Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Long Range (LoRa) Network Planning Analysis at 920-923 MHz Frequency for Region Palabuhanratu Delisya Nabilla Hendrawan; Uke Kurniawan Usman; Budi Prasetya
Proceeding of International Conference on Information Science and Technology Innovation (ICoSTEC) Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference on Information Science and Technology In
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/icostec.v1i1.20

Abstract

LoRa technology in Indonesia is currently in the development stage to accelerate the digitalization of cheap and reliable connectivity-based smart utilities. Palabuhanratu is a potential area for LoRa network infrastructure development due to the density of end devices in Palabuhanratu which causes the process of sending data on a network to be hampered. The parameters used in the LPWA software simulation include Signal Level, Noise to Interference Carrier Level and Link Budget. This research method analyzes the simulation results on Signal Level, Noise to Interference Carrier Level and Link Budget as parameters for the construction of LoRa network infrastructure at a frequency of 920-923 MHz in Palabuhanratu. The research is divided into two planning stages. The first planning stage is the calculation of capacity and calculation of coverage. The second planning stage is simulation using Atoll Low Power Wide Area software. The results of the simulation analysis obtained in this study are that there are 10 gateway capacities using the Atoll application software. The average values generated by the simulation parameters include the Signal Level, which is -64.06 dBm with the ”good” category based on the KPI standard, which is more than - 80 dBm and the Noise to Interference Carrier Level parameter of 27.71 dB which is included in the ”excellent” category, namely greater than 12 dBm in KPI standardization, and the resulting path loss is -107.74 dBm at a cell radius of 1.261 km.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya Dan Angin pada Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kabupaten Kuningan Budi Prasetya; Kris Sujatmoko; Dharu Arseno; Yuyun Siti Rohmah; Tri Nopiani Damayanti; Sugondo Hadiyoso
The Proceeding of Community Service and Engagement (COSECANT) Seminar Vol. 4 No. 2 (2024): The Proceeding of Community Service and Engagement (COSECANT) Seminar
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/cosecant.v4i2.8480

Abstract

Pondok Pesantren (Ponpes) Husnul Khotimah (HK) dikenal sebagai lembaga pendidikan modern yang sudah mulai banyak mengenal teknologi, tidak hanya fokus ke pelajaran keagamaan saja, namun perhatian juga terhadap mata pelajaran eksak seperti Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Aktivitas ektrakurikuler juga dikembangkan, sehingga bisa dikatakan jam operasional Pesantren adalah 24 jam. Akibat operasional selama 24 jam ini, maka biaya operasional Ponpes sangat tinggi terutama dalam penyediaan catu daya listrik. Selama ini belum dicoba alternatif pembangkitan catu daya karena keterbatasan pengetahuan dan anggaran pengadaan. Pada tahun 2023 sudah dimulai inisiasi kerjasama antara Telkom University dengan Ponpes HK, salah satu kebutuhan Ponpes HK yaitu pengadaan pembangkit listrik tenaga surya dan jika memungkinkan juga pembangkit listrik tenaga angin. Berdasarkan permintaan tersebut, maka kami tim dosen dari Fakultas Teknik Elektro dan Fakultas Ilmu Terapan menyambut baik permintaan tersebut dengan merencanakan kegiatan pengabdian Masyarakat dengan Mitra Sasar adalah Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Kegiatan telah dilakukan selama 2 semester dengan program implementasi pembangkit listrik tenaga surya dan angin di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Kegiatan ini berkolaborasi dengan PT Sasamu Energy Perkasa (PT SEP). PT SEP adalah Perusahaan penyedia peralatan catu daya Listrik dari Jakarta, direktur dari PT SEP adalah alumni Universitas Telkom. Dengan adanya kolaborasi ini, manfaat yang dirasakan oleh Mitra Sasar menjadi lebih banyak, selain memperoleh alternatif catu daya Listrik, bisa juga sebagai bagian proses pembelajaran civitas akademika Madrasah Aliah Ponpes HK.
Implementasi Ketahanan Pangan dengan Urban Farming di KWT Mekar Arum Mewangi, GBA 3, Bojongsoang, Kab. Bandung Sugondo Hadiyoso; Muhammad Farhan Alghifari Chaniago Saputro; Yuyun Siti Rohmah; Budi Prasetya
The Proceeding of Community Service and Engagement (COSECANT) Seminar Vol. 5 No. 1 (2025): The Proceeding of Community Service and Engagement (COSECANT) Seminar
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/cosecant.v5i1.9310

Abstract

Ketahanan pangan merupakan isu penting yang menjadi program pemerintah Indonesia. Ketahanan pangan bersifat mendesak, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, populasi yang terus bertambah, serta yang tidak kalah penting adalah keterbatasan lahan pertanian. Implementasi ketahanan pangan melalui urban farming menjadi solusi inovatif dalam menghadapi keterbatasan lahan dan meningkatkan kemandirian pangan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mengkaji pelaksanaan urban farming oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Arum Mewangi di Griya Bandung Asri 3, Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Tujuannya adalah menerapkan penelitian berkaitan dengan urban farming dalam mendorong ketahanan pangan mandiri serta memberdayakan ibu-ibu dalam kegiatan pertanian perkotaan. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, wawancara, dan pendampingan kelompok. Selain implementasi, tim juga memberikan pelatihan pembibitan sayuran hidroponik. Hasil kegiatan ini diharapkan urban farming tidak hanya meningkatkan ketersediaan pangan lokal tetapi juga memperkuat partisipasi perempuan dalam pengelolaan sumber daya pertanian. Sistem yang diimplementasikan dilengkapi dengan sensor-sensor untuk mendeteksi suhu air, suhu udara, dan kelembapan sekitar sehingga kondisi lingkungan hidroponik dapat terus termonitor. Dengan memanfaatkan lahan terbatas secara optimal, KWT Mekar Arum Mewangi berharap dapat menciptakan model ketahanan pangan berbasis komunitas yang berkelanjutan dimulai dari lingkup kecil.