Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Eksploitasi Tubuh Perempuan Melalui Human Egg Farm Berdasarkan Kaidah Ad-Dhararu Yuzal dan Kaidah Mafasid-Maslahah Aulia, Ajeng Hijriatul; Helim, Abdul
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/jkga.v9i1.16030

Abstract

Fenomena Human Egg Farm menyingkap sisi gelap industrialisasi tubuh manusia dalam lanskap biokapitalisme modern. Kajian ini mengkaji praktik tersebut melalui perspektif hukum Islam dengan menggunakan prinsip ad-dhararu yuzal dan dar'ul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih sebagai kerangka normatif. Dengan pendekatan normatif-kualitatif, kajian ini mengeksplorasi dimensi eksploitatif praktik peternakan telur, khususnya terhadap perempuan dari kelas sosial ekonomi rendah yang rentan terhadap tekanan ekonomi terselubung. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak hanya bermasalah secara medis dan etika, tetapi juga bertentangan dengan maqāṣid al-syarī'ah yang menjunjung tinggi perlindungan terhadap kehidupan, kehormatan, dan martabat manusia. Human Egg Farm berpotensi melanggengkan kekerasan struktural melalui legitimasi pasar atas tubuh perempuan, mereduksi otonomi reproduksi menjadi kontrak hukum yang bias terhadap kekuasaan. Tujuan yang diberikan oleh pendonor perempuan tidak dapat dipahami sebagai bentuk kebebasan sejati, melainkan sebagai bentuk ketundukan terhadap tekanan ekonomi sistemik. Oleh karena itu, regulasi yang hanya bersifat prosedural saja tidak cukup. Penelitian ini menantang otoritas etika dan hukum untuk tidak hanya menyatakan sikap reaktif, tetapi juga transformatif, dengan menetapkan kebijakan bioetika dan fikih yang mendukung keadilan substantif, serta mengungkap struktur eksploitatif yang tertanam dalam praktik medis modern.Kata Kunci: peternakan telur manusia; eksploitasi tubuh perempuan; bioetika Islam;AbstrakFenomena Human Egg Farm mengungkap wajah gelap industrialisasi tubuh manusia dalam lanskap biokapitalisme modern. Penelitian ini mengkaji praktik tersebut melalui perspektif hukum Islam dengan menggunakan kaidah ad-dhararu yuzal dan dar'ul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih sebagai kerangka normatif. Dengan pendekatan normatif-kualitatif, kajian ini menelusuri dimensi eksploitatif dari praktik peternakan telur , khususnya terhadap perempuan dari kelas sosial-ekonomi rendah yang rentan terhadap tekanan ekonomi terselubung. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik ini tidak hanya masalah medis dan etika, tetapi juga berbeda dengan maqā ṣ id al-syar ī' ah yang menjunjung tinggi perlindungan jiwa, kehormatan, dan martabat manusia. Human Egg Farm berpotensi melanggengkan kekerasan struktural melalui legitimasi pasar atas tubuh perempuan, mereduksi otonomi reproduktif menjadi kontrak legal yang bias kuasa. persetujuan yang diberikan oleh donor perempuan tidak dapat dipahami sebagai bentuk kebebasan sejati, melainkan sebagai bentuk ketundukan pada tekanan ekonomi sistemik. Oleh karena itu, regulasi yang hanya bersifat prosedural menjadi tidak cukup. Penelitian ini menantang otoritas etik dan hukum untuk tidak sekadar menjadi reaktif, tetapi juga transformatif, dengan menetapkan kebijakan bioetika dan fikih yang berpihak pada keadilan substantif, dan mengungkap struktur eksploitatif yang menyaru dalam praktik medis modern.Kata Kunci: peternakan telur manusia ; eksploitasi tubuh perempuan; bioetika Islam;.
Perbandingan Pemikiran Ketatanegaraan dalam Islam: Fazlur Rahman dan Muhammad Amien Rais Aulia, Ajeng Hijriatul; Wiraganti, Risna Wendy; Fatmawati, Yuliana; Sugiyarti, Anita; Sukti, Surya
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.11502

Abstract

Dalam era kontemporer, sejarah Islam dicirikan oleh dua peristiwa penting: dekolonisasi negara-negara Muslim dan gelombang migrasi ke Barat pasca Perang Dunia II. Perubahan ini juga mencerminkan dinamika kompleks antara Islam dan prinsip-prinsip sekuler dalam politik negara-bangsa modern. pemikiran tokoh-tokoh Muslim kontemporer seperti Fazlur Rahman, Abdurrahman Wahid, dan Muhammad Amien Rais menjadi penting. Penelitian ini menggunakan metode normatif dan Library Research serta Internet Searching untuk menganalisis pemikiran Fazlur Rahman dan Muhammad Amien Rais tentang ketatanegaraan dalam konteks kontemporer. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pemahaman dan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara Islam, Muslim kontemporer, dan ketatanegaraan dalam zaman modern. Dari analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa Fazlur Rahman dan Muhammad Amien Rais memiliki pandangan yang berbeda tentang hubungan antara Islam dan negara serta konsep demokrasi. Rahman menekankan bahwa Islam tidak secara eksplisit mewajibkan pembentukan negara Islam, sementara Amien Rais memperjuangkan integrasi nilai-nilai agama ke dalam struktur pemerintahan modern.
UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BULLYING DI SEKOLAH DEMI PERLINDUNGAN HAK ANAK DAN PEMBENTUKAN GENERASI BERAKHLAK Aulia, Ajeng Hijriatul; Jamilah, Jamilah; Wiraganti, Risna Wendy; Khatimah, Khusnul; Santoso, Aji; Putra, Muhammad Luthfi Setiarno
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.38748

Abstract

Masalah yang terjadi di sekolah adalah perilaku bullying yang melibatkan tindakan seperti mengejek, menyuruh, memalak, mendiskriminasi, dan bahkan kekerasan fisik. Beberapa faktor yang diyakini berkontribusi terhadap terjadinya bullying adalah faktor sosial ekonomi, perbedaan fisik, serta tindakan yang dilakukan di masa lalu. Dampak yang ditimbulkan akibat bullying antara lain penurunan prestasi belajar, sering bolos sekolah, keinginan untuk mengundurkan diri dari sekolah, hingga putus sekolah. Tujuan dari penyuluhan anti bullying adalah agar peserta didik dapat mengenali dan mencegah perilaku yang mengarah pada tindakan mengejek, menyuruh, memalak, mendiskriminasi, dan pemukulan. Penyuluhan ini dilaksanakan di SMP Muhammadiyah Palangka Raya menggunakan metode ceramah dan diskusi selama 1 jam, dengan diikuti oleh 30 peserta didik. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan post test. Hasil pre test menunjukkan pengetahuan peserta didik tentang bullying sebesar 85%. Setelah dilakukan post test, pengetahuan peserta meningkat menjadi 99,99%. Keberhasilan ini terlihat dari banyaknya peserta yang aktif bertanya dan menyelesaikan masalah, serta dari tingkat kepuasan peserta yang memotivasi mereka untuk menghindari dan tidak melakukan bullying di sekolah.
Dialektika Normatiitas Wahyu dan Realitas Sosial Dalam Pemikiran Hukum Munawir Sjadjali Saifullah, Muhammad; Syarifuddin, Syarifuddin; Emzaed, Ali Murtadho; Aulia, Ajeng Hijriatul
Tazkir: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Keislaman Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the dialectical relationship between the normativity of revelation and social reality in the Islamic legal thought of Munawir Sjadzali. Islamic law is not merely a normative-legal system derived textually from the Qur’an and Sunnah, but also an ethical framework that must be continuously interpreted in response to changing social conditions. Using a qualitative library research approach, this study critically analyzes Munawir Sjadzali’s major works to explore his epistemological framework, methodology of contextual ijtihad, and his contribution to the reactualization of Islamic law in modern Indonesia. The findings demonstrate that Munawir Sjadzali conceptualizes revelation as a source of moral objectives rather than rigid legal formulations, while social reality functions as the arena for the actualization of these objectives. His approach challenges legalistic and textualist paradigms that tend to absolutize historical formulations of fiqh without considering socio-historical transformations. Through his reinterpretation of issues such as Islamic inheritance law and banking interest, Munawir articulates a model of substantive justice grounded in maqāṣid al-sharī‘ah. However, this study also reveals critical tensions within his approach, particularly regarding methodological boundaries that prevent excessive relativism in legal interpretation. Overall, Munawir Sjadzali’s thought represents a significant intellectual contribution to the development of Islamic law as a dynamic, contextual, and justice-oriented system, offering a viable framework for reconciling divine normativity with the complexities of contemporary social life.