. Pengembangan Kampung Asei sebagai desa percontohan program Desa Ramah Perempuan dan Perlindungan Anak (DRPPA) masih belum disertai dengan kegiatan yang menunjang ruang bermain dan belajar bagi anak, serta pemberdayaan ekonomi perempuan untuk meningkatkan kewirausahaan seni berbasis potensi material lokal (kulit kayu Khombouw). Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pelatihan pembuatan model pertunjukan teatrikal boneka kulit kayu (NEKAY) bagi perempuan (mama-mama) pengrajin kulit kayu di Kampung Asei. Metode Asset Based Community Development (ABCD) digunakan dalam kegiatan pengabdian melalui empat tahapan, antara lain: (1) sosialisasi program pariwisata berkelanjutan berbasis lingkungan dan edukasi (eduecotourism); (2) pelatihan pembuatan sketsa, pola dasar, teknik perakitan, finishing boneka & pelatihan pembuatan produk merchandise pertunjukan NEKAY ASEI dengan format gift set hampers souvenir, (3) pendampingan model pertunjukan dengan pelatihan olah vokal dan musik iringan pertunjukan teater NEKAY dan teknik manipulasi (gerak) boneka dengan naskah drama monolog cerita Sahabat Satwa dan Mama Asei, (4) pengembangan pentas seni teatrikal NEKAY ASEI dengan menggunakan strategi pemasaran mulai dari proses pembuatan, media promosi hingga siap untuk dinikmati oleh penonton. Target luaran dari kegiatan pengabdian ini adalah alat peraga pertunjukan berupa boneka kulit kayu yang berbentuk anak asli Papua dan binatang satwa endemik Papua (Burung Cenderawasih dan Kuskus Waigeo), serta tambahan satu buah karakter tokoh perempuan (Mama Asei), serta tiga buah lagu anak-anak dengan aransemen musik yang lebih ceria dan energik yang bertemakan tentang persahabatan antara manusia dengan hewan, serta kasih sayang orang tua terhadap anak.