Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Kritis Terhadap Sistem Rights-Based Approach Dalam Aksesibilitas E-Ktp Bagi ODGJ Dalam Pasal 63 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Administrasi Kependudukan Perspektif Siyasah Syar'iyyah Fadly; Muh. Bambang Taufik; Eril; Andi Muh. Taqiyuddin BN
Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu Vol. 3 No. 5 (2025): GJMI -MEI
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjmi.v3i5.1614

Abstract

Penelitian ini membahas implementasi sistem rights-based approach dalam aksesibilitas e-KTP bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sesuai dengan Pasal 63 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan, dengan perspektif siyasah syar'iyyah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif untuk menggali data dari sumber buku dan jurnal yang relevan. Meskipun undang-undang ini menjamin hak-hak ODGJ, data lapangan menunjukkan bahwa masih terdapat berbagai kendala dalam pelaksanaannya. Di antaranya adalah stigma sosial yang menghambat ODGJ untuk mengurus dokumen identitas, serta kurangnya pemahaman petugas administrasi mengenai hak-hak ODGJ. Aspek aksesibilitas fisik terhadap layanan publik juga menjadi hambatan utama, di mana lokasi pembuatan e-KTP sering kali tidak ramah terhadap aksesibilitas bagi ODGJ. Realita ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ketentuan hukum dan pelaksanaan di lapangan, yang mengimplikasikan perlunya judicial review dan perbaikan kebijakan berbasis hak untuk menjamin aksesibilitas yang setara. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk perbaikan sistem pendukung bagi ODGJ dalam memenuhi hak identitas mereka.
Analyzing the Meaning and Legal Implications of Prohibitive Injunctions (Lafadz Nahi) In Islamic Law Achmad, Zulkifli; Muh. Bambang Taufik; Fatmawati; Abdul Syatar
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.5657

Abstract

The existence of lafadz nahi (prohibitive injunctions) constitutes a central pillar in the epistemology of Ushul Fiqh that dictates the behavioral boundaries of legal subjects. However, the literal application of classical texts lafadz nahi inherently results in legal invalidation (fasad/bathilomplexities of modern state institutions, global legal pluralism, and commercial economic disruptions. This study aims to analyze the semantic construction, interpretative problematics, and legal implications of lafadz nahi concerning the validity of legal acts and contemporary judicial decisions. This research employs a qualitative normative legal study design, applying conceptual, statutory, and comparative approaches. Data were collected through comprehensive library research encompassing primary sources (Qur'anic nash and Hadith) and multidisciplinary secondary literature from reputable international journals, subsequently analyzed using qualitative content analysis and critical hermeneutics grounded in Maqashid al-Syariah. The results indicate that the semantic certainty of a prohibition (qat'i dalalah) serves as the primary foundation for averting interpretative anarchy within the judiciary. Nevertheless, state authorities frequently politicize the interpretation of prohibitions to consolidate hegemonic power, culminating in legal inflation and jurisdictional clashes with global human rights norms (jus cogens). The application of Maqashid al-Syariah proves crucial in resolving these conflicts, as evidenced by the successful harmonization of the prohibition of riba (usury) within Islamic insurance (Takaful) regulations and the deployment of the nahi doctrine to combat labor exploitation. It is concluded that the violation of an absolute lafadz nahi inherently results in legal invalidation (fasad/bathil), and the rational contextualization of prohibitive texts is absolutely imperative to ensure that Islamic law remains relevant as an instrument of justice in the modern era.