Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Effectiveness of health education Breast Self Examination (BSE) on knowledge of breast cancer prevention Legi, Julita; Molintao, Winarsi; Kairupan, Michelle; Mokalu, Shania
Science Midwifery Vol 12 No 1 (2024): April: Health Sciences and related fields
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v12i1.1470

Abstract

Breast cancer remains a health issue among women of reproductive age. There is breast self-examination (BSE) to prevent breast cancer. This study aimed to examine the effectiveness of health education using a leaflet about BSE. This study was supported by Senior high school number 2 Langowan. The study sample was 30 students from ages 14 to 16 years old in grades X and XI. The knowledge in this study was categorized as good and not. The result revealed increasing students with good knowledge from 73.3 to 90.0. Using paired t-tests this study revealed the effectiveness of health education using leaflets to improve BSE knowledge. There is a need for collaboration among stakeholders to emphasize this issue.
PENERAPAN POSITIVE SELF TALK THERAPY DALAM MENGATASI HARGA DIRI RENDAH KRONIS Karame, Verra; Molintao, Winarsi; Kairupan, Michelle; Lasut, Nike Rossario
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 4 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i4.51872

Abstract

Harga diri merupakan faktor utama penentu kesehatan jiwa manusia. Harga diri rendah ialah perasaan yang negatif terhadap diri sendiri yang menyebabkan individu kehilangan kepercayaan diri, munculnya sifat pesimis, serta merasa tidak berharga dalam kehidupannya. Positive self talk therapy merupakan terapi berbicara hal-hal baik atau positif terhadap diri sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan positive self talk therapy dalam mengatasi masalah harga diri rendah kronis. Terapi ini bertujuan untuk membantu klien memiliki pola pikir dan persepsi yang lebih baik terhadap diri sendiri sehingga membantu meningkatkan harga diri klien karena harga diri sangat bergantung pada pola pikir dan persepsi atau penilaian terhadap diri sendiri. Sebelum diberikan terapi self talk positif, klien mengatakan bahwa dirinya tidak berguna, tidak mempunyai keahlian, dan takut ditinggalkan oleh istrinya. Setelah diberikan terapi, klien mengatakan bahwa ia merasa lebih tenang setelah mengikuti latihan positive self talk therapy dan meyakini bahwa semua orang berguna dan mempunyai keahlian masing-masing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi positive self talk therapy terbukti efektif dalam mengatasi masalah harga diri rendah. Diharapkan positive self talk therapy dijadikan sebagai salah satu intervensi yang dapat diberikan kepada pasien yang mengalami kecemasan, memiliki sifat pesimis, ketidakpercayaan diri, dan harga diri rendah.
ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL NAPAS ON VENTILATOR PADA PASIEN NY. A. L DENGAN PENERAPAN CLOSE SUCTION DI RUANGAN ICU BAWAH RSUP PROF. DR. R D KANDOU MANADO Manengkey, Olvin; Kairupan, Michelle; Nindi, Engryne; Tarema, Setya Prastica
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.51966

Abstract

Gagal napas akut (GGA) merupakan gangguan fungsi pompa otot pernapasan atau disfungsi pada paru-paru, terjadi ketidakseimbangan beban pada otot pernapasan dan kapasitas pompa otot. Tindakan suction yaitu memasukkan selang kateter suction melalui mulut atau hidung atau endotrakeal tube (ETT) yang tujuannya untuk mengurangi retensi sputum, membebaskan jalan nafas serta mencegah infeksi paru. Tujuan Penulisan karya ilmiah akhir Ners (KIAN) bertujuan untuk melakukan asuhan keperawatan pada Ny. A. L dengan Gagal Napas On Ventilator di Ruangan ICU Bawah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Implementasi yang diberikan terhadap pasien adalah dengan mengidentifikasi adanya kelemahan otot bantu nafas, memonitor status respirasi dan oksigen, mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan cara melakukan penerapan tindakan close suction, memonitor pola nafas ( frekuensi nafas ), monitor jumlah,warna ,aroma sputum, melakukan hiperoksigenasi sebelum endotrakeal (close suction) dan melayani obat mukolitik ( N asetilsistein 200 mg via NGT).Hasil penelitian dengan penerapan close suction selama 2 hari, hasil evaluasi  didapatkan penurunan produksi sputum dan peningkatan saturasi oksigen dari 90% menjadi 96%. Kesimpulan dalam penulisan KIAN ini indakan intervensi yang telah dilakukan pada Ny. A. L dengan diagnosa gangguan ventilasi spontan dan bersihan jalan napas tidak efektif yaitu manajemen diberikan tindakan close suction. Dilakukan penghisapan lendir (close suction) kurang dari 15 detik.
GERMAS Policy Implementation and Low-Salt Diet Compliance Among Hypertensive Patients in Ratahan, North Sulawesi, Indonesia Langingi, Ake Royke Calvin; Watung, Grace Irene Viodyta; Sepang, Mareyke Yolanda Lusia; Kairupan, Michelle
Journal of Health and Nutrition Research Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jhnresearch.v5i1.1042

Abstract

The aim of this study was to explore the relationship between the implementation of the “healthy living community movement” (GERMAS) policy and compliance with a low-salt diet among hypertensive patients. A quantitative cross-sectional study was conducted at Ratahan Primary Health Center among hypertensive patients who participated in the GERMAS program. Data were selected through proportional random sampling. Data were analyzed using multivariate logistic regression to determine the relationship between program implementation components, program socialization, community participation, and health facility support, and adherence to a low-salt diet. The analysis revealed that program socialization (OR=2.34, p=0.005, CI: 1.29–4.18), and has the most significant relationship of the other variables; community participation (OR=1.95, p=0.021, CI: 1.11–3.35), and health facility support (OR=2.07, p=0.017, CI: 1.14–3.68) were significantly associated with adherence to a low-salt diet. Implementation of GERMAS through effective program socialization, active community involvement, and adequate health facility support significantly increases adherence to a low-salt diet among hypertensive patients. Strengthening intersectoral collaboration and continuous community empowerment is crucial to sustaining GERMAS outcomes in hypertension prevention and control.
Risk Factors of Chronic Energy Deficiency among Pregnant Women in Minahasa Kairupan, Michelle; Manengkey, Olvin Kristin; Baithesda
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1505

Abstract

Chronic Energy Deficiency (CED) remains a major public health concern among pregnant women and is associated with adverse maternal and neonatal outcomes. This study aimed to analyze the risk factors for CED and identify the dominant predictors among pregnant women in Minahasa. A cross-sectional analytical design was employed involving 246 pregnant women. Data were collected using structured questionnaires, dietary assessments, and Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) measurements. Bivariate analysis was performed using the Chi-square test, and multivariate analysis was conducted using logistic regression. The prevalence of CED was 41.5%. Significant factors associated with CED included maternal age (p=0.012; OR=3.9), parity (p=0.004; OR=4.7), knowledge (p<0.001; OR=14.8), and dietary patterns (p=0.002; OR=2.9). Multivariate analysis revealed that maternal knowledge was the strongest predictor of CED (aOR=15.25; 95% CI: 3.80–61.20), followed by parity, age, and dietary diversity. Education and antenatal care (ANC) visits were not significantly associated with CED prevalence. These findings indicate that knowledge gaps and poor dietary diversity are key determinants of CED. Strengthening culturally sensitive nutrition education within antenatal care services is essential for improving maternal nutrition and supporting stunting reduction strategies. Defisiensi Energi Kronis (CED) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di kalangan ibu hamil dan dikaitkan dengan hasil kehamilan yang buruk bagi ibu dan bayi baru lahir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko CED dan mengidentifikasi prediktor utama di kalangan ibu hamil di Minahasa. Desain penelitian analitik cross-sectional digunakan dengan melibatkan 246 ibu hamil. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, penilaian pola makan, dan pengukuran Lingkar Lengan Atas Tengah (MUAC). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-square, sedangkan analisis multivariat dilakukan menggunakan regresi logistik. Prevalensi CED sebesar 41,5%. Faktor-faktor signifikan yang terkait dengan CED meliputi usia ibu (p=0,012; OR=3,9), paritas (p=0,004; OR=4,7), pengetahuan (p<0,001; OR=14,8), dan pola makan (p=0,002; OR=2,9). Analisis multivariat menunjukkan bahwa pengetahuan ibu merupakan prediktor terkuat CED (aOR=15,25; 95% CI: 3,80–61,20), diikuti oleh paritas, usia, dan keragaman makanan. Pendidikan dan kunjungan perawatan antenatal (ANC) tidak secara signifikan terkait dengan CED. Temuan ini menunjukkan bahwa kesenjangan pengetahuan dan keragaman pola makan yang buruk merupakan faktor penentu utama CED. Memperkuat pendidikan gizi yang sensitif terhadap budaya dalam layanan perawatan antenatal sangat penting untuk meningkatkan gizi ibu dan mendukung strategi pengurangan stunting.
ASUHAN KEPERAWATAN BERBASIS EVIDENCE MASSAGE EFFLEURAGE PADA NYERI POST OPERASI SECTIO CAESAREA DI IRINA D BAWAH RSUP PROF DR R.D KANDOU MANADO kairupan, Michelle; Molintao, Winarsi; Lontoh, Esther; Manengkey, Olvin; Nindi, Engryne; Lolon, Yani
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i2.57438

Abstract

Sectio Caesarea (SC) merupakan tindakan pembedahan untuk membantu proses persalinan ketika tidak dapat dilakukan secara normal akibat kondisi ibu atau janin. Prosedur ini menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan yang memicu pelepasan reseptor nyeri, sehingga pasien sering mengalami nyeri pasca operasi terutama setelah efek anestesi hilang. Nyeri menjadi masalah utama yang memerlukan penanganan efektif, baik secara farmakologis maupun nonfarmakologis. Salah satu metode nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah massage effleurage. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan evidence based practice Massage Effleurage dalam menurunkan nyeri post operasi SC. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan. Populasi adalah pasien post operasi SC, dengan sampel Ny. K yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel penelitian adalah tingkat nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Intervensi Massage Effleurage diberikan selama dua hari, dan data dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan adanya penurunan tingkat nyeri pada Ny. K setelah diberikan intervensi massage effleurage. Skala nyeri awal berada pada tingkat 5 (nyeri sedang) dan menurun menjadi skala 2 (nyeri ringan) pada hari kedua. Penerapan evidence based practice Massage Effleurage efektif dalam menurunkan tingkat nyeri pada pasien post operasi Sectio Caesarea. Intervensi ini dapat dijadikan alternatif terapi nonfarmakologis dalam asuhan keperawatan.
PENERAPAN TERAPI FOOT MASSAGE TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN NY. A DENGAN POST OPERASI SECTIO CAESAREA DI RUANGAN IRINA D BAWAH RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Manengkey, Olvin; Lontoh, Esther; Molintao, Winarsi; Kairupan, Michelle; Nindi, Engryne; Manibui, Lidya
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i2.57902

Abstract

Sectio caesarea adalah suatu tindakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding abdomen setelah usia kehamilan cukup bulan atau janin dapat hidup diluar kandungan. Persalinan secara Sectio Caesarea (SC) memberikan dampak bagi ibu dan bayi. Nyeri post sectio caesarea dapat menimbulkan berbagai masalah pada ibu maupun bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan terapi foot massage terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien Ny. A dengan post operasi sectio caesarea di ruangan Irina D Bawah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus evidence based practice (EBP) dengan satu responden yang mengalami nyeri post operasi sectio caesarea. Intervensi diberikan dua kali sehari dilakukan selama dua hari, masing-masing selama 20 menit. Pengumpulan data dilakukan menggunakan form checklist lembar observasi skala nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Hasil menunjukkan adanya penurunan tingkat nyeri pada Ny. A setelah diberikan intervensi foot massage. Skala nyeri awal berada pada tingkat 5 (nyeri sedang) dan menurun menjadi skala 3 (nyeri ringan) pada hari kedua, pasien sudah terlihat lebih tenang, rileks dan nyaman serta pasien sudah bisa melakukan aktivitas sendiri tanpa bantuan. Penerapan evidence based practice foot massage sebagai manajemen untuk menurunkan nyeri luka post operasi sectio caesarea. Intervensi ini terbukti efektif dalam menurunkan nyeri, dan bisa menjadi pilihan terapi non farmakologi yang dapat membantu klien dengan masalah nyeri, karena pengobatan nonfarmakologi mempunyai banyak keuntungannya seperti dapat dilakukan dimana saja dan tentunya biayanya relatif lebih murah.